Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps. 47


__ADS_3

setelah sesi makan siang, kedua wanita cantik bersetatus istri itu kemudian melanjutkan sesi planning decoration yang tadi tertunda.


" so, how about your opinion? " laura bertanya setelah beberapa menit berjibaku dengan beberapa galeri foto decor.


Evelyn nggak menyahuti karena matanya masih awas menatap dua tema gambar dekorasi yang menurutnya menarik.


" gold ! " gumamnya lirih.


" kamu suka gold? " tanya Evelyn menoleh ke arah laura yang juga memfokuskan ke galeri itu.


" maksudnya, bertema gold, begitukah? "


Evelyn mengangguk. jarinya menuding ke salah satu potret yang menampilkan sebuah dekorasi dengan segala sisi hiasan berwarna gold atau emas.


laura tersenyum, matanya menatap takjub ke arah gambar berdesain mewah dengan beberapa rangkaian bunga yang disusun di4 dinding dan tentunya berwarna gold. lalu beberapa lampu kristal dengan warna senada yang terpasang di atap dan disusun rapi, menambah kesan mewah dan elegan.


"ayok, ke lapangan ! " laura menepuk pelan paha Evelyn, mengkode gadis remaja itu untuk ikut ke aula kantor yang luas.


Evelyn menurut, gadis itu mengikuti langkah kakak madunya, menuju ke aula yang bertempat di lantai dasar.


laura dan Evelyn kembali di sibukkan dengan rencana selanjutnya, yaitu mengenai tatanan dekorasi yang akan di aplikasikan ke ruangan tempat acara berlangsung.


laura sekarang sudah berbincang dengan beberapa team yang bertugas mengelola acara. sedangkan Evelyn hanya duduk diam, sesekali melirik ponsel di tangan. menunggu notif pesan yang belum kunjung berbalas.


" jadi tema tahun ini gold, bu ? " tanya seorang karyawan muda laki - laki


" ya, kalian bisa lihat gambar ini " laura menunjukan gambar dari galeri foto yang tadi di pilahnya.


beberapa karyawan yang lain ikut melongok lalu mereka serempak manggut - manggut.


" undangannya sudah di cetak ? " tanya laura lagi.


" belum bu, ! " jawaban karyawan wanita


" sematkan tema acara, dan jangan lupa untuk mengenakan gaun sesuai dengan tema " titah laura dan di angguki oleh karyawan tersebut.


÷÷÷÷


" aarggghhh "


pyarrrrr !


" brengsek ! "


" bajiangan ! "


umpat ariel bertubi - tubi, bahkan cowok itu melempar apapun yang terjangkau oleh tangannya.


" gue bakal bales kalian semua,, aargghhh " erangnya menjambak rambutnya frustasi.


cindy mendengus, menatap malas ke arah sepupunya yang udah kaya orang kesurupan. lebih sebalnya lagi karena barang - barangnya ikut kena amukan.


" bisa nya cuma marah - marah. Lempar barang, bikin rugi tau nggak ? otak elo yang segede biji semangka, nggak mungkin bisa nandingin otak Evelyn yang emang udah pro sama kelicikan, kebusukan, dan kecurangan. elo kalau ngadepin dia itu pakek kepala kulkas jangan pake kepala tungku. " omel Cindy panjang lebar.


" kalau elu nggak punya solusi, mending nggak usah ngebacot ! bikin kepala gue meledug tau nggak ! " ketus ariel . menatap jengkel ke arah cindy yang sekarang lagi berbaring di ranjang kasur nya.


" ckkk " cindy beranjak bangun, karena udah males lihat ariel yang masih nge bego. bukannya cari solusi buat balas dendam malah marah - marah terus.


ariel mengepalkan dua tangan dengan kedua tangannya bertumpu di atas meja. matanya menatap elang ke arah cermin yang berada tepat di depannya. cowok kerempeng itu menyunggingkan senyum saat otak liar dan iblisnya muncul ide gila. hari ini dia boleh kalah, tapi enggak ya untuk hari berikutnya. dia harus bisa mengimbangi kelicikan lawannya.


baginya, harga diri itu lebih dari segala - galanya. siapapun yang berani berurusan dengannya, bisa di pastikan akan bernasib sial sepanjang hidup. nggak pandang bulu. baik laki - laki, perempuan ataupun kakek nenek bangkotan sekalipun dia akan tetap membalasnya.


cindy menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. gadis itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, saat memikirkan pernikahan nya yang sudah berada di depan mata harus kandas karena kebodohannya sendiri.


Apalagi melihat darrel yang kini gencar mendekati Evelyn, membuat darah kentalnya menguap. dia nggak mau tersaingi apalagi sama musuh bebuyutan nya. ckkk


" cin ! "


cindy tersentak dari lamunannya. gadis itu menoleh ke belakang dimana ibunya yang sudah terlihat rapi itu, hendak keluar dari rumah.


" mamih mau kemana ?


tatapan cindy penuh selidik ke arah ibunya. gadis itu memindai tubuh molek ibunya yang terawat bahkan masih terlihat kencang di usianya uang sudah tak lagi muda. cindy menatap jengkel ke arah ibunya yang kerap sekali berpakaian terbuka.


mamih lika nggak menyahuti, wanita itu hanya tersenyum lembut ke arah putri cantiknya.

__ADS_1


" ini uang buat beli gaun, minggu depan ada acara anniv perusahaan teman lama mamih. dan ingat, beli gaun yang berwarna gold karna tema acara itu gold and couple. dan juga kamu bisa ajak darrel untuk ikut denganmu. " mamih menyodorkan segepok uang yang tentunya nggak sedikit ke telapak tangan cindy.


cindy mendesah, melempar gepokan uang itu ke sofa " mamih lupa apa, kalau darrel udah ngebatalin pernikahan. dia juga menghindar terus dari aku. nggak mungkin dong kalau dia mau berangkat bareng "


lika mendengus menatap jengkel ke arah putrinya yang teramat bodoh itu " ya kamu cari cara lah, biar darrel mau bareng kamu. nggak mungkin dong kamu datang nggak ada pasangan. kalau perlu bujuk dia ! "


cindy berdecak. beranjak bangun tanpa menyahuti cerocosan ibunya. bikin tambah pusing dan kesel aja. bahkan kepalanya bener - bener udah luber sama ratusan masalahnya.


brakkk !


cindy membanting pintu kamar cukup keras membuat lika terlonjak kaget dan beringsut mengangkat satu kaki.


senyum aksen mengembang saat melihat wanitanya keluar dari pintu bercat putih.


aksen segera membuka pintu samping kemudi, membungkuk saat lika memasuki mobil.


lika terkekeh " norak ! "


tangannya bergerak menabok dada kekasihnya, saat pria itu sudah mendaratkan bibirnya ke leher jenjang lika.


aksen mengulum senyum. berjalan cepat mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi. pria cap buaya telaga itu lantas melajukan pelan mobil mewahnya membelah padatnya malam kota metropolitan.


aksen memarkirkan mobil mewahnya di sebuah restoran yang menyediakan aneka makanan barat. pria itu berjalan merengkuh poaesif pinggang lika menuju ruang vip.


" bagaimana rencanamu ? apakah berjalan mulus ?" tanya lika setelah mendudukkan pantat di kursi.


aksen terkekeh. pelan, tangannya mencubit gemas pipi lika. " tidak usah terburu - buru. kita lakukan dengan pelan tapi pasti. "


lika merengut sebal, nggak setuju dengan aksen yang terlalu bertele - tele. ibarat udah ngampet boker tapi di suruh ngantri dulu. bisa bayangin kayak apa rasanya kan? begitulah kira - kira gambaran kekesalan lika.


" bagaimana dengan wanita itu? apa dia bisa di andalkan ? " tanya lika dengan senyum sinis.


" kami baru mengenal lika, masih perlu ruang untuk saling membangun kemistri " jawab aksen santai.


lika mendengus, wanita itu membuang muka ke arah lain. Di dalam hatinya sana udah empet banget, rasanya pengin maki - maki pria itu. Walaupun kedekatan aksen dan astrid merupakan ide gila bersama, namun jauh dilubuk hati terpiciknya, lika nggak rela harus berbagi ***** dengan wanita lain.


" silahkan ! " seorang pelayan meletakkan dua minuman dingin ke atas meja. setelahnya satu pelayan lagi meletakkan beberapa menu ke atas meja.


" bagaimana dengan rencanamu? " aksen melirik ke arah gadis pelayan yang sedari tadi mencuri - curi pandang ke arahnya.


lika menyandarkan punggung ke kepala kursi, wanita itu menunduk memperhatikan lantai yang terawat, bersih dan kinclong.


" putriku terlalu ceroboh, jadi mungkin aku akan berusaha untuk membujuk anak sari." imbuhnya.


aksen menekan lidah ke pipi, mencondongkan badan agar lebih dekat dengan lika " tidak perlu repot - repot sayang, kita cari saja cara lain "


lika menggeleng " enggak, sari dan rini itu teman dekat. jadi sangat mudah untukku menjalankan rencana. lagi pula, perusahaan aksen dan efras bekerja sama dengan baik. jadi sangat mudah untukku masuk ke perusahaan yang diemong oleh putra sulungnya"


aksen manggut - manggut " tunggu rencana ku berhasil. baru kita jalankan rencana selanjutnya "


÷÷÷


Evelyn membanting tubuhnya ke atas kasur, meregangkan otot - ototnya yabg terasa pegal dan linu. tak berselang lama, Landung datang ke kamarnya dengan membawa satu cangkir susu beraroma jahe beserta beberapa camilan di nampan


" silahkan ndoro " Landung membungkuk dengan tangan menunjuk ke arah nampan, persis seorang dayang yang melayani seorang ratu.


Evelyn terkekeh, gadis itu beranjak bangun. matanya melirik ke arah nampan yang mengeluarkan aroma menenangkan dari aroma jahe tersebut.


" elo bawa apaan? " tanya Evelyn


" itu susu jahe ndoro " sahut Landung masih cosplay jadi dayang.


" ckk, geli gue " Evelyn bangkit berdiri menyambar cangkir dan menyesap minuman itu sedikit.


kening Evelyn mengernyit saat merasakan minuman tradisional itu yang terasa aneh karena memang dia baru pertama kali minum.


" dihh, minuman apaan ? "


landung terkekeh, gadis itu berjalan menghampiri nona mudanya di meja rias.


" ini bagus loh non, buat bikin badan jadi anget. terus bisa merilex kan fikiran juga " jelas Landung


Evelyn meletakan cangkir menatap Landung dengan ekspresi yang entah, sulit di artikan.


" ini masih siang, badan gue juga lagi gerah. di suruh minum begituan. kayaknya itu minuman cocoknya di minum malam deh "

__ADS_1


Landung mengulum senyum " iya memang "


Evelyn menggetok kening Landung sebelum nyelonong masuk ke kamar mandi. Landung tertawa kecil, menertawakan kebodohan nya yang sangat gadis itu banggakan.


" non, jahesu nya masih mau diminum nggak ? " teriak Landung di depan pintu kamar mandi.


" pake nanya ! buang aja sono ! " ketus Evelyn di dalam kamar mandi, beriringan dengan suara gemercik air.


" yo sayang dong kalau di buang, mending tak minum aku saja ! " monolognya dengan cangkir gelas.


tepat pukul lima sore, shakti baru menginjakkan kaki di rumah mewahnya. cowok itu bersiul riang, memindai ruangan yang masih terlihat sepi.


shakti berjalan ke arah kamar yang terletak di ruang tengah. cowok itu mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka. bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum tipis yang mempesona saat melihat gadisnya lahi ngebo dengan posisi miring.


shakti membuka pintu pelan, lalu berjalan ke arah ranjang. tangannya terukur menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah gadisnya. shakti berjongkok, mengamati wajah damai yang terlihat polos tanpa cela. kulit wajah yang putih, mulus dan ada tahi lalat kecil di dagu , tepat di bawah bibir.


siapapun yang bersibobrok dengan wajah gadis itu akan menggila dan mungkin sulit untuk mengenyahkan bayangan cantiknya.


tangan shakti bergerak turun menarik selimut untuk menutupi tubuh Evelyn yang hanya berbalut tangtop tali kecil. Shakti meneguk ludah saat matanya tak sengaja menemukan belahan gundukan kenyal gadisnya yang terekspos. cowok tampan itu menggeleng, merutuki matanya yang sudah bergerak liar kemana - mana.


" elo jan sexy - sexy gitu dong, gue takut khilaf tau ! " gerutunya ke gadis yang matanya masih merem.


" hufftttt,, kalau gue beneran udah ngawinin elo, abis elo ! " marahnya,


" kalau gue kawinin elo sekarang dosa nggak ya ? " tanyanya laknat.


shakti menampar bibirnya " dosa bego ! " makinya ke bibir.


" bara ! " panggilnya lirih yang nggak di sahuti.


" aku pen cium, tapi takut dosa. tapi aku udah ciuman sama kamu tadi di sekolah , jadi aku tetep udah ngelakuin dosa. aku pengin ngelakuin dosa sekali lagi. fix cuma sekali aja. " imbuhnya mencondongkan wajah.


shakti mengecup singkat bibir Evelyn, kepala yang hendak bergerak mundur jadi urung, karena dengan sigap Evelyn sudah menahan tengkuknya.


" mmmhhh " gumam bibir shakti yang masih terbungkam bibir Evelyn.


Evelyn menarik tangan shakti dan dengan satu kali tarikan, cowok yang belum siap itu, sudah menindih tubuh Evelyn.


Evelyn melenguh, saat lidahnya berhasil masuk ke dalam rongga mulut beraroma mint cowok itu. lidah Evelyn dengan semangat empat lima, telah menjelajah setiap inci rongga mulut shakti. mengabsen gigi rapi cowok itu.


Evelyn merengkuh pinggang shakti, saat cowok itu hendak bangun. merasa kekurangan oksigen, shakti menggigit keras bibir bawah Evelyn.


" awsss " ringus Evelyn saat bibirnya terasa nyeri, bahkan sedikit mengeluarkan darah.


bibir Evelyn mengerucut, menatap kesal ke arah cowok yang tersenyum tanpa dosa.


" katanya mau ngelakuin dosa sekali lagi " dumelnya dengan tatapan memprotes.


shakti menggaruk tengkuknya, masih dengan posisi tubuhnya menindih Evelyn " ini kebablasan bar "


kening Evelyn mengerut, tangannya bergerak menarik leher Shakti. mendekap kepala cowok itu setelah mendarat di dadanya.


" bar ? " tanyanya menunduk


shakti mengangguk, berusaha menarik tubuhnya yang di dekap cukup erat. bahkan kaki gadis itu telah mengunci pergerakan kakinya.


" bara, baby rabbit "


Evelyn terkekeh, mengelus kepala shakti yang terus bergerak gelisah di atas dadanya " jan gerak - gerak, geli lho "


" makanya lepasin, aku nggak nyaman " sahut shakti mencoba melepaskan diri.


" aku pengen kayak gini, cuma sekali aja. mumpung kamu lagi khilaf " gadis itu malah mencium puncak kepala Shakti.


shakti meneguk ludah, matanya melirik ke arah bulatan yang berukuran besar yang tertindih pipinya. " iya, kan tadi khilafnya. sekarang udah enggak "


" diem deh ! mumpung abang kamu masih di kantor " Evelyn beranjak bangun, menepuk - nepuk kasur, mengkode cowok itu untuk tidur di sana.


" aku belum mandi, bau " kilah Shakti


" nggak, kamu wangi kok. ayo cepet ! aku kelonin " Evelyn menarik paksa tangan Shakti. membuat cowok itu mau nggak mau, menuruti keinginan gadisnya yang lagi mode kucing garong.


shakti membaringkan tubuh miring, dan dengan sengaja cowok itu memeunggungi Evelyn.


Evelyn berdecak membalik kasar tubuh cowok itu menjadi terlentang. setelahnya, gadis itu merebahkan tubuh di samping shakti, lalu memiringkan badan. seperti katanya, pengen ngelonin pacarnya.

__ADS_1


shakti terdiam, memandangi wajah Evelyn yang khas bangun tidur, namun masih terlihat cantik dan segar. senyum tipis terbit di bibir cowok itu, tangannya terulur mengusap pipi gadis itu dengan lembut.


" jangan tinggalin gue ya ! "


__ADS_2