Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 66


__ADS_3

Erik pun akhirnya harus merelakan kembali wanita yang dia cintai untuk tidak bisa bersama dengannya lagi. Erik pikir mungkin dia memang harus pergi berlibur beberapa waktu ke luar negeri supaya dia bisa melupakan semua tekanan di dalam pikirannya.


Dia memang sudah berusaha sangat merelakan cintanya pada Tiara. Cinta yang sejak bertahun-tahun tak bisa hilang itu. Tapi merelakan itu tidak sama dengan melupakan. Erik benar-benar sangat sulit melupakan Tiara jika setiap hari dia masih bertemu dengan wanita itu.


Hingga Erik pun berpikir, untuk pergi ke luar negeri beberapa waktu sampai dia bisa melupakan Tiara.


Kepergian Erik itu membuat Melani, Kiara dan Kenzi sedih. Namun mau bagaimana lagi, itu sudah keputusan Erik. Mereka masih tetap bisa berkomunikasi melalui panggilan telepon dan juga panggilan video.


Sepuluh tahun kemudian...


Sebuah peristiwa yang membuat keluarga Kenzo kembali berduka, Melani telah pergi untuk selamanya. Sudah beberapa bulan ini kondisi kesehatan Melani memang memburuk. Dan ibu dari Kenzo itu sudah di rawat selama hampir satu bulan di rumah sakit.


Sebelum kepergiannya, Melani minta Kenzo menghubungi Erik. Dan Melani minta pada Erik agar dia dan Kenzo lah yang mengangkat kerandanya sampai di pemakaman.


Erik yang juga sudah menganggap Melani seperti ibunya sendiri pun segera tebang dari Australia dan langsung ke rumah Kenzo dari bandara.


Kenzo dan keluarga juga menunggu kedatangan Erik untuk mengantarkan Melani ke peristirahatan terakhirnya.


Begitu mobil yang di tumpangi oleh Erik tiba disana. Pria itu langsung bergegas keluar dari dalam mobilnya dan berlari ke arah ruang utama rumah Kenzo.


"Tante Melani!" lirih Erik ketika melihat wajah wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.


Kenzo yang berada di samping Erik pun lantas menepuk punggung Erik perlahan.


"Terimakasih sudah datang, terimakasih sudah memenuhi pesan terakhir ibuku!" kata Kenzo dengan mata merah dan sembab.


"Dia juga ibuku!" kata Erik kemudian memeluk Kenzo.


Air mata keduanya tumpah. Mereka terlihat begitu sedih atas kepergian Melani. Hingga pak ustadz mengatakan sudah waktunya untuk jenazah di sholatkan dan di makamkan.


Erik sampai sore hari, mereka kemudian langsung membawa Melani ke tempat istirahat terakhirnya. Setelah di makamkan, Kenzo masih tampak memeluk pusara ibunya itu. Bajunya penuh dengan tanah, para pelayat kuga sudah kembali satu persatu setalah mengucapkan bela sungkawa mereka.


Meninggalkan lima orang yang masih berada di makam batu itu. Kenzo yang memeluk pusara ibunya, Tiara yang berada di samping Kenzo dan terus memberi Kenzo dukungan dengan mengusap punggung suaminya itu. Erik yang juga duduk di samping pusara dan terus memandangi nama yang tertera di nisan Melani. Juga Dua remaja yang menangis dan saling merangkul untuk menguatkan.

__ADS_1


Satu orang pemuda tampan, wajahnya sangat mirip dengan Kenzo. Persis seperti Kenzo, dengan alis tebal dan nyaris menyatu. Dia adalah Kenzi, putra bungsu Kenzo dan Tiara. Usianya tentu saja sudah enam belas tahun lebih saat ini.


Sedangkan di sebelahnya seorang gadis yang begitu cantik, mungil dan begitu manis. Dengan bentuk tubuh dan wajah yang sama persis dengan mamanya, dia adalah Kiara, gadis manis itu juga seperti duplikasi dari Tiara. Usianya kini sudah sembilan belas tahun beberapa hari yang lalu.


Menjelang malam mereka pun kembali ke rumah.


Kenzo dan keluarga di kejutkan dengan seorang wanita muda yang berdiri di depan pintu rumah Kenzo. Dengan pakaian yang sedikit terbuka, dia lantas berlari menghampiri Erik dan memeluknya.


"Sayang, jangan sedih lagi ya. Ibu kamu pasti sudah tenang di sana. Sekarang kita hanya perlu banyak mendoakannya saja!" kata wanita itu.


Tatapan keluarga Kenzo tentu saja menjadi bingung melihat keberadaan wanita itu dan betapa dekat dan intimmnya dia dengan Erik.


"Siapa dia Erik?" tanya Kenzo.


"Dia Stefani, kekasih ku. Kamu sudah pacaran dua tahun lebih?" kata Erik menjelaskan.


"Hai aku Stefani, sebenarnya tahun ini aku Erik akan membawaku pulang dan memperkenalkan pada keluarganya. Tak ku sangka, saat aku baru kembali bekerja dari luar kota. Kabar ini yang aku dengar darinya. Semuanya, aku sangat turut berduka cita. Erik banyak bercerita padaku tentang berapa berharganya kalian baginya!" kata wanita itu sangat sopan.


Kenzo, Tiara, dan Kenzi terlihat mengangguk menerima ucapan itu. Tapi Kiara, pandangannya benar-benar berbeda pada Erik ketika mengetahui kalau wanita itu adalah kekasihnya Erik.


"Menginaplah dulu di sini ya, kita akan mengadakan pengajian malam ini!" kata Kenzo kepada Erik.


"Baiklah!" sahut Erik.


"Kiara, tunjukkan kamar tamu untuk paman Erik dan kekasihnya!" kata Tiara yang matanya masih sembab dan suaranya terdengar sengau.


"Iya ma!" kata Kiara.


Erik menatap Kiara sekilas, kalau di lihat sekilas memang Kiara itu sangat persis dengan Tiara saat mereka di usia yang sama yakni sembilan belas tahun.


Tapi Erik langsung mengalihkan pandangannya ketika Kiara terlihat melengos saat Erik memandangnya.


"Tante Stefani, ini kamar tante. Kalau ada yang Tante butuhkan silahkan Tante katakan pada pelayan yang ada di sini. Tidak perlu sungkan Tante!" kata Kiara yang berusaha bersikap sangat sopan seperti ajaran kedua orang tuanya dan mendiang neneknya.

__ADS_1


"Terimakasih cantik, kamu manis sekali. Lalu di mana kamar Erik?" tanya Stefani pada Kiara.


'Kenapa dia ingin tahu dimana kamar Paman Erik?' batin Kiara tak senang.


"Dua kamar dari sini tante, di sebelah itu kamar nenek. Di sebelahnya lagi kamarku, dan di sana baru kamar tamu yang lain. Itu adalah kamar paman Erik!" kata Kiara.


"Oh oke kalau begitu, selamat malam sayang. Aku akan mandi dan ganti baju dulu. Nanti aku ke kamarmu..!" kata Stefani yang langsung mendekati Erik dan mengecup bibir pria itu di depan Kiara.


Kiara mengepalkan tangannya kesal. Bisa-bisanya mereka melakukan hal itu di depannya.


"Ekhem!" Kiara berdehem.


Membuat Erik mendorong Stefani menjauh.


"Maaf Kiara, paman tidak bermaksud...!"


"Ayo paman, aku tunjukkan kamarmu!" kata Kiara yang langsung berjalan meninggalkan Erik.


Erik pun lantas mengikuti Kiara. Kiara membuka pintu di sebelah kamarnya.


"Ini kamar paman!" kata Kiara ketus.


"Apa yang di depan paman ini masih sama dengan gadis kecil yang selalu memeluk paman ketika paman datang ke rumah ini?" tanya Erik yang merasa sikap Kiara begitu berbeda.


Kiara yang dikenal Erik dulu begitu manis dan periang. Sekarang Kiara terlihat jutek dan ketus padanya.


Kiara terdiam dan memainkan ujung kakinya, mengetuk-ngetuk ujung kakinya yang tanpa alas kaki itu ke lantai.


"Tidak mau peluk paman?" tanya Erik yang langsung merentangkan tangannya di depan Kiara.


***


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2