Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 47


__ADS_3

Suatu hari Natasha mengajak Geo untuk nonton film di sebuah mall di kota ini. Tadinya Natasha ingin mereka menyewa satu Gending bioskop itu untuk berdua saja. Jadi hanya menonton berdua saja begitu. Tapi Geo pikir itu adalah sebuah pemborosan besar.


"Tidak perlu seperti itu, kasihan juga yang lain. Mungkin ada yang sedang pendekatan dengan orang yang mereka suka, atau bahkan merayakan anniversary mereka. Kenapa kita tidak masuk seperti orang biasa saja?" tanya Geo pada Natasha.


Awalnya Natasha tidak mau seperti itu, tapi karena dia lihat ekspresi wajah Geo sudah menunjukkan tanda-tanda kalau agak kesal pada Natasha. Maka Natasha pun menurut dan membiarkan Mereka nonton bersama dengan orang-orang yang sudah membeli tiket sebelumnya.


Meski sebenarnya Natasha kurang suka berada di antara orang-orang yang tidak sekelas dengan dia, tidak satu level dengannya. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk duduk berdua dengan Geo, sambil menonton film romantis yang dari thriller nya saja sudah banyak adegan mesranya.


Saat akan masuk ke studio, tiba-tiba saja seseorang menumpahkan minuman yang dia bawa di lengan baju Geo.


"Hei, apa kamu buta? kenapa bisa menumpahkan...!"


"Natasha cukup!" kata Geo menyela Natasha yang memaki wanita itu padahal dia sudah memjnta maaf beberapa kali.


"Maafkan saya mas, mbak. Saya tidak sengaja. Biar saya bantu bersihkan. Sebentar saya ambilkan tissue!" kata wanita yang berdua dengan temannya itu.


Wanita itu tampak ketakutan, karena begitu Natasha berteriak tadi, beberapa orang pengawal yang tadinya jaraknya cukup jauh dari mereka berdiri langsung mendekat ke arah Natasha dan Geo. Tentu saja wanita itu panik bukan main. Temannya bahkan langsung bersembunyi di belakang tubuh wanita itu dengan tangan yang gemetaran dan bocah yang terlihat sangat pucat.


"Iya tidak apa-apa, pergilah?" kata Geo.


Geo meminta kedua wanita itu langsung pergi dan tidak usah masuk ke dalam studio karena dia tahu benar siapa Natasha. Kalau kedua wanita itu tetap masuk ke dalam studio maka Natasha akan bertambah marah pada mereka. Dan mungkin saja tidak hanya marah tapi juga meminta para pengawalnya untuk membuat perhitungan dengan kedua wanita itu.


Setelah kedua Wanita itu pergi, Geo mengatakan pada Natasha agar dia masuk terlebih dahulu ke dalam studio. Karena Geo harus membersihkan noda minuman di lengan bajunya. Dan juga mengeringkannya tentunya.


"Aku akan ke toilet dulu untuk membersihkan ini...!"


"Aku ikut!" kata Natasha.

__ADS_1


"Tidak usah Natasha, aku akan ke toilet pria. Akan ada banyak pria di sana, apa kamu nyaman?" tanya Geo.


"Aku akan minta para pengawal mengusir mereka!" kata Natasha membantah.


"Natasha ayolah, ini bukan negaramu. Ikutilah aturan di sini. Masuklah, aku akan segera kembali. Ini mungkin hanya sepuluh sampai di puluh menit saja!" kata Geo.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya!" kata Natasha yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Geo.


Setelah itu Natasha masuk ke dalam studio dan Geo berjalan ke arah toilet. Tapi saat dia akan menuju ke arah toilet seseorang menarik tangannya.


"Hei, Kenzo. Aku pikir cintamu pada Tiara itu cinta mati! ternyata kamu datang menonton film romantis dengan perempuan lain!" kata seorang wanita dan wanita itu adalah Meri.


Meri sedang ada janji temu dengan teman kencan butanya. Sudah bertahun-tahun, tapi kehidupan Meri masih saja sama. Hanya mencari kesenangan dengan pria tampan dan perkasaa.


Dari tadi sebenarnya dia sudah melihat Geo dan Natasha tapi dia menunggu kesempatan untuk bisa bicara dengan Geo saja. Karena dia lihat Natasha itu sangat posesif pada Geo. Dan tentu saja Meri, tidak mau mengalami nasib seperti dua wanita yang tadi dimarahi oleh Natasha.


"Apa katamu?" tanya Geo.


Geo mulai berpikir. Sudah dua orang yang menyebut dirinya sebagai Kenzo. Dan membicarakan nama yang sama yaitu Tiara. Geo menjadi sangat penasaran. Dan tadi dia menyebutkan pula nama Erik. Sepertinya semua ini ada hubungannya dengan Erik yang menolak mengenalinya. Apakah Erik sengaja melakukannya semua itu karena wanita yang bernama Tiara itu. Geo menjadi semakin curiga saja di buatnya.


"Tapi aku dengar Tiara yang mengurus perusahaan mu, apa kamu memberikan Pratama grup pada Tiara sebagai kompensasi karena kamu telah mengkhianati Tiara?" tanya Meri lagi.


'Pratama grup, Tiara? aku harus kesana?' batin Geo.


Geo tidak jadi menuju ke toilet untuk membersihkan pakaiannya. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang sudah dikatakan oleh wanita yang bertemu dengannya di depan toilet tadi. Meskipun dia tidak mengenali wanita itu, mungkin saja sebenarnya dia kenal tapi dia tidak ingat.


Mendengar Pratama grup dan Tiara yang rasanya sangat tidak asing di telinganya. Geo langsung bergegas pergi dan menuju ke sana dengan menggunakan taksi yang kebetulan sangat banyak yang lewat di depan mall itu.

__ADS_1


Geo mengatakan pada supir taksi, dia ingin ke Pratama grup. Dan beruntungnya supir taksi itu tahu tempat yang ingin dituju oleh Geo. Karena dia juga sering mangantar beberapa karyawan dari perusahaan itu ke kantornya atau pulang dari kantornya.


Begitu sampai di Pratama grup, Geo ingat di tempat inilah pertama kali dia merasa perasaan yang begitu aneh setelah tiba di kota ini. Langkah Geo perlahan memasuki Pratama grup. Semua orang terlihat terkejut melihat Geo.


"Pak Kenzo!" kata resepsionis perusahaan itu.


Kali ini Geo benar-benar yakin kalau kemungkinan besar dirinya memang adalah Kenzo.


Geo langsung mendekati meja resepsionis itu dan bertanya tentang Tiara.


"Tiara ada di sini?" tanya Geo.


Resepsionis itu masih tampak bengong, bagaimana tidak. Dia melihat bosnya yang katanya sudah meninggal satu tahun yang lalu dalam peristiwa kecelakaan pesawat dari Kanada.


"Apa kamu mendengarkan?" tanya Geo membuyarkan lamunan wanita itu.


"Ah iya pak Kenzo, Bu Tiara sedang keluar. Bukankah ini jamnya anak-anak pulang, Bu Tiara sedang menjemput anak-anak!" kata resepsionis itu.


Geo terdiam.


'Anak-anak!' batin Geo yang perasaan nya kembali tak bisa dia jelaskan.


"Em, apa kamu masih ingat alamat rumahku?" tanya Geo pada resepsionis itu.


"Tentu saja pak, kami semua para karyawan bapak tentu tahu alamat rumah pak Kenzo. Di jalan Cemara No 16. Ada apa pak? apa ada acara?" tanya resepsionis itu.


"Tidak, terima kasih!" kata Geo yang langsung meninggalkan tempat itu dan membuat resepsionis itu mematung bingung.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2