
Dan benar saja, bukannya lebih percaya pada Tiara. Erik malah lebih percaya pada Meri ketika Tiara mengatakan padanya kalau Meri hanya pura-pura sakit. Erik bahkan menarik Tiara keluar dari ruang rawat Meri.
“Kamu keterlaluan ya, Meri itu sakit. Masih juga nuduh dia yang enggak-enggak! Kamu itu kan perempuan juga, kenapa gak mikirin perasaan Meri sih? Meri aja selalu ngomong yang baik-baik loh tentang kamu!” kata Erik membuat Tiara rasanya tak percaya.
Tiara tak percaya kalau Erik benar-benar lebih percaya pada Meri dari pada dirinya. Padahal yang pacarnya Erik itu jelas-jelas adalah Tiara. Dan Tiara lebih tidak percaya lagi, kalau Meri selalu mengatakan hal baik tentang Tiara. Itu pasti hanya kamuflase. Rencana Meri benar-benar luar biasa untuk menghancurkan hubungan Tiara dan Erik.
“Erik, kamu kenal aku lama kan? Kita juga pacaran lama kan? Apa kamu gak kenal juga aku seperti apa? Aku gak bohong. Dia duduk dengan tegak lalu bilang dia hanya berpura-pura sakit...!”
Tapi belum Tiara selesai menjelaskan Erik sudah menarik tangan Tiara dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
“Erik, dengerin aku dulu. Aku gak bohong, kenapa sih kamu lebih percaya sama Meri daripada sama aku?” tanya Tiara yang sudah tak mengerti lagi bagaimana cara menjelaskan pada Erik rencana busuk Meri.
Mendengar pertanyaan dari Tiara itu, Erik menghentikan langkahnya dan menghempaskan tangan Tiara.
“Cukup Tiara, kamu tuh Cuma cemburu sama Meri. Padahal sejak awal aku selalu bilang kalau aku sama Meri itu Cuma sahabat aja. Gak lebih dari itu. Tapi kalau kamu terus-menerus menuduh aku dan Meri punya hubungan lebih, lama-lama ucapan kamu itu bisa jadi kenyataan loh!” kata Erik yang membuat hati Tiara semakin hancur mendengarnya.
“Maksud kamu apa?” tanya Tiara yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Aku capek sama kamu Tiara. Selama ini yang ada di sampingku beberapa waktu ini juga Meri. Kamu pacar aku, tapi tiap malam Minggu aku gak bisa ngapel ke rumah kamu. Kita gak pernah bisa jalan di hari Minggu. Ini membosankan Tiara. Aku juga pengen punya pacar itu kayak orang lain, yang selalu bisa berdua kalau memang lagi pengen berdua. Ini kita ketemu kalau di kampus doang, bisa jalan berdua kalau antar kamu pulang doang. Aku capek, bosan Tiara! Sudahlah, kamu pulang saja sana. Kamu pikirkan semuanya baik-baik. Aku tuh sudah baik ya, masih kasih kesempatan buat hubungan kita yang gak jelas ini. Kamu pikirin lagi kesalahan kamu. Kalau sudah sadar kamu salah, baru kamu telepon aku!”
Setelah berkata seperti itu pada Tiara tepat di depan lift. Erik bahkan kembali lagi ke ruang rawat Meri. Meninggalkan Tiara yang berdiri di tempat itu sendirian. Diam mematung.
__ADS_1
‘Kenapa selalu seperti ini, aku sudah berusaha menjelaskan. Aku memang tidak bisa keluar akhir pekan karena begitu banyak pekerjaan di rumah. Ibu Minah dan ayah Andi memberiku banyak pekerjaan, dan kalau ada yang main ke rumah mereka juga akan marah. Jadi aku harus bagaimana?’ batin Tiara yang sudah menangis dalam hatinya.
Tiara ingin menangis, tapi dia tidak mungkin menangis di tempat itu kan. Di sana sangat ramai, pasti akan menjadi pusat perhatian. Akhirnya Tiara pun memilih menangis di sebuah tempat yang sepi di belakang rumah sakit. Dia juga hanya punya sedikit ongkos, setidaknya dia harus jalan dulu ke pemberhentian kendaraan berikutnya kalau mau ongkosnya cukup sampai di rumah. Dia tidak mau menangis di jalan.
Tiara pun menangis di bawah pohon sendirian, bersembunyi dari semua orang. Tapi saya di berusaha mengeluarkan segala keluh kesahnya lewat air mata. Sebuah sapu tangan tersodor di depannya.
Tiara menjeda tangisnya, dan melihat ke arah tangan dan pemiliknya.
“Kenzo!” lirih Tiara yang melanjutkan tangisan lagi.
Tiara berpikir tidak masalah menangis di depan Kenzo. Karena pemuda itu memang sudah lama tahu tentang kesedihan dan penderitaan Tiara.
Kenzo lalu duduk di samping Tiara. Menunggu gadis itu menangis. Setelah beberapa menit, Tiara berhenti menangis dan meraih sapu tangan Kenzo untuk menyeka wajahnya.
“Aku yang salah, seharusnya aku tidak bicara tanpa bukti pada Erik. Wajar dia marah...!”
“Kalau cara pikirmu begitu, selamanya kamu akan di permainkan dua orang di dalam itu!” sela Kenzo membuat Tiara tertegun.
“Kamu di permainkan Tiara. Aku dengar semua yang dikatakan Kenzo. Dia memang sengaja dekat dengan Meri karena dia tidak bisa dapatkan apa yang dia inginkan dari kamu. Perhatian, waktu dan malam minggu!” kata Kenzo berusaha menyadarkan Tiara.
Tiara terdiam. Semakin di pikirkan memang apa yang dikatakan Kenzo benar. Kalau seperti itu, artinya memang semua adalah salahnya yang tak bisa memberikan semua itu pada Erik.
__ADS_1
“Kamu benar Kenzo, aku yang salah!” lirih Tiara yang menyadari segala kekurangannya hingga membuat Erik berkata seperti tadi kepadanya.
Tapi bukan pemikiran seperti itu yang Kenzo ingin Tiara sadari. Kenzo ingin menjelaskan kalau Tiara terlalu berharga di perlakukan seperti itu, di permainkan oleh Erik dan Meri.
“Bukan seperti itu Tiara..!”
“Kenyataannya memang seperti itu Kenzo. Dan kamu juga jangan terlalu baik padaku Kenzo. Aku memang seperti ini, sejak dulu selalu seperti ini. Hanya Erik yang begitu baik dan perhatian padaku. Makanya aku terbiasa mengalah darinya. Tapi aku rasa dia benar. Aku memang salah, aku selalu salah!” ungkap Tiara sedih.
“Kamu tidak salah Tiara..!” Sela Kenzo namun belum dia selesai bicara, Tiara kembali berseru.
“Aku salah Kenzo, dan kamu juga jangan membelaku. Aku bisa salah paham padamu nanti seperti Erik salah paham padamu!” kata Tiara menyela Kenzo lagi.
“Aku malah berharap kamu salah paham!” ujar Kenzo yang membuat Tiara langsung menoleh ke arah pemuda tampan yang baik hati itu.
‘Tidak mungkin, pasti Kenzo mengatakan semua itu hanya untuk menghiburku. Dia sangat baik, di saat seperti ini dia pasti hanya membesarkan jiwaku saja. Dia hanya ingin aku tidak sedih, bukan hanya padaku. Dia pasti akan melakukan hal ini juga pada orang lain yang sedang sedih seperti ku. Itu pasti. Ayolah Tiara, jangan berlebihan. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak mungkin!’ batin Tiara.
Tiara terus berusaha meyakinkan dirinya kalau apa yang dikatakan Kenzo itu hanya untuk menghiburnya.
Mereka cukup lama terdiam, sampai hari semakin sore. Kenzo menawarkan Tiara mengantarkannya pulang. Dari jauh, Meri dan Erik melihat Kenzo dan Tiara pergi ke arah parkiran mobil. Kebetulan mereka sedang berjalan-jalan keluar, karena Meri ingin menghirup udara segar. Tidak di sangka, Meri malah melihat Kenzo dan Tiara yang berjalan ke arah parkiran.
“Kamu lihat itu Erik, aku selalu mengatakan pada Tiara agar tidak berhubungan dengan Kenzo lagi agar kamu tidak salah paham. Tapi lihat dia! Ck.. sabar ya Erik. Kan masih ada aku!” ujar Meri mengusap lembut tangan Erik beberapa kali.
__ADS_1
***
Bersambung...