Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
yang nggak suka adegan dewasa, bisa di skip


__ADS_3

Cup !


Dengan se'enak dengkul tanpa permisi, Evelyn mengecup bibir shakty. mata shakty melotot lebar. terpaku dengan bibir yang masih menempel. jantungnya berdegup kencang yang sudah di pastikan terdengar oleh Evelyn.


Evelyn memejamkan mata, merasakan desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh, membuat tubuhnya memanas. bibir Evelyn perlahan bergerak ******* bibir bawah shakty dengan lembut. Evelyn mencecap bibir itu dengan rakus, bahkan bunyi decapan terdengar jelas. puas dengan bibir bawah, kini bergantian mengecap bibir atas sesekali menggigit gemas bibir manis itu. gerakannya masih kaku karena ini memang untuk yang pertama kalinya, katakanlah first kiss.


shakty masih bergeming, mencerna apa yang kini sedang terjadi. walaupun dalam hati mengutuk evelyn, nyatanya, tubuhnya tak bisa sinkron dengan hatinya.


Evelyn membuka matanya, menarik perlahan kepalanya. gadis itu terkekeh saat mulut shakty terbuka, ngos - ngosan menghirup udara sebanyak mungkin.


" sorry, gemes banget soalnya " ucap Evelyn dengan kekehan. ibu jarinya bergerak mengusap sisa Saliva yang masih menempel di bibir lembut cowok itu.


shakty membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. " minggir,, berat tauk " omelnya dengan bibir manyun.


Evelyn menurut, gadis itu lantas berdiri dengan senyum puas. tak berselang lama, hana dan haikal berlari tergopoh - gopoh menyusul.


hana memasang raut wajah masam menatap bergantian kedua remaja itu yang sudah basah kuyup..


" balik yok ! " ajak Evelyn berjalan santai meninggalkan mereka bertiga.


" kok basah nyet ? " tanya haikal keheranan


" jatuh " akunya yang 50 persen benar.


" mau ganti nggak ? entar masuk angin lho " tawar haikal


shakty hanya menggeleng, bocah itu berjalan lesu ke arah daratan. memandang jengkel punggung Evelyn yang berada di depannya.


÷÷÷


kedua remaja itu berjalan canggung dengan pikiran masing - masing. sesekali mereka saling lirik, lalu membuang muka saat tatapan mereka bertemu.


" dari mana kalian ? " suara berat dan dingin itu sukses menghentikan langkah kedua remaja itu.


Evelyn dan shakty menoleh ke arah kavian yang duduk bersama laura dan astrid di sofa ruang utama.


kavian menelisik kedua remaja itu dengan kening mengkerut " kenapa bajunya basah ? "


" abis nyari ikan di kali " sahut Evelyn enteng.


shakty melotot ke arah Evelyn yang tampak cuek tak gentar sedikitpun.


" mana ikannya ? " kavian menengadahkan tangannya.


" udah di bakar, dioles kecap terus dimakan " dusta Evelyn membuat shakty kian melotot.


kavian bersedekap lalu beralih menatap ke arah adiknya " jawab yang benar, atau saya adukan ke mamih ! " ancam kavian menatap tak suka ke arah kedua remaja itu.


shakty menghela nafas " apa sih mas, gue abis dari rumahnya pak kusno, bapaknya haikal. abis panen singkong." aku shakty jujur. menunjukkan kresek besar berwarna hitam di tangannya.


" terus kenapa baju kalian berdua basah ? " astrid bertanya, menaikkan satu alis .


" lu budeg ya?, nggak denger tadi abis nyari ikan ? " ketus Evelyn.


" bicara yang sopan Evelyn ! " tegur laura dengan nada membentak


Evelyn memutar bola matanya jengah. Gadis itu tak manyahut . enggan meladeni, karena pastinya dia akan kalah. Bahkan sebelum bertarungpun, dia sendiri sudah menebak siapa pemenangnya.


evelyn memutuskan untuk meninggalkan mereka. berlama - lama dengan para orang dewasa itu membuat moodnya kembali memburuk.


" saya belum selesai bicara Evelyn ! " seru kavian menggema di dalam ruangan menghentikan langkah Evelyn.


Evelyn memejamkan mata, tubuhnya masih bergeming tanpa berminat menoleh sedikitpun. rasanya dongkol sekali meladeni suaminya yang mode kepo itu.


" mas, tadi kan aku udah jelas,, " sergah shakty yang mulai mencium bau perseteruan.


" diam ! " potong kavian..


" masuk ke kamar ! " imbuhnya dengan suara meninggi


shakty mendengus, bocah itu akhirnya terpaksa menuruti kakaknya. pergi meninggalkan ruangan itu dengan hati dongkol.


" kamu pikir saya bodoh Evelyn. apa yang kamu lakukan dengan adikku ? " tatar kavian


Evelyn membalikkan badan, gadis itu tersenyum miring menatap penuh kebencian ke arah suaminya yang selalu saja memojokannya.


" elo mau tau ? " Evelyn mengikis jarak dengan kepala mendongak


" sini, gue kasih tau ! " Evelyn mengkode kavian untuk mendekat.


kavian menurut, pria itu memiringkan kepalanya.


" gue abis perk*sa adek imut lo, puas ! " bisiknya lirih tepat di telinga kavian


setelah mengatakan itu, Evelyn ngacirrr begitu saja meninggalkan kavian yang melotot sempurna nyaris mats itu meloncat dari tempatnya.


" bocah sial*n ! " umpatnya menatap sengit ke arah istrinya yang menjulurkan lidah ke arahnya.


÷÷÷


Evelyn berguling kesana kemari di atas kasur. bayang - bayang kejadian di siang itu, membuatnya susah untuk tidur. Evelyn berbalik telentang menatap langit - langit kamar, tangannya terulur meraba bibirnya. wajah imut dan polos itu masih terpangpang jelas di otaknya, menimbulkan semburat merah di pipinya.


" ya ampun shak, elo imut bett dah... jadi nagih. " kekehnya dengan mengelus - elus bibir sendiri.


" shakty bakal ilfeel nggak ya sama gue? " tanya nya ke plafon kamar.

__ADS_1


" ashhh,, gemes sih, kayak pengin gigit bawaannya..." Evelyn mengacak rambutnya sendiri.


" mesum,, mesum,, mesum,, " Evelyn membentur - benturkan kepalanya ke bantal, rasa - rasanya ingin sekali meleburkan otak mesumnya ke kawah gunung.


gadis itu menarik diri, berjalan mondar - mandir di dalam kamar. Landung lagi pergi, jadilah dia nggak ada teman mengobrol. Evelyn mendesah, tangannya menyambar handle pintu dan keluar dari kamarnya. matanya celingukan menatap seisi ruangan tengah yang tampak sepi. gadis itu mengendap - endap menaiki tangga dengan sangat pelan.


klekk


pemandangan pertama yang ia lihat adalah shakty yang sedang duduk memunggunginya di depan meja belajar.


Evelyn berjalan sepelan mungkin ke arah bocah itu. matanya melongok, mengintip apa yang di kerjakan oleh shakty.


shakty terjengit kaget saat kepalanya membentur sesuatu yang empuk dan kenyal.


bocah itu menoleh ke belakang, dan di dapati Evelyn yang mengerucutkan bibir.


shakty menaikkan satu alis " kenapa ? "


tangan Evelyn bergerak mengusap sebelah dadanya yang terbentur kepala shakty " kempes nih "


shakty mengarahkan pandang ke arah benda bulat itu, jakunnya naik turun dengan wajah yang sudah memerah " siapa suruh elo disitu ! " omelnya membuang muka. Evelyn yang frontal, shakty yang malu sendiri.


" dihh " Evelyn meninju bahu shakty


gadis itu duduk menyandar di sisi meja belajar dengan tangan bersedekap " belajar mulu, nggak bosen apa ? "


" gue bosen, kalau liat muka elo " sarkas shakty membuat bibir Evelyn mencebik


" ngakunya bosen, di cium ke enakan "


shakty menyentil bibir Evelyn " mulut "


" ish,, jan di sentil - sentil dong. cium aja ! " goda Evelyn menarik turunkan alis.


shakty hanya menggelengkan kepala merasa malas meladeni otak mesum gadis di depannya. bocah itu kembali fokus ke bukunya, seakan mengabaikan keberadaan Evelyn.


" shak "


" hm "


" pen lagi " rengek Evelyn


shakty mengerutkan kening dengan kepala mendongak " apa ? "


" cip*k,, awwsss " ringis evelyn merasakan nyeri di lengannya karena di cubit oleh shakty


" keluar sana ! " usir shakty menuding ke arah pintu


" nggak, pen gangguin elo ! " Evelyn malah merebahkan tubuhnya ke atas kasur


" ish biarin,, Nggak takut " Evelyn memegang pintu saat tangannya di tarik keluar oleh shakty.


" keluar,,, cepettt... gue mau belajar ! " shakty mendorong tubuh Evelyn membuat gadis itu jatuh ke lantai. dengan sigap shakty segera mengunci pintunya. " huffft "


" SHAKTY !!! WOYYYY !!! TAI KAMBING !! " Evelyn menendang pintu dengan kencang membuat shakty terjengit sambil memegangi dadanya.


" ishhh,,, " Evelyn menghentakkan kakinya kesal, gadis itu mau tak mau harus meninggalkan kamar itu.


di bawah tangga, Evelyn berpapasan dengan astrid. " ckk, malah ketemu nenek sihir "


astrid yang sedang bermain ponsel mendongak dengan mata melotot " ngomong apa kamu ? "


" enggak, ada upil di hidung lo " dusta Evelyn menunjuk hidung astrid


tangan astrid bergerak meraba hidungnya, keningnya mengerut saat tak mendapati apapun.


wanita baya itu melotot saat Evelyn tertawa, menertawakan kebodohannya yang berhasil di bohongi.


astrid melebarkan langkah, dengan gesit wanita itu mencekal tangan Evelyn " berani kamu mempermainkan saya ? "


Evelyn menghempaskan tangan astrid " apa ? kenapa ? bagaimana ? ada yang bisa saya bantu ? " tanyanya songong


astrid mengeratkan giginya dadanya naik turun. ingin rasanya dia mencabik - cabik wajah tengil gadis itu.


" jan, marah - marah cepet tua ! " ledeknya sambil berlalu pergi


astrid mencak - mencak wanita itu menghentakkan kakinya kesal " awas kamu ya ! akan saya buat kamu menyesal. huh " sungutnya mengibaskan rambut.


÷÷÷


" engghh,, hon " Laura mendorong tubuh kavian, saat pria itu menggigit lehernya.


kavian mendongak dengan mata berkabut dan memerah " mau nolak lagi ? "


Laura menggeleng, tangannya terulur mengelus rahang tegas suaminya " enggak,, tapi,,, "


laura menggigit bibirnya saat kavian sudah mendaratkan bibir di puncak bola kastinya


" kenapa, hm ? " tanyanya dengan mulut sibuk menggigit bola kasti itu.


" apa,, nggak sebaiknya kita pisah rumah aja hon dengan eve ? " laura menunduk mengamati suaminya yang sibuk dengan kegiatannya.


kavian melepaskan bola kasti itu lalu menatap datar ke arah istrinya " ada apa? apa bocah itu mengganggu mu ? "


laura menggeleng " bukan,, tapi,, aku nggak nyaman aja tinggal bareng. rasanya aneh, gitu "

__ADS_1


kavian menghela nafas, pria itu menarik diri untuk duduk di tepi ranjang " apa kata mamih nanti ? dia nggak akan setuju hon "


laura menghela nafas dalam " penting aku atau mamih mu sih ? "


" kalian sama pentingnya ! " kavian mengelus lembut pipi laura.


laura menepis tangan itu, tangannya bersedekap dengan bibir melengkung ke bawah " kamu selalu di bawah kendali mamih... kamu bahkan nggak bisa bersikap tegas layaknya kepala rumah tangga... dimana - mana istri sah itu nggak akan betah se atap dengan pelakor "


kavian menaikkan satu alis mendengar istri pertamanya menyebut istri keduanya pelakor " apa kanu cemburu dengan bocah nakal itu ? "


" yo jelas, ngapain pakek Nanya " dumelnya sinis


kavian terkekeh " jadi,, kamu meragukan ku ? " kavian mendaratkan tangannya ke bola kasti laura lalu mencubit gemas benda itu


laura nabok tangan kavian " aku bukan wanita bodoh, kentara sekali kamu mulai ada rasa sama bocah berandal itu "


kavian jadi menyingkap dress istrinya, lelaki itu membenamkan kepala di tengah - tengah goa segitiga itu. tak menggubris gerutuan istrinya, memilih menikmati barang langka seenak jagad raya itu.


bibir laura mencebik menatap jengkel ke arah suaminya yang mulai sibuk dengan kesenangannya.


" sshhh,,," desisnya menekan kepala suaminya .


laura menabok kepala suaminya saat gigi pria itu menggigit intinya " masukin ajalah,, aku lagi nggak mood " .


kavian menarik diri, memposisikan diri di atas istrinya. membuka celananya sebatas lutut dan mulai memasukkan kavi junior ke dalam gua itu.


pinggulnya bergerak naik turun dari tempo lambat ke tempo cepat, keduanya melenguh Saat merasakan sensasi nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh.


kavian semakin mempercepat gerakannya, saat sesuatu dalam dirinya hampir meledak.


" aarggghhhh " keduanya mengerang panjang saat mencapai pelepasan.


tubuh kavian ambruk menindih rubuh laura. keduanya ngos - ngosan masih dalam penyatuan.


kavian mengecup kening istrinya cukup lama, menumpahkan segala bentuk kasih sayangnya.


÷÷÷


" ayamnya abis lagi ? "


tanya Evelyn ke arah bik siti. Wanita baya itu hanya diam menunduk membuat Evelyn kian kesal saja.


" niat kerja nggak sih siti ?, lo mau gue mati kelaparan, hah ? " sewot Evelyn menatap kesal ke arah bik siti.


bik siti meneguk ludah, wanita baya itu mendongak dengan mata yang memerah. enggak tersinggung sih sama ucapan Evelyn karena tiap hari dia dapat ucapan pedas dari gadis itu. bik siti cuma kesal sendiri yang merasa terpojok dari kubu sana dan kubu sini. seolah dia ini berada dalam situasi sulit, yang mana jika dia lewat di salah satu kubu itu dia akan tetap kena imbasnya.


Bik siti masih diam, tangannya bergetar dengan jantung berdebar, nasib buruk untuk seorang pembantu ya begini, ternistakan.


semua mata tertuju ke arahnya dengan berbagai ekspresi. melihat bik siti yang Tremor, shakty mengkode wanita baya itu untuk masuk ke dapur.


" makan punyaku aja ve, nggak papa kok.. aku bisa makan yang lainnya " tawar shakty menyodorkan piring nya.


" gue nggak suka dikasihani. dan gue nggak suka pertanyaan gue di abaikan. paham nggak ? " ketus Evelyn


" sitiiii,,, woyyy ! " seru Evelyn lantang.


kavian membanting sendok merasa kesal dengan keributan ini " makan yang ada Evelyn ! jangan mengacau ! " berangnya menatap tajam ke arah Evelyn


" nggak usah teriak - teriak.. gue nggak budeg " sungut Evelyn balik menatap suaminya dengan sama tajam nya.


" ve,, itu ada sapi, sayur, tahu, tempe, ada lainnya juga " timpal laura


" gue nggak suka itu semua,, dan elo tau itu.. jadi nggak usah sok berbaik hati nawarin ke gue " jawab Evelyn berkata sinis


" kamu itu nggak tau diri ya, berani kamu ngelawan istri sah? dasar pelakor ! " ketus astrid


" diem,, elo nggak di ajak ! " bentak Evelyn bangkit berdiri menuding astrid.


" duduk Evelyn ! " galak kavian.


shakty mencekal tangan Evelyn dan menyuruhnya untuk duduk " elo makan, atau black card elo di ambil balik sama mas kavi " bisik shakty di telinga Evelyn.


Evelyn mendengus menatap jengkel ke arah semua orang di ruangan itu. gadis itu menyambar dua tempe goreng dan membawanya pergi dari ruang makan.


astrid terkekeh, bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai iblis. ' rasain kamu, makan tuh tempe ' batinnya.


tanpa di duga - duga, Evelyn mendatangi dapur menghampiri bik siti yang saat ini sedang mencuci piring.


brakk


Evelyn menendang bangku yang terletak di dekat pantri membuat bik siti terjengit kaget. nyaris menjatuhkan piring.


" lo punya masalah apa sama gue, siti ? " barang Evelyn menatap tajam ke arah bik siti.


bik siti menunduk dengan tangan meremas daster, sungguh ia tak tau harus berkata apa sekarang.


" ngomong !, mau,, gue kutuk jadi kadal ? " sungut Evelyn membuat bik siti mendongak dengan bibir menganga.


" m,,maaf non, dagingnya memang sudah habis. " jawab bik siti dengan suara bergetar


" brengsekkk ! "


bugh !


berang Evelyn meninju tembok. sebenarnya ingin rasanya meninju wajah bik siti yang terlihat polos . polos - polos laknat.

__ADS_1


__ADS_2