
Erik masih terus merutuk1 kebodohannya sendiri yang telah begitu banyak mempercayai apa yang selama ini Meri katakan. Erik berpikir kalau Meri tidak mungkin mengkhianati dirinya karena selama ini Meri begitu manja dan selalu bersikap seolah dia sangat membutuhkan Erik.
Lagipula mereka dulu juga adalah mantan sewaktu SMP. Erik pikir, Meri benar-benar cinta mati dan tidak bisa move on dari Erik. Tapi ternyata semua yang di sangka dan di pikirkan Erik itu salah.
Wanita yang sudah merayunya, menggodanya ternyata malah mengkhianatinya juga. Apalagi Erik melihat apa yang dilakukan oleh Meri tadi. Pacarnya itu sedang berusaha keras memuaskan pria yang ada di bawahnya. Yang bahkan langsung berlari dalam keadaan nyaris tidak berpakaian, melompat ke arah jendela. Sudah bisa di pastikan pria itu pasti adalah seorang pengecut. Bagaimana Meri melakukan hal itu dengan pria semacam itu. Pantas saja ibunya Erik sangat tidak suka pada Meri.
Apa yang di lihat oleh Erik ini benar-benar persis seperti apa yang dulu Tiara saksikan ketika hubungan mereka berakhir. Ternyata memang rasanya sangat kesal, marah dan menyakitkan. Sekarang Erik bisa mengerti apa yang Tiara rasakan saat itu. Satu-satunya yang ingin dia lakukan hanyalah ingin segera mengakhiri hubungan mereka saja. Benar-benar persis seperti apa yang dikatakan, dan di lakukan Tiara waktu itu.
Erik memacu mobilnya meninggalkan rumah Meri dengan sangat cepat. Di sepanjang perjalanan pulang, Erik terus memukul pinggiran setir mobilnya. Dia benar-benar sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan cinta tulus Tiara. Namun satu hal pasti ada di pikiran Erik adalah.
‘Tiara, aku akan melakukan apapun, agar kamu kembali padaku!’ terdengar mengerikan, tapi itu lah yang ada di pikiran Erik.
Sementara itu di kampus, Tiara sedang berjalan keluar dari dalam kelasnya. Dia baru saja akan menghubungi Kenzo seperti pesan pacarnya itu, yang mengatakan kalau Tiara sudah selesai kelas. Maka dia harus menghubungi Kenzo, karena Kenzo yang akan menjemput dan mengantar Tiara pulang.
Baru akan menghubungi Kenzo. Seorang wanita sudah berdiri di depan Tiara.
Tiara yang merasa ada yang menghalangi jalannya pun, tak menoleh tapi malah lewat di samping wanita itu. Tiara masih menunggu jawaban karena memang panggilan nya sudah terhubung.
“Kita harus bicara, Tiara!” kata wanita itu membuat langkah Tiara berhenti dan mengakhiri panggilan yang belum di jawab Kenzo itu.
__ADS_1
Tiara menoleh ke arah belakang. Dia melihat Hani ada di sana, dan melihat ke arah Tiara dengan mata berkaca-kaca.
Tiara pun lantas mengernyitkan keningnya, wanita yang katanya adalah mantan pacar Kenzo itu memang selalu memasang wajah sendu. Tapi kali ini Hani terlihat pucat. Membuat Tiara jadi penasaran, kenapa dengan perempuan yang ada di depannya itu.
Dan Tiara dengan Hani saat ini sedang ada di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Hani terlihat mengeluarkan beberapa kertas dokumen dia atas meja. Setelah merasa semua sudah dia keluarkan, Hani mendorong dokumen itu pada Tiara.
Tiara hanya melihat ke arah dokumen yang ada di atas meja dan ke arah wajah Hani secara bergantian. Sama sekali tidak ada perasaan ingin membaca atau melihat dokumen yang di sodorkan oleh Hani padanya.
‘Ih, kok gak ada kepo nya sih ni cewek!’ kesal Hani dalam hatinya.
Karena Tiara tak kunjung melihat dokumen itu, Hani pun mulai membenarkan posisi duduknya untuk menjelaskan apa sebenarnya isi dokumen itu.
Tiara masih bersikap biasa, dia tahu apa itu leukimia. Tapi ada rasa tak percaya pada diri Tiara pada Hani. Setahunya penyakit yang dikatakan diderita oleh Hani itu adalah penyakit yang sangat berbahaya dan sangat mustahil di sembuhkan. Tapi lihat wanita itu masih duduk di hadapannya dan beberapa hari ini mondar-mandir saja kerjaannya, seperti tidak terjadi apa-apa, seperti badannya sangat sehat. Maka Tiara merasa kalau apa yang dikatakan oleh Hani itu sangat meragukan.
“Kamu tidak percaya, ini hasil pemeriksaan dokter!” tambah Hani lagi.
“Kalau kamu memang sakit parah seperti itu, bukankah seharusnya saat ini kamu tidak sedang duduk di depanku seperti ini. Atau kamu akan mengatakan kepadaku ada keajaiban yang begitu besar hingga kamu bisa sembuh?” tanya Tiara.
‘Sialll, ini perempuan gak gampang di bohongi juga rupanya!’ batin Hani mulai kesal.
__ADS_1
Namun Hani tetap berusaha untuk menjaga ekspresinya tetap terlihat sedih dan sangat kasihan di mata orang lain.
“Kamu benar Tiara, keajaiban datang padaku dan aku sembuh. Kalau kamu tidak percaya, aku bisa mengajakmu ke rumah menemui kedua orang tuaku, aku juga bisa mengajakmu ke rumah sakit di mana Aku dirawat, bila perlu kita bisa melakukan video call dengan dokter yang ada di luar negeri yang selama ini merawat ku sampai sembuh!” kata Hani berusaha untuk meyakinkan Tiara.
Tiara mulai diam, jadi selama ini Hani di luar negeri untuk pengobatan. Itulah yang ada di pikiran Tiara.
“Aku benar-benar sangat tulus mencintai Kenzo, Tiara!” Hani menangis sampai memejamkan matanya dia memegang dadanya.
Terlihat kalau Hani benar-benar sangat sakit melihat Kenzo yang mulai membencinya.
“Aku terpaksa meninggalkan Kenzo, karena aku tidak mau dia sakit hati dan kecewa. Aku tidak mau hatinya patah, Tiara. Kalau aku meninggalkannya karena sakit, dia pasti akan tetap menungguku. Aku tahu bagaimana kalau Kenzo sudah mencintai seseorang. Dia akan mencintainya dan setia sampai mati. Kenzo masih muda Tiara, saat itu yang ada di pikiranku hanya ingin memberinya kesempatan untuk bangkit dan hidup lebih baik lagi. Kalau aku pergi karena sakit, dia akan menunggu ku dan tersiksa. Tapi kalau dia mengira aku telah mengkhianati ini maka dia akan membenciku dan dia akan membuka hatinya untuk wanita lain..!”
Hani menjeda kalimatnya karena dia meraih tissue yang ada di atas meja kemudian menyeka air matanya.
“Dan apa yang aku harapkan terkabul, dia membuka hatinya untuk wanita lain kan? Tapi aku juga tidak tahu kalau aku akan sembuh, ketika aku kembali. Dia terlihat sangat benci padaku, padahal aku belum sempat mengatakan apapun padanya. Kalau dia tahu aku tidak mengkhianatinya, dan aku pergi karena aku ingin dia bahagia, dia pasti tidak akan bersikap seperti ini padaku kan Tiara? Kamu mengenalnya kan? Dia tidak akan membenciku begini... hiks... !”
***
Bersambung...
__ADS_1