Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 73


__ADS_3

Erik benar-benar bertindak sangat biasa, seperti tidak ada apa. Tidak terjadi apapun. Erik masih mengikuti pengajian dengan sangat tenang. Tapi Kiara yang terlihat sangat sedih.


Dia bukan tidak tahu tentang masa lalu ibunya dengan Erik. Tentang mereka yang nyaris menikah, kala itu usia Kiara memang masih delapan tahun lebih, tapi Kiara sudah mengerti semua itu.


Erik adalah pria paling baik menurut Kiara. Dimana saat dia merasakan kesedihan akibat kecelakaan papanya dulu. Erik datang dan memberikan Kiara dan adiknya perhatian, dan kasih sayang yang begitu tulus sampai kesedihan kedua kakak beradik itu hilang.


Kiara juga masih ingat ketika di tanya oleh Melani, dia ingin pria seperti apa menjadi pendamping hidupnya. Kala itu semua terkejut karena Kiara bukan menyebut yang seperti Kenzo, tapi Kiara bilang ingin menikah dengan pria yang seperti paman Erik.


Dan setelah dia dewasa, dia semakin mengagumi pria yang sudah di anggap adik peluh Kenzo itu.


Setelah pengajian, semua orang kembali beristirahat. Tapi malam itu sepertinya Erik keluar dari rumah dan pergi menggunakan mobilnya. Kiara hanya bisa menghela nafas panjang. Di tinggalkan begitu saja yang sudah pasti besok pasti akan kembali untuk mengikuti pengajian neneknya, hatinya sangat sedih dan sangat perih. Apalagi jika Erik benar-benar kembali ke Australia.


Kiara pikir, dia pasti tidak bisa bertahan. Dia benar-benar sulit bernafas. Dan tidak bisa tidur, tidak punya selera makan dan tidak punya semangat untuk melakukan apapun. Pada akhirnya dia menghubungi Oline, dan menceritakan masalahnya. Oline memberikan saran yang sedikit konyol, tapi Kiara setuju dan akan mengatakan hal itu pada Erik besok saat Erik kembali.


Karena tidak tidur, dan tidak makan. Keesokan harinya tubuh Kiara pun demam. Pagi hari, saat Tiara tidak menemukan putrinya di meja makan. Tiara pun memeriksa Kiara. Dan benar saja, suhu tubuh Kiara meningkat.


Tiara pun memanggil dokter untuk memeriksa Kiara.


Setelah di periksa, Tiara pun bicara dengan dokter itu di luar kamar Kiara yang sedang di temani oleh Kenzi.


"Kenapa dengan Kiara, dok?" tanya Tiara pada dokter Intan.


"Apa dia sedang mengalami tekanan, maksud ku apa dia banyak pikiran atau semacamnya? sakitnya sepertinya karena dia terlalu stress memikirkan sesuatu!" jelas dokter Intan.


"Ah, ternyata begitu. Iya dok, dia sedang ujian, dia sedang quiz di kampus, dan seperti yang kamu tahu dok, ibuku juga baru saja meninggal. Mungkin dia memikirkan semua itu!" kata Tiara.


"Kamu benar, pasti karena itu. Coba ajak bicara dia, mungkin sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu. Atau mungkin dia ingin berbagi kesedihan, tapi karena kalian semua juga sama sedihnya jadi dia simpan sendiri di dalam hati. Tapi ini sama sekali tidak baik, jika dia terus-menerus tidak mau makan, dia bisa dehidrasi dan kurang asupan. Kemungkinan terburuknya, dia harus di rawat di rumah sakit!" jelas dokter Intan lagi.


"Baiklah dok, aku akan membunuknya makan! terimakasih" kata Tiara ramah.


Setelah dokter Intan pergi, Tiara pun kembali ke kamar Kiara.


"Ma, Kakak tetap tidak mau makan!" kata Kenzi pada Tiara.

__ADS_1


"Sayang, makan ya. Sedikit saja!" kata Tiara.


"Tidak lapar ma, aku mau tidur saja!" kata Kiara yang menarik selimutnya dan menutup wajahnya dengan selimut.


Kenzi yang cemas pada kakaknya pun lansung berdiri menghampiri mamanya.


"Bagaimana ini ma? Kak Kiara tidak mau makan, tidak mau minum obat juga?" tanya Kenzi khawatir.


"Kenzi keluar saja dulu ya, Kenzi istirahat. Biar mama yang bujuk kak Kiara makan!" kata Tiara.


Kenzi mengangguk patuh kemudian keluar dari kamar Kiara. Saat Kenzi keluar dari kamar Kiara, kebetulan saat itu Erik baru pulang dengan mata merah dan pakaian yang sedikit berantakan.


"Kenzi, dari mana?" tanya Erik.


"Dari kamar kak Kiara paman, kak Kiara sakit!" kata Kenzi.


Mata Erik pun terlihat menunjukkan tatapan cemas.


"Demam paman, sejak semalam tidak mau makan!" jelas Kenzi.


"Kalau begitu paman lihat dia dulu, kamu mau kemana?" tanya Erik lagi.


"Mau ke depan paman, mau bantu-bantu di depan!" kata Kenzi.


Erik pun mengangguk. Kenzi lalu ke depan rumah. Bantu-bantu di depan rumah.


Erik yang berdiri di depan pintu kamar Kiara, mendengar Tiara yang sedang membujuk Kiara makan.


"Letakkan saja makanannya di situ ma, nanti aku makan sendiri! mama kan masih banyak kerjaan" kata Kiara dengan suara yang sedikit lemas.


"Sayang, mama suapi saja ya. Mama mau pastikan kamu makan dulu, baru mama urus pekerjaan di depan!" bantah Tiara.


Mendengar perdebatan dua wanita di kamar itu, Erik hanya tersenyum. Bukan hanya wajahnya, bentuk tubuhnya, dan cara bicaranya Kiara yang sama persis dengan Tiara. Tapi sifat mereka pun mirip.

__ADS_1


"Biar aku yang memastikan Kiara menghabiskan makanan dan meminum obatnya. Kamu bisa kembali ke depan dan mengurus semuanya Tiara!" kata Erik yang langsung masuk ke dalam kamar.


Tiara sedikit terkejut melihat penampilan Erik. Tapi dia tidak mau membahas hal itu di depan Kiara.


Tiara hanya berdiri dan menghampiri Erik.


"Kamu baik-baik saja? apa ada masalah?" tanya Tiara yang jujur saja melihat Erik seperti sedang banyak pikiran dan keadaannya tidak baik.


"Aku baik-baik saja!" kata Erik.


Tiara pun keluar dari ruangan itu. Dia sangat percaya pada Erik.


Erik lalu duduk di tempat Tiara duduk tadi.


"Kenapa tidak mau makan?" tanya Erik pada Kiara.


"Tanyakan itu pada paman sendiri? aku tahu paman juga tidak makan!" kata Kiara.


Erik meletakkan kembali piring yang tadinya di pedang untuk menyuapi Kiara.


Kiara membuka selimutnya dan memposisikan dirinya duduk bersila di atas tempat tidur di depan Erik.


"Paman sangat sedih ya putus dengan wanita itu, paman semalam pergi kan? kemana? ke klub malam? mabukk?" tanya Kiara yang lantas mendapatkan lirikan tajam dari Erik.


"Kenapa melotot, apa aku benar? baiklah, aku sudah tahu, paman sama sekali tidak menyukai ku kan? baiklah. Paman pergi saja sana ke Australia, siapa tahu paman masih bisa menjalin kembali hubungan dengan Tante Stefani, aku harap dia berubah dan menjadi wanita yang baik sesuai harapan paman. Aku juga berpikir untuk menerima seseorang yang menyatakan cintanya beberapa kali padaku. Paman tidak usah repot-repot menyuapiku, aku akan menghubungi pemuda itu dan mengatakan aku menerima nya, dia lantai langsung datang dan menyuapi aku!" kata Kiara yang lantas meraih ponselnya dan terlihat mencari nomer kontak seseorang.


Mendengar itu Erik merasa sangat tidak senang. Dia menahan tangan Kiara dan meraih ponselnya.


"Siapa pemuda itu?"


***


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2