Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 69


__ADS_3

Begitu sampai di rumah Kenzo Pratama, Erik segera menghentikan mobilnya di depan gerbang. Kiara yang tahu kalau pamannya itu tidak akan membawa mobilnya masuk ke dalam gerbang, karena Erik sudah melewati pagar pun langsung membuka pintu mobil Erik dan berlari keluar.


Kiara berlari masuk ke dalam rumah, dia bahkan tidak menghiraukan Tiara yang menyapanya ketika dia baru saja memasuki ruang tamu. Kiara buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamarnya itu.


Kiara berlari ke tempat tidur dan membanting dirinya di tempat tidurnya yang super empuk itu.


Brukkk


"Bodoh bodoh bodoh!" Kiara merutuki dirinya sendiri.


Sesekali dia juga menempeleng kepalanya. Dia benar-benar merasa begitu bodoh. Bisa-bisanya dia melakukan itu pada Erik.


Kiara lantas bangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Dia mengambil bantal dan memangku bantal itu.


"Paman Erik tadi mukanya merah sekali, dia pasti sangat marah. Bagaimana kalau dia bilang ke mama, atau bagaimana kalau dia menganggap aku murahan. Kiara, bodoh sekali sih kamu!" kata Kiara yang menutup wajahnya dengan bantal yang sebelumnya ada di pangkuannya.


Sementara itu Tiara yang melihat anaknya berlari seperti itu langsung khawatir. Tiara segera meninggalkan pekerjaan yang dia sedang kerjakan dan segera menghampiri Kiara di kamarnya.


Tok tok tok


"Sayang, ada apa? apa yang terjadi?" tanya Tiara.


Kiara menurunkan bantal yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya.


'Aih mama, aku jawab apa ya?' batin Kiara bingung.


"Sayang, buka pintunya. Ada apa?" tanya Tiara yang sangat mencemaskan anaknya itu.


Kiara pun segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.


Ceklek


"Kamu baik-baik saja, kenapa tadi lari-lari seperti itu? ada masalah di kampus?" tanya Tiara yang sama sekali tidak memikirkan kalau sebenarnya sumber masalahnya bukan di kampus. Tapi di antara Kiara dan Erik.


"Itu...itu sebenarnya tidak ada apa-apa ma, aku hanya kebelett pipis saja ma!" kata Kiara sambil tersenyum canggung.


Tiara menghela nafas lega mendengar itu. Dia bahkan terkekeh mendengar anaknya sampai kebelett pipis.

__ADS_1


"Ha ha ha memangnya kamu gak bisa minta supir taksinya berhenti di pom bensin dulu, atau di minimarket?" tanya Tiara yang mengira anaknya berkata jujur.


'Maaf ma, Kiara berbohong!' sesal Kiara dalam hatinya.


"Kiara pulang di jemput paman Erik, dia terlihat sangat buru-buru. Jadi Kiara...!"


Mendengar ucapan Kiara, Tiara langsung mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala anak gadisnya itu.


"Jadi kamu tidak enak ya bilang sama paman Erik, ya sudah tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan sungkan pada paman Erik, dia itu sangat menyayangi kamu dan Kenzi. Katakan saja, sesibuk apapun dia. Pasti akan mengantarmu ke minimarket atau pom bensin untuk pipiss!" kata Tiara sambil tersenyum.


Kiara hanya mengangguk saja. Setelah itu Tiara kembali ke ruang tamu dan melanjutkan pekerjaannya tadi.


Kiara pun masuk ke dalam kamarnya lagi, dia pikir dia juga harus membantu keluarga menyiapkan pengajian. Kiara pun akhirnya ganti baju dan membantu ibunya menyiapkan buah dan makan makanan ringan untuk para tamu nanti malam.


Sementara itu Erik yang sudah meninggalkan kediaman Pratama, justru pulang ke rumahnya. Dia membanting pintu kamarnya dengan sangat kencang.


"Agkhhh...!" pekiknya kesal.


Erik terlihat begitu frustasi, dia mengacak rambutnya sendiri dan merutuki kebodohannya.


"Siall, bagaimana aku bisa terangsangg hanya dengan satu kecupan dari gadis itu. Sialll!" pekik Erik yang merasa dirinya benar-benar kehilangan kendali.


Lebih herannya, saat Stefani merayunya, mencumbunya dan menciumnya dengan sangat bernafsuu. Reaksi junior Erik tidak seperti itu, juga dengan wanita yang pernah dekat dengannya di luar negeri. Tapi begitu Kiara mendekatinya dan melakukan hal itu padanya, Erik bahkan langsung terangsangg. Itu membuatnya frustasi.


Erik masuk ke dalam kamar mandi dan segera mendinginkan otaknya. Tapi sialnya, ketika air dingin itu mengguyur kepalanya, bayangan Kiara yang mengecupnya tadi kembali hadir. Dan rasanya masih begitu terasa, tak bisa dia lupakan meski Erik begitu ingin melupakannya.


Hampir satu jam Erik mengguyur kepalanya dengan air dingin. Baru bayangan dan rasa yang timbul akibat ulah nakal Kiara itu hilang dari kepalanya.


Malam harinya, Erik sengaja datang saat pengajian akan di mulai. Kenzo mengatakan pada Erik, kalau Stefani tadi pamit keluar. Katanya mau membeli keperluannya, tapi sampai jam 7 malam ini, dia belum kembali.


"Dia juga berasal dari kota ini. Dia tidak akan nyasar, tenang saja!" kata Erik.


Kenzo pun mengangguk pelan, menghela nafas lega.


"Baiklah kalau begitu!" kata Kenzo.


Pengajian pun di mulai, suasana begitu hikmat. Sejak tadi Kiara terus melihat ke arah Erik. Gadis itu ingin meminta maaf pada Erik, karena yang sudah dia lakukan tadi.

__ADS_1


Dia tahu dia salah, meski sebenarnya dia memang sudah mengidolakan Erik sejak kecil. Dan tidak senang melihat Stefani yang bermuka dua itu bersama dengan Erik. Tapi dia tidak seharusnya berbuat seperti tadi siang.


Ketika pengajian telah usai. Kiara mencoba untuk mengetuk pintu kamar Erik. Awalnya dia ragu, tapi dia pikir lebih baik minta maaf saja dulu, perihal Erik masih mau marah padanya, itu hal Erik. Yang penting dia sudah minta maaf, itulah yang Kiara pikirkan.


Tok tok tok


"Paman, ini aku. Boleh aku masuk?" tanya Kiara.


Ceklek


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Erik.


Setelah di pikirkan lagi, Erik juga tidak boleh bersikap berlebihan menanggapi apa yang di lakukan Kiara. Erik bahkan merasa kalau dia harus menasehati Kiara.


"Paman aku mau minta maaf, aku sudah menci...!"


Erik dengan cepat menutup mulut Kiara dengan tangannya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Erik bingung, bagaimana menjelaskan pada gadis di depannya itu. Bahwa hal itu tidak boleh di katakan sembarang. Kalau Kenzo dan Tiara mendengarnya, mereka pasti akan sangat marah pada Kiara.


"Ikut paman, kita bicara di taman belakang!" kata Erik yang berjalan duluan ke arah taman belakang dan di susul oleh Kiara.


Sesampainya mereka di taman belakang, Erik lantas melipat tangannya di depan dada dan menatap ke arah Kiara.


"Apa yang ada di otakmu sampai kamu melakukan itu?" tanya Erik.


"Paman kan tahu aku kalah saat bermain dengan teman-temanku. Aku pernah lihat paman mencium Tante genit itu, jadi aku...!" Kiara menundukkan kepalanya dan tak berani meneruskan apa yang ingin dia katakan.


"Kiara, paman minta padamu. Kamu bisa berjanji pada paman kan, kalau ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya kamu melakukan hal itu ya. Kamu memang sudah remaja, kamu juga sudah mau lulus kuliah. Tapi apa yang kamu lakukan itu, hal itu... bagaimana paman menjelaskannya ya..!"


"Sayang!" panggil seseorang yang baru keluar dari rumah menuju taman belakang.


Kiara dan Erik menoleh ke arah Stefani yang terlihat membawa beberapa tas belanjaan.


"Sayang aku mencari mu di dalam, sayang kartu yang ini sudah limited. Isi lagi ya sayang! aku mau beli oleh-oleh untuk teman-teman kita di Australia nanti!" kata Stefani pada Erik.


"Paman mau kembali ke Australia?" tanya Kiara dengan mata yang berkaca-kaca.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2