Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 29


__ADS_3

Tiara sudah menguatkan dirinya untuk segala kemungkinan yang terjadi. Beberapa jam penerbangan tak membuatnya kelelahan meskipun sejak semalam dia sama sekali belum istirahat. Tiara pun tak bisa memejamkan matanya sama sekali, meski Frans menyarankannya untuk beristirahat.


Sampai di Srilanka, Frans dan Abi mengurus segalanya.


Tiara menunggu di sebuah ruang tunggu bandara.


Tiara kembali melihat ke sekeliling, dia berharap ada keajaiban dan menemukan suaminya di salah satu tempat dimana dia melihat. Tapi setelah mengitari semua ruangan Tiara yang tak mendapatkan keajaiban itu lantas kembali murung dengan mata berkaca-kaca.


Tak lama kemudian, Frans dan pak Abi datang.


"Nyonya, ijinnya sudah kami dapat. Kita bisa periksa ke tempat pengumpulan barang-barang sekarang!" kata Frans.


Tangan dan kaki Tiara gemetaran, sesungguhnya dia tidak ingin melihat barang-barang itu. Rasa takut kalau dia benar-benar melihat barang-barang Kenzo disana. Dia merasa tidak akan sanggup untuk itu.


Tiara berjalan perlahan mengikuti langkah Frans dan pak Abi. Tiara terus menatap ke jalan, ke arah jalanan yang terlihat di sinari cahaya matahari yang begitu terang. Jalanan menuju ke sebuah lapangan luas di dermaga, dimana semua barang-barang yang ditemukan dan bangkaai pesawat yang bisa di selamatkan dari perairan itu di tempatkan. Di sebuah lapangan terbuka, yang dari jauh saja Tiara sudah bisa mencium aroma yang tidak sedap karena barang-barang itu di angkat dari laut.


Setelah sampai di tempat itu ada dua petugas yang melakukan verifikasi lagi. Setelah itu petugas tersebut mempersilahkan Tiara, hanya Tiara saja. Frans dan pak Abi harus menunggu di pinggir. Di tempat beberapa orang juga sedang menemani keluarga mereka mencari barang-barang keluarga lainnya yang menumpang di pesawat tersebut.


Suara jeritan histeris membuat Tiara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut. Di lihatnya seorang wanita paruh baya memeluk sebuah sepatu sambil menangis histeris. Beberapa orang dari pinggir langsung berlari menghampiri wanita paruh baya tersebut. Memeriksa seperti yang dia pegang dan ikut menangis.


Perasaan Tiara tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat itu. Rasa takut, cemas, dan tak ingin melanjutkan langkahnya. Tiara berbalik dan kembali melihat ke arah barang-barang itu. Tiara tak bisa menarik nafas dalam-dalam karena memang aroma di tempat itu tidak mungkin membuatnya bisa melakukan itu.


Langkah Tiara semakin pelan, seiring dia melihat dan memperhatikan satu persatu barang-barang yang di susun rapi satu persatu di sebuah terpal besar. Dari barang satu ke batang lain, di buat berjarak. Barang sudah di identifikasi kepemilikannya dan bukti foto atau struk pembeliannya akan di pisahkan dari tempat itu.

__ADS_1


Dan bagi barang yang di akui, tapi belum di tunjukkan bukti kepemilikan hanya akan di beri label nama saja tapi masih di letakkan di tempat itu.


Di antara bebetaoa Barris barang juga di beri jarak selebar jalan setapak untuk orang-orang bisa memeriksa dan mencari barang-barang keluarga mereka yang menjadi korban dari kecelakaan pesawat itu.


Tiara sudah berjalan memutari dua baris barang, Tiara sampai berkeringat. Karena selain di tempat terbuka dan matahari mulai meninggi Tiara juga gugup, dan takut.


Hingga dia sampai di baris akhir, Frans dan Abi yang melihat Tiara hampir selesai dan tak menemukan barang-barang milik Kenzo ikut menghela nafas lega.


"Sepertinya nyonya tidak menemukan barang tuan!" kata Frans.


"Kamu tahu Frans, itu yang aku harapkan. Aku harap akan ada keajaiban, meski di katakan tidak ada yang selamat, aku masih berharap ada keajaiban dan tuan Kenzo kita baik-baik saja!" lirih Abi yang berdiri di sebelah Abi.


Tapi baru saja pak Abi bukan begitu. Tiara berbalik dan melihat ke sebuah arah. Frans dan Abi terlihat sangat cemas, mereka langsung kembali memperhatikan Tiara.


Tiara yang sudah berpikir tidak melihat satu pun barang milik suaminya hampir saja menghela nafas lega saat tiba di barisan terakhir. Tapi sesuatu membuat jantungnya berdetak kencang.


Tiara kembali melangkah ke tempat itu dan semakin mendekat. Begitu dia yakin dia memegangi benda itu. Tiara terduduk lemas. Sebuah arloji yang bentuk dan motifnya sama persis dengan yang di pakai oleh Tiara. Membuat Tiara lemas dan tak berdaya saat melihatnya. Air matanya berlinang, itu adalah arloji milik Kenzo. Tidak mungkin itu berada di dalam tasnya bukan. Tidak mungkin di simpan di dalam tasnya bukan? lantas dimana Kenzo saat ini.


Frans dan Abi lantas menghampiri Tiara.


"Nyonya!" panggil Frans dan Abi.


Mendengar suara Frans dan Abi, Tiara yang wajahnya sudah berderai air mata tanpa bersuara pun menunjuk ke arah arloji yang sama persis dengan yang ada di tangan Tiara. Bentuknya, motifnya, warnanya sama dengan yang di pakai oleh Tiara. Hanya ukurannya saja yang berbeda.

__ADS_1


Abi terlihat shock, begitu pula Frans.


'Tuan Kenzo!' lirih Frans dalam hati.


Sementara Tiara menundukkan kepalanya dan menumpahkan air matanya, karena suaminya juga menjadi korban kecelakaan pesawat itu.


Di sebuah ruangan yang masih ada di wilayah dermaga. Tiara tampak belum mau pergi dari sana meskipun sudah memastikan kalau Kenzo menjadi korban kecelakaan pesawat itu.


"Kita bisa ijin tinggal di sini kan? sampai jenazahnya di temukan?" tanya Tiara.


Tapi Frans dan Abi sangat perduli dengan kondisi mental Tiara. Mereka berdua tahu kalau sebenarnya Tiara sangat tidak baik-baik saja. Jangankan makan, minum saja tidak mau. Lalu dia juga tidak tidur sama sekali, Frans dan Abi sangat mengkhawatirkan hal itu.


Mereka pikir kalau mereka pulang ke Indonesia, pasti Melani dan kedua anaknya akan menjadi penyemangat Tiara.


"Nyonya, maafkan kami. Tapi akan lebih baik kalau kita menunggu di Indonesia saja. Jika ada kemajuan pencarian, mereka akan segera menghubungi kita!" jelas Frans.


"Aku mau menunggu di sini Frans, pak Abi. Tolong... aku masih tidak percaya Kenzo pergi, Kenzo tidak mungkin pergi. Dia tidak mungkin meninggalkan aku, tidak mungkin hiks... hiks...!" Tiara kembali sangat depresi.


Frans dan Abi juga terlihat sedih. Mereka juga tak percaya hal ini. Tapi semua bukti sudah menunjukkan kalau Kenzo memang salah satu korban kecelakaan pesawat terbang dari Kanada itu. Namanya tertera di daftar penumpang yang terdaftar naik ke dalam pesawat, dan barang-barangnya juga di temukan. Setelah arloji itu, Frans bahkan menemukan koper milik Kenzo.


Tapi Tiara yang duduk sambil terisak itu tak percaya suaminya sudah pergi.


'Tidak, dia tidak akan meninggalkan aku. Tidak mungkin!' jerit hati Tiara yang belum bisa menerima kepergian suaminya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2