Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
RAHASIA SHELA TERBONGKAR


__ADS_3

"Pah, tolong jujur sama Shela, siapa putri selingkuhan papa?" ujarnya, kala Saputra telah tiba di rumah.


"Kau ini bicara apa sih, pergilah! Papa Lelah."


Terlihat juga asisten Heru, nampak tunduk, seolah menyapa dengan kode. Melewati Shela kala mengekor tuannya. Shela tidak mengerti, kenapa sang ayah tampak cuek pada putrinya.


"Aku mengikuti, ke rumah gubuk bertemu ibu paruh baya, katakan padaku. Siapa anak selingkuhan Mu papa, apa anak itu aku?"


Saputra yang ke arah tangga, langkahnya terhenti dan menoleh ke arah Shela dengan tatapan tajam, menghampiri putrinya itu dengan wajah kekesalan.


"Kenapa, apa papaku benar selalu menanam benih kemanapun, lantas ibuku meninggal dan sakit hati?"


Plak.


"Lancang sekali kamu Shela." kelepasan Saputra menampar putrinya.


Bahkan Saputra terlihat terkejut, dimana menatap tangannya sendiri yang kelepasan menampar.


"Lakukan lagi Pah! Tampar aku lagi! atau aku saja yang ada disini, tahukah Papa, aku di berikan kartu hitam, shoping semauku setiap hari. Itu membuatku menderita, bahkan pria yang aku cintai pergi, bahkan papaku sendiri seperti tidak anggap aku putrinya. Why .. Apa yang salah dariku pah?" raut Shela terlihat menyedihkan.


"Kau itu anak .."


Tuan! Heru, mengontrol agar bosnya itu tidak berkata kata lepas lagi.


"Tuan, tenangkan lah!"


"Diam Heru, sudah saatnya Shela tahu diri. Dan kau ingin tahu kebenarannya Shela, baik papa akan bicara terus terang padamu!"

__ADS_1


"Oke. Apapun itu, Shela akan lapang pah." membuka telinga, seolah sombong angkuh nya kembali, dimana seluruh asisten berkumpul menatap keributan tuannya itu dengan putrinya.


"Wanita paruh baya yang kau lihat, dia istriku satu satunya. Aku berbohong jika ibumu telah meninggal, sejujurnya kau adalah putri pengganti dari kesedihanku. Aku mengadopsi mu Dua puluh tahun lalu, jadi pikirkan sendiri kenapa pria tidak suka padamu!"


Bragh.


"Apa ..?" syok.


Shela menjatuhkan ponselnya, dalam genggaman, ia tak percaya dan lemas. Ketika papanya pergi setelah mengatakan hal yang menyakitkan, ada beberapa pasang mata melihat Shela menangis, tapi bubar setelah Heru mungkin meminta pergi saat itu juga dengan kode.


Shela berlari kecil ke kamarnya, dengan berat dan menendang pintu kamarnya. Jongkok dengan rasa tak percaya, menatap ponsel masa kecilnya bersama sang papa, kini hancur berkeping keping.


'Ini pasti bohong kan. Hah." isak tangis Shela kala itu sudah luber menghiasi wajahnya memerah.


Sementara Di Ruangan Lain.


"Heru, bahkan perusahaan aku harus percayakan pada siapa, Shela yang aku harapkan dia tidak bisa memberikan keturunan, bagi penerus keluarga ini. Lalu jalan satu satunya, tolong temukan putri kandungku, apakah dia hidup dengan layak. Sementara putri yang ku asuh, kau tahu sendiri bukan?"


Saputra terlihat menyedihkan, ia begitu rindu dan kembali membuka file dimana bayi mungil bersama Rini saat itu.


Heru terlihat samar menatap foto bayi itu hingga berusia balita, mirip seperti bocah yang tidak asing yang pernah ia lihat. Entahlah tapi Heru benar benar tidak ingin banyak berasumsi dan menerka nerka.


"Tuan, saya punya satu informasi. Dari intel kami, mereka mengatakan agent sering menghubungi ke nomor seseorang, meski tidak setiap hari tapi sering di jam tertentu, tapi biasanya nomor ini bisa kita gunakan, bisa saja putri kandung anda..."


"Maksud mu, Rini mantan istriku sering menghubungi ke nomor ini?"


"Ya Tuan. Hanya saja, sering menelepon. Akan tetapi begitu di angkat, hanya beberapa detik dan tak bersuara, lalu dimatikan." jelas Heru, menampakan sebuah layar tabletnya.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Kerjamu memang bagus, tapi jika aku menaruh mu menjadi Ceo, siapa tangan kananku. Shela tidak bisa diandalkan, sementara waktu kosongkan saja posisi itu."


Heru mengangguk, hingga dimana ia pun pamit. Dimana setelah meninggalkan ruangan Tuannya, nampak dari lantai lain. Shela menarik koper dengan wajah sedihnya.


'Nona Shela, sebaiknya anda kembali ke kamar. Sudah malam, tidak baik rasanya anda pergi membawa koper!'


'Heh, kacung. Berisik loh, ga usah urusin hidup gue. Jadi baiknya, lo Minggir!'


Tatapan Shela, membuat Heru terdiam memberi jalan. Hal itu membuat Heru kembali melangkah, dimana kamarnya di belakang mansion tersebut. Menjadi kaki tangan tuan Saputra, adalah tugas setianya menggantikan amanat mendiang sang ayah.


Sementara Di kamar, tuan Saputra masih menatap file dari sebuah intel terkait nomor agent yang di selidiki, Saputra memastikan rasa penasarannya. Ia mencoba menelepon nomor tersebut dengan gusar.


Tuut ..Tuut.


Sorry, please Enter the code 00141.


[ Mohon maaf, masukan kode 00141 di ikuti nomor tersebut, silahkan hubungi beberapa menit lagi! ]


'Kode Swiss, kenapa terlihat tidak asing?'


Saputra terkejut, dimana kembali memencet dengan nomor tersebut, dimana suara ketiga kalinya, berhasil tersambung dan ia dengarkan dengan baik.


Hallo ...


TBC.


Insyallah Besok Crazy Up ya All, Author kejar daily di sebelah dan Pengantar Box Jutawan nih.

__ADS_1


Mampir juga Ke Judul Cinta Tak Semanis Coklat.


__ADS_2