Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 79


__ADS_3

Mata Kenzo melotot tajam ke arah Erik. Dia tetap tidak berniat melepas tangan anaknya itu meskipun Erik menahan tangannya dan coba menariknya dari tangan anaknya.


Tiara yang tiba di sana bersama dengan Kenzi, lantas berlari dan menengahi pertengkaran antara dua pria yang pernah dan masih sangat mencintainya itu.


"Kenzo, Erik, lepaskan tangan Kiara! kalian tidak lihat dia kesakitan!" Pekik Tiara yang langsung menarik anak perempuannya ketika dua pria itu sudah sama-sama melepaskan pegangan tangannya yang begitu erat kepada Kiara.


"Bawa anakmu pulang Tiara!" kata Kenzo yang lantas bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa bicara lagi, Kenzo lantas bergegas masuk ke dalam mobilnya lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat dan meninggalkan tempat itu.


Tiara yang masih memeluk putrinya satu-satunya itu berusaha untuk menenangkan Kiara yang pasti perasaannya sangat kalut dan syok saat ini.


"Erik, saat ini papanya Kiara sedang tidak dalam keadaan baik. Tolong mengertilah, biarkan suasana tenang dulu. Biarkan Kiara di rumah, semua ini pasti sangat mengejutkan bagi Kenzo. Jadi tolong, biarkan papanya Kiara berpikir dengan tenang. Jangan dulu menghubungi Tiara atau datang ke rumah, bisa kan?" tanya Tiara ini berusaha bicara dengan sangat lembut agar sahabat sekaligus, pria seumurannya yang sangat mencintai anaknya itu bisa mengerti keadaannya saat ini.


Erik tampak terdiam. Tapi tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya. Dia percaya pada Tiara, sejak dulu, sekarang dan sampai kapanpun. Karena dia percaya wanita yang sedang berbicara di hadapannya itu yang merupakan ibu dari wanita yang sekarang dia cintai tidak akan pernah berbohong.


"Aku mengerti, tapi tolong jangan sakiti dia. Semua ini salahku, kalau saja sejak awal aku menyatakan perasaanku juga yang sama seperti Kiara, dan coba mengatakan yang kepada kalian. Semua, pasti tidak akan seperti ini. Ini salahku, maafkan aku Tiara!" kata Erik yang terlihat jelas di matanya kalau apa yang dia katakan dari mulutnya itu adalah sebuah kejujuran yang tulus.


Tiara pun mengangguk paham. Tiara pantas mengajak anaknya itu pulang ke rumah. Erik hanya bisa memandang mobil yang dikemudikan oleh Kenzi itu berlalu dari gerbang rumahnya lalu meninggalkan tempat itu.


'Aku akan berusaha memberi pengertian pada papamu, jangan cemas Kiara!' batin Erik.


Beberapa hari berlalu, Kenzo benar-benar merasa kecewa dan merasa dikhianati oleh Putri kesayangannya. Meskipun mereka tinggal di dalam satu rumah akan tetapi Kenzo selalu menghindari bertemu atau duduk satu meja makan dengan putrinya itu.


Menyadari kalau papanya masih marah kepadanya dan tidak mau makan bersama, maka Kiara memilih untuk makan di kamarnya. Dia juga berusaha untuk tidak menunjukkan dirinya di hadapan sang papa.

__ADS_1


Tiara dan Kenzi, sangat merasa bersedih dengan situasi rumah mereka saat ini. Tapi Tiara juga tidak mau membuat suaminya kembali emosi dengan membicarakan masalah itu lagi.


Dan Erik juga, dia tidak pernah menghubungi ataupun datang ke rumah Kiara. Yang dia lakukan, hanyalah diam-diam memperhatikan Kiara jika berangkat ke kampusnya. Erik melihat dari jauh wanita yang sangat dicintai itu saat ini. Erik sesekali memberikan surat yang dititipkan ke seorang pedagang, seorang anak kecil penjual minuman yang biasa menjual minuman di kampus Kiara.


Dan setelah membaca surat itu Kiara menghancurkannya dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu dia membalas surat itu dan memberikannya kepada anak kecil itu untuk disampaikan kembali kepada Erik. Seperti itu berlangsung selama beberapa minggu. Karena Kenzo, tidak lagi memberikan ponsel kepada putrinya. Dan semua tugas kampus, akan sampai di ponsel Tiara.


Yang sesekali akan di periksa oleh Kenzo. Kiara juga tidak mau membuat masalah dengan papanya lagi hanya karena masalah ponsel.


Dan beberapa minggu kemudian. Saat Kiara akan bangun dari tidur dan berniat turun dari tempat tidurnya, wanita itu merasakan pusing yang sangat di kepalanya. Kiara bahkan tak bisa bangun lagi karena dia sudah pingsan.


Melihat sudah hampir jam 08.00 pagi tapi Kiara tak kunjung keluar dari kamarnya. Tiara mulai khawatir dan melihat ke kamar Kiara. Saat Tiara menemukan putrinya pingsan. Tiara panik dan memanggil asisten rumah tangganya. Karena Kenzo dan putranya sudah berangkat bekerja dan sekolah.


Tiara membawa Kiara ke rumah sakit. Dan kabar mengejutkan membuat Tiara nyaris pingsan.


Tiara sampai terduduk lemas di kursi yang ada di depan meja praktek dokter yang tadi memeriksa Kiara.


Tiara menatap putrinya yang masih berusia 20 tahun itu yang beberapa bulan lagi akan menyelesaikan kuliahnya.


Tiara mengusap wajahnya yak percaya.


"Tapi kondisi kehamilannya agak lemah Bu, kalau bisa tolong beritahukan pada suaminya untuk tetap memberikan support dan dukungan. Sepertinya mbaknya lagi banyak pikiran. Jadi janin yang di dalam rahim mbaknya kurang berkembang baik!" jelas dokter itu panjang lebar.


Tiara nyaris tak bisa mendengarkan apa yang di jelaskan oleh dokter itu.


'Bagaimana ini, Kenzo pasti akan marah besar. Bagaimana sekarang? Kiara... kenapa semua ini terjadi padamu nak?' batin Tiara sangat sedih.

__ADS_1


Air mata Tiara mengalir seiring pemikirannya yang benar-benar bingung dan syok bukan main.


Melihat Tiara menangis. Dokter itu pun bertanya pada Tiara.


"Bu, ada apa? kenapa ibu menangis?" tanya dokter itu yang bingung.


Tiara lantas menyeka air matanya. Dia lalu berpikir kalau dia harus menghubungi Erik untuk masalah ini. Kiara sudah hamil, dan anaknya tidak boleh lahir tanpa seorang ayah. Kiara juga tidak boleh punya anak tanpa seorang suami. Itu akan menjadi sebuah beban yang sangat berat bagi Kiara dan anaknya nanti.


"Dok, saya minta tolong ya. Tolong jaga anak saya sebentar. Saya akan keluar untuk menelepon!" kata Tiara pada dokter itu dan dokter itu tampak mengangguk setuju dengan cepat.


Begitu Tiara berada di luar ruangan dokter itu. Tiara langsung menghubungi Erik.


"Halo Tiara...!"


"Erik, datang ke rumah sakit Mitra Medika, cepat. Ada yang harus kamu ketahui!" kata Tiara.


"Apa Kiara baik-baik saja? apa Kenzo melakukan sesuatu padanya?" tanya Erik panik.


"Datang saja dulu!" kata Tiara yang tak kuasa menahan air matanya dan memutuskan panggilan telepon dengan Erik.


Tiara menyimpan ponselnya lagi di dalam tas. Dia menyeka air matanya, dia bingung. Tiara tidak tahu akan bagaimana Kenzo nanti kalau tahu anaknya hamil. Dan itu pasti bayinya Erik. Tiara begitu takut, Tiara takut Kenzo mengusir Kiara. Dan dia akan berpisah dengan putrinya satu-satunya itu.


Tiara terduduk lemas di kursi yang ada di belakangnya.


'Kiara, bagaimana kalau papa kamu mengusir mu nak. Mama tidak bisa hidup tanpa anak-anak mama. Ya Tuhan... aku harus bagaimana?' batin Kiara sangat sedih.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2