
Damian kembali mengarak tubuh astrid, membawa wanita itu masuk ke dalam bar. dengan tanpa belas asih, Damian mendorong tubuh kurus astrid hingga tersungkur menabrak sisi ranjang.
" Awsss " ringis astrid memegangi perut yang terhantam kayu sisi ranjang.
Damian mendekat, menarik kencang rambut astrid hingga berdiri. Tak ada suara erangan ataupun ringisan, astrid memilih menyalurkan rasa sakitnya dengan menggigit bibir. dia akan mencoba kuat, dan mencoba tidak terlihat lemah di hadapan bajingan ini.
" Kau mau bermain - main dengan ku, Astrid ? "
Astrid tak menyahut, menatap nyalang wajah suaminya yang membuatnya mual.
" Aoa kau ingin bernasib sama dengan kakak mu atau suamimu ? " Damian menyeringai sinis.
Astrid mengerutkan kening, mencerna ucapan Damian. " Apa maksudmu ? "
Damian tersenyum setan, mendorong kepala astrid hingga wanita itu kembali tersungkur ke lantai.
" Kau memang bodoh, Sampai tak memahami ucapan ku. " Damian membalik badan. berjalan ke arah balkon dan membuka tirai jendela.
" Kau tahu kenapa aku mendekatimu? " tanyanya masih di posisi semula.
Damian terkekeh, mengelus kaca jendela dengan ekspresi dingin.
" Aku benci penolakan, dan aku benci dengan wajahmu yang memuakkan " Damian berbalik, menuding wajah astrid dengan wajah penuh amarah.
" Apa salahku Damian? Apa karena kau tak bisa menandingi kavian jadi kau berusaha menjadikan ku alat ? " tanya astrid dengan suara meninggi.
Tatapan Damian semakin tajam, bahkan urat nya mengencang. dia tak suka di bandingkan dengan orang lain. dan satu hal lagi, dia benci kekalahan dan dia nggak mau ada yang lebih unggul darinya.
" Kavian hanya seekor lalat yang dengan mudahnya aku lenyapkan. jelas tak sebanding dengan ku, bahkan glen pun, lelaki lemah itu tak ada apa - apanya di banding dengan diriku "
Astrid terdiam, menangkap pernyataan Damian. " Kau kenal glen? kau mengenal astrid ? k..kau " astrid menggeleng dengan jantung berdebar.
Damian menyunggingkan senyum " Iya aku sangat mengenalnya. dan siapapun mengenal mereka "
" Dan sekali lagi kau membantah perintah ku, nasibmu akan sama dengan mereka berdua " ancam Damian.
Astrid memundurkan badan, tubunya merosot terduduk di kasur. Air matanya tumpah seketika saat menyadari lelaki di depannya adalah lelaki yang sangat mengerikan dan kejam.
" Astrid, Glen " gumam astrid menutup mulutnya yang menganga.
" Tidak mungkin mereka di bunuh Damian " Tebak astrid
Damian menyeringai sinis saat wajah astrid memucat.
÷÷÷
Wajah iqbal tertekut, Matanya menatap kesal ke arah Evelyn Yang sedang berselonjor di sofa. Beberapa hari lihat Evelyn berkeliaran di basecamp saja sudah membuat darahnya meledak, apalagi sekarang yang katanya gadis itu akan menetap di basecamnya. rasa - rasanya dia seperti mati muda.
__ADS_1
Shakti sendiri Masih diam membisu, menengadah ke plafon dengan mata Kelap - kelip. Cowok itu berpikir keras, bagaimana caranya menghidupi kekasihnya. Karena tak mungkin memberikan kehidupan pas - pasan seperti yang di alaminya. Shakti menoleh, menatap dalam wajah Evelyn yang kelihatan tanpa beban, wajah polos dan ceria seakan menggambarkan kalau gadis itu tak memikirkan kesengsaraan yang akan esok jalani.
" Ve, Mending lo pulang aja ! kasian shakti kalau harus ngidupin elo. dia idupnya udah susah, jangan di tambah susah lagi. duitnya cuma buat makan enggak ada duit buat biayain hidup elo " Celetuk iqbal.
Evelyn mendelik sebal, melempar bantal namun dengan sigap iqbal bergeser jadilah enggak kena dan bantalnya melesat jatuh ke lantai.
" Gue enggak neko - neko, yang penting bisa bareng sama shakti, udah seneng. nyusahin gimana coba? " sungut Evelyn.
Iqbal berdecak " Lu kira Hanya bareng - bareng doang bisa kenyang ? kagak bego. elo butuh duit buat makan, buat beli sabun, buat beli air, "
Shakti terkekeh saat mendengar omelan iqbal yang memang ada benarnya. Namun apalah daya, ibarat dia udah nyungsep cinta enggak bisa di olah alih. shakti beranjak bangun berjalan pelan menghampiri Evelyn.
" Sayang, kamu enggak nyesel hidup susah sama aku ? "
Evelyn menggeleng " Kenapa nyesel? ini udah jadi keputusan aku. ayok hadapi sama - sama dan berjuang sama - sama. "
Shakti tersenyum tipis, mengusap kepala Evelyn dengan lembut " Masih banyak rintangan yang perlu di lewatin. kamu yakin mau ngelewati lembah berduri, lembah pecahan beling, lembah kecuraman? "
Evelyn terdiam,
Shakti mengacak poni Evelyn, mencubit pipi yang sedikit chubby itu.
" Kalau kamu berubah pikiran. aku buka pintu lebar - lebar untuk kamu keluar " Ngomongnya sih biasa aja, tenang, dan kaya' nggak ada beban. tapi jauh di Lubuk hatinya, shakti ngerasa nggak rela kalau Evelyn benar - benar pergi meninggalkannya.
Evelyn mengembangkan senyum, merengkuh pinggang shakti dan menenggelamkan ke perut cowok itu. Enggak wangi kaya dulu, bahkan bau apek. tapi Evelyn ngerasa nyaman dan betah berlama - lama berdekatan dengan tubuh Shakti.
Shakti menundukkan kepala, mengecup rambut halus dan wangi milik gadisnya.
Krrukkk... krrukkk...
Evelyn mendongak, dengan wajah polos.
" Kamu laper ? " tanya Evelyn.
Shakti melwngos untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
sumpah ! malu banget.
" Kamu belum makan ya ? " tanya Evelyn. tangannya bergerak mengusap lembut pipi shakti.
Shakti mengangguk dengan wajah yang masih memerah.
" Bal, minta duit " dengan entengnya, Evelyn menengadahkan tangan.
Iqbal mendengus, " Emang gue bapak elu " sewotnya.
" Nggak setia kawan lo ya, temen kelaparan malah nggak mau bantuin " sungut Evelyn.
__ADS_1
Iqbal berdecak, merogoh celana dan melempar lembar uang berwarna merah.
" Sana beli makan. di irit - irit. gue lagi boke " omelnya, persis emak - emak.
Evelyn mengecup uang ratusan ribu itu, beralih mengecup pipi shakti sebelum melenggang keluar.
Iqbal melirik jengah cewek tengil itu, tatapannya berganti mengarah ke wajah shakti yang menatap sendu tubuh Evelyn yang udah berjalan jauh di depan sana.
Iqbal menepuk pundak shakti seraya menghembuskan nafas pelan.
" Gue hargai keputusan kalian buat kawin lari. tapi liat kondisi elo sekarang gue nggak yakin kalian bisa bertahan. kalian masih muda anak jangan habiskan waktu buat hal - hal yang merugikan . gue tau kalian cinta mati tapi... ahh.. asw " kesal iqbal, melengos.
Shakti menoyor kening iqbal " Malah ngumpatin "
÷÷÷
Kavian berputar - mutar di kursi kebanggaannya, menatap awas sebuah data pribadi milik Damian.
" Jadi, Om Damian Belum lama di jakarta ? " gumamnya.
" Pak ada paket " Ucap maya memasuki ruangan kavian.
" Paket ? " tanya kavian denga. kening mengkerut.
Maya mengangguk, berjalan lebar dan meletakkan satu kotak paket ke atas meja kavian.
Dengan ragu, kavian membuka kotak berbungkus plastik warna hitam.
Kening kavian kembali mengkerut, menatap heran sebuah benda sebesar jempol yang biasa di sebut flash disk.
Kavian menyolokkan benda itu ke laptop. Jari - jarinya kemudian dengan lincah menggulir beberapa data yang tersimpan di memory itu.
" Mamih astrid.... oh bukan, maksudnya ini mendiang mamih astrid ? " gumam kavian
" Ya tuhan, mereka benar - benar mirip " Ucapnya dengan mata awas memandangi foto mendiang astrid .
" Om Damian.. kenapa mamih astrid berfoto dengan om Damian, apa dulu mereka rekan kerja?" gumamnya lagi.
Jari kavian bergerak kebawah, menscroll layar dan membuka file lainnya.
Mata kavian membelalak lebar dengan bibir yang terbuka lebar. dimana tertera foto Astrid sedang berlutut sembari memeluk kaki seorang laki- laki. dan ironisnya, keadaan astrid terlihat kacau..Hijab terlepas dan wajah memar. dan yang Lebih membuatnya terkejut adalah lelaki yang bersama astrid adalah Damian. walaupun hanya sisi wajah yang tampak pada gambar, namun kavian tetap merasa familier dengan wajah si pria itu.
Kavian menyambar ponsel yang berada di laci mejanya.
" Jake, selidiki kasus kecelakaan Astrid Angeline.. oh ya, tolong Selidiki Aksen Damian "
" Baik tuan " Sahut Jake di seberang telepon.
__ADS_1