
Kiara melambaikan tangannya pada Tiara dan Kenzo yang akan segera mengurus acara pengajian Melani.
Erik yang merasa Kiara sudah menurunkan tangannya, lantas mulai menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Pratama.
Selama lima menit perjalanan, keduanya hanya diam. Baik itu Erik atau Kiara, keduanya hanya diam.
"Nanti pulangnya paman jemput juga ya?" tanya Erik pada Kiara.
Mendengar pertanyaan itu, Kiara baru menoleh ke arah Erik.
"Apa paman tidak sibuk? bagaimana kalau kekasih paman yang bermuka dua itu mencari paman nanti!"
Citttt
Erik menginjak pedal rem dengan cepat, mendadak. Hal itu membuat Kiara yang memang tidak ada persiapan apapun terbentur keningnya di dashboard.
"Augh!" lirih Kiara memegang dahinya.
Erik yang merasa bersalah pun lantas menyentuh kening Kiara.
"Maafkan paman, apa sangat sakit? paman akan bawa kamu ke rumah sakit!" kata Erik panik.
Dia lihat kening Kiara sedikit lebam karean ulahnya. Tapi dengan cepat Kiara menyingkirkan tangan Erik. Kiara kesal, karena begitu dia mengatakan hal buruk tentang Stefani, reaksi Erik seperti itu. Seperti sangat perduli, pada wanita yang sebenarnya niatnya tidak baik pada paman yang dia idolakan sejak kecil itu.
"Aku tidak apa-apa. Sudah! paman menyetir saja dengan benar!" kata Kiara kesal yang kembali memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil Erik.
Erik menghela nafas kasar. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Kiara begitu kesal pada Stefani dan sampai mengatakan Stefani itu bermuka dua. Padahal mereka baru bertemu dua hari ini.
Begitu sampai di kampus, Kiara langsung keluar dari mobil Erik dan membanting pintu itu dengan kencang.
Erik lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang saja. Tapi lama-lama dia benar-benar di buat penasaran dengan perubahan sikap dari gadis yang dulu sangat menyayangi dan dia sayangi itu. Sebelum dia ke Australia dan menetap di sana.
Erik pun meninggalkan kampus Kiara, seingatnya Kiara mengatakan pada Kenzo akan pulang setelah dua jam. Erik pikir dia bisa ke perusahaan sebentar, dan kembali menjemput Kiara lagi.
Sementara itu di rumah Pratama. Semua orang tengah sibuk untuk menyiapkan pengajian malam nanti. Tapi sepertinya kebisingan yang ada yak membuat Stefani bangun dari tidur nyenyak nya.
"Hanya perasaanku saja, atau Kiara sepertinya sangat tidak suka pada Stefani ya pa?" tanya Tiara pada Kenzo.
Panggilan mereka berdua pun berubah seiring waktu.
__ADS_1
"Mungkin hanya perasaan mu saja ma, Kiara kan memang tidak bisa cepat akrab dengan orang lain. Tidak seperti Kenzi, sepertinya Kiara itu benar-benar adalah kloningan kamu sayang!" kata Kenzo.
Tiara pun mengangguk setuju.
"Mungkin benar kamu pa, mungkin hanya perasaan ku saja. Tapi ini sudah hampir jam sepuluh, Stefani belum bangun juga. Apa dia tidak lapar ya?" tanya Tiara lagi.
"Sudah biarkan saja, kata Erik kita tidak perlu membangunkannya kan. Biarkan saja, nanti kalau lapar dia pasti akan bangun sendiri. Oh ya, Kenzi sudah kembali belum?" tanya Kenzo.
"Sudah, dia sedang membantu yang lain mengelap dan menata kursi di luar!" kata Tiara.
Dua jam kemudian, Erik yang pergi terburu-buru dari perusahaannya pun akhirnya sampai di depan kampus Kiara. Tapi sepertinya kampus sudah sangat sepi.
Erik lupa meminta nomor Kiara. Jadi dia pikir akan mencari Kiara ke dalam kampus.
Saat Erik berjalan ke arah taman, dia melihat Kiara dan beberapa wanita yang ada disana. Kiara tampal di dorong oleh seorang wanita yang rambutnya pirang.
Melihat hal itu, tentu saja Erika langsung menghampiri mereka.
"Halah, gak usah bohong. Jaman sekarang mana ada sih yang belum pernah ciuman. Sok suci kamu, kalau gitu kamu kalah ya, kalau gak bisa kasih tahu kami, kalau gak bisa mendeskripsikan rasanya, kamu akan kena hukuman. Satu bulan penuh, kamu harus bayarin makanan geng Rempong di kantin kampus ya. Jangan ngadu, kalau ngadu artinya kamu itu pengecut!" kata gadis itu terlihat kesal pada Kiara.
"Kiara!" panggil Erik.
"Gak ada apa-apa om!" kata mereka bertiga lalu kabur meninggalkan Kiara dan Erik.
"Ada apa Kiara?" tanya Erik.
Kiara tidak bicara, dia langsung berjalan meninggalkan Erik dan menuju ke mobil Erik. Erik pun menyusul Kiara, ketika Kiara memegang handel pintu mobil. Erik segera membuka kunci jarak jauh mobilnya.
Kiara masuk ke dalam mobil dan menghela nafas panjang.
Setelah Erik berada di dalam mobil, Erik pun segera mengemudikan mobilnya.
Beberapa menit berlalu, Kiara menoleh ke arah Erik. Karena pamannya itu tidak membawanya ke rumah.
"Paman, kita mau kemana?" tanya Kiara.
Erik hanya tersenyum, mobilnya berhenti tepat di dekat sebuah danau. Di sana banyak sekalian hara burung dan Erik pun membuka kaca jendela mobil keduanya.
"Sekarang sudah bisa cerita sama paman, sebenarnya tadi kamu kenapa?" tanya Erik yang memang ingin hubungan nya dengan Kiara kembali baik seperti dulu.
__ADS_1
"Aku menunggu paman, kata paman, tadi paman akan menjemput ku. Mereka memaksaku ikut permainan mereka, mereka bilang aku harus mengatakan bagaimana rasanya ciuman pada mereka. Aku jawab aku tidak tahu, tapi mereka terus malah menghukum ku, kalau aku tidak bisa katakan pada mereka. Aku harus membayar semua yang mereka makan di kantin selama satu bulan!" kata Kiara.
"Permainan macam apa itu? paman juga pernah kuliah, ide konyol siapa itu?" tanya Erik terlihat kesal.
"Hah...!" Kiara hanya menghela nafasnya berat.
Tapi kemudian dia ingat saat Erik mencium Stefani, eh bukan. Tapi sebaliknya, Stefani yang mencium Erik tempo hari. Mungkin dia bisa melakukan itu dan mengatakannya pada Geng rempong itu.
"Paman, kemari!" kata Kiara melambaikan tangannya meminta Erik mendekat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Erik.
"Coba sini, paman mendekat sedikit!" kata Kiara yang berpikir hanya satu kecupan saja tidak masalah kan.
Begitu Erik mendekat, karena mengira Kiara akan berbisik. Kiara langsung mengecup bibir Erik.
Cup
Satu kecupan singkat, dan Kiara langsung menarik dirinya menjauh dari Erik.
Kiara lantas memegang bibirnya.
'Jadi rasanya seperti ini, seperti tersengat listrik!' batin Kiara.
Sementara Kiara mencoba mendeskripsikan perasaannya. Erik justru terdiam, terpaku di tempatnya.
Erik menatap gadis belia di depannya itu dengan tatapan yang sama ketika dia melihat Tiara.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Erik pada Kiara.
Mendengar suara bariton Erik. Kiara pun tersentak kaget. Kiara baru sadar kalau dia telah melakukan kesalahan yang besar. Pamannya itu pasti sangat marah padanya.
"Maafkan aku paman, aku...!"
"Jangan pernah melakukan ini lagi, mengerti! Tidak padaku, atau pada pria lain!" kata Erik membuat Kiara menelan salivanya dengan susah payah.
Erik pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Kiara benar-benar takut, dia melihat wajah Erik terlihat merah, pasti itu karena marah padanya.
***
__ADS_1
Bersambung...