Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 45


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasanya sebelum Erik berangkat ke kantornya dia lebih dulu menjemput Tiara dan juga kedua anak Tiara yang sebenarnya lagi akan jadi anak sambungnya. Setelah mengantarkan Kenzi dan juga Kiara ke sekolah mereka, Erik juga mengantarkan Tiara ke kantornya.


"Jangan sedih terus, kamu harus semangat. Untuk anak-anak dan juga untukku!" kata Erik yang lagi-lagi membuat Tiara tersipu malu.


"Mulutmu itu leih manis dari madu Erik, awas di sengat lebah nanti!" balas Tiara.


Mereka benar-benar jadi lebih akrab setelah mereka bertunangan. Tiara mulai berani membalas apapun yang Erik katakan padanya.


"Benarkah? tapi aku akan sangat senang sebenarnya kalau bisa di sengat olehmu!"


Deg


Deg


Deg


Tiara mematung untuk beberapa detik. Dia kemudian memalingkan wajahnya dari Erik yang menatapnya sangat tajam.


"Terimakasih sudah mengantarku, akan masuk sekarang. Kamu hati-hati ya Erik!" kata Tiara.


Tapi saat Tiara akan menarik handel pintu, Erik menahan tangan Tiara.


Debaran jantung Tiara semakin kencang, mereka sudah bertunangan. Dan Erik pun sudah sangat berubah. Tapi entah kenapa, Tiara masih tidak nyaman untuk melakukan itu.


Namun yang namanya naluri lelaki, ketika wanita yang dia cintai ada di dekatnya dan membuat perasaannya tak menentu. Keinginan itu juga muncul di hari Erik.


Perlahan Erik menarik tangan Tiara dan membawanya mendekat ke arah Erik. Tiara yang sudah berbalik bisa merasakan hembusan nafas Erik yang semakin lama semakin mengikis jarak di antara mereka.


Cup


Dan pada akhirnya bibir Erik sukses mendarat di bibir Tiara.


Melihat Tiara tidak menolak, Erik kembali menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Tiara. Tak hanya sekedar kecupan. Tapi kali ini sebuah ciuman yang begitu lama, begitu dalam dan penuh dengan perasaan dari Erik.

__ADS_1


Sementara Tiara hanya berusaha untuk tidak membuat Erik tersinggung dan sakit hati karena terus menolaknya padahal mereka sudah bertunangan, dan asal Tiara bersedia. Erik pasti akan segera menikahinya. Tapi Tiara masih berusaha untuk menata hatinya setelah kepergian Kenzo. Jadi untuk menikah lagi secepatnya, itu masih belum bisa Tiara lakukan.


Kening Tiara dan kening Erik saling menempel ketika Erik menyudahi apa yang dia lakukan. Sesuatu yang sudah dia tahan semenjak dulu, semenjak mereka pacaran bahkan Erik tidak pernah mencium Tiara. Kali ini dia melakukan itu, rasanya sungguh tak dapat di percaya oleh Erik.


Nafas mereka menderu, Erik terlihat terus mengulas senyum bahagia. Sedangkan Tiara, dia hanya diam dengan raut wajah dan pipi yang memerah.


"Terimakasih Tiara, kamu tidak menolakku!" kata Erik.


"Aku.. aku harus masuk kantor sekarang!" kata Tiara yang menarik dirinya dan keluar dari dalam mobil itu.


Erik terus melihat ke arah Tiara yang semakin jauh meninggalkannya. Tapi hatinya begitu senang. Setelah sekian purnama akhirnya dia mendapatkan lampu hijau untuk bisa lebih dekat dan mendapatkan hati Tiara.


Setelah Tiara sudah tidak bisa dia lihat lagi dari dalam mobilnya. Erik pun melajukan kembali mobilnya menuju ke kantor.


Beberapa lama di lalui oleh Erik untuk akhirnya sampai di kantornya. Dia terlihat senang, wajahnya berseri-seri sejak turun dari dalam mobil.


Bahkan beberapa karyawan yang bertegur sapa dengannya dia balas dengan sangat ramah. Suasana hati Erik benar-benar sangat baik pagi ini. Sampai dia akan tiba di ruangannya, sekertaris nya ternyata sudah menunggunya di depan ruangan.


"Selamat pagi pak Erik!" sapa Susan.


Tapi Susan langsung kembali bicara.


"Pak Erik, ada yang ingin bertemu dengan pak Erik. CEO perusahaan Anderson sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Sekarang sedang menunggu di ruang tamu!" kata Susan.


Susan memang tidak pernah mengizinkan siapapun yang akan menemui Erik tanpa sepersetujuannya untuk masuk ke dalam ruangan ceo-nya tersebut. Susan akan meminta tamu itu untuk menunggu di ruang tamu sampai mendapat persetujuan dari Erik untuk bisa masuk menemuinya ke dalam ruangannya.


Erik terlihat merubah raut wajahnya dari yang awalnya ceria menjadi tampak serius. Masalahnya Erik merasa kemarin mereka tidak membicarakan masalah pekerjaan. Dan kalau pria yang mirip dengan Kenzo itu datang menemuinya pagi-pagi begini, Erik khawatir kalau ini ada hubungannya dengan masalah pribadi. Erik bahkan kali ini rasa khawatir dan sedikit takut. Kalau ternyata Georgino Anderson itu adalah benar-benar Kenzo.


Nalurinya sebagai seorang pria yang mencintai Tiara, ia tidak ingin di saat Tiara sudah mulai membuka hatinya untuk dirinya. Georgino Anderson itu datang dan mengaku kalau dia adalah Kenzo dan pastinya akan membuat Tiara bimbang kemudian melepaskan Erik. Karena Erik sangat mengetahui kalau Tiara itu benar-benar mencintai Kenzo dari dalam hatinya.


"Suruh dia masuk ke ruangan ku!" kata Erik yang sebenarnya sedikit ragu untuk mengatakan itu kepada Susan.


"Baik pak!" jawab susah dengan cepat kemudian segera pergi ke ruang tamu.

__ADS_1


Erik masuk ke dalam ruangannya, dia tidak langsung duduk di kursinya. Dia sengaja menunggu Georgino Anderson itu datang.


Dan tak begitu lama kemudian Erik mau dengar pintu ruangannya di ketuk.


Tok tok tok


"Masuk!" kata Erik dari dalam.


Ceklek


"Silahkan pak!" kata Susan yang mempersilahkan Georgino Anderson untuk masuk ke dalam ruangan Erik.


"Terimakasih!" sahut pria yang wajahnya asli sangat mirip dengan Kenzo itu.


Susan lantas keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya kembali.


"Selamat pagi, tuan Georgino Anderson! ada yang bisa aku bantu?" tanya Erik berbasa-basi.


"Selamat pagi tuan Erik. Maaf kalau aku mengganggu mu pagi-pagi begini. Tapi aku sungguh ingin bicara denganmu!" kata Georgino Anderson.


"Tentang pekerjaan?" tanya Erik.


Karena sesungguhnya Erik berharap apa yang ingin dibicarakan oleh Georgino Anderson tersebut adalah tentang pekerjaan.


Sebenarnya sejak kemarin Erik masih berpikir untuk mencari tahu kebenaran Georgino Anderson. Tapi setelah apa yang terjadi tadi pagi antara dirinya dan Tiara. Sungguh Erik hanya ingin hidup tenang dengan Tiara saja. Tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu di antara mereka berdua. Erik ingin sedikit egois untuk kebahagiaannya.


"Bukan tentang pekerjaan, tapi kita bisa bicarakan tentang pekerjaan juga setelah membahas masalah ini. Boleh kita bicara sambil duduk?" tanya Georgino Anderson yang ingin pembicaraan mereka lebih santai kalau sambil duduk.


"Oh ya, silahkan!" kata Erik yang pada akhirnya merasa sedikit tidak enak juga karena menyuruh tamunya berdiri sejak tadi dan tidak menyuruhnya untuk duduk.


Setelah mereka duduk, Georgino Anderson tampak mengawali pembicaraan.


"Jadi begini tuan Erik, kemarin pagi saat acara peresmian pembukaan perusahaan Anderson. Tuan berkata padaku, apakah aku mengenal tuan bukan? nah aku kemarin untuk menanyakan tentang hal itu. Apa tuan Erik mengenalku?" tanya Georgino Anderson yang membuat Erik sedikit bingung.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2