Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 48


__ADS_3

Geo kembali menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di depan perusahaan Pratama group. Geo langsung mengatakan alamat yang tadi diberitahukan oleh resepsionis PT Pratama group itu kepadanya pada supir taksi.


Supir taksi itu langsung mengangguk paham dan mengatakan kalau dia mengenal alamat itu. Komplek perumahan yang terkenal dan elit.


Di dalam taksi tersebut, Geo benar-benar sangat cemas. Perasaannya campur aduk, di antara penasaran dan khawatir. Seandainya dia benar adalah Kenzo yang di maksud oleh orang-orang yang mengenalinya itu. Lantas bagaimana dia menjelaskan tentang pernikahannya dengan Natasha.


Sementara pria yang bernama Kenzo itu sudah punya seorang istri dan dua orang anak. Geo memegang kepalanya, memijatnya perlahan agar ingatannya bisa kembali. Tapi hal itu percuma saja, karena dirinya sama sekali tidak bisa mengingat apapun dan siapapun tentang dirinya.


Beberapa lama kemudian, mobil taksi yang ditumpangi oleh Geo sampai di depan rumah yang pagarnya tertulis sebuah angka berwarna hitam dengan angka 16. Di bawahnya juga tertera nama jalan, yaitu jalan Cemara.


Supir taksi itu menampilkan mobilnya di dekat pagar kemudian menoleh ke arah Geo.


"Tuan, ini jalan Cemara No 16!" kata supir taksi itu.


Geo kemudian membayar sopir taksi tersebut dan turun dari dalam mobil. Setelah mobil taksi yang membawanya ke tempat itu, pergi. Geo melihat ke sekeliling rumah itu, berusaha untuk mengingat-ingat apa dia pernah berada di tempat itu atau tidak. Tapi memorinya benar-benar bermasalah sepertinya. Geo sama sekali tidak bisa mengingat apapun.


Dia juga heran, Padahal dia selalu check up ke rumah sakit setiap satu bulan sekali untuk memulihkan ingatan nya. Tapi yang membuatnya heran bukannya katanya semakin pulih tapi sepertinya, bayangan bayangan yang dulu sempat terlintas di kepalanya, dan beberapa tempat yang pernah muncul di pikirannya. Semakin hari semakin menghilang. Benar-benar hilang seutuhnya malah.


Geo menekan bel yang ada di samping pagar. Dan tak perlu dia menunggu lama, seorang penjaga gerbang terlihat menghampiri sambil berlari dan bergegas membuka pintu gerbang itu.


Pria itu tadinya langsung berniat untuk menyapa, tapi begitu pria tua itu melihat siapa yang ada di hadapannya. Pria tua itu tampak tertegun. Wajahnya terlihat sangat terkejut tapi dengan mata yang berkaca-kaca soal hatinya merasakan perasaan yang sangat haru.


"Tu... tuan Kenzo!" kata penjaga gerbang tua itu.


Usianya mungkin sudah lebih dari paruh baya. Tapi dari fisiknya dia terlihat masih kuat dan cekatan.


"Alhamdulillah, tuan selamat?" tanya penjaga gerbang itu.


Geo yang semakin merasa kalau dirinya memang adalah Kenzo. Langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Tuan, nyonya besar pasti senang. Silahkan masuk tuan!"


Penjaga gerbang itu langsung mempersilahkan Geo untuk masuk menuju ke rumah besar berlantai dua itu.

__ADS_1


Begitu Geo melewatinya dan menuju pintu utama. Penjaga gerbang itu tampak menyeka air matanya.


"Sekarang aku percaya, keajaiban itu ada. Tuan Kenzo sudah kembali, Alhamdulillah!" kata penjaga gerbang itu sambil menutup kembali dan mengunci pintu gerbang yang tingginya hampir tiga meter itu.


Geo terus berjalan dengan perlahan, sambil memperhatikan sekeliling rumah itu. Pekarangannya, garasinya, dan taman kecil di depan rumah itu. Rasanya familiar, tapi Geo sama sekali tidak bisa mengingatnya.


Geo baru akan berniat untuk menekan kembali bel yang ada di dekat pintu utama. Tapi pintu itu tidak tertutup rapat. Pintu itu terbuka setengah malah.


Geo mencoba untuk melihat ke arah dalam rumah. Karena tidak mau di anggap berniat tidak baik. Maka Geo pun berseru.


"Permisi, selamat siang!" kata Geo mencoba untuk menyapa siapapun yang ada di dalam.


Tapi tidak ada jawaban, ini memang waktunya para asisten rumah tangga di rumah Tiara untuk memasak di dapur untuk membuat makan siang dan merapikan pakaian. Jadi mereka semua ada di dapur dan di ruang laundry.


Karena penasaran, Geo pun membuka pintu itu semakin lebar. Dia melihat suasana di dalam rumah memang sepi. Geo berpikir, mungkin tidak ada orang di rumah itu. Geo memutuskan untuk mencoba memanggil orang yang ada di dalam ruang dengan bel. Dan untuk itu, dia harus kembali keluar.


Namun baru Geo berbalik, sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Selamat siang, siapa ya...?"


Sebuah vas bunga kecil terjatuh ke lantai berikut dengan bunganya juga.


Seorang wanita yang usianya sudah melewati paruh baya terlihat menitikan air matanya ketika melihat Geo yang berbalik ke arahnya. Karena tadi mendengar suaranya.


"Kenzo...!" lirih Melani yang lantas berlari menghampiri Geo dan langsung memeluk Geo dengan erat.


"Akhirnya kamu kembali nak, ibu tak menyangka akan melihatmu lagi. Terimakasih ya Tuhan, Kenzo, ibu sangat merindukan mu!" kata Melani yang terisak di pelukan Geo.


Air mata Geo menetes, dia langsung menyekanya dan melihat dengan seksama air mata di ujung jarinya.


'Aku menangis, aku memang tidak ingat siapa wanita ini. Tapi aku menangis! itu artinya, dia memang ibuku!' kata Geo dalam hatinya.


Cukup lama Melani memeluk Geo, dia bahkan memeluk Geo dengan erat seperti tak mau melepaskannya lagi. Dan itu memang benar, Melani tak mau melepaskan Geo, karena tak mau anaknya pergi lagi.

__ADS_1


"Ibu!" sapa Geo.


"Apa yang terjadi nak? kenapa butuh waktu sampai satu tahun lebih untuk kamu bisa kembali, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Melani pada Geo.


Geo yang masih merasa bingung harus menjelaskannya bagaimana. Mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau dia memang benar-benar adalah Kenzo Pratama.


"Aku boleh lihat kamarku, Bu?" tanya Geo dengan suara yang begitu lembut.


Melani langsung mengangguk, dia menggandeng tangan Geo dan mengantarnya ke kamarnya dengan Tiara.


Begitu pintu kamar terbuka, sebuah siluet muncul di kepala Geo. Geo berusaha mengingatnya, tapi begitu dia mencoba mengingatnya. Kepalanya terasa sangat sakit.


Sangking sakitnya, Geo sampai terjatuh ke lantai dan bertumpu pada lututnya.


"Kenzo, kamu kenapa nak? Astaghfirullah! Pak Toni, Lestari. Tolong! siapapun bantu aku!"


Melani berteriak meminta bantuan kepada siapapun yang ada di dalam rumah itu karena memang, dia melihat Geo yang meringis kesakitan dan terus memegang kepalanya.


Para asisten rumah tangga lantas datang karena khawatir, ketika Melani berteriak. Mereka semua sempat terkejut begitu melihat Geo.


"Tuan!"


"Tuan!"


"Cepat bawa ke rumah sakit, cepat?" Pekik Melani yang sudah panik karena melihat Geo yang terus mengatakan kalau kepalanya terasa sangat sakit.


Setelah di bawa ke dalam mobil, Melani pun membawa Geo ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Melani terlihat panik. Dia juga terus berdoa dan mengusap lengan dan punggung Geo yang masih terus memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Kenzo, kamu kenapa nak? pak supir ayo cepat!"


"Baik nyonya!"


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2