Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 21


__ADS_3

Tiara hanya menatap Hani dengan datar, sehingga Hani pun harus tetap bersandiwara terus menangis agar Tiara percaya pada semua ucapannya.


Dan dokumen itu, semua laporan hasil pemeriksaan dokter itu. Sebenarnya bukan milik Hani. Hani mengambil laporan pemeriksaan milik temannya dan merubah semua isinya menjadi seolah itu laporan milik Hani.


Kalaupun Tiara menghubungi nomor yang tertera di sana. Maka yang menjawab telepon nanti juga bukan seorang dokter. Melainkan orang yang sudah di bayar oleh Hani untuk berpura-pura menjadi seorang dokter. Bahkan orang itu juga sudah di beri skenario apa saja yang harus dia ucapkan kalau nanti Tiara menghubunginya.


“Maksudmu mengatakan semua ini, untuk apa?” tanya Tiara pada Hani.


Tiara sudah cukup merasakan penderitaan yang bertubi-tubi selama ini. Keluarga palsunya yang sudah memperlakukan dirinya sebagai seorang pembantu di rumah miliknya sendiri, memberinya uang yang hanya cukup untuk membeli minuman dan roti setiap harinya, padahal ayahnya menyiapkan uang bulanan yang fantastis jumlahnya untuk Tiara. Tapi Minah dan Andi yang menghabiskan semuanya setiap bulan.


Lalu kekasih yang sangat dia cintai, bukan satu dua bulan atau satu dua tahun. Yang sudah menyakitinya sedemikian rupa. Dan Kenzo hadir, seperti malaikat yang membantunya mengungkapkan kebenaran tentang keluarganya. Pemuda yang berada di sisinya saat dirinya rapuh dan terluka. Pemuda yang selalu ada saat dia mengalami kesulitan. Tiara tidak akan melakukan kesalahan dengan melepaskan pria sebaik itu dari sisinya.


Hani malah terkejut mendengar pertanyaan Tiara padanya itu.


‘Heh, ini perempuan gak peka banget sih? Masih tanya aku menunjukkan semua itu untuk apa? Jangan sampai rencanaku kali ini gagal lagi. Ngeselin banget sih?’ batin Hani dalam hatinya.


“Hiks... sebagai sesama perempuan. Tidak bisakah kamu mengerti kenapa aku meninggalkan Kenzo saat itu Tiara?” tanya Hani pada Tiara.


Tiara langsung menutup semua dokumen yang tadi sempat ingin dia baca. Namun pada akhirnya, Tiara mengurungkan niatnya itu.


“Aku minta maaf Hani. Entah apa yang membuatmu saat itu pergi meninggalkan pemuda sebaik Kenzo? Tapi yang jelas saat itu kamu benar-benar melakukan kesalahan. Jika kamu mengenal Kenzo dengan baik, meski kamu sakit parah, atau tak bisa apa-apa sekalipun. Dia akan tetap ada di sampingmu. Jika setelah kamu tiada misalnya, dia tidak bisa berpaling pada wanita lain. Maka itu haknya, jika hanya dengan mengenangmu saja dia bisa bahagia, kenapa dia tidak boleh melakukan itu...!”


“Tapi itu egois Tiara!” sela Hani dengan penuh emosional.


Tiara sedikit terkekeh.

__ADS_1


“Lalu apa yang kamu lakukan dengan meninggalkan dia itu tidak bisa di sebut egois kah?” tanya Tiara.


Hani terdiam, karena dia memang egois. Saat itu dia merasa kalau Kenzo sangat mencintainya. Kapanpun dia kembali maka Kenzo akan menerimanya. Saat itu dia benar-benar terpengaruh pada teman-teman dan keluarganya yang minta dia kuliah di luar negeri. Hingga Hani sadar kalau sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. Dia merasa tidak bahagia sama sekali setelah jauh dari Kenzo. Hani bukan tidak mencari pemuda lain, tapi tidak ada yang seperti Kenzo. Sesabar dah sebaik pemuda itu.


“Tapi aku mencintainya Tiara, aku mencintainya... hiks... !” lirih Hani.


Tiara yang merasa kalau pembicara mereka ini tidak akan ada habisnya pun memilih untuk pergi saja dari tempat itu. Tiara berdiri dan hendak pergi.


Namun tanpa di duga, Hani malah bangun dari duduknya dan berlutut di depan Tiara.


“Tolong lepaskan Kenzo Tiara, tolong... aku tidak bisa hidup tanpanya. Dulunya kami saling mencinta, kalau kamu meninggalkan nya aku yakin Kenzo akan kembali padaku. Tolong lepaskan Kenzo, Tiara!” ucap Hani sambil terisak.


Isakan dan drama yang di lakukan oleh Hani sontak saja membuat semua orang yang ada di kafe tersebut perhatiannya tertuju pada Tiara dan Hani.


“Ya ampun, sampai berlutut gitu.. tega banget sih cewek yang pakai baju pink itu!” kata salah satu pengunjung yang ada di dekat maka mereka. Dan yang dimaksud dengan cewek yang pakai baju pink itu ya Tiara.


Tiara yang mulai tidak enak perasaannya lantas meminta Hani untuk bangun.


“Hani bangun! Kamu apa-apaan sih? Kamu mau nangis kayak apa juga, aku gak mungkin meninggalkan Kenzo. Aku sudah tidak waras kalau meninggalkan pemuda sebaik itu!” kata Tiara yang mengambil arah lain untuk bisa berjalan ke arah pintu kafe.


Tapi Hani bangkit dan kembali mengejar Tiara. Dia bahkan memegang kaki Tiara, Hani nyaris bersujud. Perempuan licik itu sengaja mengambil kesempatan karena saat ini semua orang sedang sangat kasihan padanya. Hal itu ingin dia manfaatkan untuk menekan Tiara.


“Tiara aku mohon, kasihanilah aku... aku yang lebih dulu mencintai Kenzo, dia juga mencintai ku. Lepaskan dia Tiara, biarkan kami bahagia!”


Dan sekarang, Hani mengatakan kalimat itu dengan lantang agar semua orang mendengarnya. Dia bahkan memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Hani melakukan itu agar semua orang salah paham pada Tiara. Seolah Tiara yang. Merebut Kenzo dari Hani. Dan Tiara yang sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai.

__ADS_1


“Ih jahat benget sih, awas kena karma loh mbak!” kata seorang gadis berseragam putih abu-abu bersama dua orang temannya.


Tiara benar-benar sudah tidak tahan lagi, dia menarik tangan Hani dan mendorongnya hingga Hani terjatuh.


Hani makin mendramatisir, dia bahkan menangis terisak-isak.


Tiara yang sudah malas menemaninya bermain lantas meninggalkan tempat itu tanpa bicara sepatah katapun. Tiara juga tak perduli pandangan dan gunjingan orang lain terhadapnya. Kalau dia terus di dalam, semua orang pasti akan semakin salah paham.


“Dasar ratu drama!” kesal Tiara sambil berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Seorang wanita muda dan wanita berhijab tadi menghampiri Hani dan membantunya bangun.


“Ya ampun, kasihan banget sih mbak. Lagian ya, cowok tuh gak Cuma satu. Hari gini masih rebutan cowok aja sih, banyak-banyak ngaji, banyak-banyak shodaqoh. Nanti jodoh datang sendiri mbak!” kata wanita berhijab kyu menasehati Hani sambil membantunya duduk di kursinya tadi.


‘Ih ini orang malah ceramah!’ batin Hani kesal.


“Gak papa kan mbak, mau saya telepon keluarga mbak biar jemput mbak kesini?” tanya salah satunya lagi.


Hani langsung sepat menggelengkan kepalanya.


“Enggak... enggak usah. Terima kasih!” kata Hani yang langsung merapikan semua barang-barangnya lantas membayar dan pergi dari sana secepat nya.


Saat keluar dari kafe, Hani terlihat kesal.


“Gagal lagi, aku harus pakai cara apa coba buat misahin tuh perempuan dari Kenzo?” gerutu Hani sambil berpikir lagi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2