
haikal memarkirkan motornya ke salah satu ruko yang terletak di bagian deretan paling ujung pasar. ruko yang terkenal menjual daging dengan harga murah.
keduanya lantas turun dari motor. Evelyn sendiri memilih menunggu di sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon beringin yang tumbuh menjulang di area parkiran.
suasana sudah sangat sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. hanya ada beberapa pedagang yang sibuk motong daging, mulai dari daging sapi, ayam, bahkan kambing. Ada juga si kang parkir yang lagi ngebo menyandar di bawah pohon.
" sekilo ya mang " haikal menjulurkan uang pecahan 5000 'an 5 lembar.
si pedagang hanya mengangguk lalu menerima uang senilai 25 ribu itu. haikal menoleh ke arah Evelyn yang sekarang lagi mainan ponsel dengan kaki di ayun - ayunkan. terlihat polos dan menggemaskan nggak keliatan garangnya sama sekali.
" gemes bett dah ,,, pengin macarin " mlnolognya sendiri seraya terkekeh pelan.
ngilang kemana lo?
Evelyn mengerutkan kening saat mendapati pesan masuk dari nomor tak di kenal. gadis itu berpikir keras siapa pemilik dari nomor tersebut.
" yuk,, pulang ! "
Evelyn mendongak di dapati haikal yang berdiri di depannya. cowok itu tersenyum manis dengan tatapan lembut.
" nomor siapa ? "
Evelyn menyodorkan layar hp ke arah haikal, cowok itu menautkan alis dengan mencondongkan wajah. " nomor shakty kayaknya !" tebak nya.
Evelyn menggigit bibir atas, jarinya bergerak lincah mengetikkan balasan. setelah pesan terkirim. gadis itu memasukkan kembali ponselnya ke saku seragam.
÷÷÷
motor butut haikal berhenti di halaman rumah kecil, dengan bilik yang terbuat dari anyaman Bambu.
" lo tunggu sini... gue mau naro ayam dulu "
haikal turun dari motor dengan tangan menenteng plastik bening ke dalam rumah dua petak itu.
" assalamualaikum "
kepala haikal menunduk saat berada di ambang pintu karena badannya lebih tunggi dari ukuran pintu berbahan papan kayu itu.
Evelyn tertegun,menatap miris rumah yang baru pernah ia temui. yang pasti itu rumah paling sederhana yang pernah ia jumpai. Evelyn mengamati detail hamparan luas yang berada di kanan kiri rumah itu, yang mana merupakan lahan kebun singkong. ada juga tumbuhan kangkung yang di tanam di sebidang kotak lahan di samping rumah. Evelyn memejamkan mata saat Sapuan segar udara yang menerpa wajahnya membuat rambutnya yang tergerai bebas melayang - layang di udara.
Evelyn membuka mata, saat terdengar deru motor yang berhenti di sampingnya.
" eh ada tamu ! " sapa seorang bapak - bapak yang mungkin seumuran dengan papa mertuanya, menghampiri dengan senyum ramah.
Evelyn masih diam, bocah itu hanya mengangguk samar dengan seulas senyum tipis.
si bapak yang di perkirakan bapaknya haikal, menyodorkan tangan. Evelyn lantas meraih tangan itu dan menjabatnya kaku.
" kal, kok nggak di suruh masuk temenmu " tanya si bapak ke haikal yang baru keluar dari rumah.
haikal menggaruk kepala lalu melirik Evelyn yang menatap ke arahnya " malu pak, rumahnya kayak kapal pecah ! " kilahnya seraya tersenyum canggung
bapak terkekeh lalu beralih menatap ke arah Evelyn " mau masuk nak, mau minum dulu barang kali ? "
Evelyn melirik ke arah haikal yang saat ini mengalihkan pandangan dengan wajah memerah, entah itu malu atau apa.
" eumhh,, lain kali aja deh "
" sayang sekali,, padahal bapak hari ini mau masak ayam,, tadi beli nggak kal ayamnya ? " tanyanya berjalan ke dalam rumah.
haikal mengangguk " beli, tapi cuma sekilo "
" nanti dipotong kecil - kecil, biar jadi banyak " sahut bapak seraya terkekeh
haikal ikut terkekeh. bocah itu lantas mengikuti bapaknya masuk ke rumah " mau masuk nggak ? makan siang dulu ? "
Evelyn terlihat bimbang, kepalanya perlahan menganguk membuat haikal melebarkan senyum.
Evelyn menatap sekeliling ruangan yang tampak sempit namun terlihat bersih dan rapi. lantainya masih beralaskan tanah liat sedangkan perabotannya terbuat dari kayu yang sedikit lapuk dengan kaki -kaki kursi dan meja nya sudah keropos.
Evelyn mendudukan pantat di salah satu kursi yang sedikit miring. bahkan, ketika tubuhnya mendarat, kursinya terasa bergoyang.
Evelyn mencengkeram tali tasnya merasakan nyeri di dada melihat pemandangan memprihatikan itu. dalam hatinya mengucap kata syukur karena dirinya terlahir dari keluarga berkecukupan, kini dia paham mengapa kedua orang tuanya tergila - gila dengan pekerjaan mereka. bahkan sampai tega meninggalkannya sendirian. namun, evelyn merasa iri melihat interaksi keluarga kecil itu, mereka tampak hangat dan kompak. bahkan tak terlihat mengeluh atau bersedih dengan nasib kemiskinan yang melanda.
" minum dulu ve, adanya cuma air putih.. maaf ya " haikal meringis merasa tak enak hati dengan jamuan sederhana itu.
Evelyn hanya tersenyum , karena dia masih fokus memandangi setiap inci detail rumah sederhana itu.
__ADS_1
" lo endelnya jurig ya ? " seorang gadis tiba - tiba sudah berdiri di sampingnya dengan tangan sibuk mengelap tangan.
kening Evelyn mengkerut menatap heran ke arah gadis yang ia perkirakan seumuran dengannya.
plak
haikal melempar sandal jepit ke arah gadis itu
" jurig sialan " umpatnya mengusap lengan bekas lemparan
" jan macem - macem lo, gue lempar ke kandang ayam !" ancam haikal menatap tajam ke arah gadis itu.
bapaknya haikal tertawa kecil, perlahan tangannya mengacak puncak kepala haikal " nggak sopan jang, gitu - gitu dia mbak mu "
haikal mencibir, cowok itu menjulurkan lidah mengejek ke arah si gadis yang saat ini menatap penuh dengki ke arahnya.
tanpa sadar, sudut bibir Evelyn terangkat. gadis itu menundukkan kepala seraya terkekeh saat melihat haikal yang dijewer kuping nya oleh gadis itu
" sudah jangan ribut. sudah dimasak belum han, ayamnya ? " bapak menarik tangan hana yang masih berada di kuping haikal membawa gadis itu masuk ke ruangan yang Evelyn pastikan adalah dapur.
÷÷÷
Bareng Haikal
sebuah balasan singkat yang di kirim oleh Evelyn membuat shakty berdecak. cowok itu memutar kunci motor, hendak melajukan motornya dari area parkir sebelum tangannya di cekal oleh seseorang.
" buru - buru banget shak ? "
shakty mendengus, tangannya mengibaskan tangan gadis itu dari tangannya.
" mau apa lagi sih nya ? " ketusnya menatap jengkel ke arah gadis itu.
anya terkekeh , tangan gadis itu bergerak menyentuh pipi shakty , namun secepat kilat shakty menjauhkan kepala, jadilah tangan itu mengambang di udara.
" dih,, gitu banget sih.. "
" jauh - jauh sana ! gue alergi sama lo ! " shakty berkata sewot.
anya menggelengkan kepala dengan senyum kecil " tambah gemes tau nggak, pen kawinin " ucapnya frontal.
" dalam mimpi elo ! minggir ! " kesal, shakty mendorong tubuh anya membuat gadis itu terhuyung. detik berikutnya shakty memutar kunci dengan tergesa - gesa, melesat pergi dari parkiran.
pasalnya, hanya shakty yang selalu bergidig jika berdekatan dengannya, karena anya selalu bersikap frontal dan agresif. se antero 99 jelas tahu siapa anya. primadona yang selalu di gandrungi kecantikannya bahkan menjadi incaran pria hidung belang. bahkan beberapa teman sekolahnya sudah hafal dengan bobroknya yang menggeluti dunia malam dan dunia *** bebas.
" gue sumpahin, elo ngocok sambil mikirin gue " seru anya lantang membuat beberapa siswa menoleh ke arahnya.
anya hanya terkekeh nggak malu sama sekali dengan ucapannya. dia sendiri udah terbiasa bersikap vulgar di depan teman - temannya yang menurutnya itu adalah hobi.
÷÷÷
hana meletakkan satu piring olahan ayam dan satu piring tumis kangkung di atas meja panjang. gadis itu juga meletakkan piring yang sudah di isi dengan se centong nasi.
" yokk dimakan, jangan malu - malu ! " hana menepuk bahu Evelyn. dan dibalas dengan Anggukan.
" di makan ve, seadanya ya.. nggak seenak di rumah mamih rini " kini haikal yang ngomong.
bapak dan hana lantas menoleh ke arah haikal dengan kening mengkerut
" kamu anaknya rini? setauku, anak rini bujang semua ? " tanya bapak dengan tangan sibuk menuang air minum
Evelyn meneguk ludah kasar, gadis itu melirik ke arah haikal yang meringis sambil menggigit bibir. evelyn membuang nafas kasar lalu memberanikan menatap bapak " maksudnya,, mantunya mamih rini pak " jawabnya lirih
Mata bapak dan hana membola dengan wajah terkejut.
" astagah... " hana menjatuhkan tubuh dengan memegangi dadanya. terlihat syok dan nggak percaya sama apa yang ia dengar.
Evelyn menunduk dengan menggigit bibirnya, untuk pertama kalinya, ia merasa malu dan enggan mengakui statusnya.
" ekhem " bapak berdekhem " yang saya dengar, mas kavian menikah lagi. apa itu dengan kamu? "
Evelyn mengangguk ragu dan itu membuat hana membekap mulut " bararti elo ya, pelakor yang sering dibicarain tetangga kompleks ? " hana berkata sewot
haikal menyentil bibir hana " mulut "
bibir hana mencebik masih menatap sinis ke arah Evelyn.
" nggak sopan loh han, kita nggak tau asal - usul cerita bermula. jangan menghakimi apalagi mendiskriminasi. itu perbuatan yang tidak terpuji. " bapak menasihati dengan tangan mengelus bahu hana.
__ADS_1
hana menunduk " maaf deh, korban gosip soalnya " sesalnya mengundang kekehan
" hayokk makan ! nanti dingin lo ! " titah bapak mulai menyendok ayam goreng dengan taburan daun bawang.
hening,,
tak ada obrolan selain denting sendok yang di pakai Evelyn. gadis itu melirik ke tiga orang yang memakan dengan lahap menggunakan tangan. Evelyn menggigit kecil daging ayam yang di potong kecil - kecil yang di tumis dengan campuran tahu. mata gadis itu melebar saat lidahnya mencecap rasa gurih dan bumbu pas dari olahan daging itu. gadis itu bahkan memakan dengan lahap seperti orang kelaparan. Karna memang nasinya sedikit, jadi makanannya sudah habis.
" kal, mau ke toilet " izin Evelyn.
haikal lantas meletakkan piringnya, memimpin jalan Evelyn ke arah ruangan yang berada di paling ujung dari 3 deretan pintu kamar.
Evelyn menautkan alis saat tiba di sebuah ruangan yang ia masuki terdapat ranjang
" itu toiletnya " jarinya menuding ke arah pintu yang terletak di dalam kamar.
" gue keluar ya ! " pamitnya, dan di angguki oleh Evelyn
Evelyn lantas masuk ke bilik toilet itu. ia hanya mengelap mulut dan mencuci tangannya. eve berjalan keluar toilet, tangannya meraih sebuah tissue yang terletak di meja ruang kamar.
saat mengelap tangan, tatapannya terkunci ke sebuah bingkai foto. keningnya mengkerut saat melihat foto seorang wanita yang menurutnya tidak asing. namun dia lupa melihatnya dimana. Evelyn meraih foto itu dan memperhatikannya lamat - lamat. ia berpikir keras dimana dia melihat wanita itu. matanya terfokus ke sebuah Tahi lalat yang berada di leher wanita itu dan itu membuatnya kian kesal karena tak mengingatnya walaupun ia pernah melihat tahi lalat itu juga.
klekkk
" ve, di jemput sama shakty "
cepat, Evelyn meletakkan kembali foto itu saat haikal melongok di ambang pintu.
Evelyn berjalan, keluar dari ruangan. pemandangan yang pertama ia lihat adalah shakty yang bersedekap menatap tajam ke arahnya. ini seperti, seorang anak yang kepergok ngumpet di rumah temannya.
" udah numpang makan, enggak bantuin beres - beres. ckkk. " omel shakty membuat evelyn memutar bola matanya jengah
bapak terkekeh lalu menepuk pelan pundak shakty " nggak papa. dia kan memang tamu. masak, tamu di suruh beres - beres "
" jan di belain pak, entar tambah poncolnya " protes shakty
bibir Evelyn mengerucut, gadis itu memilih diam tak berminat meladeni omelan shakty yang pastinya akan berujung perjambakan dan pertinjuan sengit.
" mam dulu shak, nih ayamnya masih sisa " hana tersenyum menghampiri shakty.
Evelyn menaikkan sebelah alis melihat raut wajah hana yang sedikit berbeda. berseri, dan yah,,, seperti ketertarikan. lagipula siapa yang nggak tertarik dengan cowok tengil itu, selain kaya, pintar, imut, dan tampan tentunya. dia juga di anugerahi hati seperti malaikat. walaupun dalam hati Evelyn memprotes kalau cowok itu berhati malaikat.
shakty menggeleng menepuk - nepuk perutnya " udah kenyang, dapet nasi kotak tadi di sekolah "
bibir hana melengkung kebawah " yah, nolak terus.. nasinya masih sisa loh... "
shakty terkekeh " kapan - kapan deh, "
" kal, kayaknya singkongnya udah pada gede - gede di belakang.. coba kamu lihat. mas kavi suka nanya loh " titah bapak yang di angguki oleh haikal.
" lo sini dulu, gue mau ikut kebelakang bentar " shakty melepaskan kemeja seragam dan tasnya dan itu tak luput dari tatapan hana yang terus mengembangkan senyumnya.
hana lantas mengekor di belakang shakty membuat Evelyn berdecak,karna dia jadi ditinggal sendirian. si bapak juga udah keluar menaiki motornya entah pergi kemana.
Evelyn membanting tas ranselnya,gadis itu lantas menyusul ke tiga bocah itu ke belakang.
Di belakang rumah, Evelyn di sambut oleh Sapuan angin yang menyegarkan dan pemandangan sejuk sungai kecil dengan air yang jernih. serta lahan yang penuh dengan tumbuhan singkong.
di beberapa meter di sampingnya, terlihat haikal dan shakty yang mencabuti pohon singkong di ekori hana yang mengumpulkan singkong - singkong itu. Evelyn hanya memandangi, tak berminat untuk bergabung.
Evelyn berjalan ke depan, ke arah sungai kecil yang mengaliri air deras. Evelyn memijakkan kaki ke dalam sungai itu. hawa dingin dan sejuk menembus pori - pori kulit kakinya. Evelyn memejamkan mata dengan merentangkan ke dua tangannya.
pukk
Evelyn terjengit kaget, nyaris terjungkal kedepan saat dua tangan menepuk pundaknya. Evelyn merengut kesal ke arah shakty yang tanpa dosa nyelonong ke depannya, berjongkok mencuci kedua tangannya yang penuh dengan tanah.
mata Evelyn melotot saat melihat baju seragamnya terkena kotoran, bekas ulah tangan shakty
dengan kesal, Evelyn menendang pantat shakty membuat cowok itu terjatuh tengkurap.
Evelyn tertawa puas saat melihat sekujur tubuh cowok tampan itu basah kuyup. shakty bangkit berdiri menyugar rambutnya yang basah kebelakang. menambah point ketampanan cowok itu. apalagi otot perutnya terpampang jelas di balik kaos putihnya yang basah.
" evelynnn ! " cowok itu menggertakan gigi lalu mendorong tubuh evelyn hingga gadis itu jatuh terduduk ke sungai.
" dihhh, rese ! " Evelyn bangkit lalu menerjang tubuh shakty membuat keduanya jatuh bertindihan.
Evelyn terpaku sejenak melihat wajah basah shakty yang juga menatapnya tak berkedip. keduanya benar - benar menjadi basah kuyup dengan tubuh menindih.
__ADS_1
tatapan Evelyn turun kebawah, tepat di bibir merah dan basah cowok itu. shakty meneguk ludah saat wajah mereka hanya berjarak satu senti bahkan deru nafas dan degup jantungnya terdengar sangat jelas. tatapan shakty beralih ke bawah, dimana dadanya dan dada Evelyn saling menempel. bahkan terasa jelas empuk dan kenyalnya dua benda bulat itu.
cup !