
Sementara Kenzo sedang kesal, Erik terus saja berusaha untuk semakin dekat dengan Tiara. Setelah tugas survei mereka selesai di pasar, mereka kembali ke dalam mobil untuk ke minimarket. Tapi kemudian, ponsel Tiara berdering.
Melihat yang menghubungi dirinya adalah Kenzo. Taira langsung menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
“Halo Ken!”
“Kamu dimana?” tanya Kenzo tanpa membalas sapaan Tiara.
“Di pasar, sedang melakukan survei untuk tugas kelompok!” jelas Tiara.
“Dengan siapa?” tanya Kenzo agak ketus.
Tiara merasa aneh dengan cara bicara Kenzo. Tapi kemudian dia berkata.
“Dengan Erik. Pak Wahyu menugaskan aku dan Erik satu kelompok. Kenzo aku...!”
“Tidak apa-apa Tiara, itu untuk tugas kelompok kan? Aku percaya padamu!”
Kata-kata Kenzo itu akhirnya membuat Tiara menghela nafas lega.
“Terimakasih!”
Tapi belum juga Tiara menutup panggilan telepon, Erik mendekati Tiara dan berkata.
“Sayang, ayo cepat naik mobil!” kata Erik membuat Tiara terkejut.
Mendengar panggilan sayang dari Erik ke Tiara, Tiara langsung mendorong Erik menjauh.
“Kamu apa-apaan sih?” tanya Tiara kesal.
Ketika Tiara melihat ponselnya, Kenzo ternyata sudah memutuskan panggilan telepon. Tiara jadi cemas.
“Loh kenapa, aku dulu sering panggil kamu sayang kan?” tanya Erik begitu santai seperti tak pernah melakukan kesalahan.
“Capek ya ngomong sama kamu, aku mau pulang saja!” kata Tiara yang khawatir pada Kenzo dan memutuskan untuk pergi ke rumah Kenzo.
Namun lagi-lagi Erik menahan Tiara.
“Kita masih punya tugas kuliah, yang profesional dong. Selesaikan dulu tugas kuliah, baru urus masalah pribadi!” kata Erik.
__ADS_1
Ternyata Erik sejak tadi menguping pembicaraan Tiara dan Kenzo di telepon. Dia merasa kalau hubungan Tiara dan Kenzo pasti sekarang sudah semakin dekat, Erik bermaksud untuk membuat mereka salah paham agar Erik bisa masuk lagi ke dalam hidup Tiara. Karena dia menyadari kalau tak ada gadis yang lebih baik dari Tiara. Meri memang menggoda, tapi dia juga sangat kasar dan keras kepala. Tidak mau kalah, dan tidak mau mandiri, maunya manja dan terus mengandalkan Erik.
Semula Erik merasa Tiara yang terlalu mandiri itu membosankan. Tapi ternyata setelah pacaran dengan Meri, Erik baru menyadari kalau gadis manja itu lebih merepotkan. Dan kini, Erik benar-benar ingin kembali pada Tiara.
Tiara dengan kesal masuk kembali ke dalam mobil Erik. Dia pikir benar kata Erik, tugas kuliah dulu memang harus di selesaikan. Karena tenggat waktu nya hanya sampai besok jam dua siang. Tiara berpikir dia akan datang ke rumah Erik setelah semua ini selesai.
Mereka pun pergi ke minimarket, ketika Tiara sedang melakukan survei. Ternyata Erik malah pergi keluar dan sengaja mengempeskan ban mobilnya sendiri. Lalu dia masuk kembali ke minimarket.
Setelah surveinya selesai. Tiara sangat bersyukur, dia tidak perlu lagi dekat-dekat dengan Erik. Tapi saat keluar dari minimarket, Erik langsung berteriak kesal.
Tiara yang jaraknya tak jauh dari Erik pun menoleh ke arah Erik.
“Astaga, ban mobilku kempes!” kata Erik.
Tiara yang tak ingin ikut campur lagi pun memutuskan untuk berjalan ke arah jalan raya dan memesan taksi online. Tapi Erik memanggil namanya membuat Tiara menghentikan langkahnya.
“Tiara!”
Tiara pun menoleh ke arah Erik.
“Kamu tega sekali, kamu mau tinggalkan aku di saat ban mobil ku kempes? Padahal kita kan kesini bersama-sama. Ini sudah malam Tiara, bagaimana kalau ada preman merampokku nanti?” tanya Erik yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
Melihat wajah Erik yang terlihat tak berdaya, Tiara pun kembali menghampiri Erik.
“Terus gimana?” tanya Tiara.
“Aku mau ganti ban, aku bawa ban cadangan tapi kamu tunggui aku. Kalau aku sedang ganti ban terus ada perampok, yang ambil ponsel dan dompetku dari dalam mobil bagaimana? Aku tidak bisa pulang?” tanya Erik lagi.
Tiara hanya mendengus kesal, tapi karena rasa kemanusiaan yang dia miliki. Akhirnya dia menuruti apa yang di minta Erik.
Tiara menemani Erik mengganti ban, tapi Erik sengaja memperlama apapun yang dia lakukan.
“Tiara, aku haus!” kata Erik.
Meskipun sambil menahan kesal, tapi Tiara langsung masuk kembali ke minimarket dan membelikan air mineral untuk Erik. Setelah itu dia memberikannya pada Erik.
“Tanganku kotor, tolong aku bisa kan?” kata Erik.
Erik memperlihatkan dia tangannya yang kotor ke arah Tiara. Hingga Tiara pun terpaksa membuka botol itu dan membantu Erik untuk minum.
__ADS_1
Tapi baru beberapa teguk, dan Erik baru saja merasa senang. Ada seseorang yang datang dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Dan mendorong botol yang sedang di pegang Tiara.
Sampai air minum itu bahkan muncrat ke wajah dan baju Erik. Tiara juga terkejut, apalagi setelah tangannya di tepis seperti itu, Tiara juga di dorong sampai mundur ke belakang beberapa langkah.
Tiara menatap kesal ke arah pelakunya yang ternyata adalah Meri. Erik juga sangat kesal melihat Meri.
Meri awalnya ingin berbelanja di minimarket, tidak menyangka dia merasa melihat mobil Erik yang memang warna dan modelnya tidak di miliki banyak orang. Saat Meri mendekat, dia malah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dan memuat emosi. Dia melihat Tiara memberi minum pada Erik, mereka terlihat sangat dekat dan mesra. Tentu saja Meri langsung kesal dan menghampiri mereka.
“Kamu apa-apaan sih?” tanya Tiara kesal.
“Kamu yang apa-apaan? Kamu mau menggoda pacar orang ya? Dasar perempuan genit. Gak laku kamu sampai godain Erik? Dia itu pacar aku!” pekik Meri dengan wajah dan mata merah karena emosi.
Tiara terkekeh mendengar apa yang dikatakan Meri.
“Kenapa malah ketawa, gak tahu malu banget ya!” pekik Meri lagi.
“Yang gak tahu malu itu aku apa kamu? Yang jelas-jelas godain pacar orang sampai menawarkan tubuhnya itu aku apa kamu? Yang nikung sahabatnya sendiri itu aku apa kamu?” tanya Tiara membuat Meri bertambah geram.
“Asal kamu tahu ya, aku tuh Cuma nemenin pacar kamu yang lagi ganti ban itu karena dia takut di rampok sama preman. Dia yang minta, bukan aku yang mau! Sampai sini paham kan?” tanya Tiara.
“Erik, sudah ada yang temani kamu. Aku pergi!” kata Tiara yang langsung pergi dari tempat itu.
Erik berusaha mengejar Tiara tapi tangannya langsung di tarik oleh Meri.
“Erik, ngapain kamu kejar dia sih?” tanya Meri.
“Kamu tuh yang ngapain, ganggu aja!” balas Erik kesal.
“Kamu jangan bilang mau deketin Tiara lagi ya? Aku ini pacar kamu!” kata Meri.
Erik pun tak menanggapi Meri, dia membuka pintu mobil, meraih beberapa tissue lalu membersihkan tangannya. Setelah itu, dia mengambil ponsel dan dompetnya lalu pergi meninggalkan Meri.
“Erik!”
“Berisik!” balas Erik yang tak memperdulikan Meri yang sedang berdiri kesal di tempatnya.
***
Bersambung ...
__ADS_1