
Keesokan harinya, Tiara berusaha menjauhi Kenzo lagi. Meski Kenzo selalu mengikuti Tiara untu memastikan dia baik-baik saja. Tapi Tiara tetap berusaha menjaga jarak bahkan berpura-pura tak melihat Kenzo kalaupun mereka tidak sengaja berpapasan.
Kenzo yang merasa Tiara menjauhinya pun mencoba mengerti dan hari itu. Kenzo benar-benar memutuskan untuk tidak menemui Tiara dulu.
Sampai di kampus, Tiara mencari keberadaan Erik untuk meminta maaf. Dia menyadari kesalahannya dan akan berusaha menjauhi Kenzo. Namun sampai jam satu siang, Erik tak kunjung datang. Tiara pun memutuskan untuk pergi ke rumah Erik. Karena ponselnya Erik tidak bisa di hubungi. Sekalian dia ingin memberikan fotocopy tugas kuliah karena hari ini Erik tidak masuk kuliah.
Tiara sudah sangat bersemangat, dia bahkan berjalan kaki dengan cepat menuju halte bus. Dia berpikir kalau dia akan minta maaf pada Kenzo, lalu hubungan mereka pasti akan membaik. Dia juga sudah berpikir untuk tidak lagi berpikir negatif pada hubungan Erik dan Meri. Karena memang meskipun Erik dekat dengan Meri. Tapi Erik tetap menjadikan Tiara pacarnya satu-satunya.
Beberapa lama kemudian Tiara sudah turun dari bus. Di halte dekat rumah Erik. Begitu Tiara tiba di depan pintu gerbang, Tiara melihat mobil Erik terparkir di depan rumah. Saat Tiara baru mau menekan bel, seorang penjaga menghampiri Tiara.
“Eh, non Tiara!” ucapnya yang memang mengenal Tiara karena pernah di ajak ke rumah Erik masa-masa mereka baru pacaran dulu.
“Iya, pak. Erik-nya ada kan? Saya mau antar ini fotocopy tugas kuliah!” kata Tiara yang menunjukkan sebuah kliping tugas kuliah mereka pada penjaga tersebut.
Penjaga itu pun mengangguk.
“Iya non, ada. Non Meri juga ada!”
Mata Tiara melebar, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan keterkejutannya pada penjaga rumah.
“Oh, saya masuk ya pak!” kata Tiara.
Karena merasa mengenal Tiara, maka penjaga rumah pun mempersilahkan Tiara untuk masuk.
Saat Tiara sudah akan mengetuk pintu, seorang asisten rumah tangga Erik keluar dengan membawa banyak barang di tangan kanan dan kirinya.
“Eh, non Tiara! Mau ketemu tuan Erik ya?” tanya asisten rumah tangga yang mengenal Tiara tersebut.
“Iya Bi, sudah gak apa-apa. Biar saya cari sendiri Erik-nya. Bibi lanjutkan saja!” kata Tiara yang kasihan pada asisten rumah tangga yang membawa banyak barang tersebut.
__ADS_1
Asisten rumah tangga itu langsung mengangguk setuju. Kemudian dia terus berjalan ke arah samping rumah. Tiara pun masuk ke dalam rumah Erik. Tiara mencari di dekat kolam renang, karena dulu kalau mereka mengerjakan tugas bersama selalu di tempat itu. Tapi Erik dan Meri tidak ada di sana. Namun saat Tiara akan keluar, Tiara mendengar suara dari dekat pintu kamar Erik.
Suara seperti seorang wanita yang merasa kesakitan tapi tak ingin berhenti merasakan sakit itu.
“Eughhh!”
Tiara merinding ketika suara itu berubah menjadi lenguhan, pikiran Tiara sudah tidak bisa mengendalikan tangannya untuk tidak membuka pintu kamar Erik tersebut.
Ceklek
Mata Tiara langsung melebar dan berkaca-kaca. Melihat pemandangan yang begitu mengiris hatinya di hadapannya itu.
Dia atas tempat tidur, Meri sedang bergerak dengan liar di atas tubuh Erik. Dan mereka berdua tidak pakai sehelai benangpun di tubuh mereka. Tangan Erik terlihat berada di pinggang Meri dan terus membantunya bergerak lebih cepat.
Bahkan ketika Tiara membuka pintu, keduanya masih tak sadar karena begitu terbuai dalam pergulatan panas itu.
Meri langsung menoleh ke arah belakang, dan Erik langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah Tiara.
Erik dengan refleks langsung mendorong tubuh Meri turun dari atas tubuhnya. Dengan selimut yang ada di dekatnya, Erik langsung menutupi tubuh bagian bawahnya dan bergegas turun dari atas tempat tidur.
Air mata Tiara tak sanggup lagi dia tahan. Erik bergegas menghentikan Tiara yang akan berlari keluar dari kamarnya itu.
“Tiara, Tiara dengar... aku khilaf Tiara!”
Mata Meri melotot mendengar Erik berkata seperti itu pada Tiara.
Meri lantas meraih pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Meri memakai mini dress itu dan langsung menghampiri Erik. Sementara Tiara tidak tahu harus berkata apa, dirinya hanya bisa menangis karena hatinya begitu hancur menyaksikan pengkhianat kekasihnya itu dengan mata kepalanya sendiri.
“Kamu bilang apa Erik? Khilaf? Kita bahkan sudah sering melakukannya!” kata Meri membongkar perselingkuhan mereka di belakang Tiara selama ini.
__ADS_1
“Tiara... ini tidak seperti itu. Aku hanya...!”
“Cukup!”
“Cukup Erik! Semua sudah jelas bukan. Sekarang kamu bahkan tidak mungkin mengelaknya lagi. Aku menyerah. Mulai detik ini, kita berdua putus!” ucap Tiara yang langsung menarik tangannya dari genggaman Erik dan berlari ke luar dari kamar.
Erik pun hanya bisa mengacak rambutnya kasar, karena dia tak akan mungkin menyusul Tiara dalam keadaan seperti itu. Tanpa pakaian.
Sedangkan Meri tersenyum senang, dia benar-benar bersorak dalam hatinya karena akhirnya Tiara dan Erik putus. Erik yang frustasi pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal.
Tiara berlari keluar dari ruang Erik, lagi-lagi dia menabrak asisten rumah tangga yang tadi. Tapi saat di sapa oleh asisten rumah tangga Erik itu. Tiara tak menjawab dan hanya terus berlari keluar dari gerbang dan meninggalkan rumah Erik itu.
Tiara berlari seperti orang yang tak sadar, dia terus berlari dan tak perduli orang-orang sedang melihatnya dengan tatapan bingung dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan aneh. Sampai di sebuah gang sepi, Tiara menyandarkan punggungnya di dinding. Dia berjongkok dan menangis sejadi-jadinya di tempat itu.
“Erik, kenapa? Kenapa kamu tega sekali. Kenapa orang-orang yang aku cintai malah menyakiti ku hiks.. hiks!”
Di tempat lain, Kenzo sedang melihat ke arah jalan di depan rumahnya. Sejak tadi dia tidak melihat Tiara lewat, padahal seharusnya dia sudah pulang kuliah. Juga tidak ekskul yang di ikutinya hari ini. Kenzo pun jadi cemas. Kenzo lalu menghubungi salah seorang teman sekelas Tiara yang juga adalah teman Kenzo. Dan kata temannya itu, Tiara sudah pulang jam satu tadi, dia membawa fotocopy tugas kuliah untuk Erik.
Kenzo pun lantas mengambil kunci mobilnya karena perasaannya tidak enak tentang Tiara. Kenzo lalu mencari di sekitar rumah Erik. Benar saja, di sebuah gang yang gelap dan sepi. Dia melihat kaos biru yang tadi sempat dia lihat di pakai Tiara di kampus.
Kenzo turun dari mobil dan berjalan mendekati seorang gadis yang tengah duduk sendirian sambil terisak dengan kepala menunduk bertumpu pada kedua lututnya.
“Tiara!” panggil Kenzo.
Tiara mendongak ke atas, begitu dia melihat Kenzo yang datang. Tanpa sadar Tiara refleks berdiri dan memeluk Kenzo lalu menangis tersedu-sedu di pelukan Kenzo.
***
Bersambung...
__ADS_1