
Sementara itu di rumahnya Kenzo, pria itu sedang menjelaskan kepada ibunya yang sejak tadi menanyakan dimana Tiara berada. Kenzo yang merasa harus menceritakan semua itu pada ibunya pun membuat Melani menjadi sangat sedih.
Wanita tua itu terduduk lemas di sofa. Dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Tiara...!" lirih Melani.
Melani begitu sedih, tapi dia sama sekali tidak marah pada Tiara. Melani benar-benar merasa bersalah dan sangat bersedih untuk Tiara. Menantunya itu begitu perduli padanya. Sampai mengorbankan kebahagiaannya sendiri sampai mengorbankan kebersamaannya dengan anak-anaknya sendiri demi menyelamatkan Kenzo.
"Bagaimana kita menjelaskan ini pada anak-anak, Kenzo?" tanya Melani yang kemudian bingung memikirkan bagaimana menjelaskan masalah yang sedang mereka hadapi ini kepada anak-anak.
Kenzo terdiam, dia pun memikirkan hal yang sama. Bagaimana menjelaskan semua ini pada anak-anaknya.
Malam hari sudah begitu lama berlalu, tapi bagi Kenzo, malam ini terasa sangat lama, paling lama bahkan dari malam-malam sebelumnya. Dari malam-malam yang pernah dia lewati sebelumnya. Rasanya baru kemarin dia tidur di ranjang itu dan bercanda dengan Tiara.
Kenzo bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia sampai bisa lupa ingatan, atau setidaknya kenapa saat pertama kali dia bertemu dengan Tiara. Dia tidak bisa mengingat Tiara. Kenapa sampai harus terjadi kesepakatan yang membuat Tiara harus meninggalkan dirinya.
Sementara itu Kiara dan Kenzi sejak tadi juga tak mau tidur karena menunggu mama mereka. Melani sudah katakan kalau mama mereka sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Papa mereka baru sembuh, jadi mama mereka lah yang harus pergi mewakili perusahaan. Tapi yang namanya anak-anak, dan memang mereka sudah terbiasa hidup dengan Tiara, tinggal dengan Tiara dan apapun itu bersama Tiara. Mereka tetap saja menanyakan mamanya meski Melani sudah berusaha menjelaskan.
Keesokan harinya, Melani baru akan membangunkan Kiara dan Kenzi. Tapi saat Melani menyibak selimut Kenzi, anak bungsu Tiara itu terlihat meringkuk dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri dan wajahnya yang terlihat pucat.
Melani jadi panik, dia pun segera memanggil Kenzo.
"Kenzo, Kenzo!" teriak Melani memanggil Kenzo.
Tak lama setelah Melani berteriak, Kenzo pun datang ke kamar Kenzi.
"Ada apa ma?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Kenzi demam, badannya panas sekali. Dan lihat wajahnya pucat sekali!" kata Melani panik.
Kenzo lantas menggendong anaknya itu dan keluar dari kamar.
"Bu, tolong jaga Kiara. Aku akan membawa Kenzi ke rumah sakit!" seru Kenzo bergegas menuju ke pintu utama untuk segera pergi ke rumah sakit.
Kenzo meminta supir untuk membantunya. Setelah itu mereka pergi ke rumah sakit.
"Kenzi tidak akan kenapa-napa kan nek?" tanya Kiara yang sudah panik melihat adiknya di bawa dengan buru-buru seperti itu oleh papanya.
Melani juga sudah berkaca-kaca matanya, bahkan peluhnya juga sudah bercucuran. Melani bukan lagi di usia yang bisa dengan tenang menangani hal seperti itu. Apa yang terjadi pada Kenzi tadi benar-benar sangat membuat Melani cemas, khawatir bukan main.
Melani langsung meraih Kiara dan membawa Kiara ke dalam pelukannya.
"Sayang, kita doakan saja agar adikmu tidak kenapa-napa ya!" kata Melani yang suaranya terdengar begitu sedih.
Melani menatap sendu pada cucu perempuannya satu-satunya itu. Meskipun dia memang tidak bisa menghubungi Tiara karena memang Tiara benar-benar hanya pergi seorang diri tanpa membawa apapun termasuk ponselnya. Tapi Melani pikir kalau dia memang harus memberitahukan pada Tiara kalau Kenzi sedang sakit.
"Kiara sayang, Kiara siap-siap ya. Nenek akan mengantarkan Kiara dulu ke sekolah baru setelah itu. Nenek akan menghubungi mama Kiara ya!" kata Melani yang langsung di angguki oleh Kiara.
Sementara itu, Kenzo dan supirnya sudah sampai di sebuah klinik yang ada di dekat perumahan itu. Kenzo pikir lebih baik ke klinik ini agar anaknya segera di beri pertolongan medis oleh dokter. Lagipula dokter di klinik itu juga adalah dokter umum yang bagus. Supirnya Kenzo yang merekomendasikan. Sebab semua keluarganya juga selalu berobat di tempat itu. Dan mereka semua sembuh dari penyakitnya.
Kenzo menggendong Kenzi, dan supirnya yang mengurus pendaftaran.
Karena kondisi Kenzi memang lebih gawat dan harus cepat di tangani. Maka Kenzi pun segera di persilahkan masuk ke ruang penanganan dan langsung di tangani oleh dokter yang bertugas.
Setelah di pasang selang infus, Kenzi pun segera diberikan obat yang dapat meredakan demamnya agar suhu tubuhnya tidak bertambah tinggi. Juga di beri obat pereda sakit agar Kenzi tidak semakin turun kondisi nya karena harus merasakan sakit juga.
__ADS_1
Begitu di rasa sudah di tangani dengan baik dan harus menunggu beberapa waktu untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Dokter itu pun menjelaskan kondisi Kenzi pada Kenzo.
"Syukurlah, segera di bawa ke mari. Panasnya sangat tinggi. Kita harus tunggu sekitar dua jam lagi untuk mengambil penanganan yang tepat! tapi sejauh ini pasien sudah mulai membaik!" kelas dokter itu membuat Kenzo menghela nafas lega.
Kenzo pun duduk di sebelah tempat tidur Kenzi, dimana putranya itu sedang berbaring dan belum sadarkan diri karena pengaruh obat yang memang bisa membuatnya beristirahat dengan lebih baik.
Kenzo memegang tangan Kenzi dengan mata berkaca-kaca.
"Nak, kamu harus kuat. Kamu dan kakakmu yang membuat papa kuat setelah mamamu meninggalkan kita karena kecerobohan papa. Kalau terjadi sesuatu pada kalian, papa mungkin...!"
Kenzo tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia menunduk sedih meletakkan tangan mungil Kenzi di dahinya.
Sementara itu Melani memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Erik. Melani yakin meskipun sudah ada kesepakatan itu, tapi ini kondisinya berbeda. Kenzi butuh Tiara. Dan Melani juga yakin kalau Erik akan mengijinkan Tiara bertemu dengan Kenzi. Bagaimana pun Melani percaya kalau Erik memang sudah berubah. Hanya saja, karena dia masih terobsesi pada Tiara, makanya dia melakukan hal seperti ini.
Melani membunyikan bel pintu rumah Erik. Tak lama setelah itu seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi, nyonya Melani!" sapa asisten rumah tangga yang memang mengenal Melani itu.
Melani, Tiara dan anak-anak kan memang sering main ke rumah Erik dulu sebelum Kenzo kembali, sebelum mereka tahu Kenzo masih hidup.
"Erik nya ada?" tanya Melani.
"Tuan pergi sejak semalam, tapi di rumah ada nona Tiara!" kata asisten rumah tangga itu membuat Melani terdiam sejenak.
"Kalau begitu, panggilkan Tiara ya!" kata Melani dan asisten rumah tangga Erik itu langsung mengangguk patuh.
***
__ADS_1
Bersambung...