
Tampak mobil yang di tumpangi pak Dedy dan Ramon keluar dari pekarangan tampak mobil tersebut telah melaju menuju peternakan ayam yang diketahui oleh pak Dedy, tampak mobil yang dikemudikan Pak Dedi masuk di sebuah pekarangan rumah sederhana tak berselang lama seorang pria keluar untuk menyambut kedatangan Pak Dedi tampak pria tersebut tersenyum lebar saat melihat Pak Dedi keluar dari mobil
"Assalamualaikum Pak Ahmad." sapa pak Dedy saat sudah berada di dekat pak Ahmad," "waalaikumsalam Pak Dedi tumben malam-malam ke sini." ucap pak Ahmad
" Aku ada keperluan mendesak seperti tadi aku ceritakan ditelepon bosku menginginkan ayam betina yang akan bertelur soalnya istrinya sedang mengidam ingin makan telur yang baru, Maaf Pak amat kenalkan ini asisten bosku namanya Pak Ramon." ucap Pak Dedi, namun dan Pak Ahmad saling berjabat tangan dan tersenyum
"Oh iya Pak Dedi aku sudah siapkan lima Ekor mereka akan bertelur aku juga sudah periksa." ucap pak Ahmad
"Maaf Pak Apa ada ayam janda muda yang akan bertelur." ucap Ramon dengan perasaan malu bertanya kepada pemilik ayam sesuai dengan instruksi bosnya tadi
Pak Ahmad dan Pak Dedi saling menatap kemudian tertawa terbahak-bahak Tuan Ramon ini "Mana ada janda muda ayam pak Ramon semua ayam adalah janda yang akan bertelur lagi pula semua ayam sama saja." ucap Pak Ahmad
"Tapi masalahnya nyonya meminta ayam janda muda yang akan bertelur." ucap Ramon membuat PK Ahmad dan pak Dedy langsung terdiam dan berpikir sejenak
"Bagaimana jika aku memberi lebel janda muda pada setiap ayam yang akan kalian bawa ke hadapan mereka." usul pak Ahmad, pak Dedy dan Ramon saling memandang lalu mengganggu setuju mendengar usulan Pak amat saya tidaknya akhirnya masalah mereka terpecahkan
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Ayana tampak Ernest dan Ayana sedang duduk di di teras menunggu kedatangan Ramon, tampak Daniel yang baru pulang kerja menatap bingung pasangan suami istri yang sedang duduk di teras "Apa yang sedang kalian lakukan kenapa sore-sore begini duduk di teras." tanya Daniel
"Aku sedang menunggu ayam kakak aku ingin melihat ayam yang akan bertelur." ucap Ayana, Daniel sedikit bingung dengan pernyataan Ayana kemudian menatap ke arah Ernest, melihat gerakan kakak iparnya membuta Ernest mengerti "tadi Ayana menginginkan telur goreng tapi harus dari ayam yang baru bertelur dan dia ingin lihat secara langsung jadi kami sedang menunggu Ramon dan pak Dedy yang akan membawa ayam tersebut." ucap Ernest
"Oalah dek dek dek telur di dalam juga masih segar-segar baru habis diambil dari peternakan telur, sudah Aku masuk dulu." ucap Daniel yang mengetahui ibunya selalu memesan telur segar dari peternakan
Setelah kepergian dan yang masuk ke dalam tak berselang lama mobil yang di tumpangi oleh Ramon dan Pak Dedi masuk ke pekarangan rumah keluarga Ayana dan di belakang tampak sebuah mobil yang memuat beberapa ekor ayam Ayana tampak antusias dan kegirangan melihat hal tersebut tampak lima ekor ayam di kandang masing-masing selalu melihat ada tulisan di sayap ayam tersebut janda muda membuat tertawa terbahak-bahak Bagaimana bisa bawahannya mendapatkan ide semacam itu sementara ayahnya sangat antusias apalagi melihat tanda di sayap ayam
"Maaf tuan Kandang ayam ini mau dibawa ke mana." tanya Ramon yang sudah turun bersama pak Dedy
"Kan ada ayam janda muda buktinya saja ayam yang tadi masuk sudah di stempel sekarang Ayo kita ke belakang untuk melihat ayam tersebut sebentar lagi pasti akan bertelur." ucap ayana dengan polosnya, Ernest hanya mengaguk saja
Tampak Ayana sudah berjalan menuju kebun belakang mengikuti para pekerja yang membawa ayam, "kerja kalian sangat bagus hari ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kalau sampai dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan, baiklah aku akan memberikan kalian bonus tapi kalian akan tetap di sini sampai istriku selesai menekan telur." ucap Ernest menyusul sang istri di ikuti pak Dedy dan Ramon dengan senyuman di wajah mereka
Di kebun belakang tampak kandang ayam berjejer dengan rapi, Ayana duduk sambil melihat ke arah ayam-ayam tersebut, sementara itu ibu Ayana yang hendak kebelakang bingung melihat kandang ayam, " sayang ada apa ini kenapa ada kandang ayam ." tanya ibu ayana
__ADS_1
Ayana tersenyum "aku pengen makan telur ayam, tapi aku ingin melihat proses saat ayam bertelur." ucap Ayana, sang ibu hanya mengaguk lalu pergi ke depan untuk menyebut suaminya yang akan pulang
Kini Ernest sudah berada di kebun belakang langsung mendekati istrinya" bagaimana apakah kau senang." tanya Ernest, Ayana mengaguk
"Kira-kira kapan mereka akan bertelur aku sangat lapar." ucap Ayana, mendengar pertanyaan istrinya Erenst langsung menoleh ke arah pak Dedy dan Ramon, kapan mereka akan bertelur istriku sudah lapar aku yakin anak-anak ku juga." ucap Ernest
"Maaf sebentar tuan aku tanya dulu." ucap pak Dedy menelepon temanya yang merupakan penjual ayam,setelah beberapa menit berbicara pak Dedy mematikan panggilan telepon lalu mendekati Ernest, "maaf tuan katanya beberapa jam lagi." ucap pak Dedy, Ernest hanya bisa mengehembuska nafasnya kasar apalagi melihat Ayana sangat antusias
Beberapa jam berlalu setelah menunggu cukup lama akhirnya ada ayam yang bertelur membuta ayana kegirangan kakak lihat ayamnya bertelur terikat Ayana, membuat Ernest yang tadinya melihat ponselnya Langsung mengalihkan pandangannya "iye sayang jadi ayo kita ambil dan kita goreng untuk kau makan kau belum makan dari tadi." ucap Ernest
Ayana melihat ayam dan telur-telur Tersebut tampak wajahnya terlihat berbeda, "tapi kakak kasian sekali jika aku menggoreng telur itu pasti ibunya akan sangat sedih, aku ingin makan ikan bakar saja kakak tapi tolong Kakak cari ikan bakar yang masih hidup untuk di bakar, ingat harus kakak yang cari ikan itu ." ucap Ayana tanpa dosa
Sumpah demi apapun Ernest ingin berteriak karena sudah menunggu berjam-jam tapi pada akhirnya istrinya meminta ikan bakar demi dewa dia rasanya ingin membenturkan kepalanya di tembok tapi dia tak mungkin bisa marah apalagi di depan istrinya, " baikalah sayang aku akan keluar untuk mencarikan ikan yang kau mau sebaiknya kau istirahat saja." ucap Ernest tapi dalam hati dia sungguh kesal, sementara Ramon dan pak Dedy saling pandang dalam hati pak Dedy dan Ramon, sungguh luar biasa nyonya Ayana ang bisa membuat tuan tak marah, padahal semua tau Ernest adalah pria yang gampang emosi dan tak sabaran saat berhadapan dengan siapapun tapi lihat apa yang terjadi Ernest bahkan dapat tersenyum setelah semua yang dia lakukan sia-sia.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya
__ADS_1