Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 74


__ADS_3

"Lepaskan tangan paman, dan aku akan menghubunginya!" kata Kiara dengan tatapan menantang ke arah Erik.


Erik pun melepas tangannya dari Kiara. Selama ini Erik dengar dari Kenzo dan Tiara, kalau Kiara tidak punya sama sekal teman laki-laki yang dekat dengannya. Kuliah saja di antar jemput, pergi kemana-mana akan Tiara temani. Erik baru sadar kalau mungkin saja Kiara hanya membual.


Tadi dia sempat sedikit emosi mendengar ada pria yang menyatakan cintanya pada Kiara. Tapi setelah mengingat apa yang dikatakan oleh Kenzo dan Tiara. Erik pun ingin melihat, sebenarnya Kiara hanya membual atau memang benar dia punya calon pacar.


"Halo Zicko...!" Kiara menyalakan speaker ponselnya.


"Halo Kiara, kamu menghubungi ku. Aku tidak percaya ini, apa kamu baik-baik saja? apa kamu akan datang ke kampus hari ini?" tanya pemuda di seberang sana.


"Tidak, aku demam...!"


"Kamu demam, sejak kapan? sudah berobat belum, aku ke rumah kamu ya? kita ke dokter!" kata Zicko seperti orang yang benar-benar sangat perduli pada Kiara.


Mendengar hal itu Erik mulai cemas.


"Tadi mama sudah panggil dokter, tapi aku belum makan, aku tidak selera...!"


"Baiklah, kamu suka bubur ayam kan? aku akan belikan di tempat favorit kamu di kampus itu, dan langsung membawakannya untukmu. Nanti aku suapi ya, kamu harus makan supaya bisa minum obat kan? tunggu sebentar lagi ya Kiara. Aku segera datang!" ucap Zicko terdengar begitu meyakinkan.


"Baiklah, aku tunggu!" kata Tiara yang kemudian memutuskan panggilan telepon dengan Zicko.


Kiara langsung melihat ke arah Erik.


"Paman dengar sendiri kan? sekarang paman pergi saja, sebentar lagi juga akan ada yang mengurusku!" kata Kiara yang meletakkan ponselnya di atas meja.


"Siapa nama lengkapnya, rumahnya dimana, berasal dari keluarga mana dia?" tanya Erik.


Kiara pun mengernyitkan keningnya.


"Kenapa paman bertanya semua itu? paman tidak perduli padaku, paman pergi saja!" kata Kiara memalingkan wajahnya dari Erik.

__ADS_1


"Paman, perduli padamu. Kenapa kamu tidak mengerti Kiara? kamu masih kecil, perasaan mu pada paman itu bukan cinta. Itu hanya rasa kagum. Kamu harus pahami itu, dan kalau soal pemuda bernama Zicko itu, tanya dulu pada papa dan mama kamu sebelum mengijinkan dia datang!" kata Erik yang langsung keluar dari kamar Kiara.


Kiara benar-benar frustasi, dia sudah melakukan apa yang dia bisa untuk mengungkapkan perasaannya pada pamannya itu. Tapi sepertinya semua usahanya sia-sia. Erik selalu bilang kalau apa yang di rasakan Kiara itu bukan cinta, melainkan hanya rasa kagum semata.


Kiara pun menangis di balik selimutnya, dia benar-benar tersiksa dengan perasaan seperti ini. Ketika sedang menangis tiba-tiba ponselnya berdering. Kiara menyingkapkan selimut yang dia pakai dan meraih ponselnya.


Dia melihat dari layar ponselnya, kalau yang menghubunginya adalah Oline. Segera Kiara menerima panggilan dari sahabatnya itu.


"Halo Oline!" suara Kiara terdengar serak karena dia masih menangis.


"Hei, ada apa? semuanya berjalan lancar kan? pamanmu cemburu kan padamu?" tanya Oline.


"Tidak Oline, dia bilang aku masih kecil. Dia bilang perasaan ku hanya perasaan sesaat, rasa kagum bukan cinta! hatiku sakit Oline, kenapa sih rasanya sangat menyakitkan begini? rasanya sesak, dan aku tidak bisa berhenti menangis!" isak tangis Kiara saat bercerita pada Oline.


"Kiara, sabar ya... susah juga ya pamanmu itu!" kata Oline.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Besok dia akan pulang ke Australia, aku yakin dia tidak akan kembali lagi. Nenek sudah tidak ada, dia tidak mungkin kembali lagi. Dia tidak akan kembali Oline... hiks... hiks..!" Kiara kembali menangis.


"Kiara, artinya kamu hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya tetap tinggal. Kiara, aku punya ide. Tapi ini sepertinya sangat ekstrim, tapi aku pikir hanya itu caranya supaya Paman kamu tidak pulang ke Australia!" kata Oline.


"Katakan Oline, apapun caranya aku akan mencobanya!" kata Kiara.


"Dengarkan aku baik-baik ya, aku menonton ini di drama Korea...!"


Oline pun mengatakan apa yang dia ketahui pada Kiara. Cara membuat seorang pria tidak bisa lagi menghindari tanggung jawab terhadap seorang wanita yang mencintainya.


"Haruskah seperti itu? papaku akan menghabisi ku kalau dia tahu aku melakukan hal seperti itu!" kata Kiara mulai khawatir dengan rencana yang di sarankan oleh Oline.


"Makanya aku bilang cara ini ekstrim. Tapi karena waktunya sangat mepet, aku hanya bisa memberimu saran itu saja. Aku juga tidak bisa berpikir, kalau memberitahu pada mama dan papamu, kamu bilang pamanmu pasti akan semakin menjauhi mu. Jadi ya, pakai cara ini saja!" kata Oline.


"Bagaimana kalau aku benar-benar hamil nanti, aku kan masih kuliah?" tanya Kiara pada Oline.

__ADS_1


"Hei, yang menyuruhmu benar-benar melakukannya siapa? aku bilang beri saja pamanmu itu obat tidur, lalu pagi harinya kamu lepas pakaiannya dan pakaian mu lalu berada di satu selimut yang sama. Begitu saja! kamu juga hanya nekat sampai benar-benar melakukannya!" seru Oline.


"Begitu ya, baiklah. Aku akan ke rumah paman saja. Di sini, aku bisa langsung di habisi papaku!" kata Kiara.


"Iya begitu saja, nanti kan yang tahu masalah itu hanya kamu dan paman kamu, setidaknya itu bisa menunda kepulangannya ke Australia kan, nah kamu pakai waktu yang ada untuk menaklukkan hati paman mu, setelah paman kamu jatuh hati padamu, kamu mau jujur juga silahkan saja!" kata Oline panjang lebar.


"Hah, kamu benar. Baiklah aku akan pergi ke rumah paman sekarang. Karena malam nanti pengajian. Aku akan lakukan sekarang, kamu kirim paket obatnya ke alamat yang aku share ya!" kata Kiara.


"Oke, aku akan minta Zicko membeli obatnya dan mengirimkan ke alamat yang kamu share. Good luck ya Kiara!"


"Oke, terimakasih Oline!" kata Kiara yang langsung memutuskan panggilan telepon dengan Oline.


Kiara pun segera berganti pakaian, mendadak dirinya menjadi sehat bahkan sebelum meminum obat dari Dokter Intan.


Kiara keluar dari kamarnya, dan pamit pada mamanya untuk pergi ke kampus karena ada yang harus di ambil dari temannya.


Tiara pun memastikan apa dia baik-baik saja, setelah di periksa dengan menempelkan punggung tangan Tiara ke kening Kiara, ternyata suhunya sudah normal.


"Kamu sudah minum obatnya ya?" tanya Tiara dan Kiara mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya, atau mau mama minta tolong paman Erik mengantarmu?" tanya Tiara.


Kiara menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak usah ma, aku sudah pesan taksi online. Nanti aku juga mau mampir ke rumah Oline ya ma, aku akan kembali sebelum pengajian di mulai!" kata Kiara.


Tiara pun terlihat khawatir.


"Kamu kan baru sembuh sayang...!"


"Aku akan baik-baik saja, ya ma?" tanya Kiara yang kemudian di angguki oleh mamanya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2