
Sementara itu di hotel, Kenzo sedang bersiap untuk meeting. Dia bahkan baru saja sampai di hotel tempatnya menginap dan tempatnya akan meeting penting nanti.
Namun entah kenapa, dia ingin sekali melihat ponselnya. Tadinya dia hanya ingin melihat foto Tiara di Wallpaper layar ponselnya. Tapi dia terkejut ketika ibunya banyak sekali melakukan panggilan, sedangkan Kenzo tidak menyadarinya sejak tadi. Karena ponselnya di setting dengan mode silent.
Kenzo lantas menghubungi kembali Melani.
"Halo ibu!"
"Kenzo... Kenzo Tiara hilang!" kata Melani panik.
Kenzo langsung terkejut.
"Tiara hilang? bagaimana ceritanya Bu?" tanya kenzo tak kalah panik.
"Asisten rumah tangga Tiara ke rumah, katanya Tiara belum pulang sampai sekarang. Dia dan ibu sudah mencoba untuk menghubungi Tiara. Tersambung tapi tidak di angkat. Kenzo bagaimana ini?" tanya Melani panik.
"Sebentar Bu, aku sudah pasang GPS di ponsel Tiara. Aku lihat dulu!" kata Kenzo lalu memutuskan panggilan telepon dengan ibunya.
Kenzo lantas mengecek GPS di ponsel Tiara. Dimana keberadaannya. Dan itu ada di sebuah tempat yang sangat jauh dari pemukiman. Di tengah hutan, pinggiran kota.
"Tidak mungkin Tiara kesana sendirian, jangan-jangan...!"
Kenzo lantas bergegas keluar dari kamar hotel, kemudian dia pergi menemui rekan kerjanya dan mengatakan tidak bisa ikut meeting karena ada urusan penting. Meskipun resiko dia tidak ikut meeting adalah tidak mendapatkan promosi. Tapi Kenzo tak perduli tentang hal itu.
Kenzo lantas mengendarai mobil perusahaan dengan kecepatan maksimal. Dia sudah sangat takut, setidaknya akan butuh waktu dua jam sampai di sana.
"Tiara, aku harap kamu baik-baik saja. Tunggu aku Tiara!" gumam Kenzo sambil terus menginjak pedal gas dengan kuat.
***
Sementara itu Tiara sudah dalam keadaan yang tidak berdaya. Tapi karena dosis obat yang di berikan Erik tidak terlalu tinggi. Tiara masih bisa sadar meskipun pengaruh obat itu juga sudah mulai masuk dalam darahnya dan membuat Tiara merasa haus, panas dan sakit kepala.
Tiara terus berusaha tetap sadar karena dia tahu apa yang Erik berikan padanya. Saat Tiara sudah tak sadar nanti, dia pasti akan menjadi sangat li4r, mungkin dia malah akan minta di sentuh oleh Erik. Dan Tiara tak ingin itu terjadi.
'Kenzo.. !' lirih Tiara dalam hatinya.
Erik masih memegang botol minuman dan terus melihat ke arah Tiara.
"Jika sudah tidak kuat, memohonlah padaku Tiara!" kata Erik.
__ADS_1
Erik begitu santai, dia sama sekali tidak pernah menduga kalau Kenzo sudah memasang GPS di ponsel Tiara akibat Tiara pergi tanpa memberitahunya waktu itu.
Erik begitu santai dan tak mau memaksa Tiara, dia ingin Tiara yang memohon padanya.
Satu jam berlalu, Tiara bahkan sudah menggigit bibirnya sendiri dan mencubit tangannya sendiri agar dia tetap sadar.
Tapi karena pengaruh obat semakin membuatnya tak bisa bertahan, perlahan Tiara pun nyaris kehilangan kesadarannya.
"Kenzo...!" lirih Tiara.
Erik yang melihat Tiara sudah akan pingsan tapi masih menyebut nama Kenzo lantas menarik Tiara dan mer0bek baju yang di pakai Tiara.
Brettt
Tiara yang sudah dalam pengaruh obat sepenuhnya tak bisa berbuat apapun. Kenzo mulai mencium Tiara, begitu r4kus sampai Tiara tersedak karena tak bisa bernafas.
Bagian atas sudah tidak tertutupi apapun, membuat Erik bebas bereksploitasi di sana. Tiara hanya bisa menangis. Dia benar-benar tak berdaya.
Sampai saat Erik akan melepaskan bawahan Tiara.
Brakkkkk
"Tiara!" teriak Kenzo.
Tiara yang mendengar suara Kenzo akhirnya menutup matanya dan tak sadarkan diri.
Melihat apa yang Erik lakukan pada Tiara. Kenzo mengamuk, mata dan wajahnya merah padam karena marah.
Dia langsung berlari menghampiri Erik dan menghajarnya sampai babak belur. Erik juga sudah setengah mabuk, dengan beberapa pukulan dan tendangan Kenzo. Erik tersungkur tak berdaya di tanah.
Kenzo langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Tiara.
"Sayang, Tiara.. kamu sudah aman sayang. Jangan takut!" kata Kenzo yang langsung menghubungi polisi lalu membawa Tiara ke ruang sakit.
Beberapa jam kemudian, Erik pun di tangkap polisi. Sedangkan Tiara sudah berada di rumah sakit bersama Kenzo dan Melani.
"Sayang, semua sudah berlalu. Kamu sudah aman!" kata Melani yang menitihkan air matanya karena cobaan hidup Tiara terus menerus datang.
Tiara terlihat masih trauma, sampai beberapa hari dia mengurung dirinya di dalam kamar dan kuliah.
__ADS_1
Suatu hari Kenzo membicarakan hal ini pada ibunya, dan mereka berdua datang ke rumah Tiara menemui pengacara keluarganya untuk melamar Tiara.
Kenzo dan Tiara menikah, pernikahan sederhana namun sangat khidmat. Semua terlihat bahagia, karena memang Kenzo dan Tiara adalah pasangan serasi menurut warga di sekitar perumahan mereka.
Setelah janji suci itu, Kenzo mengajak Tiara ke rumah mereka yang sederhana. Tiara masih terlihat sedih. Tapi Kenzo langsung menghibur istrinya itu.
Saat Kenzo melepaskan pakaian Tiara, Tiara kembali menangis.
"Ini sudah pernah di sentuh orang jahat itu...!" lirih Tiara ketika suaminya mencium dadanya.
Kenzo lantas memegang tangan Tiara dan berkata.
"Aku akan menghilangkan semua bekas sentuhannya!" kata Kenzo yang mulai mengeksplorasi semua kepunyaan Tiara.
Beberapa bulan kemudian, Tiara kembali mengulang semester yang tertinggal. Dia mendapat kabar kalau Erik di hukum penjara selama 7 tahun atas apa yang dia perbuat. Tiara dan Kenzo tampak puas dengan keputusan itu.
Hidup Tiara dan Kenzo sangat bahagia, karir Kenzo juga mulia naik dan semakin naik. Hingga dia bisa memimpin sebuah perusahaan sendiri.
Beberapa tahun berlalu, tujuh tahun tepatnya. Kenzo ingin mengajak Tiara dan kedua anak mereka yang berusia enam dan empat tahun untuk merayakan anniversary pernikahan Kenzo dan Tiara yang ke tujuh ke sebuah taman bermain yang besar.
Di saat yang sama, Erik juga sudah keluar dari penjara. Erik di tolak ibunya, dia di usir karena sang ibu malu punya anak mantan narapidana.
Erik pun berjalan tanpa arah, sampai akhirnya Erik sampai di sebuah taman bermain. Matanya membulat sempurna dan langkahnya terhenti melihat seorang wanita cantik memeluk seorang anak laki-laki yang usianya kira-kira empat tahun.
"Mama, aku mau balon!" kata anak itu dengan gaya khas anak-anak.
Erik terduduk lemas di lantai. Wanita itu sekarang sudah sangat bahagia sepertinya. Seorang pria dan seorang anak yang lebih besar dari anak kecil tadi menghampirinya.
'Tiara!' lirih Erik dalam hati.
Air matanya mengalir, seandainya dulu dia tidak berselingkuh dengan Meri. Dan membuat hati Tiara terluka. Tentu yang sekarang berdiri dengan Tiara dan sedang berbahagia dengan anak-anak mereka itu adalah dirinya.
Namun penyesalan itu sudah tak berguna lagi. Air mata yang mengalir juga sudah tidak ada gunanya lagi. Tiara benar-benar sudah menemukan kebahagiaanya, tanpa dirinya.
Erik benar-benar menyesali kebodohannya, karena dia sudah menyia-nyiakan kesempatan yang sedang berpihak padanya, padahal tak selalu kesempatan itu akan datang lagi untuk kedua kalinya.
***
Bersambung...
__ADS_1