Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Kehamilan laura


__ADS_3

Kalau biasanya hana masak cuma sekali, sekarang ini dia masak dua kali sehari. menu yang biasanya cuma satu, sekarang menunya ada tiga. udah di kasih duit sama haikal jadi hari ini hana masak enak.


Dengan penuh keceriaan, hana meletakkan tiga menu yang merupakan sayur sop, ayam kecap kesukaan shakti ada juga tahu isi.


Hana menoleh ke belakang dimana shakti datang dengan tangan sibuk menggosok rambutnya menggunakan handuk kecil pemberian hana. dan handuk itu baru di beli. hana tersenyum kecil, menuang air putih dan membalik piring milik Shakti.


" Makan dulu shak " hana menggeser kursi. meraih handuk yang berada di tangan Shakti dan meletakannya di tempat handuk.


Shakti tersenyum simpul, mendudukkan pantat di kursi plastik yang baru kemarin hana beli.


" Enak banget han keliatannya " komentar Shakti mengambil sepotong besar ayam kecap.


Hana menoleh kecil setelah meletakan handuk itu ke susunan bambu yang terletak di pojok ruangan. hana melebarkan senyum, mendudukkan pantat di kursi persis sebelah Shakti.


" Makan yang banyak yah, aku buatin khusus loh buat kamu " ujar hana menyendok nasi ke piring shakti.


Shakti tersenyum di sela mengunyah membuat matanya sampai menyipit. " Makasih ya, enak banget loh ayamnya. padahal gue cuma numpang makan, kayak tamu segala di ladenin "


Hana memutar bola mata jengah " Kayak sama siapa aja shak, sekarang elo udah jadi keluarga gue " ucapnya sembari tersenyum manis.


Seneng banget kan kalau bisa dekat dengan crush yang memang udah lama di gadang - gadang. lebih seneng lagi saat si do'i muji masakan.


Hana menyuap nasi ke mulut sesekali melirik shakti yabg kelihatan belum makan seminggu, lahap banget. hana menunduk menyembunyikan senyum bahagianya.


Tadi siang udah denger cerita shakti yang di usir gegara ketahuan pacaran sama evelyn. jadi besar kemungkinan hana mempunyai peluang untuk mengganti posisi Evelyn di hati shakti karena pasangan itu berjauhan dan kecil kemungkinan untuk bersatu.


Hana memantapkan hati, sebisa mungkin akan berjuang untuk mendapatkan cintanya walaupun dia enggak yakin bakal bisa menyenggol posisi Evelyn. katakanlah dia enggak tau diri mengambil kesempatan dalam kesempitan. salahkan saja shakti yang terlalu mengagumkan untuk di lewatkan.


" Gue di tinggal " protes haikal yang baru keluar dari ruang pesolatan.


" Laper kal, dari siang belum makan " sahut shakti sembari menggigit ayam.


Haikal terkekeh, pelan tangannya meninju bahu shakti " makan yang banyak ! biarpun gue orang susah tapi masih bisa invest perut orang "


Shakti melirik jengah, kembali menggigit ayam tanpa menyahut ucapan haikal.


" Sekolah elo gimana shak ? " tanya haikal dengan tangan sibuk mengambil ayam kecap.


" Kayaknya gue mau nerima tawaran pak catur buat ikut kelas akselarasi " pikir shakti.


Sendok yang hendak masuk ke mulut jadi terhenti. haikal mendongak, menatap terkejut ke arah shakti yang wajahnya udah kelihatan ngenes banget. " Emang eko siap kalau sewaktu - waktu elo di lempar ke luar negeri ? "


Shakti menunduk, meremas jemarinya dengan wajah yang sudah pasrah.


" Hanya itu yang bisa gue lakuin sekarang. kandidat beasiswa udah penuh, dsn nggak mungkin kalau gue ambil beasiswa. dan sekarang yang masih kosong itu hanya alternatif itu, kelas akselarasi " shakti menyandarkan punggung dengan tatapan ke atas, menatap genteng yang warnanya udah menghitam dan terdapat sedikit jaring laba.


" kalau biaya hidup bisa gue dapet dari cari kerjaan, kalau biaya sekolah enggak mungkin gue biayain sendiri. jadi ya, terpaksa gue ambil kelas itu " imbuh shakti masih menatap ke jaring laba.


Hana meletakkan sendok ke piring, menatap penuh pertanyaan ke arah shakti. pasalnya dia enggak mudeng sama pokok pembicaraan kedua cowok tampan itu.


" Kelas akselarasi itu apa ? " tanya hana dengan wajah serius menatap pahatan wajah yang begitu sempurna di hadapannya.


" kepo " haikal yabg menyahut, dan di hadiahi tabokan di kepala.


Shakti terkekeh. pelan, tangannya menarik 1tangan haikal yang hendak mendarat di kepala hana.


" Jan kasar - kasar sama cewek, "


" Dia mah enggak papa di kasarin, tulangnya kuat sekuat baja, dagingnya keras, sekeras batu, awss... sakit bego " sungut haikal saat mendapat geplakan di kepala.


" Lu kira gue gatot kaca apa ? " sewot hana.


÷÷÷


" ueekk... uueeekkk "


Laura membasuh mulut dan wajahnya, lalu mengelap wajah dengan handuk yang tercantel di tembok.


Laura menyandarkan punggung ke tembok, menarik nafas dalam - dalam untuk menghalau gejolak yang terus bergerak di dalam perutnya, membuat nya mual hingga memuntahkan seluruh isi dalam perut.


" Kamu kenapa sayang ? " tanya astrid saat melihat wajah laura pucat pasi.


" Perut ku mual mih, muntah - muntah terus dari pagi " jelas laura merebahkan badan ke sofa.


Astrid beringsut duduk, memegang dahi laura yang enggak kerasa panas sama sekali.


" Apalagi yang kamu rasain ? " tanya astrid bersemangat.


" Capek, pusing , mual pokoknya eneg banget deh mih. terus perutku kaya' kram gitu " keluhnya, dengan wajah lesu.


" kamu terakhir datang bulan kapan ? " tanya astrid antusias.


Laura tampak berpikir, mengingat tanggal dimana terakhir dia datang bulan.


" Eh iya yah, aku kayaknya udah telat tanggal "


Wajah astrid berbinar, cepat wanita itu menangkup pipi laura " ayok kita cek ke dokter "


Kening laura mengerut " cuma mual doang kok mih, paling masuk angin "

__ADS_1


Astrid menggeleng " Udah, ikut ajah, yuk ! " beranjak bangun dan menarik cepat tubuh putrinya.


Kening laura tambah mengkerut, menatap heran punggung ibunya yang terus berjalan sembari menarik tangan nya ke luar rumah.


Evelyn mengintip di jendela, memastikan mobil yang astrid bawa telah melaju dari garasi rumah.


Evelyn lantas melangkah lebar, sesekali celingukan memastikan tidak ada yang melihat kepergiannya. dengan tergesa - gesa, Evelyn menyalakan mesin motor matic yang kavian beli untuknya, membawa motor itu melaju kencang meninggalkan gerbang.


" Mau kemana non ? " seru pak Amrul yang tak di gubris sama sekali.


" Aduh " pak Amrul memukul kening, melupakan kalau dia di tugaskan untuk menjaga Evelyn dan mengawasi gadis itu agar tak keluar rumah.


Pak Amrul mendesah, menatap panik bokong motor nona mudanya yang sudah melesat jauh. " Jangan sampai den lagi tau kalau non Evelyn pergi, bisa gempa nih rumah " monolongnya dengan angin.


Mungkin sekitar sepuluh menit, motor yang Evelyn bawa sampai di halaman basecamp. gadis itu beranjak turun, masuk ke dalam hunian minimalis yang di sulap menjadi tongkrongan itu dengan sedikit berlari.


Evelyn menatap sekeliling ruang tamu yang kosong, lalu melangkah lebar ke dapur. enggak nemu cowok yang di cari, Evelyn lantas masuk ke dalam kamar dimana ada iqbal dan ifal yang lagi ngebo.


dug !


Evelyn menendang pantat ifal, namun cowok itu tak bergerak sama sekali. hanya terdengar lenguhan.


dug !


" Apa si anying " gerutu iqbal mengusap bokongnya yang terkena tendangan maut Evelyn.


" Shakti mana ? " tanya Evelyn to the point.


Iqbal membalik badan, mengangkat setengah badan dengan mata menyipit. cowok itu mendengus saat ternyata yang berada di hadapannya adalah spesies langka yang amat di hindarinya.


" Shakti mana ? " ketus Evelyn yang tak mendapat sahutan.


" Lu kira gue bininya ? bukannya elo yang serumah, napa nanya nya ke gue ? " sewot iqbal beranjak bangun.


" Shakti pergi dari rumah " terang Evelyn membuat iqbal mengerutkan kening.


" Lah terus kenapa kalau dia pergi dari rumah ? Lu kira dia ayam yang tiap hari di kandangin? Paling juga mau jajan, gitu aja kok panik " sungut iqbal.


Evelyn berdecak menendang punggung iqbal dengan keras " dia pergi dari kemaren "


Mata iqbal setengah melotot, lalu terdiam untuk berpikir " dia enggak bilang mau kemana? " tanya nya polos


" Bego bener, kalau dia ngomong mana mungkin gue nyari dia " ketus Evelyn.


" iya juga ya, " Iqbal menggaruk sisi kepala.


" Entar gue jelasin detailnya, sekarang elo bantu gue cari shakti " Evelyn menarik paksa tubuh iqbal sampai membuat cowok itu berdiri tegak


" Besok aja, ini udah malem. lagian dia bukan bayi jadi enggak bakal nyasar atupun di culik " sungut iqbal dengan bibir di manyunkan.


Evelyn menoyor kening iqbal


" Besok gue nggak ada waktu ! " protes Evelyn kembali menarik kasar tubuh iqbal. dan tanpa persetujuan iqbal, Evelyn sudah membawa cowok itu menuju ke halaman parkir.


Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, ponsenyakl tiba - tiba bergetar. Evelyn menghentikan langkah, merogoh ponsel dan membaca chat yang masuk. matanya membelalak lebar, saat ternyata yang mengirim pesan adalah Landung, dan memberi tahu bahwa kavian sudah berada di rumah.


Evelyn menghempas tangan iqbal, berlari cepat keluar, tanpa memperdulikan wajah iqbal yang udah mirip kaya' jambu monyet.


" Cewek nggak waras ! " omel iqbal menuding ke arah Evelyn yang semakin menjauh.


÷÷÷


Kavian berlari tergesa - gesa, memasuki rumahnya dengan berlarian. Enggak nuduh orang rumah sih, tapi memang dia yakin kalau ada seseorang yang menyelinap masuk ke ruang kerjanya dan menyalin file penting miliknya. Kavian bahkan sampai menabrak tembok, karena enggak fokus lihat jalan.


Landung terkekeh seraya menggeleng, lalu berjalan ke arah kamar nona mudanya untuk memastikan kalau Evelyn sudah pulang.


" Kav ! "


tiba sampai di depan pintu ruang kerja, tangan yang hendak terulur meraih handle pintu terhenti, saat seseorang memanggil namanya.


Kavian berbalik badan menatap heran kepada dua wanita cantik yang berdiri di depannya.


" iya mih ada apa ? "


" Selamat ya, kamu akan menjadi ayah " ucap Astrid langsung membuat kavian melotot lebar.


" A..appa, maksudnya Mih ? " Tanya kavian Dengan sedikit terbata.


Astrid mendekat, memeluk tubuh kavian Dengan mata berkaca " Laura Hamil kav, kamu akan menjadi ayah " terang astrid mengelus kepala menantunya.


Cepat, kavian melerai pelukan, berjalan menghampiri ke arah istrinya yang masih terdiam dengan tangan menyilang, bahkan wanita itu melengos dengan tatapan kesal.


" serius sayang ? kamu hamil ? " tanya kavian antusias. bulir bening perlahan terjun membasahi pipi


Laura mengangguk lemah seiring air matanya yang menetes. air mata yang rupanya bukan air mata keharuan ataupun air mata kebahagiaan. sesuai dengan keinginannya sedari awal yang enggak mau mengandung, jadilah kabar ini justru membuatnya kesal dan marah.


Kavian merengkuh tubuh laura mendekap sangat erat wanita cantik Itu untuk menumpahkan segala kebahagiaan nya


" Terima kasih sayang ! " ucapnya parau.

__ADS_1


Laura bergeming dengan tatapan kosong. dia sendiri enggak tau harus berekspresi seperti apa karena dalam lubuk hatinya dia nggak pernah menginginkan hadirnya buat hati.


Kavian tergugu di dalam dekapan Laura. dalam hatinya terus bertasbih dan bertahmid. seakan kehamilan istrinya adalah berita besar yang sangat membahagiakan untuknya. Betapa tidak, pria itu sudah menantikan kehamilan laura sejak enam tahun lamanya.


Astrid tersenyum puas, karena keberuntungan telah berpihak kepadanya. dengan kehamilan putrinya, astrid jauh Lebih mudah untuk menyetir menantunya.


" Mulai sekarang, kamu harus bisa menjaga perasaan istri kamu kav, karena perasaan ibu hamil sangat sensitive dan itu nggak baik untuk kandungan"


Kavian mengangguk, mencium kening laura dalam - dalam. " Ayok, istirahat ! kamu pasti lelah " Ujar kavian sembari menarik lembut pinggang istrinya dan membawanya menuju ke tangga.


" Nggak usah berlebihan deh " sewot Laura saat suaminya dengan lembut mendudukkannya di ranjang.


Kavian terkekeh, menjawil bibir istrinya yang manyun itu " Ngomong - ngomong, kerja kerasku enggak sia - sia. lembur dari pagi sampai malam "


" Awsss " kavian meringis saat pinggangnya di cubit keras oleh istrinya.


" Mesum " omel laura melirik jengah. namun wajahnya memerah.


Kavian tertawa, mendudukkan pantat ke ranjang. " Sayang terima kasih ya, aku bahagia sekali. Berapa usia kavian junior ? " kavian mengelus pipi laura dengan lembut.


Laura menepis kasar tangan kavian dari wajahnya. melengos untuk menyembunyikan matanya yang kembali berkaca.


" Jangan bahas itu ! " sewot laura.


Kening kavian mengerut " Kenapa ? apa kamu enggak senang kita akan punya anak ? "


" Kamu jelas paling tahu isi hati aku. dan kamu enggak perlu bertanya " sewotnya dengan wajah masih melengos.


Kavian mendengus, menatap kesal ke arah istrinya yang pikirannya masih bebal itu.


" Syukuri laura, anak itu adalah titipan dari allah. dan kota wajib menjaganya "


" Tapi aku enggak mau hamil hon " sentak laura seiring air matanya yang menetes.


Kavian mengacak rambutnya frustasi, bangkit berdiri dan melenggang begitu saja meninggalkan laura. dia enggak mau meledak di depan istrinya, yang katanya perasaan nya sensitive jadinya dia memilih pergi daripada mengeluarkan kata - kata yang bisa membuat hati istrinya yang lagi hamil itu tersakiti.


Laura memukul kasur, menangis histeris untuk menumpahkan segala kekesalannya.


" Kenapa kamu hadir di dalam hidup aku? aku nggak nau ngelahirin kamu " omelnya ke perut yang masih rata.


Kavian belum pergi, lelaki itu masih di sisi pintu luar kamar. kavian menyandarkan kepala di tembok, menatap langit - langis ruangan dengan tatapan pilu.


÷÷÷


Walaupun sebel sama Evelyn, tetapi iqbal tetap menuruti kemauan gadis itu. bukan lantaran segan, tapi cowok itu penasaran sama ucapan Evelyn yang enggak masuk akal menurutnya.


Shakti tergolong anak yang di awasi oleh keluarganya, jadi enggak bisa sesuka hati berkeliaran di luar.


Iqbal memarkirkan motor di depan rumah haikal, karena feeling nya mengatakan kalau shakti nggak ke basecamp yan ke rumah haikal.


" Motornya nggak ada nyet " celetuk ifal, celingukan mencari motor gedhe shakti yang enggak kelihatan disudut manapun.


" iya juga yah, " sahut iqbal dengan bergumam.


" Elu yakin si Evelyn nggak ngibulin kita ? " tanya ifal.


Iqbal menoleh cepat " buat apa dia ngibulin? kurang kerjaan amat. dia bukan type cewek kek gitu "


Ifal memutar bola matanya jengah " sok tempe lu "


Iqbal tak menggubris, melirik sebentar ke arah pergelangan tangan kirinya. dimana jam bundarnya menunjukkan angka sebelas malam. lalu tatapan iqbal beralih ke depan sana, ke pintu rumah haikal yang sudah tertutup rapat . bahkan di dalam rumah itu sudah tampak gelap.


" Sopan nggak ya, kalau kita ketok pintu ? " Tanya iqbal.


Ifal mengedikkan bahu " Besok aja kali ya ? " usul ifal.


" Kalau shakti enggak di rumah haikal kan kita bisa ajak haikal buat ikut nyari " usul iqbal.


" Ya udah deh, masuk yok ! tangan gue di gigit nyamuk nih " keluh ifal.


Iqbal mengangguk, berjalan mendahului dan mengetuk pintu. mungkin tiga kalo ketukan, pintu rumah haikal langsung terbuka lebar,


Iqbal dan ifal beringsut mundur, sampai dua bocah itu terjelengkang dan terduduk ke lantai.


" Anying " sungut iqbal dan di hadiahi pelototan tajam oleh hana.


melihat pelototan itu, sontak membuat kedua bocah tampan itu bergidig ngeri. pasalnya hana lagi pake' masker berwarna putih dan juga dress lengan panjang berwarna pitih. rambutnya yang lurus tergerai bebas, jadilah si hana itu tampak seperti kuntil anak nyasar ke rumah.


" Ngapain ke sini malem - malem ? " sewot hana dengan mata mendelik.


" Basuh dulu muka lu nying ! " bukannya menjawab, iqbal malah memerintah.


Hana menendang kaki iqbal " ngatain gue anjing ! " sungut hana.


iqbal jadi menabok bibirnya " sorry kadang suka kepleset bibir gue " nyengir kuda.


Hana mendengus, menatap ifal dan iqbal bergantian dengan tatapan malas.


" Pulang sana ! entar ada orang lewat malah berabe "

__ADS_1


Iqbal menggeleng tanda menolak " gue ada perlu bentar " nyelonong masuk setelah mengatakan itu.


__ADS_2