Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
astrid berulah


__ADS_3

Dengan tergesa - gesa darrel menghampiri seorang dokter yang keluar dari ruang kamar pasien tempat cindy di rawat.


" dok, bagaimana keadaan pacar saya? " tanya darrel dengan wajah khawatir.


" lukanya tidak serius, hanya perlu istirahat sampai kondisinya pulih dan mengoles salep ke beberapa bagian yang luka " jelas dokter berkacamata ,yang masih terlihat muda. mungkin berumur sekitar 25 tahunan.


darrel bernafas lega " lalu bagaimana dengan bayinya dok, apa nggak papa? "


dokter muda nan tampan itu mengerutkan kening tak paham dengan pertanyaan remaja di depan " bayi ? "


" iyah, bayinya nggak kenapa - napa kan dok? " tanya darrel lagi, memastikan.


" maaf, tapi,, nona itu tidak sedang mengandung " jelas sang dokter masih dengan raut bingung.


deg


jantung darrel berhenti berdetak seakan hendak terlepas dari tempatnya " ma,, maksudnya,, pacar saya keguguran dok? " Tanya Darrel Dengan mata yang Sudah memanas.


sang dokter membetulkan letak kacamatanya " bukan,,, dia tidak keguguran... karena memang dia sedang tidak mengandung "


Darrel Malah terkekeh " jangan bercanda dokter .. Pacar saya sedang mengandung berusia Satu bulan.. anda ini nggak becus sekali menjadi dokter "


" anda meragukan kemampuan saya ? " tanya sang dokter menatap kesal ke arah darrel.


" jelas saya meragukan, baru beberapa hari kemarin kami pergi memeriksa kandungan " jelas darrel meyakinkan.


sang dokter mendengus kesal " terserah kamu Saja, Kalau tidak percaya, silahkan bawa Pacarmu ke rumah sakit lain.. " ketus sang dokter dengan kesal. setelah mengatakan kekesalan itu, dokter itupun pergi meninggalkan darrel.


tubuh darrel bergetar, keringat dingin mulai bercucuran.. apakah dirinya telah di bohongi oleh cindy? jelas - jelas malam itu dia bercinta dengan cindy. dia memang tak mengingat malam panas itu, karena begitu dia bangun dia sudah dalam keadaan tanpa busana.


darrel meraub wajah dengan telapak tangannya. Mulai berpikir keras dengan kejutan yang membuatnya pusing bukan main. cowok itu lantas masuk untuk melihat keadaan cindy. mungkin, dia akan menanyakan langsung kepada gadis itu.


ceklek


pemandangan pertama yang darrel lihat adalah seorang gadis yang katanya mengandung bayinya, sedang terbaring lemah diatas ranjang dengan tertidur pulas.


Kaki darrel melangkah pelan menuju ke ranjang pasien, lalu berdiri di samping ranjang itu. cowok itu mengamati wajah polos dan damai cindy. ada rasa nelangsa namun juga keraguan menyelimuti dadanya setelah mendengar penuturan sang dokter.


darrel menghela nafas, kepalanya menengadah ke atas. untuk soal rasa, ia akui belum sepenuhnya mencintai gadis di depannya karena yang bertahta di hatinya masihlah nama evelyn.


" cin, gue nggak tau ini perasaan apa... yang jelas gue kecewa sama lo yang udah bohongin gue. tapi, gue berharap lo bisa jelasin semuanya. " monolognya, memandang wajah gadis cantik yang terlihat polos tanpa dosa itu.


" engghhhh " cindy melenguh dengan tangan bergerak memegangi kepala..


perlahan mata gadis itu terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah dingin dan datar darrel tak seperti sebelumnya yang menatap penuh kasih sayang.


" sa,, sayang hikss " tangis palsu cindy pecah, dengan tangan yang menggenggam erat tangan darrel.


darrel memejamkan mata menahan sesak yang memupuk di dada. jika biasanya dia akan langsung merengkuh tubuh cindy, namun kali ini enggak ya,, sumpah demi buah kedongdong yang rasanya asem, darrel bukan type cowok yang pandai berpura - pura.


darrel masih bergeming, tatapan yang semula dingin itu berubah menjadi tatapan kecewa dan sendu.


" eve darr,, dia,, dia jahat banget sama gue... " adunya dengan air mata palsu


darrel menunduk, awalnya sih percaya tapi, mengetahui kebohongan cindy membuat darrel hilang kepercayaan.


" udah,, lo istirahat dulu.. nggak usah mikirin yang lain - lain.. kasian bayi kita, nanti dia ikut sedih " darrel memasang senyum palsu, cowok itu rupanya akan mengikuti sandiwara cindy.


refleks cindy memegang perut " i.. iya yah,, untung bayi kita nggak kenapa - napa " gagap cindy. seketika itu raut wajah darrel berubah datar lagi.. hatinya begitu sesak mendengar kebohongan yang cindy lontarkan. padahal dia berharap cindy akan jujur kepadanya. namun di luar prediksi NASA, gadis itu justru tetap bersandiwara.


darrel melirik arloji di pergelangan tangannya " sorry, gue harus ke sekolah lagi,, nggak enak kalau bolos. gue udah hubungin mama lo. bentar lagi sampai kayaknya "


cindy mengerutkan kening, melihat sikap dingin kekasihnya namun segera ia tepis pikiran buruk itu, toh mereka juga sudah bertunangan nggak mungkin darrel berpaling darinya.


" oo,,ooh iya hati - hati ya ! "


darrel hanya mengangguk, cowok itu lantas melenggang begitu saja tanpa memberikan sentuhan kasih sayang seperti biasanya.


bibir cindy mencebik, gadis itu memukul kasur dengan kesal memandangi punggung kekasihnya...


di luar ruangan, darrel tergugu lirih dengan tubuh merosot bertekuk lutut. penyesalan mulai menyusup ke bagian dalam hatinya. andai saja waktu bisa di putar ia memilih untuk jauh - jauh dari gadis penipu itu... pernikahan tinggal menghitung bulan bahkan semua persiapan telah di rencanakan. walaupun hendak menikah sirih, tetapi tak mungkin keluarga terpandang seperti dirinya mengadakan pesta kecil - kecilan.


ada sedikit kelegaan karena dia belum terlanjur menikah dengan gadis itu. setidaknya ia akan membatalkan pernikahan ini dan membicarakan kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


÷÷÷


Kavian Elvano albuzer, pria dingin dengan wajah tampan bak idol korea berjalan dengan langkah lebar dan penuh wibawa di sepanjang lorong kelas. tatapan kagum dan takjub dari semua murid terpusat ke arahnya. bahkan beberapa murid sampai menganga tak etisnya melihat betapa rupawannya makhluk ciptaan tuhan itu.


shakty mengerutkan kening melihat dua sosok wibawa dan paripurna berada di sekolahnya.


" mas kavi mau ngapain ke sini ? " gumam shakty menatap kakaknya yang kini berjalan ke lantai atas menuju ruang para guru.


jake membukakan pintu ruangan saat mereka telah sampai di depan ruang guru konseling.


pak catur tersenyum madu menyambut kedatangan pemilik yayasan yang sebaya dengannya.


" silahkan duduk pak kavi " tunjuk pak catur ke arah sofa setelah mereka berjabat tangan.


kavian dan jake lantas duduk di sofa berdampingan dengan Evelyn.


kavian menatap tajam ke arah Evelyn yang duduk dengan kepala menunduk, sesekali dia meremas ujung roknya. entah mengapa setiap berhadapan dengan kavian bagaikan berhadapan dengan malaikat izrail.


" begini pak, " pak catur membenarkan posisi duduknya, agak gerogi tentunya berhadapan dengan kavian yang terkesan dingin dan berbibawa.


" maksud saya menyuruh bapak untuk ke sini itu, untuk membicarakan tentang point minus dari engghhh Evelyn " jelas pak catur sedikit kaku.


kening kavian mengkerut dengan masih menyimak penjelasan guru muda itu


" jadi, tadi pagi Evelyn berkelahi dengan temannya dan menyebabkan temannya itu tak sadarkan diri " pak catur melirik jengkel ke arah Evelyn yang masih menunduk.


kavian lantas menoleh ke arah Evelyn dengan tatapan nyalang " jelaskan Evelyn !"


Evelyn mendongak, gadis itu memberanikan diri untuk menatap suaminya. Evelyn meneguk ludah dengan susah payah melihat tatapan tajam dan menuntut dari kavian.


Evelyn membuang muka, perasaannya selalu sentimentil kala berdekatan dengan suaminya. ia tahu lelaki itu tak menyukainya, bukan berarti harus bersikap dingin seperti itu kan?


" aku kesel ajah, cindy nyebarin gosip tentang pernikahan kita " kilah Evelyn membela diri.


pak catur yang merasa hawa panas di ruangannya pun mengambil alih bicara. pria yang seumuran dengan kavian itu lantas menjelaskan peristiwa yang terjadi dengan menyodorkan 3 lembar foto itu kepada kavian. sontak mata kavian langsung melotot terkejut.


" tapi tidak harus berkelahi Evelyn ! " berang kavian


" setidaknya kamu bicarakan baik - baik, tidak perlu menggunakan kekerasan " imbuh kavian.


" enggh, ada lagi pak, ini soal nilai dan daftar absen Evelyn selama satu tahun " pak catur menyodorkan sebuah buku besar yang mana tertulis nilai - nilai Evelyn dan data absen gadis itu selama setahun.


" mohon maaf pak, kalau Evelyn tidak bisa mendongkrak nilai ujian, mungkin dia akan tinggal kelas " jelas pak catur


Evelyn melotot terkejut mendengar penuturan guru bk nya. " dihhh, nggak bisa gitu dong pak. masak cuma absen doang bisa tinggal kelas sih " sungut Evelyn tak terima.


pak catur mendengus kesal " bukan cuma daftar hadir kamu yang banyak bolong,, tetapi nilai ulangan kamu juga banyak yang bolong,, sedangkan nilai ujian kemarin hanya pas kkm "


" ya sudah hukum saja gadis bandel itu, saya nggak keberatan " sahut kavian


Evelyn mendelik lalu menoleh ke arah jake dengan tatapan memelas.


" emmm,, maaf tuan muda.. kalau pendapat saya,, apa sebaiknya Evelyn memperbaiki nilai serta absen ? " sambung jake.


" oh tentu bisa pak,, dengan catatan dia tidak boleh membolos dan nilai uas harus di atas sembilan " sahut pak catur.


" hah ? " pekik Evelyn dengan mulut menganga..


" diam,, gadis berandal ! jangan protes ! " bentak kavian.


Evelyn mengatupkan bibir dengan wajah tertekuk.


" baik,, beri dia kesempatan untuk memperbaiki.. kalau sampai dia gagal saya nggak keberatan kalau dia tinggal kelas " kavian berdiri


pak catur tersenyum " mohon bimbingannya pak, kami senantiasa memberikan kesempatan murid kami untuk berubah "


setelahnya mereka berjabat tangan. kavian dan jake lantas keluar dari ruangan itu diikuti oleh Evelyn yang mengekor di belakang.


" sampai kapan kamu berhenti membuat ulah Evelyn ! " berang kavian menatap penuh kemarahan kepada Evelyn


bibir Evelyn mencebik " gue cuma nggak suka di katain pelakor, kalian ngerti nggak sih ! " sungut evelyn dengan mata memanas.


kavian menghela nafas, sebenarnya ini juga yang ia takutkan, namun apa daya semuanya sudah terlanjur. dia sendiri tidak mungkin membungkam mulut mereka satu persatu.

__ADS_1


" masuk ke kelas ! belajar yang benar,, dan ingat urusan kita belum selesai " tuding kavian penuh peringatan.


÷÷÷


" duhh,, nyonya barang non Evelyn mau di bawa kemana? " protes Landung ke arah astrid yang melempar baju serta peralatan make up ke luar dari kamar.


" bawa barang - barang ini ke kamar bawah ! " titah astrid


" tapi nyahh,,, "


" udah,, nurut aja !! kamu itu babu disini nggak usah banyak protes ! " tuti mendorong Landung ke atas tumpukan baju itu.


hati Landung mencelus melihat nona muda kesayangannya di perlakukan seperti ini.


" saya adukan ke nyonya rini, biar tau rasa kalian ! " ancam Landung dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


" kamu ngancam saya ? berani kamu ? mau saya pecat ? " berang astrid mendekat ke arah Landung.


Landung meneguk ludah kasar, sebenarnya dia juga takut, tapi dia tidak mau membiarkan nona mudanya di perlakukan secara tak hormat..


tuti menyeringai, gadis itu sendiri juga muak dengan kedekatan mereka berdua, apalagi ia sendiri juga memiliki dendam kesumat kepada sang nona selir.


tanpa berkata apapun, Landung lantas memunguti barang serta baju milik nona mudanya. gadis itu tersedu - sedu sembari merapikan pakaian ke dalam lemari yang berada di lantai bawah.Landung seakan ikut merasakan betapa hancurnya nona majikannya.


" loh ndung, kenapa barang Evelyn di pindah kesini ? " tanya astrid terheran - heran.


" saya yang suruh jeng rini ! " sahut astrid yang berada di tangga.


rini mendengus sebal " bukan ranah jeng astrid untuk mengatur tatanan rumah ini,,, ini semua adalah wewenang saya. lancang sekali jeng astrid ! "


wajah astrid tampak pias namun sebisa mungkin ia bersikap setenang mungkin " jelas ini urusan saya,, ini menyangkut rumah tangga putri saya "


rini tampak kesal sekali " Evelyn itu istri kavian kalau jeng astrid lupa,, dia juga punya hak atas suaminya, jadi tidak sepantasnya laura memonopoli kavian. itu tidak adil mengingat laura bukan istri satu - satunya. "


rini menyentak nafas kasar " perlu saya ucapkan beberapa kali sih biar kalian mengerti... kepala saya sampai Pusing menghadapi sifat bebal kalian ! "


" Landung, bawa barang eve ke atas ! "


" tidak bisa ! " cegat astrid dengan nada tinggi.


" Landung ! " seru rini dengan tatapan tajam.


Landung jadi bingung sendiri mau menuruti yang mana.


" kalau kamu berani membawanya ke atas, saya suruh kavian memecat kamu ! " ancam astrid menggebu - gebu.


rini mengepalkan tangannya mengingat kavian bucin akut dengan laura, yang mana itu di jadikan senjata oleh besannya.


" ada apa sih ribut - ribut ? " tanya kavian yang baru pulang dari kantor.


kavian lantas menyalami rini dengan takdzim juga mencium kening wanita yang telah mengandungnya.


" ini loh kav menurut mamih, sebaiknya kamar Evelyn dipisah saja ! kalau perlu pisah rumah sekalian.. mana ada istri pertama dan istri kedua kamarnya bersebelahan,, itu sangat lucu " adu astrid dengan nada sinis.


Rini melotot tak setuju dengan ucapan besannya.. " itu berlebihan jeng,, kamar di bawah itu sempit tak seluas kamar di atas.. dan juga kamar anak - anak ku memang khusus di atas "


" yang penting kan nggak di kamar pembantu " kilah astrid


kavian memijit pelipisnya yang berdenyut karena setiap hari harus disuguhi perdebatan dua wanita itu.


" jeng astrid,,, saya tuan rumah disini ! jadi suka - suka saya dong ! " sungut rini


" heh,, kavi... kalau gadis itu tetap berada di kamar atas,, saya akan bawa putriku keluar dari rumah ini " ancam astrid


" sudah - sudah cukup... " bentak kavian membuat kedua wanita baya itu merapatkan bibir.


" mih, saya setuju dengan mamih astrid.. memang sebaiknya Evelyn berada di kamar bawah." putus kavian membuat rini tercengang.


astrid menyeringai puas karena langkah awal menjauhkan sang pelakor telah berhasil.


rini melenggang pergi ke kamarnya dengan perasaan dongkol.


brakkk

__ADS_1


wanita itu membanting pintu kamar dengan kencang membuat mereka terjengit kaget.


__ADS_2