Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps. 65


__ADS_3

Kavian menatap jengah ke arah Evelyn yang masih sesenggukan menangisi kepergian Shakti.


" Kamu mau nangis se ember pun, aku nggak akan berubah pikiran "


Landung mengelus bahu Evelyn yang bergetar sedangkan yang lainnya tertunduk dengan mata yang sudah berkaca. mereka juga sangat kehilangan si bungsu tuan albuzer yang terkenal tengil dan jahil.


Laura menghela nafas, kepalanya menjadi berdenyut melihat madunya menangis histeris seperti itu.


" Landung,,, bawa gadis setan itu masuk ke kamar. aku pusing dengar nya ! " titah astrid.


Landung mencebikkan bibir melirik sebal ke arah wanita bangkotan yang sok berkuasa itu. tapi Landung enggak bisa membantah karena ada kavian dan laura yang berada di sana.


Landung menarik lembut tangan Evelyn, membawa nonanya masuk ke kamar.


" Hon, kenapa mengusir shakti ? " tanya laura heran setelah Evelyn masuk ke kamar.


" Itu pelajaran berharga untuk anak bajingan itu " ketus kavian.


Laura memicingkan mata " Kamu cemburu ? "


Kavian mendengus " aku sebagai seorang suami merasa terhina dengan kelakuan mereka "


" Tapi kenapa adikmu yang di usir kav? kenapa bukan Evelyn ? adikmu itu saudaramu sedangkan Evelyn hanya orang asing ? " protes astrid yang sedari tadi udah gregetan, padahal yang di inginkan nya adalah Evelyn yang di tendang.


" Suka - suka aku lah, dan kalian nggak boleh ada yang ikut campur " melenggang pergi setelah memberikan mandat itu.


Astrid mengepalkan tangan, melirik ke arah putrinya yang diam tak membantah " Mamih yakin kavian itu cemburu, dan dia udah di butakan cinta. jadi dia gelap mata memilih mengusir adiknya tinimbang pelakor itu " kompor astrid mencak - mencak.


Laura terdiam, mencerna perkataan ibunya yang mungkin ada benarnya. entah mengapa hatinya sekarang ini sangat sentimentil hanya perkara sepele. dia tau suaminya sangat mencintainya tapi enggak menutup kemungkinan kan kalau suaminya juga mencintai adik madunya.


" Masa' sih ? " gumam laura lirih.


Astrid memutar bola matanya jengah " kamu tuh di kasih tau ngeyel deh, jangan sampai nanti kamu yang di tendang oleh suami mu. kamu harus cari cara buat menendang pelakor itu laura. dia berbahaya " geram astrid.


Bik siti yang sedari tadi menguping meneguk ludah kasar, dia yakin perseteruan hebat akan di mulai.


' nyonya rini, kapan pulang ? ' batin bik siti bermonolog.


" Gue harusnya enggak ke kamar shakti, gara - gara gue dia di usir dari rumah " Evelyn terisak dan memukul - mukul kasur.


" Sudah non, jangan menyalahkan diri terus, Landung yakin kok mas kavian pasti punya maksud dari semua ini " sahut Landung sembari masih mengelus bahu nonanya.


÷÷÷


Enggak tau udah jalan beberapa kilo, shakti berhenti di taman kota. cowok itu duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon beringin. shakti menyandarkan punggung ke sandaran kursi sesekali menyeka dahi nya yang basah oleh keringat.


Dari beberapa meter sana ada kang es campur yang melipir di sisi jalan. shakti menyentuh tenggorokannya yang kering dan terasa haus.


Shakti mendesah, saat merogoh saku celana nya tak menemukan uang seperak pun. di gigit bibirnya untuk menahan nyeri yang menyelubungi dada. udah capek dan haus banget tapi dia cuman bisa nahan.


Shakti merebahkan tubuh ke kursi yang memang panjang dan pas untuk rebahan. dengan posisi telentang dan menghadap ke rimbun nya pohon beringin di atasnya. lengannya terulur untuk menutupi wajah yang sudah basah.


" aku enggak pernah nyesel telah mencintai kamu sayang, aku ikhlas menjalani ini. aku berharap, kamu setia menungguku sampai aku sukses dan bisa membawa kamu pergi " gumamnya seraya tersenyum


plakk


Shakti terjengit kaget saat tangan jahil entah siapa dengan seenak pepaya menggeplak kepalanya.


Sedangkan sang pelaku malah tertawa, sengaja banget wajahnya ngeledek dan menjulurkan lidah.


" Dih, jelek banget lo " ketus shakti


" Ngapain lo di sini, kayak orang gembel. ? " tanya Deon.


" Gue lagi cosplay jadi rakyat jelata " sewot shakti


Kening Deon mengerut " serius nying ? "


Bibir shakti mencebik, melirik sebentar ke gelas plastik yang berisi Boba yang berada di tangan Deon.


Dan tanpa permisi, shakti menyambar gelas itu dan menyeruput isinya sampai tandas. enggak marah, si Deon malah tertawa. menertawakan Shakti yang terlihat menyedihkan.


Padahal dari kemarin - kemarin udah kaya' musuh, adu jotos dan adu otot tapi nyatanya kedua cowok ganteng itu berhati bak peri nyasar jadilah mereka sekarang malah kaya' besTAI. beahahahah.


" Kurang " celetuk shakti tak tahu diri.


Deon mencibir, tapi tetap menuruti permintaan shakti. berjalan ke arah kang cendol dan memesan dua gelas plastik berukuran besar.


" Nih, " Deon menyodorkan si cendol.


Shakti nyengir kuda, membuang gelas Boba dan meraih gelas cendol. detik berikutnya isi gelas itu hanya sisa setengah.


" Elo haus banget ? " tanya Deon dengan wajah prihatin.


Shakti mengangguk polos, kembali menyeruput cendol itu hingga tandas.


" Gue jalan kaki dari rumah " adunya, dengan tangan sibuk membuang gelas plastik.


Kening Deon mengerut " Kok bisa ? motor lo sakit ? "


Shakti menggeleng " gue di usir "


Kening Deon tambah mengerut " becanda lo kurang serius "


Shakti terkekeh. pelan, tangannya bergerak menabok paha Deon " enggak, gue serius. "


Deon menggeser tubuh, merapat dan memeped tubuh shakti " kenapa ? " tanyanya kepo.

__ADS_1


" Gue ngendelin bininya mas kavi " akunya jujur.


" Uhukk.. uhukk.. " Deon tersedak kuah cendol. tangannya bergerak menoyor kening shakti


" Anying, " umpatnya kesal.


Shakti mengerucutkan bibir, menatap sebal ke arah Deon yang mukanya kelihatan sok banget.


" Elo demen tante - tante ? " yang di maksud Deon itu laura.


Shakti menggeleng " bukan, tapi bini yang ke dua. elo kenal, dia Evelyn " terang Shakti.


Deon menghela nafas, tatapannya kesel banget tapi dia nggak bisa berbuat banyak.


" Elo tau resikonya, tapi elo nekad ngelakuin itu ? "


" Yang namanya perasaan enggak bisa di cegah de, sekalipun elo jungkir balik buat menepisnya " terang Shakti.


Deon terdiam, membenarkan perkataan shakti yang memang dia juga mengalaminya. mencintai gadis yang sebenarnya dia nggak berani mengutarakan perasaannya. tapi yang namanya perasaan enggak bisa di setir. blong terus nyampe nyusruk ke tempat yang di tuju.


dan sialnya, tempat yang di tuju itu lobang sumur jadilah dia nyusruk sedalam - dalamnya dan susah keluar.


" Cerita ke gue, siapa tau gue bisa bantu " menepuk pundak Shakti.


" iya itu intinya tadi, gue macarin kakak ipar dan ketahuan lagi enak - enak. di usir deh " terangnya santai tanpa beban.


Deon tergelak " Elo berarti udah ke tahap celup - celupan ? " tanya Deon antusias.


Dug !


" Asw " umpat Deon saat kakinya di injak.


" Gue enggak se mesum elo, ! " sewot shakti


" Terus enak - enak yang lo maksud apaan dah ? " tanya Deon penasaran.


" Nete " sahutnya nyengir kuda.


Deon geleng - geleng, tapi detik berikutnya terkekeh " enak nggak ? "


Shakti mengangguk sembari tertawa kecil. detik berikutnya mereka tertawa bersama, menertawakan betapa liarnya perbuatan mereka. Deon enggak beda jauh mesumnya, bahkan dia lebih parah karena dia udah sampai ke tahap celup - celupan.


Enggak ke rumah iqbal ataupun rumah ifal apalagi rumah Brandon, Shakti memilih ke rumah haikal yang memang keluarganya lebih deket dengan keluarga pak kusno.


" Makasih " ucap shakti setelah menuruni motor.


Deon melirik sebentar ke depan dimana rumah anyaman bambu yang terlihat sederhana, dia udah nawarin unit di hunian gedung nya tapi shakti menolak dengan alasan enggak mampu bayar unit. padahal Deon nawarin nya gratis alias enggak bayar. tapi shakti kekeuh penginnya ke rumah haikal.


Deon mendesah, mengutuk pemikiran shakti yang entah apa yang cowok itu rencanakan.


" Elu yakin enggak nyusahin haikal ? " tanya Deon.


Deon mengerutkan kening " kerja apa? "


" Ya ada lah pokoknya " sahut shakti.


" Serah lu deh " Deon merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. menarik tangan shakti dan meletakkan uang sebesar satu juta ke telapak tangan Shakti.


" Gue nggak ada maksud apa - apa, gue cuma pengin sodakoh ke orang susah. jangan di tolak. kalau di tolak namanya nolak rejeki, bikin faqir alias tambah susah " menarik gas setelah mengatakan itu


Shakti masih terpaku dengan ucapan Deon barusan. menatap uang sepuluh lembar itu dengan tatapan nanar. dulu selagi masih di rumah besar dia yang selalu mengulurkan uang untuk temannya. dan sekarang malah kebalikannya. ckkk. bisa di bilang dunia berputar.


÷÷÷


Astrid tersenyum kecil saat Damian mengecup bahunya. astrid menoleh dan di dapati Damian berdiri dengan gagahnya sembari mengulas senyum.


" Maaf ya nunggu lama " ucap Damian sembari duduk.


Astrid menggeleng " enggak papa kok "


" Mana barangnya " Tanya Damian enggak sabaran.


Dengan sedikit ragu, astrid mengeluarkan benda sebesar jari dan meletakan me atas meja.


Damian menyunggingkan senyum, menyambar benda berisi file itu dan memasukkan nya ke saku celana.


" Kamu pesan makan dulu, nanti aku yang bayar ! aku ada urusan sebentar " Damian beranjak bangun membuat astrid ternganga.


Sudah menunggu satu jam lebih, giliran bertemu malah di tinggal. astrid meremas ujung gaunnya, menatap kesal dengan mata yang sudah memerah ke arah punggung damian yang perlahan menghilang di balik pintu.


" Silahkan bu ! mau pesan apa ? "


Astrid tak menggubris pelayan itu, memilih melenggang pergi dengan hati yang dongkol.


Brukk !


" Jalan pakai mata ! " sentak astrid saat bahunya di tabrak oleh seseorang.


" Sialan ! maksudnya apa sih dia ninggalin aku, ckkk. awas aja aku nggak akan nemuin dia lagi " dumelnya sembari berjalan keluar cafe.


Mata astrid memicing saat melihat siluet Haikal berjalan di trotoar sembari mendorong motornya.


Astrid mendekat, menepuk punggung haikal yang memunggunginya.


" Temannya shakti kan ? "


Haikal mengangguk malas, kembali berjalan sembari mendorong motornya.

__ADS_1


Astrid menggigit bibir, melangkah pelan dan mengikuti langkah haikal.


" Ada apa ya ? " tanya haikal saat menyadari astrid mengekornya.


" Eumhh,, enggak... aku.. cuma mau nanya.. tau shakti sekarang ada dimana ? " sahut astrid.


Haikal berhenti, menyetandarkan motornya dan duduk di trotoar.


" Penting? bukannya kalian udah ngusir dia dari rumah ? untuk apa mencari tahu keberadaannya ? "


Astrid mendudukkan bokongnya ke samping haikal. menoleh dengan senyum kecil. dia memang membenci pak kusno yang membawanya hidup melarat. tapi, enggak sama haikal, bocah tampan yang sangat ia sayangi. darah dagingnya, buah cinta yang ia lahirkan penuh dengan perjuangan.


" Kalau masalah itu, aku enggak ikutan. itu urusan Shakti sama kavian. aku cuma menghawatirkan shakti biar bagaimanapun dia anak yang baik. mungkin kalau Evelyn nggak ngerayu dia, pasti ini nggak akan terjadi "


Haikal menoleh cepat dengan wajah memprotes, enggak setuju sama ucapan astrid karena mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.


" Aku lebih tau mereka lebih dari yang tante tahu. dan satu hal lagi, Evelyn enggak semurah yang tante pikirkan "


Astrid mencelus mendengar haikal menyebutnya dengan sebutan tante. bukan salah haikal kan? karena astrid sendiri yang mengubah status menjadi besan rini dan ibu kandung laura.


Astrid tersenyum canggung " mungkin aku salah kaparah kali ya ? " terkekeh setelah mengatakan itu.


" Ini ada sedikit rezeki, dan tante mohon jangan menolak " astrid menyodorkan segepok uang tebal yang di bungkus dengan kertas coklat.


Haikal nggak langsung menerima. cowok itu Lebih dulu memperhatikan amplop coklat panjang itu. dsn yang ada di benak haikal itu pasti berjumlah jutaan.


" Maaf, shakti pasti nggak akan menerima " haikal mendorong amplop itu.


Astrid menggeleng, menarik tangan haikal untuk menerima amplop coklat itu " kamu jangan ngomong sama Shakti. kalau shakti benar - benar enggak mau menerimanya kamu pakailah uang ini. tante ngerasa nggak enak sama keluarga kamu, karena shakti jadi numpang di rumahmu "


Haikal tersenyum kecil " kami nggak merasa terbebani, keluarga shakti udah banyak membantu kami dan sudah sepantasnya kami membantu juga "


" Tolong terima ya ! " Astrid mengelus kepala haikal sebelum melenggang pergi.


Haikal tertegun , tangannya bergerak menyentuh kepala bekas elusan astrid. gelenyar hangat menjalar ke aliran darahnya saat mendapatkan perlakuan lembut dari ibunya.


Beberapa kali dia menepis perasaannya dan mencoba untuk melupakan bahwa dia memiliki seorang ibu. tapi ikatan batin seolah menolak itu semua, karena nyatanya darah lebih kental dari air.


÷÷÷


" Pak, Sudah di tunggu di ruang meeting ! " seru maya menyentak kesibukan kavian.


Kavian mengangguk, berjalan cepat menuju ke tempat yang di tunggu. hingga tiba sampai di ruang meeting, kavian menebarkan senyum, menunduk saat beberapa rekan menyapa. Dia itu terkenal berwibawa dan ramah walaupun kadang pembawaannya dingin.


Kavian lantas mendudukkan kursi di salah satu kursi kosong, menunggu giliran presentasi.


Di depan sana, seorang lelaki yang merupakan perwakilan dari Along grup telah berdiri membacakan presentasinya.


Kening kavian mengerut, menyimak dengan serius kata demi kata yang di sampaikan oleh seorang pria baya yang berdiri tegak di depan layar.


Kavian berdiri, menatap nyalang ke arah Jimmy yang merupakan suruhan Damian.


" Apa - apaan ini ? kenapa proposal nya sama persis dengan milikku ? " sungut kavian, menatap kesal ke arah jimmy.


Jimmy menarik sudut bibir membentuk senyum sinis " maaf tuan kavian yang terhormat, apakah anda tidak sedang berhalusinasi ? kami membuat proposal ini beberapa hari yang lalu dan ini di buat susah payah dan penuh pertimbangan oleh kami bagaimana mungkin kami bisa menjiplak milik anda "


Kavian berjalan mendekat, menatap remeh ke arah pria baya yang belum pernah kavian temui " Kau dari perusahaan mana? "


" Rekan - rekan disini bahkan tidak ada yang tidak tahu tentang kejayaan Along grup. dsn mungkin hanya anda yang tidak paham dengan dedikasi perusahaan kami yang memukau, atau jangan - jangan anda yang palgiat disini ? " sahut jimmy.


Kavian yang terkenal dengan otak cerdasnya dan anti plagiat jelas nggak terima di tuduh demikian


" Sialan ! " berang kavian menarik kerah jimmy.


" Mohon tenang pak kavian " seorang pria baya salah satu dari mereka menarik tangan kavian.


Kavian menepis kasar cekalan di tangan, pria itu melenggang pergi dari ruang meeting dengan perasaan kesal.


Jimmy menyeringai, tersenyum puas saat proposalnya mendapat persetujuan dari para rekannya. dan akibat ke gegabahan kavian, pria itu tahun ini harus di diskualifikasi karena meninggalkan ruang meeting secara tidak hormat.


Brakkk


Kavian menendang meja kerjanya membuat beberapa dokumen jatuh berserakan


" Sial, siapa yang telah berkhianat "


Maya menunduk dalam, sedangkan angel tampak berpikir keras, kenapa file sepenting itu bisa bocor.


" Kav, apa kamu tidak mengunci komputer mu ?. mungkin ada yang sengaja mencuri file itu " tebak angel.


Kavian terdiam, berpikir sejenak untuk mengingat.


" Aku mengerjakannya di rumah, " terang kavian.


" Waktu di kantor, apa kamu mengerjakannya juga di kantor " tanya angel.


" Iya itu cuma mengedit sedikit saja " sahut kavian.


" Maya, tolong periksa cctv kantor dua hari yang lalu " imbuh kavian.


Maya mengangguk, kemudian Angel mengekor langkah maya ke lantai dasar untuk mengecek cctv.


Mungkin sekitar lima belas menit Maya dan Angel masuk ke ruangan.


" Enggak ada kav, kantormu bahkan tidak ada satupun or.ang kantor yang masuk " jelas angel sembari menampilkan rekaman cctv.


" Coba di rumahmu, apa ada cctv ? " tanya angel.

__ADS_1


Mata kavian membelalak lebar, saat dia mengingat moment dimana lupa untuk menutup file.


__ADS_2