
Mila membuka mata, dimana remang remang membuat dirinya terasa aneh, aroma obat menyengat membuat Mila mual dan benar benar ingin muntah. Samar terlihat baju putih, dimana rak meja medis dengan alat alat tajam.
Mila yang teringat ia ada di tempat tak aman, setelah mengingat dirinya dengan Shela tempo lalu, hal itu membuat Mila kembali berpura pura pingsan, dimana satu pintu terbuka yang diyakini itu adalah sang dokter dan asistennya, karena membuka mata sedikit terlihat wanita satunya, membawa sebuah papan dan kertas, bahkan lengkap mereka memakai sarung tangan medis.
"Berapa lama lagi kita lakukan pembedahan wajah dok?"
"Satu jam lagi, lagi pula nona Shel sudah kamu tangani?"
"Sudah dok, sudah saya berikan infus. Lalu bagaimana dengan wajah aslinya di sana?" tanya wanita itu, melirik nampak ke arah Mila, dimana sang dokter pun tersenyum miring.
"Sangat cantik dia itu, kita hanya membutuhkan lapisan kulitnya saja, setelah itu kita ambil ginjalnya, perlahan anggota lain yang berharga. Lalu kita buang ke laut untuk jadi makanan hiu."
Langkah sang dokter dan asistennya mendekat menatap Mila, namun Mila yang mendengarnya pun, sedikit gemetar akan tetapi ia coba rileks, seolah dokter dan satu orang disana, masih menganggapnya pingsan.
"Dia masih belum sadar, hembusan nafasnya juga tersenggal dok."
"Aneh, harusnya sudah lima sampai enam jam dia sadar, jangan jangan .."
Mila mencoba menutup mata, mencoba hal yang di takuti terjadi, benar benar dokter gadungan yang membuat nyawa Mila terancam. Bahkan ingin menangis saja, membuat Mila fokus agar benda dan suara, atau hentakan dokter gadungan tersebut tetap menganggap dirinya masih pingsan.
Prang.
Hampir saja Mila refleks, beruntungnya ia tadi menahan nafas dan fokus, sehingga tetap tak membuat kagetan, karena sang dokter sengaja menjatuhkan nampan alat medis, yang jika jatuh menimbulkan suara nyaring. Andai ia tak memencet earphone kecil masih menempel di salah satu kuping yang ia tutupi, mungkin ia akan kagetan saat ini dan masih di anggap pingsan.
__ADS_1
"Dia masih pingsan dok, apa kita tak sebaiknya ke ruang nona Shel."
"Benar, biarkan saja dia membayar 7 x lipat, yang jelas setelah selesai. Baik itu gagal atau berhasil, kita pergi dari sini! Lagi pula, kita bukan dokter bedah plastik, melakukan pembedahan tukar wajah tidak akan bisa serupa, apalagi berhasil pun amat sulit dan memakan waktu yang panjang, bahkan bisa menjadi sebuah penyakit kangker kulit." jelasnya, membuat asisten dokter mengangguk.
Krek.
Pintu tertutup lagi. Selepas sang dokter tadi keluar, dan Mila segera bangun dimana ia mencari celah untuk keluar. Mila yang ingat kata kata Shel, apakah itu tertuju pada Shela, andai Shela tahu jika dokter yang ingin membuatnya berganti wajahnya, adalah dokter gadungan, sehingga Mila mencari bukti dan mencoba mengendap ngendap ke ruangan lain.
"Kamar mandi ini, apa itu celah untuk aku bisa kabur?" lirihnya, Mila yang manjat ke arah atap, dimana itu ada celah kaca, sehingga Mila mengambil sesuatu mirip palu.
"Aku pasrahkan diriku dan keselamatanku, aku mohon bantu aku Tuhan."
Beberapa kali Mila mencoba membuka pintu, tapi putaran pintu itu terlihat terkunci. Sehingga Mila mencoba pergi, tanpa alas kaki, dimana ia manjat ke atap kamar mandi, yang mana Mila mencoba berjalan pelan lewat atas.
Syok Mila, saat tahu disana ada Shela yang sedang tertidur, nampak dokter tadi memegang cutter, membuat Mila ingin berteriak, tapi ia bungkam. Ingin rasanya Mila menolong Shela, namun jika ia melangkah pasti akan berisik, dan itu membuat fokus dokter menoleh ke atap lorong diatasnya, yang ada udara.
Dreeeeeth.
"Aaah.." Mila teriak dan membungkam atas apa yang ia lihat tadi.
Mila dengan segera pergi merangkak lebih cepat, dimana meninggalkan suara, dimana mungkin dokter itu sadar dan salah satu asistennya kembali ke ruangan sebelumnya, dimana Mila tergeletak masih dinyatakan pingsan.
Bugh.
__ADS_1
Bugh.
Mila mendorong keras, hingga seng itu terbuka miring, Mila keluar dengan penuh ketakutan.
Dimana lorong itu menuju arah luar, entah dimana yang jelas penuh dengan alu lalang, kebun kebun. Bahkan kini Mila lari sekencang mungkin, berharap ia temui jalan untuk bisa kabur sejauh mungkin. Penuh air mata, dimana ia melihat wanita disana di kikis kulit wajahnya, tanpa menunggu obat bius yang mungkin ada dalam bayangan Mila saat ini.
'Shela, semoga kelak kamu bangun sadar, maaf aku tidak bisa menolongmu. Tapi jika aku berhasil bertemu bantuan, akan aku beritahu jika kamu sedang dalam bahaya.' batin Mila, berlari menahan sakit kakinya saat itu.
Mila yang lelah, ia berlari menuju arah lampu, yang mungkin harapan Mila itu adalah jalan utama, sebab ia lari saja sudah sekitar dua puluh kilo, yang membuat Mila kehilangan tenaga, bahkan menahan sakit kakinya penuh luka dan sebuah ranting ranting menancap, apalagi saat mendobrak lorong seng tadi, sempat tersangkut kulit kakinya, namun ia tahan karena ingin cepat kabur dari tempat terkutuk itu.
Dan saat Mila sampai di sebuah jalan, jalan yang sepi membuat Mila benar benar ketakutan, takut akan sebuah satu mobil, yang menghampirinya itu adalah para dokter gadungan atau dokter gelap yang ingin mengambil organ tubuh, apalagi kikisan wajah yang ia lihat tadi, mirip wajah monsters setelah lapisan awal wajah terkikis habis.
'Tuhan, apakan aku akan ditangkap. Jika aku tertangkap, aku lebih baik mati tertabrak. Ketimbang wajah dan organ ku hilang tak utuh, aku mohon keadilanmu. Jika aku tak boleh bahagia, cabut saja aku dengan cara instan, karena aku tidak rela wajah dan organ ku diambil secara gelap untuk manusia serakah dan tamak." lirih Mila, yang mencoba lari saat itu juga di jalan aspal.
Srith!
Brugh.
TBC.
Sambil Tunggu Up Mila, mampir juga jika berkenan ke novel temen litersi Author, maaf jika kisah Mila delay Up ya all.
__ADS_1