
Tiara masih tampak sangat sedih, tangannya tak kunjung bisa dia gerakkan untuk meraih pulpen yang ada di samping dokumen yang sejak tadi di sodorkan oleh Erik.
Melihat Tiara yang tak kunjung terlihat ada tanda-tanda akan menandatangani surat perjanjian itu. Erik lantas mulai kehabisan kesabaran nya.
"Tiara, kita sudah sepakat. Aku sudah memenuhi kesepakatan ku membantumu membuat Kenzo terlepas dari Natasha dan mengembalikan ingatannya. Sekarang giliran mu memenuhi janjimu!" kata Erik.
"Janji apa? jangan kurang ajar kamu Erik. Janji apa yang kalian sepakati?" tanya Kenzo yang mulai emosi.
Kenzo yang awalnya berharap kalau ini hanya candaan Erik dan Tiara. Tapi sepertinya sudah tidak bisa mengharapkan hal itu lagi. Kenzo bangun dan mencoba menarik kerah baju Erik. Tangannya nyaris memukul Erik sampai Erik malah berteriak kepada Kenzo.
"Pukul saja, pukulan mu tidak merubah kenyataan kalau Tiara memang sudah berjanji padaku akan berpisah darimu kalua ingatan mu sudah kembali!" kata Erik pada Kenzo.
Kepalan tangan Kenzo masih berada di udara. Sampai akhirnya dia menurunkan kepalan tangan nya itu dan melepaskan Erik ketika dengan mata kepalanya sendiri. Kenzo melihat Tiara menandatangani surat perjanjian perpisahan mereka.
"Tiara...!" lirih Kenzo.
Tiara sudah tidak berkata-kata lagi, dia hanya langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang selama tujuh tahun lebih menjadi tempat paling indah baginya, paling nyaman baginya, dimana dia merasa sangat tenang berada di dalamnya.
Kenzo yang melihat Tiara beranjak lantas ingin menyusul Tiara. Namun Erik menghadangnya.
"Ini sudah menjadi kesepakatan kami, ini juga sudah menjadi keputusannya. Tanda tangani surat itu secepatnya. Pengacara ku akan datang kemari besok untuk mengambilnya!" kata Erik.
Mata Kenzo menatap Erik dengan pandangan tidak suka.
__ADS_1
"Pengecut kamu Erik. Aku menyesal sudah mengatakan kamu sudah berubah menjadi orang baik. Nyatanya kamu tetaplah seorang pengecut. Kamu memberikan pilihan yang sulit untuk Tiara. Kamu memang tidak pernah berubah. Manusia pengecut!" Pekik Kenzo.
Tapi mendengar semua makian dah hinaan dari Kenzo. Erik hanya terkekeh pelan.
"Terserah kamu mau mengatakan apapun tentang aku. Semua itu tidak akan merubah kenyataan kalau kamu sudah kehilangan Tiara. Dan Tiara akan hidup bahagia bersamaku!" kata Erik yang lantas melangkah pergi menuju ke luar rumah Kenzo.
Kenzo masih berusaha untuk mengejar Tiara yang sudah berada di dalam mobil Erik.
"Tiara!" panggil Kenzo yang matanya sudah berlinang air mata.
Tiara menoleh ke arah belakang, dia juga sudah menangis sejak tadi. Tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Dia sudah menandatangani surat perjanjian itu, dia juga sudah berjanji pada Erik. Kalau Erik bisa menyelamatkan Kenzo dari Natasha, maka apapun permintaan Erik, maka Tiara akan menurutinya. Dan dia pun sudah sepakat, jika Kenzo sembuh dan pulih seperti sediakala, maka dia akan berpisah dari Kenzo dan menikah dengan Erik.
Saat itu Tiara benar-benar tidak punya pilihan lain. Hanya itu saja caranya, hanya Erik yang mampu mengembalikan ayah dari kedua anaknya, membuat mereka bisa kembali bersama. Jika tidak pasti Natasha akan membawa pergi Kenzo lagi.
Erik masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobil itu keluar dari kediaman Pratama. Kenzo yang tak bisa mengejar mobil Erik terduduk lemas di jalanan dengan tumpuan ke dua lututnya.
"Tiara!" lirih Kenzo.
Dia tidak menyangka kalau ada harga yang begitu mahal yang harus di bayar oleh Kenzo untuk dia bisa mengembalikan ingatannya dan berkumpul dengan ibu dan kedua anaknya. Dia harus kehilangan Tiara, istri yang begitu dia cintai.
"Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu Tiara, bagaimana anak-anak bisa berpisah dengan ibunya seperti ini. Bagaimana mungkin Tiara!" lirih Kenzo.
Sementara itu di perjalanan menuju ke rumah Erik, Tiara juga hanya diam. Wajahnya sejak tadi menghadap ke arah jendela mobil. Dia juga tak bisa berhenti menangis sejak tadi, meski sudah puluhan kali tangannya menyeka air matanya yang jatuh di pipinya. Tapi tetap saja air mata itu tidak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
Erik yang melihat itu juga tak berusaha untuk bicara apapun. Erik juga tak ingin meminta pada Tiara untuk berhenti menangis. Dia membiarkan saja Tiara mengeluarkan semua air matanya karena etik juga sebenarnya tahu, semua ini sangat sulit bagi Tiara. Dan agar saat mereka sampai di rumahnya nanti Erik sudah bisa bicara dengan Tiara.
Begitu mereka sampai di rumah Erik, Erik segera membukakan pintu untuk Tiara keluar.
"Haruskah aku tinggal di sini Erik? aku rasa lebih baik aku tinggal di rumah lamaku, seorang istri butuh 3 bulan untuk menyelesaikan masa Iddah nya. Bukankah tidak baik kalau aku dah kamu tinggal satu rumah?" tanya Tiara pada Erik.
Sebenarnya sepanjang jalan tadi, Tiara sama sekali tidak bicara itu. Dia sedang berpikir tentang hal ini. Dia benar-benar masih membutuhkan waktu untuk sendiri dulu, dia sungguh tak ingin berpisah dari Kenzo dan anak-anaknya. Tapi dia juga tidak bisa mengingkari janjinya pada Erik.
Tiara berharap dia bisa tinggal di rumah lamanya, seiring waktu tiga bulan itu, dan berharap Erik merubah keputusannya. Bagaimana pun Tiara merasa kalau Erik itu benar-benar sudah berubah, Erik bukankah Erik yang egois seperti sepuluh tahun lalu. Tiara merasa kalau Erik yang sekarang adalah Erik yang begitu baik dan tulus. Hanya saja mungkin saat ini dia masih di kuasai oleh obsesi masa lalunya yang masih ada di dalam dirinya sampai saat ini.
"Menurut mu begitu?" tanya Erik.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tapi rumah lamamu terlalu jauh Tiara. Baiklah, malam ini kamu menginap saja dulu di sini, aku akan tidur di kantor. Besok aku akan urus tempat tinggal untukmu, di dekat sini ada rumah yang di jual sepertinya. Aku akan membeli itu untukmu!" kata Erik yang tak bisa di bantah lagi oleh Tiara.
Tiara kemudian turun dari dalam mobil, dia dan Erik masuk ke dalam rumah Erik. Tiara hanya masuk ke dalam kamar tamu, dan sampai malam tidak keluar-keluar dari kamar tamu itu. Erik hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Aku sudah menunggu delapan tahun, hanya tiga bulan saja. Aku pasti bisa melaluinya dengan mudah!" gumam Erik.
***
Bersambung...
__ADS_1