Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
Balapan


__ADS_3

Haikal menghela nafas, menatap punggung hana yang semakin menghilang di balik pintu. dia memahami perasaan hana, dan tak mudah juga untuk memaafkan orang yang telah menyakiti sampai bertahun - tahun lamanya. tetapi haikal selalu berpedoman, tiada surga yang bisa dia raih selain dari telapak kaki seorang ibu dan tiada do'a yang mustajab, selain do'a keramat wanita yang telah berjuang mengeluarkan kepala sampai telapak kakinya.


" Tolong pahami perasaan hana " darrel menepuk pundak haikal.


melenggang pergi menyusul hana setelah mendapat Anggukan dari adik iparnya.


Haikal mendengus, melirik sebentar ke arah Evelyn yang dengan percaya dirinya hanya memakai tankini.


" Gue tahu elo cantik, elo badannya bagus tapi nggak usah di pamer - pamerin entar di gigit kalajengking, mampus lo "


Evelyn terkekeh, melirik sebentar dan kembali berkutat dengan ponsel tanpa berminat menyahut semburan pedas haikal.


" Ckkk, kepala batu " dumel haikal.


Evelyn mendorong punggung haikal hingga cowok itu nyaris membentur pintu kamar.


" Dumelin gue ? " Evelyn mendelik kesal


" Kaga' kaga', nih ada selilit di gigi " kilahnya


" Jorok " maki Evelyn dengan tatapan sebal.


" Elo nggak sekolah ? " tanya haikal.


Evelyn menggeleng " enggak ah, males... lagian juga shakti enggak berangkat "


" Ckkk.. shakti emang udah enggak sekolah dan beberapa minggu lagi mau di lempar ke oxford " terang haikal.


Evelyn mendelik dengan wajah terkejut, pelan badannya maju, bertolak pinggang dengan jari menuding ke bibir haikal.


" Gue jait mulut elo kalau ngomong sembarangan " sungut Evelyn.


Haikal menepis jari Evelyn. bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum setan " Tunggu minggu depan, kalau gue bohong gue rela jadi babu elo sebulan "


Evelyn terdiam dengan tatapan menyelidik, mau enggak percaya tapi haikal ngomongnya yakin banget. Evelyn menggeleng, menepis pikiran buruk di otaknya.


" Enggak, gue enggak percaya " Evelyn mengibaskan tangannya, melenggang pergi lewat pintu samping untuk berenang.


Haikal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan satu yang dia khawatirkan adalah kalau itu benar - benar terjadi, dia nggak bisa membayangkan bagaimana murka nya Evelyn.


Haikal berkacak pinggang, tatapannya terfokus ke jendela kaca besar dimana terpangpang cewek cantik nan menggairahkan itu sedang keluar masuk di permukaan air.


" Elo jangan ngerepotin gue loh shak, gue enggak mau kena cipratan ngamuknya pawang elo " gumamnya.


÷÷÷


" Sekolahnya memang gratis, tapi biaya di sana enggak gratis " terang pak catur.


" Tapi akan bapak usahakan untuk membantu kamu, shakti " imbuh pak catur.


Shakti menggeleng " apa aku batalin aja ya pak ? " pikir shakti


Pak catur menggaruk alis, meneguk ludah kasar dengan helaan nafas lirih " Enggak bisa. formulir kamu udah masuk di sana "


Shakti menunduk. dia jadi menyesal telah mengambil keputusan ini.


" Nanti saya pikirkan dulu pak, bagaimana? " nego shakti.


Pak catur berdiri, menepuk pundak shakti dengan senyum tipis " Ambil keputusan yang terbaik shakti. kalau kamu mengambil keputusan ini enggak akan ada ruginya. "


Shakti mengangguk, berjabat tangan sebelum keluar dari ruang konseling.


" Nyet "


Shakti menoleh ke belakang, di dapati haikal berlari ke arahnya.


" Evelyn mana ? " tanya Shakti celingukan.


" Bolos dia " jawab haikal dengan wajah nahan marah.


Shakti terkekeh dengan gelengan " masih di basecamp ? "


" Lagi cosplay jadi duyung " sahut haikal kesal.


Shakti tertawa " ada - ada aja sih "


" Gimana shak ? " tanya haikal


Shakti mengerukan kening " Gimana apanya ? "


Haikal berdecak, tangannya bergerak mendorong kening shakti " Elo jadi ke oxford? "


Shakti mengedikkan bahu " Nggak tau nanti, biaya hidup disana tuh mahal. belum ongkos pesawat, ongkos buat nyari penginapan. ashh. bingung gue " keluhnya mengacak rambut.


Haikal menggulung bibir " Entar malem ada balapan "


" Terus ? " tanya shakti menaikkan alis.


" Ckk... " toyoran mendarat di kening Shakti


" Elo ikut lah.. " sahut haikal dengan nada kesal.


" Gue mau lawan pake apa? motor aja kagak ada " sahut shakti dengan kekehan.


" Jangan kaya' orang susah beneran shak, motor iqbal ada, motor Brandon juga ada " omel haikal terdengar gemes.


Shakti mendesah, menyandarkan punggung di tembok. melirik ke arah anya yang datang nyamperin.


" Sayangku " sapa anya, berusaha menggapai pipi shakti.


Shakti menepis kasar tangan anya " Nggak usah sentuh - sentuh " galak nya.


Bibir anya manyun, menatap haikal dan shakti bergantian dengan tatapan kelinci.


" Gitu banget sih shak, gue kan kangen sama elo. semenjak elo pacaran sama cewek setan itu elo di monopoli sama dia " dumelnya


Haikal terbahak saat shakti mendorong kening anya " elu yang setan, gunanya ngrecokin orang mulu "


" ishh " gerutu anya, menghentakkan kakinya kesal.


÷÷÷


Tepat pukul satu dini hari.. shakti and the geng tiba di arena balap yang bertempatan di kawasan walikota. setelah berbagai pertimbangan dan bujukan teman - temannya, akhirnya shakti menyetujui untuk ikut tanding balap. imbalan nya enggak main - main, 50 juta cukup untuk biaya di luar negeri selama sebulan. sisanya dia nyari kerja di sana untuk menyambung hidup.


" Lawan elo kali ini bang galang " Celetuk Iqbal


Shakti dan haikal beradu pandang, saling meneguh ludah satu sama lain. Pasalnya, siapa yang enggak mengenal Galang samudera. Sosok lelaki dingin dan enggak beda jauh sama Evelyn, biang onar. Bedanya galang itu Evelyn versi cowok, lebih bringas dan lebih berani. jangan tanyakan soal balap berbalap, belum ada yang bisa ngalahin atau nandingin.


" Gue cabut dah " sahut shakti memutar badan


" Eitsss.. " Iqbal dan haikal menarik kerah jaket Shakti.


" Udah. lawan aja dulu. siapa tahu dewa Krisna lagi berpihak ke elo " usul iqbal.


" Iya shak, walaupun bang galang orangnya semrawutan, tapi dia enggak curang " sambung ifal yang memang satu tongkrongan sama galang.


Shakti mendongak, menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan. enggak yakin menang, tapi dia tetap mencobanya.


Kedua cowok tampan saling beradu tatap dingin. galang samudera, yang lebih di kenal oleh beberapa lautan remaja pecinta balap liar sebagai king of road. Cowok tampan dan maskulin yang mengendarai ninja klx berwarna hitam terkesan gagah dan kalau di gambarkan dengan bahasa, wonderful.


Galang menyunggingkan senyum sinis. wajahnya kelihatan mengejek dan terlihat tak suka.


Keringat dingin membasahi tangan shakti, melirik sebentar ke arah galang yang sudah menutup kaca helm dengan tatapan fokus ke depan.


Seorang gadis berbalut rok span di atas lutut di padukan dengan tanktop ketat, mengibarkan bendera. dan di bibirnya terselip peluit.


" One... two...priiittt "


Kedua motor besar melesat dengan kecepatan tinggi membelah dinginnya malam padat kota jakarta.


Shakti berdecak dengan kepalan tangan memukul kepala motor. dari jarak beberapa meter depan sana, galang menoleh dengan mengacungkan jempol kebalik. ngejek dia.


Shakti menggeram, menambah laju kecepatan agar bisa menyalip cowok menyebalkan di depannya.

__ADS_1


" Aaaaaa "


Hampir saja motor shakti menabrak seorang gadis kalau dia enggak segera membelokkan motor. dan itu nyaris membuatnya jatuh ke selokan.


" Asem " gerutunya memegang kencang stang motor.


Shakti menoleh ke belakang di mana seorang gadis yang hampir tertabrak itu langsung ngacir begitu saja.


Shakti putar kepala ke depan dengan bahu melemah, menatap nanar bokong motor galang yang udah jauh beberapa meter sana.


Dengan segenap kekuatan hati, shakti kembali menarik gas kencang. meluncur ke depan dengan tatapan fokus.


Sorak gembira menggema di udara saat galang meluncur melewati garis finish. ifal terkekeh saat motor shakti beberapa menit kemudian baru tiba di plank finish.


Senyum mengejek kembali terbit di bibir galang, menepuk kepala motor dengan raut wajah bangga.


Shakti mencebikkan bibir melirik jengkel ke arah kubu galang yang menyorakinya dengan sorakan ejekan


" Masih belum bisa bersihin ingus, gayaan nantangin bang galang " celetuk kubu galang.


" Jingan ! " iqbal bergerak maju.


" Nggak usah di gubris " shakti mendorong mundur tubuh iqbal.


Galang terkekeh, turun dari motor dengan wajah sengak.


" Gue udah ikhlasin tuh duit padahal. Sayang banget, kan ? "


Shakti memutar bola matanya jengah. berbalik badan dan merangkul tubuh haikal dan iqbal. " cabut "


Galang menggeram kesal, menatap tajam ke arah punggung shakti yang dengan seenaknya nyuekin dia.


" Gue lawan elo yang sepadan "


Galang memutar badan, mengerutkan kening dengan tatapan julid.


" Ckkk, kalau elo kalah, elo nambahin dua puluh juta " tantang galang menyeringai.


Deon excelle Nielsen, cassanova chartar buana. yang juga acapkali adu tinju dengan galang. jelas membuat galang seakan berdiri di atas puncak kalau benar - benar bisa mengalahkan center dari penjuru para genk.


" No problem " sahut Deon enteng, memposisikan diri di atas motor.


peluit kembali berbunyi nyaring di udara, menandakan perlombaan sengit itu start.


Deon menyunggingkan senyum, menurunkan kaca helm dan memutar gas. belum sampai melesat, mereka berdua lebih dulu adu geraman mesin membuat suara sorak heboh berseru melengking.


Bhruummmm


Bhruummmm


Enggak jadi pergi, shakti dan genk nya memilih menonton pertandingan itu. pertandingan langka dimana duo king beradu sengit.


Padahal dua orang yang lagi main kejar - kejaran, tapi shakti ikut deg - degan. bahkan keringat dingin kembali mengembun di sela kulitnya.


" Deon keren banget aseli " celetuk iqbal.


" Ckk, sekeren - kerennya dia kalau sandingannya bang galang semvak nya aja enggak bisa di bandingin " sahut ifal.


" Gue tau elo dengki banget sama Deon. tapi elo liat noh, " tuding haikal ke arah dua motor yang berselisihan.


Ifal merapatkan bibir, menatap kesal ke arah motor putih yang udah mangkir di garis finish.


" Crazy... crazy... crazy... double great " seru iqbal takjub.


Deon mengedipkan mata ke arah galang, saat dua menit kemudian cowok itu baru menyusul motor Deon yang sudah berada di garis finis.


" Kampret " celetuk iqbal di iringi gelak tawa saat wajah galang memerah.


" Come on man, it just game " ucap Deon saat galang melayangkan tatapan tajam.


" Asw " kesal galang, membanting dua gepok uang ke atas jok motor deon.


Deon terkekeh. santai, tangannya terulur mengambil amplop coklat itu.


" Najis " sungut Shakti mendorong tubuh Deon.


Galang menautkan alis, memperhatikan Deon yang masih bercanda dengan Shakti.


" Gue udah kaya,, jadi gue mau sodakaoh sama Anak yatim piatu " Deon menggeplak wajah shakti dengan satu gepokan uang itu.


" Ckkk " haikal menoyor kepala Deon.


" Gue enggak bisa nerima ini " shakti melempar uang itu tepat ke tangan Deon.


" Ckkk. belagu lo. gue bilang kan sodakoh, asw " kesal Deon.


" Mulut "haikal menampar bibir Deon.


Ifal melengos sebal, memilih mengarah pandang ke samping. dia enggak suka sama Deon dan mau cowok tengil itu berbuat sebaik apapun yang namanya benci ya tetep benci.


" Gue tau elo butuh duit buat ke oxford " Celetuk Deon


Shakti mengerutkan kening " elo tau dari siapa ? "


" Anya " jawab Deon santai.


Nah,, nah,, ini nih yang bikin ifal eneg sama Deon. dia kalah saing buat nangkringin dan ngandangin anya jadilah darahnya mendidih setiap bertemu cassanova buana.


" Ckkk... ember " gerutu shakti.


Deon terkekeh, melirik sebentar ke arah ifal yang menatapnya penuh kemarahan.


" Dia baik loh, cuma ya gitu.. rada.. rada otaknya.. gue cabut " seperti biasa, Deon nyelonong pergi begitu saja tanpa memperdulikan mulut shakti yang hendak bersuara.


" Ambil aja ! Rezeki enggak datang dua kali " Usul haikal dan di angguki iqbal.


" Rezeki anak sholeh " sambung iqbal dan di sahuti gelak tawa yang lain.


Galang menyunggingkan senyum. tepatnya bukan senyum mengejek ataupun senyum sinis. tapi lebih ke senyum kagum melihat kerukunan dan kesolidaritas mereka.


÷÷÷


Bibir Evelyn manyun sepuluh senti, menatap kesal ke arah dua pasangan yang baru turun dari mobil mereka.


" Nona, " seru jake,


Evelyn tak menggubris, memilih melenggang pergi ke dalam.


" Kenapa sih dia? " tanya rini heran


" Dia penginnya kita lama - lama di london mih " sahut laura dengan tawa kecil.


Rini mengerutkan kening " kok gitu ? "


" Kalau kita pergi dia bebas dong keluyuran " sahut laura.


Rini menggeleng, tak habis fikir dengan perilaku menantunya yang belum juga berubah.


" Loh, shakti mana ? " tanya rini celingukan di ruang tamu.


Biasanya memang si bungsu paling heboh kalau menyambut kepulangannya. jadilah rini heran karena tak mendapati si bungsu di depannya.


" Pergi " sahut kavian santai.


Rini melirik arloji yang menunjukkan pukul empat pagi " pergi kemana? "


Kavian mengedikkan bahu, berjalan santai menaiki tangga meninggalkan ibunya yang masih menatapnya penuh pertanyaan.


Rini melirik ke samping dimana laura yang menunduk sembari meremas jari, lalu mengarah pandang ke efras yang hanya diam seperti enggak kepo sama kepergian shakti.


" Ra " Panggil rini.


Laura memejamkan mata, menghentikan langkah saat mendengar panggilan yang bagaikan panggilan malaikat izrail, menakutkan.

__ADS_1


" Ada apa sebenarnya ? " suara yang lembut namun terdengar menuntut.


Laura berbalik, menyentak nafas kasar dengan tatapan frustasi


" Mih, maaf.. Shakti pergi dari rumah " Ucap laura sembari menggigit bibir.


Rini membola mata, berjalan cepat ke arah menantunya. untuk mendengar jelas kalimat yang terdengar membingungkan itu.


" Maksudnya apa? pergi dari rumah ? kenapa ? " suara rini terdengar meninggi.


" Di.. dia di usir kavi " terang laura.


Rini terlonjak mundur, dengan mata melotot sempurna " Kenapa ? " tanyanya lirih.


" Biar kavi yang jelaskan mih, ini ada hubungannya juga dengan Evelyn " terang laura.


" Sebaiknya mamih istirahat dulu. kita bicarakan nanti saja " titah efras, menarik tangan rini masuk ke dalam kamar.


Rini menepis kasar tangan efras " Pih " suara rini terdengar bergetar. matanya sudah berkaca - kaca. mendengar kesayangan di usir oleh kakaknya sendiri jelas membuat jantungnya seperti mau pecah.


Efras menghela nafas, mengkode laura untuk naik ke tangga.


" Mih,, biarkan ini mengalir apa adanya "


" Apa sih pih, mamih enggak mudeng. jelasin dong " Kesal rini dengan wajah yang sudah basah.


Efras terdiam, mengalihkan padangan dengan jari yang tertaut. tak berselang lama, kavian turun dari tangga.


Kavian bersedekap, dengan kedua kaki menyilang di atas sofa.


" Itu pelajaran buat pezina cilik itu " terang kavian.


" Kamu tuh ngomong yang urut biar mamih enggak pusing mencernanya " omel rini sesenggukan.


Kavian menegakkan tubuh, menatap sendu wajah ibunya yang sudah sembab.


" Mih, aku rasa ini keputusan yang terbaik. biar shakti Jera "


" Memang nya ada permasalahan apa? sampai kamu tega ngusir adik kamu ? " sewot rini.


Kavian menengadah, menatap lampu kristal berwarna putih. " Aku mergoki Evelyn di kamar shakti, hendak bercinta " terang kavian.


plak !


Satu geplakan lolos ke kepala kavian.


" Jangan ngelantur, putraku bukan pria kurang ajar " sewot rini.


" Terserah mamih, tanya saja dengan Evelyn " Sahut kavian kesal.


" EVELYN " teriak rini.


Sebenarnya lagi nguping, tapi Evelyn sengaja berlama - lama di kamar. tak langsung keluar karena yang pasti dia takut kena semprotan dari mertuanya.


" EVELYN " kini kavian yang berteriak.


" Setan ! " gerutu Evelyn lirih.


Dengan amat terpaksa, gadis itu pun keluar dari kamar. kepala nya menunduk saat tiga orang yang berada di ruang tamu menatap tajam ke arahnya.


" Apa ? " Sewot Evelyn.


" Duduk ! " titah rini dingin.


Evelyn menurut, mendudukkan pantat di seberang mertua dan suaminya.


" Apa benar yang di katakan kavian? " sungut rini


" Apa ? " jawab Evelyn memasang wajah polos.


" Aku tahu kamu nguping. nggak usah sok bodoh " ketus kavian.


" Ckkk " tatapan kesal di sertai decakan.


" Apa benar kamu bercinta dengan shakti ? " berang rini to the point.


Evelyn menggeleng keras, meneguk ludah dengan susah payah.


" Bohong ! kata siapa ? enggak ya, " sungut Evelyn


bugh


satu bantal mendarat di kepala Evelyn akibat ulah suaminya.


" Jangan belajar jadi penipu. lihat lah mih menantumu yang satu itu. selain bodoh, bebal, dia juga suka berbohong " sungut kavian.


" Orang bener kok, aku enggak kawin sama shakti. " Sewot Evelyn mendelik tajam suaminya.


" Ckkk.. " decak kavian kesal.


Rini mendengus sebal, menatap dingin ke arah Evelyn.


" Katanya suamimu mergoki kamu di kamar Shakti, mau kawin "


" Ishhh... gue enggak kawin. shakti cuma nyusu doang kok " kesal Evelyn.


Ketiga manusia dewasa itu sontak membelalak matanya. wajahnya terkejut mendengar pengakuan frontal Evelyn.


÷÷÷


" Ma, kata Evelyn mas kavi udah pulang. aku anterin ke rumah besar ya " ucap haikal dan di angguki oleh astrid.


Astrid mengelus pipi haikal, mengecup pipi itu dalam - dalam " makasih ya sayang, kamu mau maafin mama "


Haikal tersenyum, menyentuh tangan astrid yang berada di pipinya.


" Aku enggak ada dendam sama mama, karena aku nggak mau kehilangan surga aku "


Astrid terenyuh, matanya bertelaga dengan helaan nafas lega " apa ayahmu mau maafin mama? "


Haikal mengangguk " bapak enggak pernah menanamkan rasa benci ke kami. justru bapak selalu mengingatkan kami agar memaafkan mama. dan... dan.... bapak juga bilang kalau tuhan pun selalu memaafkan hambanya, apalagi manusia "


Astrid memecah tangis nya. wanita itu merengkuh tubuh Haikal dan mendekapnya erat. Astrid mengecup puncak kepala haikal bertubi - tubi menumpahkan keharuannya dan kebahagiaannya. betapa bangga dia memiliki makhluk sebaik putranya dan itu tak bisa di bandingkan dengan apapun. termasuk harta yang pernah ia nikmati. dan dia baru sadar, harta yang benar - benar berharga adalah seorang anak sholeh yang sanggup menuntunnya ke jalan yang benar.


Di celah pintu, Shakti dan kedua temannya tersenyum bahkan mereka bertiga sudah berkaca Matanya.


" Nyet, napa elo se berlian itu sih hatinya? " celetuk Iqbal menatap punggung haikal yang berada di dekapan astrid.


" Dia itu panutan kita yang patut di contoh " sahut shakti.


Ifal mengangguk " dia duplikat pak kusno "


Iqbal mendorong wajah ifal " orang dia anaknya "


" Beda loh sama hana, bar - bar, nyebelin, jutek, julid. pokoknya mines semua " sambung ifal


" Ckkk " decak shakti meninju bahu ifal


" Hana juga baik, bedanya dia nggak terlalu menonjolkan " sambung shakti.


" Itu sih baiknya cuma ke elu " sewot iqbal


ifal mengangguk setuju " ho'oh.. dia suka caper gitu ama elu "


Shakti tak menggubris, membalik badan dan pergi meninggalkan kedua temannya.


Mamih rini udah tau semua


Pesan singkat yang mampu membuat shakti terlonjak bahkan nyaris menjatuhkan ponselnya.


Serius, sayang ?


Shakti mendudukkan pantat di sofa, menenggak minuman dingin sembari menunggu balasan. mungkin sekitar lima menit balasan tak kunjung datang membuat shakti bergerak gelisah.

__ADS_1


" Apa gue pulang aja ya ? " gumam Shakti.


__ADS_2