
kavian menatap datar ke arah Evelyn. gadis itu diam menunduk dengan pikiran yang berkecamuk. sulit untuknya menghilangkan bayang - bayang tragedi yang terjadi beberapa jam yang lalu, bahkan wajah Evelyn masih pucat pasi.
Evelyn tak menyangka, ariel akan melakukan hal bodoh senekad itu. yang dia tau memang cowok itu sering mencari masalah dengannya dan suka sekali berkata pedas terhadapnya, bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang tak bisa menyatu. Evelyn tak mengira kalau ariel memendam rasa benci sebesar itu.
Evelyn menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya melalui mulut. pelan, kepalanya bergerak, menengadah, memberanikan kelopak matanya untuk menatap suaminya.
" aku nggak salah ! " lirih Evelyn menatap penuh harap kepada lelaki di depannya agar mau berpihak padanya.
" jelaskan ! dengan detail " sahut kavian dengan nada yang sangat dingin.
evelyn memejamkan mata, mengumpulkan kekuatan untuk mengorek luka yang bersemayam di hatinya. gadis itu pada akhirnya menceritakan kejadian itu mulai dari seorang pelayan yang menyampaikan pesan, sampai ke peristiwa jatuhnya ariel. tak luput juga perlakuan ariel yang hendak melecehkannya.
semua yang berada di ruangan utama kediaman albuzer, termasuk keluarga pak kusno yang ternyata belum pulang ke rumah, menyimak cerita evelyn dengan serius. mereka tak ingin melewatkan barang se kata pun yang terlontar dari mulut Evelyn.
Shakti mengepalkan tangan, dadanya naik turun mendengar ariel menyentuh tubuh Evelyn. Menyentuh bagian yang beberapa hari lalu menjadi candunya, menjadi kesenangan yang selalu menghantui setiap malam. raut kemarahan tercetak jelas di wajah cowok itu bahkan wajah putih cowok itu berubah memerah. andai si ariel sialan itu belum mati pasti sudah di hadiahi bogeman di setiap inci tubuh krepes cowok jahat itu.
" ciri - ciri pelayannya seperti apa? maksudku mulai dari tinggi badan, postur tubuh, wajahnya atau tahi lalat atupun tanda yang lainnya " tanya laura selepas Evelyn bercerita.
" dia pendek, mungkin tingginya cuma seratus lima puluh senti, terus tubuhnya isi, punya tahi lalat di atas bibir, dan punya tompel bundar di bawah mata " jelas Evelyn.
hana mencerna ciri - ciri pelayan yang Evelyn sebutkan. dia nggak tau dugaannya salah atau benar. yang dia yakini ciri - ciri itu sama persis seperti yang dimiliki oleh fitri. dan juga yang membuatnya heran kenapa fitri terlihat terburu - buru pada malam itu. otak cerdasnya berloading cepat, kemungkinan terbesarnya adalah fitri si pelayan gang di maksud oleh Evelyn.
hana tersentak. cepat tangannya mengambil ponsel di saku roknya. gadis itu menscrol ponsel, membuka aplikasi berwarna biru dan mencari akun seseorang.
mata hana menatap awas detail foto fitri dan mencocokkan dengan ciri - ciri pelayan yang terlibat penjebakan Evelyn. ya, sama persis.
" eumh, orangnya yang ini bukan? " hana menyodorkan ponselnya ke arah Evelyn.
Evelyn menyambar ponsel hana, gadis itu mengingat keras wajah pelayan itu.
" iya yang ini. cewek jelek ini yang nyuruh gue ke balkon" jawab Evelyn dengan semangat.
" elo kenal sama cewek itu? " tanya Evelyn
hana mengangguk " iya, dia salah satu karyawan bu indri " jelas hana.
" berarti elo tau alamat rumahnya ? " tanya Shakti antusias.
" dia anak perantau, aku cuma tau dia ngekost nggak jauh dari rumah bu indri " jelas hana.
" ayok kita ke sana ! " ajak Shakti.
" besok saja " cegah Kavian mendorong dada shakti yang hendak beranjak berdiri.
" ini sudah tengah malam shakti ! " galak kavian.
" tapi kan lebih cepat lebih baik kak, takutnya dia malah kabur " kilah Shakti.
" mas mu benar anak, besok saja. hana pasti capek. kalian menginap disini kan? " tanya laura.
" sebaiknya kami pulang saja " sahut pak kusno.
" nggak papa kan kalau kalian di antar supir ? " tanya Shakti.
bapak tersenyum " nggak papa nak. terimakasih sudah mau repot - repot mengantar "
kavian terkekeh " kaya' sama siapa aja. pake nggak enak segala.
bapak tertawa kecil, pria baya itu lantas berjalan keluar menuju ke parkiran.
" hati - hati "
kavian melambai kan tangan mengantar mobil nya yang membawa keluarga pak kusno.
shakti yang sedang duduk di sofa menatap awas ke arah kavian yang berjalan beriringan menuju kamar. Bocah itu memanjangkan leher, memastikan pasangan itu benar - benar sudah menutup pintu kamar
masih dengan kepala yang celingukan, shakti masuk ke kamar Evelyn. shakti mengkode Landung untuk keluar, lalu merebut handuk kecil yang digunakan untuk mengompres wajah Evelyn yang lebam itu.
mata shakti memanas melihat wajah cantik Evelyn yang sekarang ini sedikit membengkak dan membiru.
" sakit ? " tanya shakti dengan suara serak.
evelyn hanya mengangguk. rupanya, mental gadis itu masih terguncang akibat insiden beberapa jam lalu.
Evelyn memejamkan mata, saat telapak mulus shakti membelai Wajahnya. desiran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, merasakan usapan lembut dari tangan terawat cowok di depannya. perasaan kalutnya berangsur melebur tergantikan dengan perasaan nyaman dan aman
" kamu nggak tidur ? " tanya Evelyn. setelah sepersekian menit merelaxasi tubuhnya lewat sentuhan kekasihnya.
__ADS_1
shakti menggeleng. cowok itu menunduk menyembunyikan pipinya yang basah.
" hey " Evelyn menarik dagu shakti membuat wajah yang sudah banjir dengan air mata itu jadi mendongak.
" kenapa, hm ? " tanya evelyn.
" aku nggak tega liat kamu kayak gini " rengek Shakti.
Evelyn tersenyum madu. gadis itu menarik kepala shakti dan meletaknnya di dada
" pengin gantiin ? " tanya Evelyn menunduk.
shakti mengangguk, mempererat pelukan saat merasakan nyaman berada di posisi itu.
Evelyn terkekeh. gadis itu mengecup singkat kepala shakti " kok malah kamu sih yang manja - manja gini? harusnya ku dong. kan aku yang jadi korban " protes Evelyn
" aku nyaman kek gini " sahut shakti. tangan nya bergerak mengusap kasar pipinya yang basah.
" pengen nyusu ya ? " tanya Evelyn frontal.
bibir shakti mencebik. spontan, cowok itu melerai pelukan beringsut mundur membuat jarak dengan gadis itu.
" nggak jadi, nggak nyaman, gerah, " kesal shakti jengah.
Evelyn tertawa kecil " sok jual mahal. giliran di susuin juga ke'enakan ampe ketiduran. ckk "
shakti menoyor kening Evelyn " jan ngasal. gue emang lagi capek. abis nya kamu maksa. jadi sayang kalau di tolak. mubadzir " kilah Shakti, ngomongnya si kaya' gitu tapi wajahnya udah memerah bak udang goreng balado.
Evelyn memutar bola matanya jengah " aku jadi nyesel ngebiarin ariel mati "
shakti mengerutkan kening " kenapa nyesel ? "
" dia udah cubit - cubit susu gue, masa' nggak gue bales sih. kan kesel." dumelnya. ekor matanya melirik shakti yang sekarang ini melotot.
" sialan ! " umpatan yang bener - bener baru pertama kali cowok itu lontarkan. karena sedari kecil sampai segede sekarang yang kumpulnya dengan teman yang notaben nya badboy dan urakan nggak pernah sekalipun Shakti mengumpat.
Evelyn mengulum bibir " tapi enak sih. awwss " ringis Evelyn saat shakti menjewer telinganya
" ihhh, shakti ! sakit tau.." sungutnya mengusap telinganya yang sudah memerah dan nyeri.
" ihh, emang kenyataan nya kok. makanya sekali - kali kamu sentuh aku. rasain kan kedulun cowok lain " kompor Evelyn.
shakti mendengus, melirik dada kenyal Evelyn yang sedikit menyembul. " emang beneran enak ? " tanya shakti polos.
Evelyn mengangguk cepat " iya.. aku suka "
shakti meneguk ludah, jakunnya naik turun dengan mata yang awas menatap dua benda kenyal itu.
shakti mengikis jarak. pelan, tangannya terulur menyentuh sebelah dada Evelyn. Shakti membuang muka, merasa malu dengan tindakannya yang reflex tiba - tiba itu. jantungnya juga kerasa loncat - loncat jingkrat - jingkrak di dalam dadanya sana.
sedangkan Evelyn menunduk, tersenyum kecil saat telapak tangan shakti masih diem anteng di dadanya. tangan Evelyn bergerak ke belakang, mencari resleting dress dan menurunkannya. Evelyn menarik wajah Shakti membuat kedua mata remaja itu saling bertatapan cukup lama.
" semua yang ada di diri aku, udah jadi milik kamu sepenuhnya. honey " ucap Evelyn.
shakti menggeleng " belum. kita belum halal sayang "
Evelyn mengatupkan bibir. menatap datar ke arah cowok otewe nggak polos itu.
" kelamaan, honey. aku udah nggak kuat. soalnya aku sering dengar suami dan istri tua suamiku lagi enak - enak. jadi aku penasaran."
shakti mendorong kening Evelyn " aku akan pikirkan caranya. jadi sabar. jangan gegabah. kita jangan terlalu jauh berbuat dosa "
Evelyn mengurucutkan bibir " dosa apaan? ya enggak lah. dosa itu kalau kita ngebunuh orang "
shakti terkekeh. tangannya meraub bibir Evelyn yang mengerucut itu. gemes banget sama tingkah kekasihnya yang suka rada - rada belo'on.
" kaya' anak sd aja nggak tau mana dosa mana pahala. ckk. kaya' nya kamu emang harus sekolah ulang dari tingkat paud "
Evelyn mengecup bibir Shakti " jahat " kesalnya.
shakti melirik ke arah dada Evelyn yang Sekarang ini sudah terpangpang jelas di mata nya.
" pengin bobok sini ! " izinnya. mengalihkan pembicaraan.
Evelyn tersenyum. tangannya menepuk kasur di sampingnya.
shakti tidur miring dengan kepala yang berbantal tangan evelyn. cowok itu menatap ragu ke arah dua gundukan kenyal yang berada tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
cowok itu memajukan wajah, membuka mulutnya tepat di depan puncak berwarna merah muda yang sudah mengacung tegak.
Evelyn menggigit bibir dengan kepala menunduk, memperhatikan kekasihnya yang sibuk berada di dadanya.
Shakti menyedot dengan lahap benda kenyal itu seolah - olah itu adalah makanan favorit nya. dalam hati, cowok itu beristighfar seribu kali. menyumpah serapahi kebodohannya yang semakin berani berbuat dosa.
÷÷÷
satu persatu pelayad mulai meninggalkan makam basah ariel, begitu pun juga dengan para guru yang turut hadir di pemakaman cowok itu.
" yang tabah ya bu, kami selaku pada guru turut kehilangan atas kecelakaan yang menewaskan nak ariel " ucap pak ridwan selaku wali kelas.
lika mengangguk " terima kasih pak, maafkan kesalahan ariel di masa sekolah. mohon doakan arwahnya tenang dan mendapatkan keadilan yang seadil - adilnya "
pak ridwan mengerutkan kening , mencerna kata terakhir yang wanita itu ucapkan " bisa jelaskan maksudnya bu ? "
lika menghela nafas dalam, wajahnya yang basah itu berangsur datar dan dingin " mari pak saya jelaskan di rumah saja. disini kurang nyaman."
pak ridwan mengangguk, pria muda itu berjalan mengekor langkah lika dan cindy, menuju ke rumah yang tak jauh dari area pemakaman umum.
" maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya membuat ibu kurang nyaman. " pak ridwan menegakkan tubuh.
" boleh saya tahu, kenapa ariel bisa jatuh dari balkon? " tanya pak ridwan.
Mata lika memanas, " sebenarnya ada yang sengaja mendorong keponakan saya pak. usut punya usut, pelaku sering terlibat pertengkaran dengan ariel "
pak ridwan membeliak Matanya " siapa bu? apa teman sekolah ? "
lika mengangguk " iya, dia teman sekelas. namanya Evelyn "
" maaf bu, apakah ada bukti ? " tanya guru yang lain yang terlihat kurang setuju dengan ucapan lika.
lika mendengus " dia saat itu ada di lokasi kejadian. dan memang kata putri saya mereka berdua sempat bertengkar di atas balkon. gadis itu menggoda ariel, namun keponakan saya mengabaikannya. jadilah gadis itu gelap mata dan mendorong keponakan saya " jelas lika
pak ridwan loading sejenak, mencerna ucapan lika yang menurutnya kurang memungkinkan. mengingat status Evelyn yang bersuamikan tuan kavian pengusaha sukses berwajah bak idol korea yang di gandrungi seluruh anggota guru.
tapi mengingat, ke aroganan dan ke rusuhan yang sering gadis itu lakukan, hati pak ridwan menjadi nano - nano dan goyah tentunya.
" berarti pada saat itu di balkon ada cindy juga ? ' tanya pak catur.
" enggak, saya cuma kebetulan lewat " kilah cindy. gadis itu merutuki ibunya yang hampir saja membuatnya terancam masalah.
pak catur manggut - manggut.
" pak, mengingat saya yang hanya orang kecil, sangat sulit bagi saya untuk melawan keluarga gadis itu yang tergolong sultan. jadi apakah sekiranya bapak bisa membantu saya untuk mengusut tuntas kasus ini ? " tanya lika.
pak ridwan terdiam, berpikir keras harus berada di kubu yang mana. tetapi sebagai seorang guru yang bijaksana, dia harus bersikap adil terhadap muridnya.
" maaf bu, mungkin lebih tepatnya saya hanya bisa menjadi penengah. bagaimana kalau nanti sore kita berkunjung ke rumah Evelyn untuk membahas masalah ini karena untuk sekarang saya harus kembali ke sekolah " usul pak ridwan.
lika mengukir senyum, wanita itu bangkit berdiri menyambut uluran tangan pak ridwan yang hendak berpamitan " terima kasih pak "
pak ridwan mengangguk " saya pamit dulu, ! "
lika mengangguk senang. wanita itu lantas mengantarkan kepergian pak ridwan beserta guru lain menuju ke halaman. matanya mengikuti beberapa bokong motor matic sampai menghilang di balik gerbang.
cindy menarik tangan lika untuk masuk ke dalam, gadis itu mendorong lika duduk di sofa.
" mamih apa - apaan sih? kenapa mamih ngomong kayak gitu ke pak ridwan? gimana kalau pak ridwan nyelidikin kasus ini? dia kan kepoan mih " protes cindy menatap kesal ke arah ibunya yang terlihat santai.
lika mendorong kening cindy " kamu itu nggak bisa di andalkan ya, bodoh sekali ! "
" sekarang tugas kita melenyapkan bukti termasuk melenyapkan pelayan jelek itu " imbuh lika.
mata cindy membola " mamih nggak waras? mamih mau membunuh pelayan itu ? "
" kalau kita nggak membunuh pelayan itu, bisa - bisa riwayat kita tamat, cindy ! " geram lika menatap gemas ke anak gadisnya yang dungu itu.
cindy berdecak " ini semua gara - gara mamih ! kalau aja kita nggak ngikutin ide mamih, pasti ariel masih hidup sekarang dan masalah nggak runyam kayak gini " kesal cindy. gadis itu menangis tergugu, tatapan nyalang gadis itu layangkan ke arah lika yang juga berkaca - kaca
lika menyeka sudut matanya yang basah " mamih nggak tau kalau kejadiannya bakal kayak gini cin," sesalnya.
" terus apa yang harus kita lakukan mih? rencana kita gagal total. dan kita juga kehilangan ariel " tanya cindy.
" kita pikirkan nanti, kita manfaatkan guru itu untuk membantu kita " ujar lika.
' aku harus meminta tolong Damian' batin lika bermonolog.
__ADS_1