
Tiara bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya untuk memenuhi janjinya menemui anak-anaknya di rumah Erik.
"Nyonya, kerja sama kita dengan perusahaan Anderson sudah di terima, mereka mengirimkan undangan untuk merayakan pembukaan cabang baru perusahaan mereka di kota ini. Ini nyonya undangannya!" kata Frans meletakkan sebuah undangan yang sangat estetik di atas meja.
Karena Tiara masih memeriksa satu dokumen lagi depannya Tiara hanya bertanya pada Frans.
"Kapan acaranya Frans?" tanya Tiara.
"Tiga hari lagi nyonya. Aku dengar anak dan menantu tuan Anderson yang akan mengurus perusahaan itu di sini! Pasangan yang baru menikah sih katanya, baru dua tahun!" jelas Frans.
Tiara pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Frans.
"Tidakkah menurut mu kamu juga harus segera melamar Desi, Frans?" tanya Tiara.
Frans yang malah di tanya begitu oleh Tiara lantas menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Soal itu, sepertinya...!"
Tiara lantas pada otot lembar dokumen yang sedang dibaca kemudian melihat ke arah Frans.
"Sepertinya apa? aku dengar Desi bahkan sudah menunjukkan terang-terangan kalau dia ingin segera diberi status yang jelas yang lebih serius olehmu!" kata Tiara.
"Hah, darimana nyonya tahu?" tanya Frans.
"Aku berteman dengannya di sosial media dan dia sering mengunggah beberapa caption yang menunjukkan pacar cueknya. Apa karena pekerjaanmu yang terlalu berat ya? apa kamu ingin cuti Frans?" tanya Tiara.
"Tidak nyonya, hanya saja aku memang belum siap menjalin hubungan yang lebih serius. Adikku belum lulus kuliah nyonya, aku sudah berjanji kepada mending ayahku kalau aku akan menyekolahkan adikku sampai lulus semua. Setelah itu, baru aku akan memikirkan tentang kehidupanku sendiri!" kata Frans.
Tiara yang mendengar alasan Frans, kenapa dia belum juga melamar Desi dan berumah tangga dengan wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu menjadi sangat terharu. Frans memang family man sekali. Dia betul-betul jaga ibunya dan juga kedua adiknya setelah kepergian ayahnya beberapa tahun lalu. Benar-benar seorang anak dan kakak yang bertanggung jawab.
__ADS_1
"Cita-cita mu sangat baik, sangat mulia Frans. Aku akan mendoakan semoga semua kerja kerasmu selama ini, membuahkan hasil yang baik juga untukmu. Semangat ya!" kata Tiara membuat Frans tersenyum.
"Terima kasih nyonya!" kata Frans.
"Oh ya, dan mulai sekarang kamu tidak usah memanggilku nyonya lagi, usia kita tidak terpaut jauh bukan? panggil saja aku Tiara!" kata Tiara.
"Tapi nyonya, itu tidak sopan!" kata Frans.
"Baiklah, panggil aku kakak saja, bagaimana?" tanya Tiara memberikan pilihan lain jika Frans tidak mau memanggil namanya karena merasa itu hal yang tidak sopan.
"Baiklah kak!" kata Frans.
Tiara tersenyum senang, dan memberikan dokumen yang sudah selesai dibaca dan dipelajari oleh Tiara kepada Frans.
"Aku akan pergi menemui anak-anak di rumah Erik. Karena tidak ada lagi pertemuan hari ini mungkin aku tidak akan kembali ke kantor setelah dari rumah Erik. Kamu bisa menangani urusan kantor kan?" tanya Tiara pada Frans.
"Tentu kak, salam untuk tuan Erik, Kenzi dan juga Kiara ya kak!" kata Frans.
"Iya!" kata Tiara yang meraih tasnya dan surat undangan yang ada di atas meja lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tiara menuju ke lobi perusahaan, setelah sebelumnya sudah menghubungi supirnya. Sampai sekarang, Tiara benar-benar belum berani mengemudi mobil sendiri.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Tiara, menyapa bos mereka itu dengan sangat sopan. Tiara memang sangat ramah, para karyawan yang bekerja di perusahaannya juga sangat senang memiliki bos yang tidak sombong seperti Tiara. Yang saat di sapa juga balas mau menyapa, yang tidak sungkan makan di kantin perusahaan bersama para karyawan biasa. Yang bisa menghafal nama-nama karyawannya, dan itu adalah sebuah hal yang menunjukkan kalau Tiara memang benar benar peduli kepada semua karyawan di perusahaannya.
Setelah masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka terlebih dahulu oleh sopir Tiara. Mobil itu pun meninggalkan area perkantoran menuju ke rumah Erik.
Perjalanan menuju ke rumah Erik cukup lama, sekitar hampir setengah jam. Di jalan, tadinya Vierra lebih memilih untuk melihat pemandangan yang ada di luar jendela mobil. Tapi saat tangannya tidak sengaja menyentuh undangan yang ada di samping tempat duduknya. Tiara pun membuka surat undangan itu.
"Natasha Anderson, dan Georgino Anderson?"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu dengan suara perlahan diarah sedikit mengernyitkan keningnya. Masalahnya dia nama belakang dari anak dan menantu Anderson itu sama.
Dan setahut ya Rab yang menjadi anak kandung dari tuan Anderson itu adalah Natasha. Tidak mungkin kan, kalau seorang suami memakai nama belakang istrinya. Ini agak aneh menurut Tiara. Tapi kemudian, Tiara yang memutuskan untuk tidak lagi memikirkan hal itu karena memang bukan urusan dia juga, kembali memasukkan undangan itu ke amplopnya. Dan kembali meletakkannya di samping tempat dia duduk.
"Aku terlalu berlebihan, mungkin saja nama belakang keluarga mereka memang sama. Bukankah pasti ada banyak sekali nama belakang keluarga Anderson di dunia ini!" gumam Tiara nih kembali memilih untuk melihat lihat pemandangan yang ada di luar kaca jendela mobilnya.
Setelah sampai di depan rumah Erik. Tiara turun dari dalam mobil, setelah supirnya lagi-lagi membuka pintu mobil untuk Tiara.
Tiara memang sengaja membiarkan supir nya untuk melakukan hal itu, karena bagi sopirnya itu adalah suatu pekerjaan yang akan membuat dia merasa kalau dia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Supir itu, dia akan merasa puas karena sudah menjalankan semua yang harus dia kerjakan.
Tiara langsung berjalan menuju ke pintu utama kemudian membunyikan bel yang ada di dekat pintu.
Ceklek
Seorang asisten rumah tangga Erik membuka pintu dan mempersilahkan Tiara untuk masuk.
"Silahkan nyonya, tuan bilang kalau anda datang, langsung di persilahkan ke taman belakang!" kata asisten rumah tangga Erik itu dengan dengan sangat sopan.
Tiara tersenyum dan mengangguk paham. Tiara dalam melangkahkan kakinya perlahan menuju ke taman belakang. Begitu dia membuka pintu yang menghubungkan antara rumah dengan taman belakang, Tiara di buat terkejut dengan jalan yang harus dia lalui.
Jalanan selebar satu meter itu di hiasi dengan banyak sekali kelopak mawar berwarna merah.
Tiara yang masih terkejut, di buat lebih terkejut lagi ketika melihat kedua anaknya berada di ujung jalan itu, tepatnya di sebelah kanan dan kiri Erik yang tengah memakai setelah putih, begitu pula dengan Kiara dan Kevin.
Air mata Tiara benar-benar ingin mengalir, matanya sudah basah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jika dia melangkahkan kakinya untuk maju, akankah dia bisa melakukan itu. Sementara dia benar-benar masih tidak bisa melupakan masa lalunya, dia belum bisa dan tidak akan pernah bisa melupakan Kenzo.
***
Bersambung...
__ADS_1