Between Love And Lies

Between Love And Lies
Bab 28


__ADS_3

Setelah pak supir membawa Kenzi dan Kiara pulang. Tiara terus berusaha menunggu dan mencari informasi tentang kabar selanjutnya dari proses pencarian pesawat yang di tumpangi oleh suaminya dari Kanada.


Di pusat informasi, sudah di tempelkan nama-nama penumpang yang terdaftar sudah naik ke pesawat itu sebelum pesawat lepas landas. Yang artinya, juga menjadi korban dari kecelakaan pesawat tersebut.


Tiara mencoba untuk mencari celah, dengan tubuhnya yang kecil itu dia mencoba untuk mencari celah agar bisa melewati kerumunan dan melihat ke papan pengumuman yang ada di depan meja informasi yang di buat dadakan di ruangan tersebut karena terjadinya peristiwa kecelakaan pesawat ini.


Setelah cukup lama berusaha, akhirnya Tiara sampai di depan papan informasi itu. Tiara melihat keterangan ada 124 penumpang yang ada di penerbangan tersebut.


Jadi telunjuk Tiara berusaha untuk mencari nama suaminya. Dan tangis Tiara pecah ketika hari telunjuknya terhenti di nama Kenzo Pratama, usia 30 tahun asal kota Rajabasa.


Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tiara terdorong oleh seseorang yang juga ingin mencari tahu nama keluarganya yang ada di kertas pengumuman itu.


Tiara terdorong lagi, dan akhirnya jatuh ke lantai. Di dekat meja informasi. Tiara menangis terisak tanpa suara.


'Kenzo... tidak mungkin. Kenzo hiks.. hiks..!'


Hatinya terus memekik menyebut nama Kenzo, tapi Tiara sama sekali tidak mengeluarkan suara.


Salah seorang petugas wanita yang berada di dekat pusat informasi lantas menghampiri Tiara dan membantunya untuk berdiri.


"Mbak.. saya bantu bangun ya mbak?" kata petugas itu yang terlihat kasihan pada Tiara.


Petugas wanita itu menuntun Tiara duduk di kursi tunggu yang di sediakan di sana. Tiara masih menangis, dia tak tahu harus apa selain menangis. Dia sangat sedih, sangat shock, ada nama suaminya tertera di sana. Suami yang sangat dia cintai. Suami yang merupakan separuh dari nafasnya, separuh dari nyawanya. Lantas kalau suaminya sudah tiada. Bagaimana Tiara akan hidup.


"Mbak, minum dulu ya!" kata petugas wanita itu.


Tiara meraih gelas itu dan minum air yang di berikan petugas wanita tersebut.


"Mbak harus kuat, saya tadi lihat mbak bawa anak kecil kan? itu anak mbak kan? mbak harus kuat! jodoh, maut itu sudah pasti datang nya mbak. Mbak harus tegar demi anak-anak mbak!" kata petugas itu yang tahu kalau Tiara pasti sangat terpukul.


Petugas itu sempat melihat Tiara menggandeng kedua anak kecil sambil tersenyum. Dia yakin kalau mereka akan menjemput papa anak-anak itu. Tapi kenyataan berkata lain. Pesawat yang membawa orang yang mereka sayangi itu mengalami kecelakaan dan di kabarkan sangat parah, di kabarkan tidak ada yang selamat.

__ADS_1


Tiara hanya diam, dia benar-benar tak sanggup berkata-kata. Petugas wanita itu juga menemaninya sampai Tiara tenang.


Tak lama kemudian ponsel Tiara berdering. Tiara melihat ponselnya, dan Melani yang menghubungi nya. Air mata Tiara kembali mengalir deras.


"Bu...!" lirih Tiara sambil menangis.


"Tiara, ibu baru lihat berita. Itu ada pesawat jatuh, kecelakaan. Dari Kanada? Kenzo malam ini juga pulang dari Kanada kan nak? tapi itu bukan pesawat yang ditumpangi oleh Kenzo kan nak?" tanya Melani yang terdengar sangat cemas.


"Ibu... itu pesawat Kenzo. Kenzo ada di daftar penumpang ya sudah naik ke dalam pesawat sebelum pesawat lepas landas. Dan katanya tidak ada yang selamat Bu.. Kenzo Bu... Kenzo.. hiks..!"


Tiara kembali menangis terisak, petugas yang ada di sebelahnya terlihat ikut sedih bahkan ikut menangis. Tapi petugas wanita itu mencoba untuk terus mengusap punggung dan lengan Tiara.


Sementara di rumahnya, di luar kota. Melani tampak menjatuhkan gagang telepon yang dia pegang.


"Kenzo...!" pekik Melani tak kuat menahan kesedihan.


Tiara menghubungi pengacara dan sekertaris Kenzo. Petugas tadi harus pulang, karena shift kerjanya sudah berakhir. Tapi dia kasihan pada Tiara, akhirnya dia menyarankan pada Tiara untuk ada orang yang bisa di percaya menemaninya.


Sudah hampir tengah malam, dan para petugas mengirimkan video bagaimana proses pencarian korban dan kondisi pesawat itu.


Benar-benar tidak ada yang selamat. Semua terlihat tenggelam dan di temukan sudah tak bernyawa lagi. Barang-barang juga sudah di kumpulkan.


Setelah mendapatkan cukup informasi, Frans pun mendatangi Tiara yang sejak tadi tak kunjung berhenti menangis.


"Terakhir kali kontak anda dengan tuan jam berapa nyonya?" tanya Frans.


"Jam satu siang tadi, dia bilang...!"


Tiara berkata sambil terbata-bata, terjeda-jeda karena memang sangat sulit baginya bicara.


"Dia bilang, pesawatnya transit di Somalia. Dia bilang akan sampai di sini sebelum jam delapan malam.. !"

__ADS_1


Air mata Tiara mengalir lagi. Dia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan ini. Beberapa jam lalu dia masih menerima panggilan video call dari Kenzo. Ini benar-benar sangat berat bagi Tiara.


"Sabar ya nyonya, pihak penerbangan sudah memberitahu kalau kecelakaan terjadi di sekitar perairan Srilanka, saat ini beberapa barang sudah di temukan. Jika nyonya ingin memastikan tentang..!"


Frans pun menjeda kalimatnya, dia juga sangat berat menerima kenyataan ini. Baginya Kenzo adalah bos yang baik. Rasanya sangat sulit menerimanya sama seperti Tiara.


"Aku akan menemani nyonya bersama pak Abi ke Srilanka untuk memastikan barang-barang tuan Kenzo..!"


Lagi-lagi Frans tak bisa lanjut bicara. Abi menepuk bahunya pelan.


"Sabar!" kata Abi yang matanya juga berkaca-kaca.


Keesokan paginya, semua sudah di urus oleh Abi dan juga Frans. Tiara pulang ke rumah setelah memastikan kalau benar-benar tidak ada yang selamat dari kecelakaan itu.


Sampai di rumah, ternyata Melani sudah bersama dengan Kenzi dan Kiara. Tiara langsung berlari memeluk ibu mertuanya yang sudah dia anggap ibunya sendiri itu.


"Ibu hiks.. hiks..!"


Momen hari itu membuat dua anak kecil itu ikut menangis.


Cukup lama Tiara menumpahkan kesedihannya di pelukan ibu mertuanya. Setelahnya dia pamit akan memastikan kalau memang suaminya ada di pesawat itu lewat barang-barang yang katanya sudah di temukan dan di kumpulkan di dermaga yang ada di Srilanka.


"Kamu harus kuat ya nak!" kata Melani mencoba membuat Tiara tegar menghadapi semua ini. Padahal dia sendiri sangat sedih dan rasanya sudah tidak bisa bernafas mendengar apa yang terjadi pada anaknya.


Tiara menganggukkan kepalanya, dia memeluk ibu mertuanya itu sekali lagi sebelum dia pergi bersama dengan Frans dan Abi menuju Srilanka untuk memastikan barang-barang Kenzo ada di sana.


Meskipun begitu, Tiara terus berharap akan keajaiban. Dia benar-benar berharap tidak akan melihat barang-barang Kenzo di sana nanti. Meskipun mama Kenzo Pratama sudah tertera di daftar penumpang yang ada dalam pesawat tersebut.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2