
Semalaman Tiara tidak bisa tidur memikirkan semua yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Sebelum tidur tadi dia sempat pergi ke kamar Kiara. Dan di kamar Kiara, dia melihat sebuah gambar di buku gambar Kiara.
Sebuah gambar yang mungkin itu bisa mendeskripsikan apa yang diinginkan oleh anak kecil itu.
Kiara menggambar empat orang yang gambarnya memang sangat lucu. Dua orang menggunakan kunciran 2 yang satu besar dan yang satu kecil, dan yang dua terlihat menggunakan celana pendek, gambarnya sama dengan yang perempuan yang satu besar dan yang satu kecil. Itu seperti ayah, ibu, lalu anak laki-laki dan anak perempuannya.
Tiara benar-benar sedih, di saat dia benar-benar belum bisa melupakan Kenzo. Tapi dia juga harus memikirkan keinginan Ibu mertuanya dan juga harapan dari kedua anaknya. Kehadiran Erik memang membuat Kiara dan Kenzi seperti memiliki sosok seorang ayah. Tapi tetap saja, Tiara belum bisa membuka hatinya untuk pria lain.
Sebenarnya ini masih belum lama, baru satu tahun. Tapi yang namanya anak-anak mungkin satu tahun itu sudah sangat lama sekali. Tiara mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk melupakan sejenak semua masalah yang sedang dia pikirkan. Besok, dia harus kembali bekerja. Jadi dia juga tidak boleh kurang istirahat.
Keesokan paginya, anak-anak Tiara sudah mengetuk pintu kamar Tiara.
Tiara yang memang semalam aja terlambat tidur pun membuka matanya dengan perlahan, lalu Tiara turun dari tempat tidurnya dan berjalan pelan menuju pintu kamarnya.
Ceklek
"Mama!" teriak dua malaikat kecil itu yang langsung merangkul Tiara dari sisi kanan dan kirinya.
"Selamat pagi sayang-sayangnya mama. Bagaimana keadaan kalian?" tanya Tiara yang lantas berjongkok dan kembali memeriksa kening Kenzi dan Kiara.
"Aku sudah sembuh mama. Kata paman Erik, kalau aku bisa menurut, minum obat, istirahat dan makan yang banyak. Aku akan cepat sembuh. Dan itu akan membuat mama bahagia!" kata Kiara.
Kiara itu persis sekali seperti Kenzo, matanya dan cara bicaranya. Melihat Kiara bicara seperti itu, Tiara benar-benar kembali teringat pada Kenzo.
Tiara memeluk Kiara dan menitihkan air matanya lagi. Tiara benar-benar merindukan Kenzo. Kenzo dulu juga sering berkata seperti itu, dia selalu ingin Tiara bahagia, dan membahagiakan Tiara adalah tujuan hidupnya.
"Mama, mama jangan menangis!" kata Kenzi lalu menyeka air mata Tiara dengab tangan mungilnya.
"Kata paman Erik, kalau Kenzi menurut mama tidak akan menangis lagi! mulai sekarang Kenzi akan menuruti semua perintah mama!" kata anak kecil yang usianya baru lima tahun beberapa minggu yang lalu.
"Mama menangis bukan karena sedih, mama bahagia. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaan mama!" kata Tiara yang memeluk kedua anaknya.
"Mama, sudah peluknya. Ayo mandi dan bersiap, paman Kenzi akan mengajak kami ke rumahnya. Ada banyak mainan di sana mama!" kata Kenzi lagi.
"Iya mama, kata paman Erik. Dia membuatkan sebuah rumah boneka untukku di rumah paman Erik. Aku mau melihatnya!" kata Kiara.
__ADS_1
"Tapi, bukannya kalian harus sekolah?" tanya Kiara bingung.
"Paman Erik sudah terlanjur meminta surat dokter dengan keterangan 2 hari. Ayo mama, siapkan kami!" kata keduanya menggandeng tangan Kiara menuju kamar mereka.
Setelah menyiapkan anak-anak, Tiara juga menyiapkan dirinya. Karena dia juga ada meeting penting pagi ini.
Mereka sarapan bersama, dan di tengah sarapan. Erik pun dayang. Kenzi dan Kiara lantas berlari dengan cepat ke arah Erik.
Melani hanya tersenyum melihat hal itu.
"Mereka benar-benar menyayangi Erik, jadi bagaimana Tiara. Memberi kesempatan pada Erik, artinya memberi anak-anak mu kebahagiaan!" kata Melani yang tak menyerah juga.
Masalahnya Melani sangat menyayangi Tiara, dia sadar kalau dia sudah tidak muda lagi. Apalagi dia punya darah tinggi dan penyakit lain. Melani sangat cemas, kalau sampai nanti dia tidak bersama Tiara, siapa yang akan menjaga Tiara dan anak-anaknya. Mungkin Tiara kuat, tapi kuatnya seorang wanita itu ada batasnya. Dan ada hal yang hanya akan bisa di berikan seorang ayah pada anak-anaknya.
Sebenarnya itulah yang menjadi kecemasan Melani. Bukan hal lain.
"Bu, kenapa sih terus membicarakan hal itu?" tanya Tiara agak sedih.
"Karena ibu kan tidak tahu nak, sampai kapan ibu masih bisa bersama dengan kamu dan anak-anak...!"
"Ada apa ini? apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Erik yang menghampiri Tiara sambil menggendong Kenzi.
"Mama, ayo pergi ke rumah paman Erik!" ajak Kiara.
"Sayang, tapi mama ada pertemuan pagi ini. Erik, kamu benar-benar ada waktu luang?" tanya Tiara.
Masalahnya dia juga tahu jadwal Erik sangat padat.
"Aku selalu ada waktu luang untuk anak-anak ku..!"
"Erik!" protes Tiara.
"Iya iya, anggap saja mereka anak-anak mu. Sudah bawa saja mereka, nanti Tiara akan menyusul setelah rapatnya selesai!" kata Melani.
"Benarkah?" tanya Erik.
__ADS_1
Tiara menoleh ke arah ibu mertuanya, padahal hari ini pekerjaan Tiara sangat banyak di kantor. Setelah menghadiri pertemuan nanti dia juga masih harus memeriksa beberapa dokumen penting yang akan dipresentasikan esok harinya.
"Iya benar, iya kan Tiara?" tanya Melani.
Tapi karena Tiara memang tidak pernah menolak apapun yang diinginkan oleh ibu mertuanya jika dia memang bisa melakukannya. Maka Tiara hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah, jika sudah mau datang telepon dulu ya. Kami akan menyiapkan kejutan untukmu!" kata Erik ya langsung berpamitan kepada Melani dan membawa Kenzi juga Kiara bersamanya.
Tiara juga berpamitan kepada Melani setelah Erik dan anak-anak pergi.
"Bu, aku berangkat ke kantor dulu. Ibu jangan capek-capek ya di rumah!" kata Tiara yang mencium punggung tangan Ibu mertuanya saling memeluk ibu mertuanya itu. Hal yang sama yang sudah menjadi rutinitas bagi Tiara selama setahun lebih ini.
Setibanya di kantor, Tiara mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Menghadiri pertemuan, dan membahasa masalah penting dengan Frans.
Sementara itu di rumahnya, Erik sedang menyiapkan kejutan untuk Tiara.
"Paman, aku mau bunganya lagi!" kata Kenzi yang sedang menaburkan bunga di sepanjang jalan dari pintu rumah bagian samping ke arah taman belakang rumah Erik.
"Ini sayang, terimakasih sudah membantu paman ya sayang!" kata Erik memeluk Kenzi sekilas.
"Sama-sama paman, setelah ini aku bisa tinggal di sini bersama mama kan?" tanya Kenzi.
Erik mengangguk dengan cepat sambil tersenyum.
"Kalau mama kamu menerima lamaran paman, maka Kenzi bisa tinggal di sini bersama kak Kiara, mama Tiara, dan juga nenek Melani!" kata Erik.
Kenzi lalu melompat lompat senang.
"Ye, Kenzi akan tinggal di rumah paman Erik. Ye ye ye!" seru anak itu sangat senang.
Karena Erik memang membuatkan mereka taman bermain di samping rumahnya yang pekarangannya sangat lebar dan sangat luas. Ada kolam renang, ada rumah balon, ayunan, jungkat-jungkit, bahkan semua permainan yang ada di zona anak.
Benar kata orang, menarik perhatian seorang ibu, itu bisa di lakukan dengan menarik perhatian anaknya lebih dulu.
***
__ADS_1
Bersambung...