Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Eps.80


__ADS_3

Damian menyorot tajam sosok pria tampan di depannya. Pria tampan yang sudah berhasil melumpuhkan ke empat anak buahnya.


" Bagaimana tuan Damian? bukankah sekarang giliranmu? " Ucap kavian dingin dengan mata yang tak kalah tajam.


Damian merubah raut menjadi tenang. pria itu terkekeh seraya menggosok hidung " Ayolah menantu ku. ini hanya permainan.. jangan anggap serius "


" Jangan Coba - coba mempermainkan ku Damian ! Kau pikir perbuatan mu hanya lelucon, hah? " Teriak kavian dengan kesal.


Ya Tuhan !


Apa lelaki tua itu tidak waras ?


Menyiksa istrinya sampai babak belur seperti itu masih menganggap permainan? Bahkan itu sungguh tidak lucu sama sekali.


Damian Menarik badan, tak menghiraukan kekesalan kavian yang sudah memuncak. Damian berjalan mendekat ke arah astrid yang tersenyum. Menatap kavian dengan penuh kelegaan. Seolah - olah ia menemukan sumber air dikala dahaga mendaki padang pasir tak berujung. Damian melepaskan ikatan tangan dan juga ikatan kaki astrid. mendorong wanita itu hingga tersungkur di bawah kaki kavian.


" Mih " Kavian segera menarik tangan astrid. memapah wanita yang begitu menyayangi nya dan menuntun wanita itu Berjalan keluar dari ruangan pengap itu.


" Kau akan menanggung konsekuensinya Damian ! Aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja " Ancam kavian di ambang pintu.


Damian menarik sudut bibir membentuk seringaian iblis. Sebuah ekspresi yang membuat astrid khawatir, karena wanita itu yakin si brengsek itu tak akan tinggal diam.


" Ayok, cepat ! kita harus segera pergi dari sini sayang " Astrid menarik tangan kavian saat pria itu masih bergeming di ambang pintu.


Melihat kondisi astrid yang lemah, kavian lantas menggendong wanita itu, melangkah lebar dengan tatapan dingin. Beberapa bodygoard yang berada di bar bahkan hanya diam saja tak mencegah langkah kavian yang hendak keluar dari bar.


Sam mengernyitkan dahi, menatap bingung tubuh kavian yang dengan tenang keluar dari tempat terkutuk itu.


" Apa aku tidak salah lihat ? " gumamnya.


" Sial " Gerutu sam saat tak berselang lama mobil kavian melaju, beberapa mobil Damian mengikutinya.


Sam berlari ke arah parkiran, mengambil motor besarnya dan menyusul Damian.


" Kav,, kita di ikuti " Astrid panik saat beberapa motor dan mobil mengepung mobil kavian dari sisi kanan, kiri dan belakang mobilnya.


" Bedebah " sungut kavian memukul setir mobil.


Brooommmm


Brooommm


Brakkk !


Brakkk !


Pyarrr !


" Arrghhh " Erang astrid saat kaca jendela di sampingnya di pukul oleh balok besi.


Kavian menarik gas, menambah laju kecepatan menjadi dibatas rata - rata. Damian tak mau kalah, pria itu ikut menambah laju kecepatan hingga bisa menyalip mobil yang kavian bawa.


" Baiklah menantu ku yang hebat, mari kita adu kehebatan " Damian menyeringai setan.


Kavian mendengus, kembali menarik gas dan mempercepat laju nya.


" Ckkk " Decak Damian menatap kesal bokong mobil yang beberapa meter di depannya telah mendahului.


" Kejar mereka bodoh ! " Teriak Damian di dalam mobil, melongok ke belakang menginterupsi para bawahannya yang mengendarai motor.


Kavian memang bukan pembalap jadilah dia terkepung oleh beberapa motor dan mobil milik pasukannya Damian yang notabennya Para pria urakan, jalanan, gangster, dan Para pengemudi handal.


Ckitttttt


Brakkk


Kavian mencoba mencari celah, membanting stir saat di depannya terdapat tukang gerobag melintas dan nahasnya, mobilnya harus menabrak pembatas jalan.


beruntunglah hanya bagian samping kemudi yang penyok dan kedua orang yang berada di dalam mobil itu hanya terbentur kepalanya.


Damian turun dari mobil, bersedekap dengan kaki bertumpu di kaki satunya. tubuhnya ia sandarkan di mobil dan bibirnya terangkat ke atas membentuk senyum puas. di depannya, beberapa bawahannya telah berdiri gagah memegang blok besi masing - masing.


Salah satu dari mereka, para gangster yang direkrut Damian menjadi bodygoard itu mendekati mobil kavian. menarik paksa tangan kavian untuk keluar dari mobil.


Bugh !


Kavian di dorong kasar, hingga tubuhnya berlutut di bawah kaki Damian.


Damian tersenyum sinis, kakinya digunakan untuk menendang wajah kavian membuat kavian tersungkur kembali.


Dugh !


" Kav " Teriak astrid di dalam mobil. wanita itu bergetar seluruh tubuhnya namun sebisa mungkin untuk tetap mempertahankan kesadarannya.


" Aku sudah lama menunggu momen indah ini Kavian Elvano Albuzer " Ucap Damian dingin.


Damian melangkah maju, menarik kerah kemeja kavian.


" Memohon lah, aku akan memberi belas kasih kepadamu "


Kavian terkekeh " Kau menginginkan permohonanku? sebegitu lemahnya dirimu sampai Mengemis seperti itu ? "


" Diam ! Kau pikir kau begitu hebat kah? " Bentak Damian.


Kavian tersenyum sinis " Kau bahkan sampai mengerahkan berpuluh - puluh bawahanmu hanya untuk menangkap satu ekor kuda seperti ku. hm ? "


Bugh !


Damian membenturkan kepala kavian ke aspal.


" Beraninya kau menghina ku, ! " berang Damian.


Pria itu bangkit berdiri, menyambar satu balok besi dan melayangkan benda panjang itu .


bugh !


" Aargghhh " Pekik Astrid yang ternyata menjadi benteng tubuh kavian.


" Mih " Kavian merengkuh tubuh astrid yang tergeletak, menepuk pipi astrid yang memejam. darah segar mengalir dari kepalanya.


" Mih, bangun ! please ! " Kavian mengguncang bahu astrid. tak ada pergerakan hanya ada nafas yang tersengal - sengal lirih.


" Sial ! " Umpat Damian


Bugh


" Shhh " Desis kavian merasakan nyeri dan ngilu di area perutnya.


Belum puas melihat kavian masih dengan gagahnya melayangkan senyum mengejek, Damian Menendang kembali perut kavian dengan membabi buta.

__ADS_1


Bugh


Bugh


Bugh


" Uhukkkk " Kavian terbatuk, memuncratkan darah segar dari mulutnya.


" Heee... Hanya sebegini kah kemampuan mu damian? " Kavian tertawa mengejek


Damian semakin geram Tangan kanannya yang memegang balok besi kembali terangkat tinggi.


Bhruuummm


Bhrummmm


Bhrummmm


Besi yang berada di tangan Damian berhenti di udara saat beberapa pengendara motor membunyikan geraman motor yang begitu nyaring. Damian menoleh ke belakang mengerutkan kening saat beberapa motor terjejer rapi memenuhi jalanan.


" F*ck ! "


Galang berdiri gagah menjadi panglima di depan beberapa pengendara motor. Dan di sampingnya, shakti berdiri dengan tangan mengepal, menyorot tajam tubuh Damian yang beberapa meter berdiri di depan.


" Wow, Apa itu? Kenapa ada banyak tikus berdatangan" Seru Damian terlihat senang.


" Jingan, Bacot, Mulut babi !... Berani elo sentuh abang gue, Gue hancurin kepala elo " umpat shakti menggebu - gebu.


Plak !


Satu geplakan lolos di belakang kepala.


" Istighfar nyet ! "


" Peduli babi, Nggak ada kata - kata manis buat si psikopet itu " Sungut shakti.


Galang menyunggingkan senyum " Beraninya keroyokan, Kalau berani Hadapi kita ! "


Beberapa bawahan Damian tergelak, lalu mereka tertawa keras. tepatnya mengejek para bocah remaja yang berdiri tanpa rasa takut.


" Nggak salah kalian mau melawan kita ? " Tanya diggo dengan wajah mengejek.


" Ckkk.. Mereka pikir mau main Petak umpet apa? " Decak yang lain dengan kekehan.


Galang mengeratkan gigi, tangannya bergerak menuding wajah Digo dengan tatapan membunuh " Gue masih inget wajah jelek elo.. brengsek ? "


Digo mengerutkan kening " Lu kenal sama gua ? "


" Asw, Tai kambing, tai babi... Gue datang untuk nebus sumpah gue... Elu boleh lupa sama gue.. tapi elu jangan pernah coba - coba lupa sama sahabat yang udah elu khianatin " Sungut Galang menggebu - gebu.


Digo terdiam. berpikir untuk mencerna ucapan Galang.


" MA " teriak haikal memecah lamunan diggo.


Haikal berlari ke arah wanita yang tergeletak di aspal. Wanita yang tak lain adalah astrid yang sekarang ini bersimbah darah dengan mata memejam.


Brukkk...


Dengan kasar Damian mendorong tubuh haikal hingga terjelengkang ke belakang.


" Brengsek " Umpat shakti tak terima dengan perlakuan Damian.


" SERANG ! " Interupsi galang.


bugh


Bugh


Duakk..


Brukkk.


Suara pukulan dan tendangan menggema di jalanan bahkan sangat terdengar jelas di beberapa meter kejauhan.


Badan bawahan Damian memang besar - besar dan tinggi - tinggi tetapi mereka kalah jumlah dengan kawanan galang dan shakti yang mencapai tiga puluhan. mereka juga nggak datang dengan tangan kosong, mereka datang dengan berbagai senjata tajam.


Bruk..


Kavian masih punya tenaga, jadilah dia ikut serta dalam aksi peperangan sengit itu. kavian menendang pantat damian saat pria tua itu hendak melayangkan benda tajam ke arah galang.


" Brengsek ! "


Dugh..


Damian murka, dia menendang balik perut kavian. tenaganya masih kuat karena dia sama sekali belum mendapat bogeman dari lawan.


Damian melayangkan belati nya, berlari ke arah kavian untuk menusuk kan belati itu.


Srattt


" Sshhh " Desis shakti saat bahunya terkena serampangan belati Damian.


" Shakti " Pekik kavian yang tubuhnya terduduk di aspal karena dorongan dari adiknya.


" Ckkk,, Bego " Kesal galang. Cowok itu mengambil balok besi. dan


Bugh


" Arrgghhhh " Erang Damian saat tulang kakinya terkena pukulan si balok yang keras dan berat itu.


Galang menyeringai puas. kembali melayangkan si balok tinggi - tinggi.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


" Argghhhh... Brengsek .. Digo cepat hajar tikus itu ! " Berang Damian memegangi kaki yang sudah di pastikan tulangnya remuk.


Digo Celingukan ke kanan dan ke kiri dimana teman - temannya sudah terkapar. bahkan mungkin beberapa ada yang tewas. Digo tak mau mati konyol, apalagi usianya masih muda. Pria bertato naga itu Berlari dari area tempur menuju ke pembatas jalan dimana di bawahnya adalah sungai Yang terdapat batu - batu besar. bisa di katakan itu adalah jembatan. Dia ahli dalam melompat ataupun bergerak cepat melarikan diri. kemahirannya sudah nggak di ragukan lagi. tetapi kalau lompatannya nggak tepat bisa di pastikan lumpuh.


Kaki yang hendak memanjat pembatas jalan ditarik ke belakang oleh seseorang.


" Mau kemana lo ? " Sungut galang.


Digo membelalak. pria bertato di lengan itu mendengus.

__ADS_1


" Siapa elu, brengsek ! Gua nggak kenal elu " Sungut Digo.


" Genta Semesta. Elo paling kenal sama dia. dan perlu elo tau, kalau gue adalah galang samaudera adiknya bang genta yang kalian bakar hidup - hidup di markas " Ketus galang.


" Dan jangan elo pikir, setelah dosa yang udah lo perbuat lo bakal tenang. No.. salah besar. Elo akan dapet lebih dari itu " Imbuh galang memeped tubuh Digo.


" Mau apa lu ? " Panik Digo saat setengah badan terhuyung kebelakang.


Galang menyeringai, Menjambak rambut keriting Digo ke belakang .


" Gue ? " Tersenyum setan.


" Bakal antar elo ke neraka ! "


duakk


" Aaaaaaaa " Jerit Digo saat tubuhnya di tendang dan terjun ke bawah


Brakkkk


Di karenakan kepalanya yang mendarat terlebih dahulu ke batu, Jadilah kepala yang otaknya penuh dosa itu terbelah.


Tubuh Digo kejang - kejang dengan mata melotot, bahkan lidahnya terjulur keluar


" Digo ! " Teriak Damian.


Galang menatap datar tubuh Digo, kembali ke barisan tempur untuk misi selanjutnya.


Damian menjadi panik, kini dirinya di kepung oleh para remaja yang tampak seperti Malaikat maut.


Damian memundur kan badan, menarik kakinya yang terasa nyeri dan sakit luar biasa.


Bugh.


" Akkhhh " Rintih Damian memegangi kaki yang di tendang.


Haikal menyeringai iblis, tangannya terulur untuk meraih rambut belakang Damian.


" Argghhh " Pekik Damian melengking. bisa jadi lolongannya sampai ke markas angkasa.


Galang tersenyum setan, menyambar belati di aspal


Srattttt !


" Oh my god ! " iqbal sampai beringsut mundur, memegangi area itu dengan kedua tangannya.


" Aarrghhhhh " Lolong Damian histeris. Darah segar Muntah di aspal.


" Gue pikir nggak perlu ngotorin tangan karena gue berharap elo mati bunuh diri " Ucap galang. melempar belati itu jauh - jauh.


" Hihhh... merinding.. anju " Ifal bergidig begitupun juga dengan yanh lain. Mereka semua meninggalkan Damian begitu saja. tanpa berniat untuk menolongnya. ckkk. Ngapain di tolong kalau susah - susah di gelut.


Haikal membopong tubuh astrid sedangkan shakti memapah kavian.


" Masih kuat jalan nggak mas ? " tanya shakti saat kavian bergeming.


Kavian menggeleng lemah, wajahnya bahkan sudah memucat. Keringat dingin bercucuran di sela kulitnya. menandakan pria itu lemah dan menahan sakit.


Shakti menghela nafas. berjongkok dan mengapungkan tangan abangnya yang sudah mengusirnya itu ke leher. dengan langkah pelan, shakti menggendong tubuh tinggi kavian, membawa si abang ke boncengan motor. beberapa puluh motor ninja itu melesat pergi, meninggalkan sosok keji Damian yang sudah ber transmigrasi menjadi lelaki lemah bak, seekor kucing tak memiliki kaki.


÷÷÷


Evelyn mengucek mata saat sinar mentari menyorot, menembus ke jendela. begitu menyilaukan mata si empu. Gadis itu memicingkan mata saat tak mendapati bayi besarnya tak berada di dekapan.


Evelyn menarik badan, lalu beranjak turun ke bawah. tangannya terulur menyambar ponsel di nakas.


" Halo "


" Sayang, kamu dimana ? " Tanya rini di seberang telepon.


Evelyn menggigit kuku jarinya, Memutar otak untuk mencari alasan jitu yang masuk di akal mertuanya.


" Eemh aku... di "


" Cepat pulang ! kita kerumah sakit sekarang "


" Oohhh.. iya mih " Sahut Evelyn tanpa bertanya. dan tini pun langsung mematikan sambungan telepon.


" Siapa yang sakit ? " gumam Evelyn, menatap ponsel.


" Laura mau lahiran kali yah ? Ah, masa sih.. kan malah tiga bulan " Evelyn menggaruk sisi kepalanya.


Mobil yang Evelyn bawa berhenti di parkiran rumah sakit elit daerah. Gadis itu turun dengan tergesa - gesa, menilik pintu kamar rawat untuk mencari nomor yang tertera di pesan wa nya. Mamih rini sudah sampai ke rumah sakit lebih dulu, sedangkan Evelyn menyusul. dia hanya di bekali dengan pesan berisi nomor kamar rawat yang di tempati oleh kavian.


Dug


Evelyn mengusap dahi yang kerasa sedikit nyeri akibat benturan dengan sesuatubyang keras. Evelyn mendongak dengan wajah kesal lalu mengerutkan kening saat melihat pria seusia kavian melayangkan senyum manis ke arahnya.


" Hallo, girl " Sapa si pria.


Evelyn memutar bola mata jengah, tak menanggapi sapaan si pria karena dia pikir pria itu adalah lelaki hidung belang kurang kerjaan.


Evelyn berlalu begitu saja tanpa memperdulikan si pria yang melotot protes.


" Ahhh... menyebalkan ! apa dia tak tertarik dengan pria setampan diriku ? " Dumelnya menatap sebal punggung Evelyn yang perlahan menghilang.


Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu, karena kamar yang di tempati kavian terbuka lebar. Kening Evelyn mengerut saat mendapati banyak remaja good looking mengelilingi ranjang kavian.


" Ve, " Sapa galang. tersenyum manis.


Shakti spontan menoleh, dan berbinar saat gadisnya berada satu atap dengannya.


" Sayang... aws " Ringis shakti saat pinggangnya di cubit oleh rini.


" Sayang pala mu peyang " Ketus rini


" Nggak ada sayang - sayangan. belum halal, ngerti ! " imbuhnya menarik si bungsu untuk meped ke arahnya. Huh, tak tahu saja wanita tua itu, bahwa putra kecilnya bahkan sudah kelon- kelonan semalam.


" Elo kenapa? " Tanya Evelyn saat kavian terbaring dengan kaki di perban.


Kavian mengulas senyum tipis, melirik ke arah laura yang sedari tadi masih tergugu.


" Enggak papa. Kalian nggak usah khawatir "


Evelyn memicingkan mata, menatap penuh selidik wajah - wajah Shakti dan galang yang terdapat memar dan lebam.


" Jangan ngomong, kalian habis gelud ! "


Shakti dan yang lainnya menggaruk tengkuk, lalu nyengir kuda karena ketahuan berkelahi.

__ADS_1


" Cuma sekali doang, janji " Shakti mengacungkan dua jari.


Rini tertawa kecil, mengusap kepala shakti dengan sayang. udah dengar cerita nya jadi mamih rini enggak marah, justru bangga karena shakti menjadi pahlawan bahkan enggak memiliki dendam dengan kakaknya yang sudah mengusirnya.


__ADS_2