
Keesokan harinya, Tiara sudah menyiapkan kedua anaknya untuk berangkat sekolah. Sebelum pergi bekerja, Tiara terbiasa untuk menyiapkan kedua anaknya terlebih dahulu, meski ada pengasuh dan asisten rumah tangga. Tiara sejak dulu terbiasa mengurus kedua anaknya sendiri.
"Anak mama sudah cantik dan tampan! kita siap untuk sarapan pagi!" kata Tiara.
Hal itu juga sejak dulu dibiasakan oleh Kenzo dan Tiara untuk kedua anaknya, mereka selalu menanamkan kebiasaan baik yaitu sarapan pagi setiap harinya untuk Kiara dan Kenzi. Bahkan mereka juga sengaja menyekolahkan kedua anaknya di sekolah ya memang di dalam sekolah tersebut menyediakan kantin khusus untuk makan siang dan break sebelum makan siang. Dengan demikian, kebersihan dan kualitas makanan yang disediakan oleh sekolah sangat terjamin jadi anak-anak yang mengkonsumsinya juga aman.
"Selamat pagi nenek!" sapa Kenzi dan Kiara pada Melani yang sedang menyiapkan minuman untuk kedua cucunya ,minuman itu berwarna putih dan rasanya manis.
"Selamat pagi sayang! cucu-cucu nenek!" kata Melani.
"Bagaimana kalau mulai sekarang nenek yang antar jemput Kenzi dan Kiara?" tanya Melani.
Tiara yang menyiapkan sarapan di piring Kiara pun atas menoleh karena Ibu mertuanya itu.
"Apa tidak merepotkan ibu?" tanya Tiara yang tidak enak kalau harus menetapkan ibu mertuanya itu.
Dan yang lebih Tiara tidak ingin, nanti Ibu mertuanya itu bisa sakit kalau terlalu lelah karena harus mengantar dan menjemput kedua anaknya.
Melani yang sudah selesai menuangkan semua minuman ke dalam gelas pun duduk di tempatnya dan mulai membuka piringnya untuk di isi dengan sarapan ya sudah terhidang di atas meja yang tadi disiapkan oleh asisten rumah tangga Tiara.
"Tentu saja tidak Tiara, ibu malah senang kalau ada kegiatan. Toko roti kan sudah di terus oleh keponakan ibu, dan ibu tidak melakukan apapun di rumah ini. Ibu juga boleh kan, sekali-sekali kalau setelah menjemput anak-anak mengajak mereka untuk main ke taman bermain atau ke mall?" tanya Melani.
Sebenarnya menurut Tiara, ibu mertuanya ya sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu tidak perlu menanyakan hal itu kepadanya. Karena Tiara tidak akan pernah mencegah Melani untuk melakukan semua itu. Tiara sangat percaya pada Melani, seperti Melani sangat percaya pada Tiara.
"Boleh Bu, tentu saja boleh!" kata Tiara.
Dan saat mereka sedang sarapan, asisten rumah tangga Tiara datang lalu berkata.
"Maaf nyonya, nyonya besar. Ada tamu, namanya tuan Erik!" kata asisten rumah tangga Tiara itu.
Melani lantas melirik ke arah Tiara.
__ADS_1
"Kenapa dia datang pagi-pagi sekali. Apa kamu ada meeting penting dengannya Tiara?" tanya Melani.
Melani memang sangat percaya kepada menantunya itu tapi dia masih belum sepenuhnya bisa percaya kepada Erik. Masalahnya masa lalu mereka benar-benar membuat Melani merasa cemas. Erik itu dulu sangat terobsesi kepada Tiara. Dan dulu, adik Kenzo yang akan selalu melindungi Tiara. Tapi setelah kecelakaan itu, dan Kenzo sudah tidak kembali selama tiga bulan lebih. Melani merasa cemas pada menantunya itu. Dia masih takut kalau Erik akan berbuat yang tidak-tidak dan menyakiti Tiara oada akhirnya.
Melani tak akan sanggup melihat Tiara terluka lagi, karena saat melihat Tiara hancur karena kepergian Kenzo. Melani juga hancur, hanya saja saat itu Melani masih bisa menguatkan Tiara demi anak-anak.
"Tidak ada sih Bu, sebentar ya aku lihat dulu. Kiara, Kenzi di habiskan ya nak sarapannya!" kata Tiara sebelum meninggalkan ruang makan menuju ke ruang tamu.
Begitu Tiara sampai di ruang tamu, dia melihat Erik berdiri dengan sebuah bungkusan di tangannya yang ukuran bungkusan itu termasuk besar.
"Erik, selamat pagi!" sapa Tiara.
Erik yang tadi sempat melihat-lihat beberapa foto yang terpanjang di dinding pun segera menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya.
"Hai Tiara, selamat pagi. Apa kalian sudah sarapan, aku tadi lewat di tempat penjual bubur ayam kesukaanku, dan saat aku membeli bubur ayam tadi aku ingat kepada Kiara dan Kenzi. Apa mereka sudah sarapan?" tanya Erik.
Tiara sedikit terkejut, masalahnya dia tidak pernah melihat Erik yang begitu peduli kepada seseorang seperti ini sebelumnya.
"Aku terlambat ya, mungkin besok aku akan datang lebih pagi!" kata Erik.
Dan tentu saja apa yang dikatakan Erik itu membuat Tiara mengernyitkan keningnya bingung.
"Apa katamu?" tanya Tiara bingung.
"Hoh, sudahlah. Apa aku boleh numpang sarapan di sini. Aku terlanjur membungkusnya dan tidak di beri sendok!" kata Erik.
Tiara yang merasa tidak enak, lantas mempersilahkan Erik menuju ruang makan.
"Paman Erik!" teriak Kenzi yang memang sepertinya sangat menyukai Erik.
"Halo jagoan, paman bawakan bubur ayam. Ada yang mau?" tanya Erik lantas meletakkan bungkusan makanan yang dia bawa di atas meja.
__ADS_1
"Aku mau!" teriak Kenzi lantang sambil mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi.
"Aku juga!" kata Kiara menyahut juga.
Dan tentu saja, Tiara tidak bisa menolak keinginan kedua anaknya.
Tiara lantas mengambilkan tiga mangkuk yang baru untuk Kenzi, Kiara dan Erik. Melani tampak terus memperhatikan Erik. Dia mencoba melihat apakah pria itu benar-benar sudah berubah atau hanya bersandiwara saja.
"Selamat pagi tante, Tante mau bubur ayam tidak?" tanya Erik.
"Tidak Erik, Tante sudah sarapan!" kata Melani lalu Erik mengangguk paham.
Kenzi dan Kiara terlihat menikmati sarapan mereka, bahkan ada canda tawa di sela sarapan pagi mereka karena Erik menceritakan banyak hal pada keduanya.
Melani yang melihat itu entah kenapa menjadi sedih. Dia ingat, saat Kenzo masih ada dulu. Mereka juga sering sarapan bersama sambil bercanda gurau seperti ini. Penuh dengan kebahagiaan.
Setelah sarapan Melani mengantarkan anak-anak ke sekolah.
"Aku akan mengantar mu ke kantor? kita harus tanda tangan kontrak bukan?" tanya Erik.
"Tapi.. !"
"Ayolah Tiara, tenang saja. Sekarang aku sudah tidak mengemudi dengan mengebut lagi. Aku sadar aku sudah tidak muda lagi. Dan masih ada perusahaan yang harus aku urus, juga kamu dan anak-anak!" kata Erik membuat Tiara melihat ke arah Erik dengan serius.
"Erik, jika yang kamu pikirkan adalah ingin masuk ke dalam kehidupan kami melebihi paman untuk Kiara dan Kenzi. Maka aku akan katakan, aku tidak bisa...!"
"Ayolah Tiara, aku hanya bergurau. Tentu saja aku adalah paman dari Kenzi dan Kiara. Dan teman yang bisa kamu percaya untuk menumpahkan semua suka dukamu saat ini dan seterusnya!" kata Erik menyela Tiara.
Tiara pun menghela nafas lega, karena kalau niat Erik memang untuk menggantikan posis Kenzo. Tiara tidak akan bisa mengijinkannya. Karena bagi Tiara. Posisi Kenzo di hidupnya tidak akan pernah tergantikan dengan siapapun sekarang dan selamanya.
***
__ADS_1
Bersambung...