Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 42


__ADS_3

Hari berganti, Erik sudah sangat rapi ketika dia turun dari dalam mobilnya menjemput wanita yang semalam resmi menjadi tunangannya.


Ketika mendengar mobil Erik sampai di rumah, Kiara dan Kenzi yang memang sedang menunggu paman Erik kesayangan mereka itu lantas berlari keluar dari rumah. Tentu saja di ikuti oleh Tiara dan Melani.


"Paman Erik!" seru keduanya yang lantas menghambur ke arah Erik yang memang berjongkok dan merentangkan kedua tangannya ketika mendengar suara langkah kaki dua anak itu.


"Selamat pagi, kesayangan paman. Sudah sarapan?" tanya Erik.


"Sudah paman, let's go paman!" kata Kenzi.


Erik lantas mengangguk, lalu berpamitan pada Melani.


"Tante, aku pergi dulu!" kata Erik.


"Hati-hati ya!" kata Melani.


Erik bersama dengan Tiara, Kenzi dan Kiara lantas pergi meninggalkan rumah itu menuju ke sekolah. Setelah mengantarkan keduanya ke sekali. Erik dan Tiara menuju ke Anderson Company untuk menghadiri pembukaan perusahaan tersebut.


Begitu sampai di perusahaan itu, terlihat banyak sekali bunga papan di sepanjang jalan menuju ke perusahaan.


"Wah, ini masih seratus meter dari perusahaan. Sebanyak ini bunga papan nya. Pasti banyak sekali tamu yang di undang bukan" kata Tiara.


"Wajar saja sayang, kan mereka perusahaan besar dari Somalia. Mereka bahkan tidak perlu mencari investor ketika membuka perusahan di sini. Aku sampai terkejut mendengar itu. Seperti apa yang rumah mereka di sana. Seperti mansion mungkin ya?" tanya Erik.


Tiara terdiam, bukan karena terkejut berapa kayanya pasangan Anderson itu. Tapi karena panggilan Erik kepadanya. Panggilan itu sepuluh tahun lalu memang pernah di dengar juga dari Erik, tapi selama tujuh tahun lalu Tiara biasa mendengar itu dari Kenzo. Rasanya benar-benar membuatnya kembali sedih.


Mobil mereka di arahkan ke tempat parkir khusus, karena mereka menunjukkan undangan khusus juga. Begitu mobil Erik terparkir sempurna. Erik lantas membukakan pintu untuk Tiara. Meski tadinya ada yang petugas yang akan membukakan pintu, tapi Erik memilih untuk membukanya sendiri dan meminta petugas itu untuk tidak membukakan pintu mobilnya.


Setelah masuk ke dalam, suasana di tempat itu juga begitu ramai. Hingga mereka di arahkan ke sebuah ruangan yang sangat besar di salah satu lantai dari perusahaan itu. Begitu keluar dari pintu lift.

__ADS_1


Mereka langsung melihat sebuah ruangan yang besar, tak ada ruangan atau sekat lain selain beberapa tiang besar penyangga gedung dan beberapa meja yang tersusun rapi juga terorganisir.


"Selamat datang, boleh lihat undangannya!" kata seorang wanita yang terlihat cantik, anggun dan sangat sopan.


Sepertinya wanita itu adalah petugas khusus yang akan mengantarkan para tamu undangan ke meja masing-masing.


Erik lantas menunjukkan undangan miliknya. Dan petugas wanita memeriksa lalu mengangguk paham.


"Silahkan tuan, saya akan menunjukkan meja anda!" kata petugas itu.


Pesta pembuka perusahaan ini sepertinya sangat terorganisir. Semua sesuai dengan undangan yang di terima.


Erik menggandeng tangan Tiara mengikuti langkah wanita itu. Beberapa orang yang mengenal Erik menyapanya. Tiara selama ini memang jarang keluar, dia memang hanya fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga. Maka di tempat ini jarang ada yang dia kenali. Lagipula bisnis juga naik turun, kolega perusahaan Pratama juga banyak yang sudah gulung tikar. Tidak mudah mempertahankan perusahaan mesin produksi di era yang semakin canggih.


"Silahkan tuan dan nyonya Wirawan!" kata petugas itu.


Erik lantas menarik kursi untuk Tiara di depan petugas itu sebelum petugas itu pergi.


"Terimakasih!" kata Tiara canggung.


Wirawan itu adalah nama belakang Erik, rasanya sangat aneh saja, biasanya dia pakai nama belakang Kenzo, yaitu Pratama.


"Nyonya Wirawan, silahkan mau minum yang mana. Aku akan tuangkan untukmu!" kata Erik berniat membuka botol minuman mineral dengan harga satu karung beras di atas meja itu.


"Jangan panggil aku begitu!" kata Tiara.


"Tapi sebentar lagi kan semua orang juga akan memanggilmu dengan nama itu. Nyonya Erik Wirawan!" kata Erik lagi kembali menggoda Tiara.


"Selamat datang para tamu undangan yang terhormat, terima kasih atas kehadiran tuan dan nyonya. Saya mohon semuanya untuk bisa berdiri, menyambut kehadiran pasangan CEO pemilik perusahaan Anderson Company. Tuan Georgino Anderson, dan nyonya Natasha Georgino Anderson!" Seru pembawa acara yang mengucapkan kalimat itu dengan penuh intonasi dan pitch control yang luar biasa.

__ADS_1


Kalau lyodra lewat, dia pasti kesandung karena tidak memperhatikan jalan. Bukan karena terpukau mendengarkan pembawa acara itu berbicara.


Semua orang tampak berdiri, menutupi pandangan Erik dan Tiara ke arah panggung utama. Suara tepuk tangan bergemuruh. Erik lantas mengajak Tiara ikut berdiri agar bisa melihat tuan dan nyonya Anderson itu.


Sebenarnya jarak meja mereka dengan panggung utama itu tidak jauh. Kalau mereka berdiri, mereka juga bisa melihat kedua raja dan ratu dari Anderson Company.


Begitu Erik melihat keduanya, wajahnya yang tadi terlihat sangat bahagia. Berubah menjadi sangat serius. Erik bahkan langsung menoleh ke arah Tiara.


Dan Tiara terlihat diam mematung dengan mata berkaca-kaca ketika dia melihat ke arah pria yang namanya di sebutkan sebagai tuan Georgino Anderson itu.


"Kenzo!" lirih Tiara.


Erik lantas melihat kembali orang yang sedang memberi penghormatan kepada semua orang dengan memberikan salam dari atas panggung itu.


Wajahnya, senyumnya dan tinggi badannya. Benar-benar persis seperti Kenzo. Hanya saja kulitnya memang terlihat sangat putih dan rambutnya juga berwarna coklat. Yang lainnya benar-benar persis dengan Kenzo.


"Selamat malam, terima sudah hadir di peresmian pembukaan Anderson Company di kota ini. Semoga perusahaan kami, bisa memberi banyak manfaat untuk kita semua yang berada di sini. Silahkan menikmati pestanya!" kata Georginio Anderson itu.


Erik lagi-lagi terdiam, bahkan suaranya sama. Hanya saja logatnya agak berbeda.


"Tiara, aku akan ke sana. Aku akan pastikan itu Kenzo atau bukan!" kata Erik yang tidak tega melihat Tiara yang kelihatannya sangat sedih.


"Itu bukan Kenzo, Rik. Pasti bukan dia, jika Kenzo masih hidup. Dia tidak akan mungkin tidak mencariku, dia tidak mungkin menggandeng tangan perempuan lain seperti itu!" kata Tiara yang air matanya sudah mengalir.


Erik lantas mendekati Tiara, mengajaknya duduk dan memberikan sapu tangan untuk menyeka air matanya.


"Sayang, jangan menangis. Tunggu di sini. Aku akan pastikan dia Kenzo atau bukan. Ku jangan kemana-mana ya, aku mohon!" kata Erik yang benar-benar mencemaskan kondisi batin Tiara.


Erik tahu betul rasanya, kalau orang yang kita cintai bergandengan mesra dengan orang lain. Seperti apa sakit dan perihnya, Erik tahu itu. Karena dia memang sudah pernah mengalaminya. Saat Tiara bergandengan tangan sangat mesra dengan Kenzo dulu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2