Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 72


__ADS_3

Erik menjemput Kiara lagi, kali ini dia tidak terlambat.


Kiara masuk ke dalam mobil dan langsung memalingkan wajahnya keluar jendela mobil.


Sebenarnya bukan karena dia masih kesal pada Erik yang lebih percaya pada Stefani daripada dirinya. Tapi sebenarnya karena dia masih bingung untuk mencari cara, agar dia bisa bicara dengan Stefani dan membongkar kebusukan Stefani itu.


"Kamu masih marah pada paman?" tanya Erik pada Kiara.


Kiara langsung menoleh ke arah Erik.


"Apa perduli paman kalaupun aku marah? paman juga tetap akan meninggalkan aku dan pulang dengan wanita itu kan lusa..!" kata Kiara.


Kiara memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela dan bergumam pelan.


"Padahal aku tahu, sebenarnya paman juga punya perasaan yang sama padaku!" gumamnya berbisik.


Erik lagi-lagi menghela nafasnya.


"Paman minta maaf atas apa yang paman lakukan padamu tadi. Kiara... semuanya tidak mudah. Mungkin perasaan kita ini terjadi karena ciuman itu...!"


Tiba-tiba saja ponsel Kiara berdering. Erik merasa dia tidak perlu menjelaskannya lagi. Dan mungkin telepon itu penting, jadi Erik diam dan menoleh ke arah depan mobil.


"Kiara, Kiara... ini aku. Aku melihatnya. Aku melihat wanita yang fotonya kamu tunjukkan tadi padaku! cepatlah, dia sedang bersama dengan seorang pria menuju sebuah hotel. Cepatlah, aku share lokasinya ya!"


Telepon itu adalah telepon dari Oline. Tadi dia sempat minta di perlihatkan foto wanita itu oleh Kiara. Untung saja, kemarin saat pengajian, mereka sempat foto bersama. Kata mamanya untuk kenang-kenangan. Tapi ternyata ada guna lainnya juga.


Setelah mendengar apa kata temannya itu, dan menerima pesan di mana lokasi hotel itu berada. Kiara langsung menyentuh lengan Erik.


"Paman, cepat ke hotel ini..!"


"Hotel?" tanya Erik dengan tatapan mata penuh selidik.


"Iya paman, cepat!" kata Kiara.


Meskipun Erik merasa aneh, tapi dia tetap saja pergi menuruti apa yang dikatakan oleh Kiara. Begitu sampai di hotel yang di maksud, Kiara lalu turun menemui Oline.


"Kiara cepat!" kata Oline memanggil Kiara.


"Dimana dia?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Kiara, ini siapa? kita mau apa di sini?" tanya Erik bingung.


"Paman ayo ikut saja!" kata Kiara menarik tangan Erik.


Erik masih tetap sama seperti tadi, meskipun dia dalam keadaan bingung tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Kiara.


"Ini kamar mereka, dobrak saja. Aku dengar suara-suara mengerikan tadi!" kata Oline.


"Paman, dobrak saja pintunya!" kata Kiara.


"Kamar siapa? ini tidak baik Kiara. Lebih baik minta kuncinya pada petugas!" kata Erik.


"Paman, Tante Stefani dan selingkuhannya ada di dalam!" kata Kiara yang terpaksa mengatakan hal itu.


Kata Erik memerah, bahkan dia langsung menendang pintu kamar hotel itu dengan sangat keras sampai pintu itu rusak dan pada akhirnya terbuka.


"Hey, siapa itu...!"


Suara seorang pria terdengar memprotes apa yang di lakukan oleh Erik. Tapi Erik langsung masuk dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, Stefani sedang berusaha dengan susah payah menutupi tubuhnya yang tidak menggunakan pakaian itu dengan selimut putih hotel.


"Sayang... kamu..!"


Dia bahkan sempat tidak percaya pada Kiara, karena merasa sudah kenal lama dengan Stefani dan wanita itu sangat baik, sangat sabar dan pengertian. Mana dia menyangka akan menjadi seperti ini. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat wanita itu tengah berada di atas satu tempat tidur tanpa busana dengan pria lain.


Kiara dah Oline keluar karena merasa tidak enak melihat pemandangan yang terlalu polos itu.


"Jadi itu pamanmu, parah sih itu perempuan. Pria setampan itu kok masih di selingkuhi sih? kaya kan dia?" tanya Oline dan Kiara pun mengangguk.


Kiara diam, dia ingat kalau Stefani mengeluh pada temannya karena paman Erik tidak pernah menyentuhnya. Mungkin karena itu Stefani selingkuh, tapi dia juga tidak akan menyampaikan itu pada Oline. Oline itu sama seperti dirinya, tidak mengerti hal seperti itu.


"Bagaimana kamu tahu wanita itu berada di sini?" tanya Kiara.


"Tadi itu mereka berdua ada di minimarket, aku juga sedang di sana membeli eskrim. Saat aku membayar, pria itu juga membayar di kasir sebelah ku, dia membeli itu... alat pelindung yang terbuat dari karet itu!" kata Oline.


Kiara mengangguk paham.


"Jadi aku ikuti mereka sampai sini. Karena aku sepertinya merasa sangat familiar dengan yang perempuan. Aku ingat dia Tante yang kamu bicarakan itu, langsung aku menghubungi mu?" kata Oline panjang lebar.


Kiara mengangguk paham, dia lega ternyata benar-benar ada gunanya dia menceritakan masalahnya pada Oline.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar, Erik tampak tak bisa berkata-kata.


"Dengar, segera pergi dari kota ini. Aku akan kirimkan barang-barang mu ke apartemen mu di Australia. Kata putus, dan mulai detik ini kita tidak punya hubungan apapun lagi!" seru Erik lalu meninggalkan kamar hotel itu.


Stefani tak bisa berbuat banyak, dia benar-benar tak bisa mengejar Erik karena dia memang belum menggunakan pakaian apapun.


Dia benar-benar menyesal, padahal sebentar lagi dia akan menikah dengan Erik. Karena bujukan mantan kekasihnya untuk bertemu malah jadinya seperti itu.


Erik pergi ke resepsionis, Kiara dah Oline mengikutinya. Setelah membayar ganti rugi, Erik mengajak Kiara untuk pulang.


"Oline terima kasih ya, atas bantuanmu!" kata Kiara.


Oline mengangguk dan juga meninggalkan hotel itu.


Erik benar-benar kacau, dua kali dia di khianati oleh wanita yang dia anggap baik. Dulu dia menemukan Meri dengan keadaan nyaris sama seperti dia menemukan Stefani. Benar-benar nasib sial menurut Erik.


Erik mengacak rambutnya kesal, bagaimana pun sudah hampir dua tahun dia menghabiskan banyak waktu dengan Stefani.


"Paman, paman kalau mau menenangkan pikiran dulu, turunkan saja aku. Nanti aku akan naik taksi online saja!" kata Kiara yang tahu kalau pamannya sedang sedih sekali.


"Kiara, tapi paman sudah bilang pada mama kamu akan menjemput kamu, paman tidak mungkin bertemu dengan Tiara dalam keadaan begini..!"


"Kalau begitu pulang saja ke rumah paman, aku rutin di sini. Nanti aku akan jelaskan pada mama, kalau tiba-tiba paman ada pekerjaan!" kata Kiara.


Erik pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak, paman sudah bilang akan mengantar kamu pulang. Paman tidak apa-apa!" kata Erik mastikan agar Kiara tidak lagi khawatir.


Setibanya di rumah, Tiara menghampiri Erik.


"Rik, tadi Stefani pamit keluar, katanya dia mau bertemu teman lamanya, yang kebetulan menghubungi nya!" kata Tiara.


"Iya Tiara, dia juga sudah bilang padaku. Kami akan bertemu di Australia nanti!" kata Erik.


Kiara yang mendengar itu kembali khawatir, tapi Kiara juga tidak bisa berbuat apa-apa kan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2