Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 67


__ADS_3

Erik pikir Kiara akan memeluknya, begitu dia merentangkan tangannya pada Kiara. Sayangnya apa yang dia pikirkan itu salah.


"Jika paman butuh apapun, cari saja bibi Irma atau pelayan yang lain ya. Selamat malam!" Kiara masih terlihat sangat jutek.


Erik yang dulu begitu dekat dengan gadis di depannya itu merasa ada yang tidak beres dengan Kiara. Karena Erik juga merupakan tipikal pria yang tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut dan ingin cepat segera menyelesaikan masalah yang dihadapi.


Maka Erik pun menahan Kiara, pria itu memegang pergelangan tangan Kiara. Membuat Kiara berhenti melangkah, kemudian berbalik lagi melihat ke arah Erik.


"Apa lagi paman?" tanya Kiara yang terlihat sangat ketus.


"Apa Paman melakukan kesalahan?" tanya Erik yang mengira mungkin dirinya telah melakukan kesalahan yang tidak dia sadari sehingga membuat gadis di hadapannya itu marah.


Di tanya seperti itu oleh Erik, Kiara malah bingung sekarang. Dia baru menyadari kesalahannya, kenapa juga harus sangat kesal pada Erik ketika dia memperkenalkan kekasihnya tadi. Kenapa dia harus marah? memangnya apa hubungannya dengan Erik. Kiara hanya di anggap keponakan saja sejak dulu oleh Erik. Lantas kenapa Kiara malah berharap begitu tinggi pada pria yang usianya bahkan hampir sama dengan mamanya itu.


Kebingungan dan salah tingkah, akhirnya Kiara menepis tangan Erik itu.


"Aku tidak marah paman, aku memang seperti ini!" kata Kiara memberikan alasan atas sikapnya yang tidak berdasar.


"Tapi Kiara yang paman kenal dulu tidak seperti ini?" tanya Erik lagi.


"Paman, paman sudah pergi sangat lama. Paman juga hanya ada kabar kalau nenek menghubungi paman, jika tidak. Paman tidak pernah berinisiatif menghubungi kami. Bagaimana paman bisa tahu, seperti apa aku, sudahlah paman. Paman istirahat saja dulu, nanti malam akan ada pengajian untuk nenek. Aku akan pergi ke dapur!" kata Kiara panjang lebar lalu meninggalkan Erik dan menuju ke arah dapur.


Erik hanya bisa menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Kiara itu memang benar. Erik selama ini benar-benar menghindari Tiara dan keluarganya. Dia benar-benar ingin melupakan Tiara. Sampai sekarang saja, di pikirannya masih ada nama Tiara di sana. Begitu sulit melupakan cinta pertama dan wanita yang begitu berharga baginya itu.


Malam harinya, pengajian pun di laksanakan di rumah Kenzo. Sesekali air mata Tiara masih terus berlinang. Bukan Tiara saja, Kenzo, Kiara dan Kenzi juga sesekali menyeka air matanya sambil membaca doa untuk Melani.


Erik matanya juga berkaca-kaca. Melani dulu juga pernah sangat menyayangi dan menganggap dirinya anak. Kehilangan Melani, juga membuat Erik merasa sangat sedih.


Setelah acara pengajian, mereka berkumpul di ruangan keluarga.

__ADS_1


"Kiara sudah kuliah ya?" tanya Erik mengawali perbincangan ketika Tiara sedang meletakkan minuman di atas meja di bantu oleh Kiara.


"Iya Erik, apa kamu percaya kalau aku katakan dia sudah semester akhir?" tanya Tiara pada Erik.


Erik begitu terkejut, tapi lebih kepada terkejut dengan rasa kagum.


"Wah, itu luar biasa. Sepertinya dia mewarisi otak papanya!" kata Erik.


Tiara pun duduk di samping Kenzo sambil memicingkan matanya ke arah Erik.


"Apa maksudmu aku tidak pinta" tanya Tiara.


"Kamu pintar Tiara, tapi usia 19 tahun dan sudah semester akhir. Bukankah itu genius?" tanya Erik lagi.


Dan sepertinya Stefani mulai bosan dengan perbincangan orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Maaf sayang, tapi pengajian Tante Melani akan di selenggarakan dalam tiga hari berturut-turut ini. Kita menginap di sini dulu ya, supaya bisa bantu-bantu dan tidak bolak-balik. Tidak apa-apa kan?" tanya Erik dengan nada lembut pada Stefani.


Entah di dalam hatinya seperti apa. Tapi Stefani terlihat tersenyum dan mengangguk setuju. Wanita itu bahkan berpamitan juga pada Tiara, dan yang lain sebelum dia kembali ke kamarnya.


"Pa, besok aku ada quiz. Aku ke kampus sebentar ya, hanya dua jam saja!" kata Kiara pada Kenzo.


"Iya sayang!" kata Kenzo.


Mereka pun lanjut mengobrol. Minuman Kiara sudah nabis, dia bermaksud meletakkan gelas kosong di dapur dan pergi ke kamarnya.


Tapi saat dia melewati kamar Stefani, Kiara mendengar Stefani bicara dengan seseorang. Pintunya tidak tertutup rapat, mungkin Stefani lupa menutupnya.


"Apa katamu, menyenangkan? Yola, jika kamu tahu aku harus di rumah tantenya yang meninggal itu selama tiga hari. Aku ingin bersenang-senang di sini, aku ingin secepatnya hamil agar Erik menikahi ku, aku benar-benar muak berpura-pura baik, lembut, sabar. Aku muak menjadi wanita penurut, kalau aku sudah menikah, dan punya anak nanti. Aku tidak akan bersandiwara seperti ini lagi, dia bahkan tidak mau menyentuhku. Menyebalkan!"

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Stefani, bulu kuduk Kiara meremang. Selama ini dia sangat jauh dari hal-hal yang berbau semacam itu. Kenzo dan Tiara begitu menjaga Kiara dengan baik, sampai pulang dan pergi sekolah saja. Kenzo atau Tiara yang akan mengantarkan dan menjemput kedua anak mereka secara langsung.


Jika ada kerja kelompok, maka Tiara akan menemani Kiara meski hanya sekedar menunggu di dalam mobil di luar rumah temannya itu. Kiara juga tidak punya teman pria, karena dia memang tidak suka. Begitu mendengar kata yang di ucapkan Stefani dengan temanya yang bernama Yola itu di telepon tadi. Tentu saja Kiara menjadi tidak nyaman dan langsung pergi ke kamarnya.


Keesokan paginya, Stefani bahkan belum bangun. Erik meminta agar para pelayan jangan ada yang membangunkannya. Dia kemarin sudah tidak istirahat dengan baik. Erik pikir biarkan Stefani istirahat dengan baik hari ini.


Di meja makan, semua sedang berkumpul untuk sarapan.


"Kamu terlihat sangat perduli dan perhatian pada kekasihmu ya Erik? di sangat beruntung!" kata Kenzo.


"Stefani itu sangat berbeda, di luar negeri banyak wanita yang begitu agresif, tapi dia berbeda. Dia benar-benar lembut dan sabar!" jawab Erik.


Rasanya Kiara ingin mengatakan semua yang dia dengar semalam di kamar Stefani. Tapi dia tidak mau membuat keributan, apalagi orang tuanya pasti akan marah kalau dia menguping pembicaraan orang.


"Pa, aku akan minta Kenzi mengantarkan aku ya!" kata Kiara.


"Sayang, tunggu sebentar kalau begitu. Soalnya Kenzi lagi ke rumah pak ustadz, kirim parsel!" kata Tiara.


"Bagaimana kalau aku saja yang mengantar Kiara, aku tidak pergi ke perusahaan. Aku free?" tanya Erik.


"Tidak merepotkan mu, nanti kekasihmu bangun dan mencari mu?" tanya Tiara.


"Tidak lah, dia pasti bangun siang. Dia susah bangun pagi memang. Kebiasaan orang di sana!" kata Erik.


"Baiklah, terimakasih sebelumnya Erik!" kata Kenzo.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2