Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 31


__ADS_3

"Jadi apa yang bisa aku lakukan untukmu, Tiara?" tanya Erik yang sudah mengajak Tiara masuk ke dalam ruangannya bersama Frans juga.


Tiara yang duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Erik menoleh ke arah Frans yang ada di sebelahnya.


"Begini tuan Erik, kami dengar tuan sedang mencari perusahaan penyedia alat produksi untuk perusahaan tuan. Dan kami datang kemari untuk mengajukan proposal ke perusahaan tuan, perusahaan kami menyediakan alat-alat produksi dengan kualitas terbaik. Kami mengembangkan teknologi terbaru dan produk dalam negeri. Dengan alat-alat produksi tersebut, tuan akan lebih efektif dan efisien dalam memproduksi barang-barang nantinya!" Jelas Frans dengan sangat tenang.


Meskipun awalnya Tiara yang ingin mengatakan semua itu, tapi setelah mengetahui CEO perusahaan itu adalah Erik. Tiara jadi ragu, bagaimana pun juga Erik pernah masuk penjara karena dia. Rasanya akan mustahil Erik mau membantu Tiara.


"Tapi haruskah nyonya Kenzo yang mengajukan proposal? bukankah seharusnya tuan Kenzo Pratama sendiri yang datang kemari dan mengajukan proposal ini?" tanya Erik.


Tiara hanya bisa menunduk mendengar apa yang dikatakan oleh Erik.


"Maaf tuan Erik, tuan Kenzo sudah tiada..!"


"Maksudmu apa? tiada? apakah Kenzo..!"


"Benar tuan, tuan Kenzo meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa bulan lalu, yang terjadi di perairan Srilanka!" jelas Frans dengan wajah yang terlihat sedih.


Tiara memegang erat pegangan kursi, karena Frans membahas tentang Kenzo, Tiara tak dapat menyembunyikan kalau dia masih sangat berduka atas hal itu.


"Aku mendengar berita itu, tapi aku tidak tahu kalau Kenzo... Aku turut berduka Tiara!" kata Erik terdengar begitu tulus.


Tiara menganggukkan kepalanya perlahan.


"Iya, tapi bisakah kita kembali ke pekerjaan? Erik aku tahu kita pernah punya masa lalu yang buruk...!"


"Masa lalu kita tidak buruk, Tiara. Aku yang salah langkah. Tapi setelah keluar dari penjara. Aku sadar kalau aku sudah menyia-nyiakan kesempatan dan waktu yang baik saat itu yang datang dan berpihak padaku. Aku tidak akan mengulangi semua itu. Aku juga tidak menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi padaku. Semua itu salahku!" kata Erik yang memang sekarang sepertinya sudah banyak berubah menurut pandangan Tiara.

__ADS_1


Pria yang pernah menjadi orang yang paling dia cintai itu terlihat lebih dewasa, wajahnya terlihat tenang dan kata-katanya sungguh wise.


"Aku..!"


Tiara baru akan bicara dan meminta maaf juga karena semua yang di lakukan Erik di masa lalu pasti juga karena dirinya. Tapi belum sempat Tiara mengatakan apa yang ingin dia katakan, Erik menyelanya.


"Aku setuju bekerja sama dengan perusahaan Pratama, Tiara. Bukan karena kita pernah punya masa lalu, tapi karena memang aku percaya perusahaan kalian bagus dan pantas mendapatkan kerja sama ini!" kata Erik yang mengulurkan tangannya pada Tiara.


Tiara sampai tertegun untuk sesaat sampai akhirnya dia berdiri dan menjabat tangan Erik.


"Terimakasih Erik, atau aku panggil pak Erik?" tanya Tiara.


Erik tersenyum dan ikut berdiri.


"Erik saja Tiara, kita kan teman. Benar kan?" tanya Erik.


Tiara pun langsung mengangguk. Sebelumnya dia juga tahu kalau Erik orang baik. Hanya saja hasutaan Meri kala itu membuat Erik berubah. Dan sekarang setelah keluar dari penjara terlihat Erik kembali menjadi baik.


Setelah sepakat mereka memutuskan untuk penandatanganan kerjasama itu besok di kantor Tiara. Karena ada beberapa poin penting dalam proposal itu yang masih harus diperbaiki sesuai dengan apa yang di inginkan Erik untuk kemudahan perusahaan dan keefektifan kerja samanya dengan Tiara.


"Jadi, apakah aku bisa mengajak teman ku ini makan siang?" tanya Erik.


"Tapi kami harus memperbaiki proposalnya..!"


"Nyonya, biar aku dan tim yang lakukan!" kata Frans yang tidak enak kalau menoleh ajakan Erik karena menurut Frans bantuan Erik ini sangat penting.


Jika Erik tidak menyetujui kerja sama ini, mungkin saja perusahaan Pratama harus rela kehilangan dua cabang Perusahaan yang ada di kota lain yang baru saja berkembang. Karena proyek yang berada di Kanada terbengkalai akibat kecelakaan kemarin. Maka kliennya meminta ganti rugi, akibat tidak berjalannya proses produksi sesuai waktu yang telah disepakati.

__ADS_1


"Baiklah!" kata Tiara pelan.


Dan Erik juga Tiara langsung pergi menuju ke sebuah restoran.


Selama menunggu pesanan mereka datang Erik terus memperhatikan Tiara. Menurutnya Tiara yang sekarang benar-benar sangat berbeda. Lebih dewasa dan lebih cantik.


Tiara yang sejak tadi juga merasa di perhatikan pun lantas menjadi tidak nyaman.


"Erik, jangan melihat ku seperti itu!" kata Tiara menegur Erik.


Erik lantas tersenyum dan mengangkat tangannya.


"Maaf Tiara, tapi pandangan ku tidak bisa beralih darimu! bagaimana kabarmu? maksud ku apa semua baik-baik saja? anak-anak?" tanya Erik dengan wajah yang terlihat simpatik.


"Kamu tahu?" tanya Tiara.


Tiara cukup terkejut, karena Erik tahu tentang anak-anak Tiara dan Kenzo.


Erik langsung mengangguk pelan.


"Iya, setelah keluar dari penjara. Aku langsung mencari mu. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk minta maaf. Di penjara banyak sekali yang aku pelajari, aku banyak menemukan orang-orang yang baik yang menasehati ku, mereka juga sama, awalnya salah, tapi karena di penjara kami sering dengar ceramah, banyak mantan narapidana yang datang menceritakan pengalaman hidup mereka. Aku mulai banyak belajar menghadapi semuanya, mengikhlaskan segalanya. Awalnya aku di usir saat kembali ke rumah oleh papa dan mama ku. Tapi sebuah kecelakaan terjadi, dan mereka pergi. Pengacara memanggilku kembali, karena aku anak satu-satunya di keluargaku. Dan aku memulai segalanya dari awal!" jelas Erik.


"Aku mengatakan semua ini bukan agar kamu simpati padaku, tapi karena aku ingin kamu bisa bangkit seperti aku. Kamu pasti bisa Tiara, aku tahu kamu sangat kuat, kamu perempuan yang tegar. Tetap tersenyum untuk anak-anak, mereka membutuhkanmu, kamu harus tunjukkan semuanya akan tetap sama meskipun papa mereka tidak ada, agar mereka merasa semua baik-baik saja!" ucap Erik yang membuat mata Tiara berkaca-kaca.


"Terimakasih Erik, aku pikir aku sudah tidak punya harapan. Aku nyaris berpikir begitu. Terimakasih kamu mau memberi kesempatan pada ku dan perusahaan, aku tidak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya aku bisa bertemu denganmu!" kata Tiara.


"Jangan berkata begitu Tiara. Kita teman, kita juga pernah punya perasaan yang sama, meski sekarang di hatimu perasaan itu sudah tidak ada. Tapi jika boleh aku katakan sejujurnya padamu, perasaan ku padamu masih sama seperti tujuh tahun yang lalu!" kata Erik membuat Tiara cukup terkejut.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2