
Keesokan harinya, pagi ini adalah pagi yang membuat Erik sedikit gugup. Meski jadinya sudah cukup akrab dengan Melani, namun kali ini berbeda.
Erik bahkan sudah menyiapkan catatan kecil di sebuah karton yang dia letakkan di sakunya. Kalau dia lupa apa yang harus dia katakan kepada Melani, mungkin nanti dia bisa sedikit mencontek catatan kecilnya itu.
Melani yang baru saja selesai membantu menyiapkan Kenzi dan Kiara lantas duduk di meja makan bersama dengan Tiara, kedua cucunya dan juga Erik.
Melani sejak tadi menahan senyum, karena Erik dan Tiara terus saja saling lirik. Dan mereka seperti menggunakan bahasa mata untuk berkomunikasi satu sama lain. Tidak sulit bagi mereka untuk bisa cari memahami karena mereka punya masa lalu yang cukup lama.
Apalagi, sejak membantu Kiara dan Kenzi merapikan diri mereka untuk berangkat ke sekolah. Melani juga sudah mendapat bocoran dari kedua cucunya itu kalau mamanya kemarin menerima buket bunga dari paman mereka itu. Dan kedua cucu Melani itu juga berkata, kalau mamanya dan paman Erik berpelukan. Dengan mereka juga.
Dari apa yang kedua cucunya itu ceritakan saja Melani sudah mengerti kalau hubungan mereka akan menjurus ke arah yang lebih serius.
"Erik, mau sarapan apa? nasi goreng atau roti panggang?" tanya Melani.
Melani memang seperti itu, dia sudah menganggap Erik seperti anaknya sendiri. Karena Erik juga sangat sopan dan baik padanya seperti memperlakukan seorang ibu.
"Roti saja Tante, oh ya Tante. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada Tante!" kata Erik.
Meski usianya memang sudah tidak muda lagi. Tapi ini juga kali pertamanya melamar seorang wanita pada orang tuanya.
"Ada apa Erik? apa lamaranmu sudah di terima oleh Tiara?" tanya Melani.
"Uhukk uhukk uhukk!" sontak saja, Tiara langsung terbatuk karena saat Melani menanyakan hal itu pada Erik. Tiara tengah meminum jus jeruknya.
Melani terkekeh ketika Tiara terbatuk-batuk. Lalu mendekati menantunya itu dan menepuk pelan punggung Tiara.
"Baiklah, sekarang katakan pada ibu. Kapan kalian akan bertunangan? lebih cepat lebih baik. Malam ini saja bagaimana? keluarga kita saja, makan malam di restoran. Bagaimana?" tanya Melani.
Erik mengulas senyum begitu lebar.
__ADS_1
"Tante benar-benar membuat segala pekerjaanku menjadi mudah. Padahal aku sudah siapkan catatan ini!" kata Erik menunjukkan kertas contekan nya.
Tiara dan Melani tak bisa menahan tawa mereka karena apa yang di tunjukkan oleh Erik itu. Sedangkan dua anak kecil yang sedang menikmati sarapan itu kebingungan dan saling pandang. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya di bicarakan oleh tiga orang dewasa itu. Tapi melihat mama, nenek dan paman mereka tertawa, mereka juga jadi ikut senang.
Waktu berjalan begitu cepat, setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Erik mengantarkan Tiara ke kantor.
Di depan perusahaan Pratama, Erik menepikan mobilnya. Erik bergegas keluar dari dalam mobil lalu dengan cepat berlari ke arah pintu mobil bagian Tiara, dia membukanya dan mempersilahkan Tiara keluar dari dalam mobil bak mempersilahkan seorang ratu turun dari kereta kencana.
"Please my queen!" kata Erik.
Tiara pun tersenyum lalu menyambut uluran tangan Erik yang ada di depannya.
"Terimakasih Erik. Jangan begini, tidak enak di lihat karyawan lain!" kata Tiara.
"Baiklah!" kata Erik yang lantas berdiri dengan benar tapi cukup dekat dengan Tiara.
"Aku tidak sabar menantikan nanti malam!" kata Erik.
"Jawaban yang menyedihkan, aku berharap lebih padahal!" kata Erik yang menunjukkan wajah sedikit kecewa pada jawaban Tiara.
"Sudahlah, Erik cukup bercandanya. Aku masuk ya, terima kasih sudah mengantar anak-anak juga aku!" kata Tiara.
"Itu kewajiban ku, aku yang akan jemput anak-anak nanti. Kita akan bertemu di restoran jam 7 malam ya, Tiara!" kata Erik.
Tiara lantas menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Hati-hati di jalan!" kata Tiara.
Erik pun mengangguk paham dan melambaikan tangannya pada Tiara. Setelah itu Erik masuk ke dalam mobil, dan mobil Erik pun melaju perlahan meninggalkan Perusahaan yang di pimpin oleh Tiara sekarang.
__ADS_1
Deg
Tiara merasa jantungnya seperti berdegup keras untuk sesaat.
Tiara memegang dadanya, arah pandangannya tertuju pada sebuah mobil mewah yang kebetulan melintas di jalan raya di depan perusahaan nya.
"Aduh, kenapa ya? sepertinya aku harus check up ke dokter! sudah lama aku tidak check up bersama ibu dan anak-anak!" gumam Tiara yang lantas masuk ke dalam kantornya.
Sementara di dalam mobil itu, hal yang sama juga di rasakan oleh Georgino. Pria itu juga merasa kalau sekilas dia merasakan perasaan yang tak biasa. Ketika dia akan melihat ke arah jendela mobil, Natasha lantas menggandeng lengannya dan menyandarkan kepalanya di lengan Geo. Membuat arah pandangan Geo berubah ke arah Natasha dan mengurungkan niatnya melihat ke arah jendela mobil.
"Honey, terima kasih sudah mau menemaniku ke salon. Meskipun acara pembukaan perusahaan besok malam, tapi aku kan tetap ingin tampil dengan baik. Lagipula nanti malam kita juga ada acara makan malam dengan para pemegang saham di restoran. Aku tidak boleh membuatmu malu kan?" tanya Natasha.
Geo hanya bisa tersenyum menanggapi apa yang di katakan Natasha. Geo masih berusaha melihat ke arah belakang tapi karena Natasha memegang dan memeluk erat lengannya. Di tidak bisa menoleh ke arah belakang.
Mereka akan pergi ke salon yang sangat mewah. Natasha benar-benar tak mau sama sekali meninggalkan kehidupan mewahnya meskipun sudah berada di kota ini. Dan Geo sebenarnya sangat tidak suka pada hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri tidak tahu siapa dia dan darimana asalnya.
Tapi saat berada di tempat ini, dia merasa kalau sangat familiar dengan tempat-tempat yang ada di sini. Mungkin jika ada yang mengenalnya, Geo baru akan bisa bertanya-tanya pada orang itu tentang siapa dia sebenarnya. Karena dia yakin, dia memang berasal dari tempat ini. Bahasanya sama, dan wajahnya cenderung mirip dengan orang-orang dari tempat ini. Warna kulit, warna rambut dan semacamnya.
Mereka pun sampai di sebuah salon yang sangat terkenal. Saat mereka berdua sedang berada di meja resepsionis salon itu. Seorang wanita terlihat keluar dari tempat itu dengan sangat kesal.
"Heh, kenapa mengusir sih! aku juga pasti bayar. Aku bilang aku lupa bawa kartuku yang tidak limit!" kata wanita itu yang adalah Meri.
"Kami sudah paham modus seperti ini. Pergi sana, kalau tidak punya uang kenapa masuk salon mahal sih!" kata salah seorang petugas salon.
Meri melihat ke arah meja resepsionis itu sekilas. Tapi karena dia kepanasan, dia menyingkir dari sana menuju tempat teduh.
"Eh, tadi itu Kenzo bukan sih? tapi kok bukan sama Tiara. Ah, pasti efek infus milk nya ini, mataku jadi bluur gini kepanasan!" gerutu Meri yang lantas meninggalkan salon itu.
***
__ADS_1
Bersambung...