Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 64


__ADS_3

Tiara segera menemui Melani, begitu asisten rumah tangga Erik mengatakan kalau nenek dari anak-anaknya itu mencarinya.


"Ibu!" sapa Tiara yang langsung memeluk Melani.


Tiara memang sudah menganggap Melani seperti ibunya sendiri. Pergi tanpa pamit pada Melani kemarin benar-benar membuat Tiara merasa sangat bersalah pada Melani.


"Maafkan Tiara ya Bu...!"


"Kenzi masuk rumah sakit Tiara!" kata Melani membuat Tiara tidak bisa meneruskan apa yang ingin dia utarakan pada Melani.


Tiara benar-benar terkejut, wajahnya terlihat sangat cemas pada putra bungsunya itu.


"Kenzi kenapa Bu? rumah sakit mana? aku akan telepon Erik dulu!" kata Tiara yang lantas menggunakan telepon rumah untuk menghubungi Erik.


Melani sampai tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk menemui anaknya saja Tiara harus menghubungi Erik dan meminta ijin padanya. Melani benar-benar penasaran dengan isi perjanjian antara Tiara dan Erik, sampai Tiara seperti itu menurutnya pada Erik.


Tapi setelah mengingat apa saja yang sudah Erik bantu untuk keluarganya selama lebih dari satu tahun ini. Melani akhirnya menundukkan kepalanya, selama ini memang Erik benar-benar tulus pada Tiara dan keluarganya, juga pada dirinya. Erik bahkan sudah menganggap Melani seperti ibunya sendiri. Dan yang dulu begitu ingin Tiara dan Erik menikah juga adalah Melani.


Melani sempat berpikir, untung saja kala itu Tiara tidak setuju langsung menikah dan hanya bertunangan dengan Erik. Dia tidak pernah mengira kalau Kenzo akan kembali, dia benar-benar putus asa. Setelah Kenzo kembali, Melani begitu senang dan bersyukur atas keputusan Tiara yang memang tidak ingin cepat menikah dengan Erik.


Tapi pada akhirnya Melani tetap saja harus menelan pil pahit yang menyuguhkan kenyataan begitu menyedihkan di depan matanya. Erik dan Tiara punya perjanjian di luar sepengetahuan dirinya. Dan karena perjanjian itu, Tiara harus meninggalkan Kenzo dan dan menikah dengan Erik.


"Halo Erik!" kata Tiara membuyarkan segala lamunan Melani.


"Erik, Kenzi masuk rumah sakit. Ibu datang memberitahukan hal itu padaku, aku ke rumah sakit ya dengan ibu?" tanya Tiara pada Erik.

__ADS_1


Melani hanya bisa mendengarkan suara Tiara saja. Dia tidak bisa mendengarkan suara Erik karena memang Tiara menghubungi Erik dengan telepon rumah.


"Baiklah, terima kasih. Aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah sakit!" kata Tiara.


Tiara segera menghampiri Melani dan langsung mengajak ibu dari Kenzo itu untuk berangkat ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Tiara tampak begitu cemas.


"Bagaimana bisa terjadi seperti ini Bu? kemarin Kenzi masih baik-baik saja. Apa karena aku ya Bu, pergi tanpa pamit dengan mereka. Tapi kalau aku pamit, mungkin mereka tidak akan membiarkan aku pergi!"


Tiara begitu cemas, begitu panik pada kondisi putranya. Sampai dia bicara seperti itu, bertanya sendiri, tapi sebelum Melani menjawab pertanyaan darinya. Dia malah menjawabnya sendiri. Benar-benar seperti orang yang sedang banyak pikiran dan kebingungan.


Melani pun segera menyentuh punggung tangan Tiara, menepuknya perlahan. Membuat Tiara langsung menoleh ke arah wanita yang bukan hanya di anggap sebagai ibu mertuanya. Tapi sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


"Semua akan baik-baik saja, Kenzi akan baik-baik saja!" kata Melani yang berusaha membuat Tiara tenang.


Hanya saja Melani tidak mau mengatakan hal itu pada Tiara. Mendengar Kenzi masuk rumah sakit saja, Tiara sudah seperti itu. Apalagi mendengar kondisi Kenzi tadi pagi. Tiara pasti akan sangat panik.


Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit yang lokasinya sudah di share oleh Kenzo. Tapi sepertinya lebih kecil, karean memang bukan rumah sakit sih, itu sebuah klinik. Tiara tampak menggandeng Melani. Meskipun dia sangat panik, tapi Tiara berusaha berjalan dengan tidak terburu-buru. Karena dia tahu ibu mertuanya itu, karena memang Kenzo belum tanda tangan surat itu dan mereka memang belum resmi bercerai. Jadi Melani masih ibu mertua dari Tiara.


Tiara melangkah dengan hati-hati agar Melani tidak terjatuh. Setelah menemukan ruangan pemerikasaan. Tiara lantas masuk dan memeluk Kenzi yang tengah terbaring tidur di atas ranjang pasien.


"Bagaimana bisa seperti ini Kenzo? apa yang terjadi?" tanya Tiara.


"Kenzi demam, dia terus mengigaukan kamu Tiara. Kenzi merindukanmu! ibu mengatakan kamu ke luar kota. Mungkin itu yang membuat Kenzi khawatir!" jelas Kenzo dengan suara lirih.

__ADS_1


Air mata Tiara pun berlinang. Dia benar-benar sangat merasa bersalah pada anak-anaknya. Tiara memeluk Kenzi, dan terus mencium anaknya itu.


"Bangun nak, mama sudah di sini. Mama datang nak. Mama datang untuk Kenzi!" kata Tiara.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Tiara itu membuat air mata Kenzo dan Melani juga mengalir.


"Jangan pergi Tiara, jangan lakukan itu. Kita bisa bicara pada Erik. Aku pikir Erik pasti mengerti. Anak-anak membutuhkan kamu Tiara, aku juga!" ucap Kenzo begitu lirih.


Ucapan Kenzo itu begitu menyayat hati Tiara. Tapi Tiara sama sekali tidak bisa mengingkari janjinya pada Erik. Dia tidak bisa melakukan itu, dia sudah menandatangani perjanjian itu. Sudah menyetujui semua syarat agar Erik membantunya menyelamatkan Kenzo saat itu, menyembunyikan suaminya itu dari Natasha dan anak buahnya yang ingin Kenzo lupa ingatan selamanya. Membantu menyelamatkan perusahaan, membantu memulihkan kondisi mental anak-anak paska mereka mengira kalau Kenzo tidak selamat dari kecelakaan itu.


Mana mungkin Tiara mengingkari janjinya pada Erik. Apalagi dengan begitu, Tiara masih bisa merawat Kenzi dan Kiara. Kalau Kenzo yang pergi di bawa Natasha, maka selain anak-anak, Melani pasti juga sedih akan hal itu.


"Mama!"


Suara pelan Kenzi membuat Tiara langsung mengalihkan pandangannya dari Kenzo.


"Sayang, iya nak ini mama. Ini mama sayang!" kata Tiara memegang tangan Kenzi.


"Mama jangan pergi, Kenzi tidak mau mama pergi. Kenzi tidak mau semua mainan mahal itu, Kenzi tidak apa-apa tidak usah makan daging dan sosis yang harganya malah itu. Asal Mama jangan pergi, mama jangan kerja di luar kota. Kenzi takut mama tidak kembali!" kata anak kecil itu sambil matanya berkaca-kaca.


Hati Tiara terasa begitu pedih. Yang di pikirkan Kenzi adalah mamanya harus bekerja ke luar kota untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Air mata Tiara berlinang, bagaimana dia bisa menjelaskan pada kedua anaknya yang memang masih kecil dan belum mengerti pastinya tentang kesepakatan orang dewasa.


Tiara hanya bisa memeluk Kenzi. Dia juga tidak bisa menjanjikan apapun pada anaknya itu.


"Maafkan mama ya sayang, maafkan mama!" hanya itu yang bisa Tiara katakan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2