Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 36


__ADS_3

"Kenapa ibu bicara begitu? selamanya aku tidak akan...!"


"Nak...!" kata Melani sambil kembali menarik tangan Tiara.


"Ibu tahu kamu sangat mencintai Kenzo, ibu mengerti kalau meskipun kamu sendirian mengurus Kenzi dan Kiara, kamu pasti mampu untuk melakukan itu. Tapi anak-anakmu? mereka butuh figur seorang ayah, mereka masih kecil. Apa kamu tidak kasihan, kalau sampai mereka tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah nak?" tanya Melani membuat mata Tiara berkaca-kaca.


"Ibu ikhlas nak, bukankah kamu sudah seperti anak ibu sendiri? kapanpun kamu mau datang ke rumah ibu, datanglah. Kapanpun kamu butuh ibu, telepon ibu dan ibu akan datang!" kata Melani yang sudah menjatuhkan air matanya.


Tiara memeluk Melani dengan erat. Tapi meski begitu, dia masih tidak bisa melakukan apa yang di minta oleh ibu mertuanya itu. Hatinya sudah penuh dengan Kenzo. Sudah tidak ada ruang lagi untuk pria lain. Benar-benar sudah tidak ada.


"Jangan bicara begitu lagi bu, aku mohon. Aku ingin selamanya menjadi menantu ibu!" kata Tiara.


"Kamu akan tetap menjadi menantu ibu, nak. Bahkan bukan hanya itu, kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Ibu mohon pertimbangan apa yang ibu katakan ini, ya Tiara!" Melani kembali mengatakan sesuatu yang membuat Tiara merasa sangat sesak di dalam dadanya.


Meskipun Tiara tahu, Melani sangat menyayangi dirinya. Dan yang Melani katakan ini memang untuk kebaikan sab kebahagiaan Tiara juga kedua anaknya. Tapi Tiara masih belum bisa terima semua ini.


Sementara Melani memeluk Tiara sambil mengusap punggung menantunya itu. Mencoba agar Tiara memikirkan apa yang dia katakan. Karena Melani tidak ingin sampai tua Tiara sendirian, dan saat Kiara dan Kenzi menikah, juga Melani tidak ada lagi di dunia ini. Melani tidak ingin menantu yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu kesepian dan sendirian menghabiskan sisa hidupnya.


Melani benar-benar sayang pada Tiara, karena itu dia ingin yang terbaik untuk Tiara. Dan meskipun Tiara menikah dengan pria lain, Melani akan tetap menganggap Tiara anaknya.


Lagipula sudah ada Erik, kandidat yang paling Melani percaya. Dia tahu bagaimana Erik mencintai Tiara, dia juga melihat betapa Erik sayang pada anak-anak Tiara, pada cucu-cucunya. Melani yakin, kalau Erik akan mampu membahagiakan Tiara, Kenzi dan Kiara.


***


Beberapa hari kemudian, cuaca memang sedang tidak baik. Kebetulan Kiara baru saja mengikuti kegiatan olahraga di sekolahnya dan hal itu membuat Kiara sakit. Di saat yang sama, Kenzi juga baru imunisasi di sekolahnya. Akhirnya keduanya sakit, Melani agak kerepotan mengurus kedua cucunya.


Apalagi Tiara baru saja menandatangani kontrak kerja sama baru dengan perusahaan lain. Dan pada akhirnya perusahaan Pratama kembali berkembang. Jadi dia tidak bisa terus berada di sisi Kenzi dan Kiara. Semua itu benar-benar terpaksa.

__ADS_1


Karena butuh kepercayaan dari perusahaan-perusahaan itu pada Tiara. Jadi tidak bisa di wakilkan pada Frans. Hingga pada akhirnya Erik yang berniat mengantar sekolah Kiara dan Kenzi pun mengetahui kalau kedua anak itu sakit.


Dengan telaten, Erik mengurus kedua anak Tiara itu. Melani yang melihatnya sangat yakin kalau Erik benar-benar sudah berubah dan bisa di andalkan.


Pada akhirnya, Melani hanya bisa bicara pada Kenzi dan Kiara untuk membujuk mamanya, agar mau menerima Erik.


Malam harinya, Tiara pulang. Dia sangat terburu-buru, dia ingin segera melihat Kiara dan Kenzi.


Tapi saat Tiara masuk ke kamar Kenzi, Kenzi sudah tidur. Dan Erik juga ada di sana, memeluk Kenzi dengan satu tangan masih memegang buku cerita yang biasa Tiara bacakan untuk Kenzi jika mau tidur.


Tiara pun merasa haru, dia mendekati tempat tidur anaknya itu perlahan, karena tidak mau membangunkan Erik juga Kenzi.


Tapi tangan Tiara terulur untuk menyentuh dahi Kenzi.


Tiara menghela nafas lega, ketika merasakan suhu tubuh anaknya itu sudah tidak sepanas tadi pagi.


"Sudah pulang nak?" tanya Melani yang terlihat menyelimuti Kiara.


"Iya Bu, aku minta maaf ya. Seharusnya aku berada di rumah dan merawat anak-anak, tapi...!"


"Tidak apa-apa, ayo bicara di luar!" kata Melani mengajak Tiara keluar dari kamar Kiara.


Mereka pun duduk di meja makan, Melani meminta pelayan untuk membuatkan dua gelas minuman hangat untuk mereka. Melani duduk di sebelah Tiara dan mengusap lengan Tiara dengan pelan.


"Kamu pasti lelah, kamu tidak usah pikirkan masalah anak-anak. Mereka sudah sembuh, kamu fokus saja pada pekerjaan!" kata Melani.


"Ibu pasti sangat lelah!" kata Tiara.

__ADS_1


Melani lantas tersenyum.


"Tidak nak, kamu lihat kan di kamar Kenzi. Seharian ini Erik menemani Kenzi dan Kiara, membawa mereka ke rumah sakit, dan mengurus mereka dengan baik. Kamu tahu, mereka di suapi oleh Erik, dan kamu tahu kan. Itu bukan sekali dua kali Erik melakukannya, dia sangat menyayangi anak-anak. Usia kalian juga sudah tidak muda lagi kan? kalian bukan anak muda yang harus pendekatan dulu, atau semacamnya. Kamu juga perlu tanya pada anak-anak, mereka maunya gimana? karena Kiara dan Kenzi bilang ke ibu, kalau mereka sangat suka pada paman Erik!" ucap Melani panjang lebar.


"Tapi suka bukan berarti mereka ingin menjadikan Erik ayah mereka kan Bu? lagipula Erik juga pasti memilih wanita yang single lah Bu!" alasan Tiara yang memang tidak ingin menikah lagi.


Dan ini baru satu tahun, bagi Tiara butuh waktu sangat lama untuk bisa membuat sedikit tempat di hatinya untuk pria lain.


"Siapa bilang, aku sudah katakan padamu kan, Tiara! perasaan ku masih sama, seperti sebelas tahun yang lalu!" kata Erik yang entah bagaimana sudah ada di belakang Tiara.


"Nak Erik, mau minum kopi?" tanya Melani.


"Boleh Bu, terimakasih!" jawab Erik.


"Kalian bicara saja, ibu akan bilang pada bibi untuk membuatkan kopi!" kata Melani yang pergi ke arah dapur.


Erik lantas duduk di samping Tiara.


"Aku juga tidak akan pernah memaksamu Tiara, yang terpenting dalam hidupku adalah kebahagiaan mu. Jika tidak yakin kita bisa menikah, maka kita bisa bertunangan dulu kan? semua keputusan ada di tangan mu! percayalah, apapun keputusan mu. Aku tidak akan pernah merasa sakit hati atau kecewa. Cintaku padamu dan anak-anak tulus, di panggil paman oleh mereka pun aku sudah senang!" kata Erik membuat Tiara tak bisa berkata apapun.


Entah kenapa hati Tiara sulit sekali mengiyakan apa yang di inginkan oleh ibu mertuanya itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Tiara. Untuk saat ini dia tidak tahu itu apa.


"Benar kata Erik, Tiara. Tunangan saja dulu, kalau belum yakin!" kata Melani membuat Tiara merasa semakin dilema.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2