Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
eps. 31


__ADS_3

bik siti memegangi dadanya yang terasa berdebar. bahkan nyaris melompat dari tempatnya. wanita Baya itu melebarkan mata begitu menyaksikan kemarahan yang mode singa garong itu. badan bik siti bergetar seiringan Keringat dingin yang mulai merembes di sela keningnya.


kedua manusia yang wanita itu hadapi sama mengerikannya.walaupun astrid tidak meledak - ledak, namun wanita tua itu memiliki mulut yang pedas dan mempunyai berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.


sedangkan Evelyn, bik siti sudah melihatnya sendiri. gadis itu akan melakukan kekacauan untuk melampiaskan kekesalannya. bisa saja, bik siti mengatakan yang sebenarnya bahwa astrid lah biang kerok dari perkara pemboikotan daging kecap itu. namun, bik siti belum siap kalau dirinya di pecat atau mendapat kesialan lainnya.


keduanya masih diam dengan posisi berhadapan. wajah Evelyn memerah menahan kesal yang sudah sampai ke ubun - Ubun. darah segar mulai mengalir dari sela - sela jarinya, bekas hantamannya ke tembok.


dia bukan tipe penyabar dan juga nggak suka di bohongi. jadi sangat mudah emosi dan kesal.


" non, " Landung berlari dari arah pintu belakang saat mendengar suara keributan yang ia dengar. Gadis berkulit sawo matang itu segera mendekat ke arah Evelyn, mengelus bahu nonanya dan menuntunnya untuk duduk di kursi pantri.


" sabar non,, "


walaupun baru beberapa bulan bersama nonanya, tetapi dia sudah hafal karakter gadis itu. yang gampang meledak namun juga gampang mendingin. nasib baik mereka, karena kedua tuan muda itu tak mendengar kekacauan ini yang memang letak antara dapur dan ruang makan agak jauh.


" nanti Landung yang masakin ayam kecapnya ya,, non berangkat ke sekolah saja ! sudah jam tujuh loh, " bujuk Landung


evelyn membuang muka. Tak mengatakan apapun, gadis itu memilih langsung pergi daripada berakibat fatal karena nggak bisa mengontrol emosinya. Evelyn menabrak bahu bik siti sebelum keluar dari ruang dapur itu membuat bik siti oleng nyaris jatuh.


Landung menyimpulkan senyumnya. gadis itu mendekat ke arah bik siti yang masih menunduk. Landung menghela nafas. kasihan juga dengan wanita baya itu, tetapi dia juga kesal dengan bik siti, karena tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


" bik ! "


bik siti mendongak dengan wajah yang sudah basah membuat Landung kian iba saja.


" jangan tanya apapun ndung, dan jangan melakukan apapun. kita di posisi yang sulit dan tak kuasa melakukan apapun " kata bik siti dengan suara bergetar dan terdengar sumbang.


Landung merengut sebal mendengar ucapan bik siti yang menurutnya kurang bijaksana. " seenggaknya kita bersikap jujur bik. jangan jadi pengecut loh. kasihan non eve, dia sudah menderita di tambah di kerjai sama bibik "


" saya ini opo to ndung. mana bisa saya melawan nyonya astrid. dia punya seribu ancaman dan saya nggak mau kena imbasnya. "


" wis karepmu bik, yang jelas saya nggak akan membiarkan kalian berbuat semena - mena sama tuan putri saya ! " Landung memberikan ancaman seolah - olah dia adalah pelindung yang akan bersiap melumpuhkan bahaya nona mudanya.


Landung menatap jengkel ke arah bik siti yang nggak punya rasa bersalah sama sekali ataupun menyesal. wanita baya itu hanya mementingkan dirinya sendiri.


" saya harus adukan sama nyonya rini, biar tau rasa itu nenek sihir " gumam Landung kesal.


÷÷÷


" nggak kerasa ya, ujiannya udah selesai ! "


cloe merentangkan kedua tangannya meregangkan otot - otot lehernya yang terasa pegal dan kebas. gadis itu mengambil kaca mengoles cream skincare dan lipstik.


" abis ini gue mau ke salon, mau pijat, lulur, spa, ganti cat kuku, ganti behel, ganti warna rambut " cerocosnya membuat livy terkekeh.


" nggak sekalian ganti ayang, tuker tambah gitu, misalnya " usul livy sesat.


" benar juga ya,, tapi enggak deh.. gue masih perlu doi buat jadi kang sopir "


livy menggelengkan kepala mengingat tingkah bodoh dari pacar cloe yang mau maunya saja di suruh ini itu. livy meletakkan ponselnya ke tas. gadis itu berdiri seraya menyampirkan tas ke bahu " gue cabut ! "


plak


" mati aja sana ! " omel cloe menendang pantat livy karena gadis itu dengan jailnya menggeplak kepalanya.


" bos, join kuy !" serunya heboh ke arah Evelyn yang tak di gubris sama sekali.


" bos ! "


cloe menepuk tangan Evelyn membuat gadis itu terlonjak kaget.


Evelyn menoyor kening cloe " ckkk. ngagetin ! "


cloe mengerucutkan bibir, tangannya bergerak mengusap bekas toyoran " lagian elu ngalamun terus dari tadi.. mikirin apa sih ? " gerutunya.


" kepo ! " Evelyn mendorong tubuh cloe membuat gadis itu terhuyung nyaris jatuh ke lantai.


cloe memukul meja, melampiaskan rasa kesalnya karena temannya itu sering menistakannya " untung temen, coba kalau bukan. gue jeburin ke got ! " omelnya seorang diri yang tak mungkin berani di katakan secara langsung.


Evelyn berjalan dengan langkah lebar, tatapannya lurus ke depan dengan sorot mata dingin. dagunya terangkat angkuh, membuat beberapa siswa yang berpapasan langsung menyingkir memberi jalan.


evelyn memasuki kantin yang saat ini ramai antrean, bahkan banyak yang berdesak - desakan. dengan se'enak upil dia menyerobot antrean, mengambil semangkok bakso pesanan temannya yang terletak di meja antre.


" woyyy,, bakso gua ! " seru anya lantang menggema di ruang kantin.


" ckkk, maling ! " gerutunya menghentakkan kaki kesal Karena panggilannya tak di di gubris oleh Evelyn.

__ADS_1


Evelyn mendorong tubuh samsul, mengkode cowok itu untuk bergeser. gadis itu mendudukkan pantatnya santai lalu menyambar mangkok sambal yang berada di tangan Ariel.


brakk


semua Pasang mata langsung tertuju ke arah anya yang berdiri tepat di depan meja Evelyn.


" balikin bakso gue ! "


Evelyn mendengus, meletakkan sambal dan berdiri menatap anya dengan wajah dingin.


" kalau gue nggak mau,, gimana? " tantang Evelyn dengan tangan bersedekap.


" ckkk.. babi.. songong dia ! " kata anya kepada temannya di sampingnya.


prangggg !!!!


" ambil tuh bakso ! " Evelyn menuding ke arah bakso yang udah berserakan di lantai.


mata anya membola sempurna. menatap tak percaya apa yang di lihatnya. matanya beralih ke arah lantai, dimana beberapa glindingan bakso beserta mie nya sudah tercampur rata dengan pecahan beling mangkuk.


" elo... ! " anya menuding wajah Evelyn, tak melanjutkan kata - katanya karena secepat kilat, vera l langsung menariknya pergi menjauh. semua warga negara 99 sudah mengenal baik seperti apa sisi gelapnya Evelyn. yang mana selalu membuat onar kalau sedang kesal. jadi, vera memilih aman saja daripada dia harus ikut kecipratan kemarahan Evelyn.


Evelyn menghembuskan nafas kasar, dadanya bergerak naik turun dengan nafas memburu. moodnya pagi ini sudah rusak gara - gara kelakuan orang rumah, ditambah lagi sikap menyebalkan kakak kelasnya, menambah moodnya semakin memburuk.


semua yang berada di kantin cepat mengalihkan tatapan, berlagak seperti tak terjadi apapun.


÷÷÷


Evelyn melangkah malas di sepanjang trotoar. sebenarnya belum waktunya pulang sekolah, karena setelah ujian ada yang namanya pembahasan lomba untuk kegiatan class meeting. dia nggak pernah ikut - ikutan acara itu, apalagi nimbrung di kelas hanya sekadar bahas masalah yang membosankan itu.


Evelyn berhenti di kedai yang menyediakan masakan padang yang terletak tak jauh dari sekolahnya. setelah melakukan pemesanan, gadis itu memilih duduk di bagian paling pojok ruangan.


mata Evelyn menyipit saat melihat seorang lelaki paruh baya yang berhenti di kedai itu.


" mbak, tahu baladonya sepuluh ribu ya " ucapnya ke mbak - mbak warung.


si embak hanya mengangguk lalu kembali berkutat ke pekerjaannya.


" bapaknya haikal kan ? " Evelyn menarik diri menghampiri bapaknya haikal .


cepat, bapak itu menoleh dengan wajah terkejut " loh, kamu kan temannya haikal kan yang kemarin itu ? "


Si bapak menggeleng " enggak, cuma beli lauk buat makan siang "


Evelyn manggut - manggut " nggak makan dulu ? "


bapak tersenyum seraya menggelengkan kepala" mau makan bareng anak - anak saja di rumah "


" temenin aku makan ya pak, nanti aku yang traktir " tawar Evelyn mengerjapkan mata lucu.


si bapak terkekeh, wajahnya kelihatan gemes banget sama gadis remaja di depannya. si bapak kemudian mengangguk membuat wajah Evelyn berbinar.


" bapak suka yang mana pak ? " tanya Evelyn menatap satu persatu lauk di depannya.


" bapak mah, apa saja doyan kok "


" mbak, tambah seporsi nasi, lauknya rendang sama capcay ya ! " pesennya ke mbak warung.


" sekolahnya sudah bubar ya ? " ucap bapak setelah sampai ke tempat duduk.


" belum bubar" sahut Evelyn dengan santai.


bapak mengerutkan kening " lahh, kok kamu sudah pulang ? "


Evelyn nyengir kuda " bolos ! "


si bapak menggelengkan kepala " ya sayang dong kalau bolos. sudah bayar mahal nggak dapat prestasi "


" udah selesai ujian, cuma tinggal bahas class meeting.. males lah "


si bapak terkekeh " justru itu saat - saat yang seharusnya nggak di lewatkan loh,, biar jadi kenang - kenangan."


Evelyn tertawa kecil, kepalanya menggeleng samar. mungkin yang bisa di kenang oleh Evelyn yaitu kegaduhan yang ia buat di sekolah.


" silahkan. ! " seorang pelayan pria meletakkan dua piring nasi beserta lauk yang tadi di pesan di atas meja.


" ayok pak, di makan ! " Evelyn menyomot satu paha ayam ke atas piring nasi.

__ADS_1


bapaknya haikal menatap sendu satu persatu menu itu. bapak beralih menatap Evelyn yang sudah menyuapkan makananya ke mulut.


" maaf ya nak, bapak nemenin kamu makan saja. nanti makanan bapak di bungkus di bawa pulang ! "


" bapak nggak suka ya makanannya? mau ganti menu lain? " tawar Evelyn di sela mengunyah.


bapak menggeleng cepat." suka kok, suka banget malahan. bapak hanya ke inget anak - anak kalau lagi makan enak. nggak bisa ketelen makanannya " jelasnya seraya terkekeh.


Evelyn tertegun, gadis itu meletakkan sendok nya ke atas piring. dia ikut terharu mendengar penjelasan bapak. ada rasa iri menyelimuti dadanya karena selama ini, dia nggak pernah mendapatkan kasih sayang tulus selayaknya.


" ya udah bungkus aja. kita makan di rumah bapak, gimana ? " usul Evelyn.


" memangnya nggak papa? " tanya bapak dengan wajah terlihat nggak enak.


Evelyn mengangguk senang.


" mbak bungkus aja ya.. terus tambah dua porsi. lauknya sama . daging sapi sama capcai " ucapnya ke mbak - mbak warung.


÷÷÷


" bapak jadi nggak enak loh,, rendang kan harganya mahal "


Evelyn mendudukan pantatnya ke kursi kayu yang miring yang juga ia duduki kemarin, gadis itu tak menyahut ucapan bapak. karena jengah sedari tadi bapak terus nyerocos ngomong nggak enak perihal harga rendang yang harganya nggak seberapa menurutnya.


tak berselang lama, hana keluar dengan masih mengenakan mukenah " loh pak, kok cepet pulangnya ? "


" iya, pelanggan lagi sepi. ambil piring ya han, kita sarapan dulu " bapak memberikan kresek ke hana.


" hana nggak sekolah ? "


ada raut sedih di wajah tua pria itu. bapak tersenyum kecut dengan mata yang sudah memanas " mungkin tahun depan, gantian sama haikal. bapak belum punya rezeki menyekolahkan mereka berdua bersamaan "


" dihh bapak nih, aku kan udah bilang nggak usah sekolah. sayang uangnya loh. biaya sekolah itu nggak murah pak. mending di tabung buat benerin rumah. buat apa anak gadis sekolah tinggi - tinggi kalau ujung - ujungnya juga di dapur " dumelnya dengan tangan sibuk menaruh hidangan di atas meja.


" jangan putus asa han, biarpun kita miskin harta tapi jangan miskin ilmu " protes bapak.


hana berdecak " aku nggak sepinter haikal loh pak, yang bisa sekolah pakek beasiswa. kasihan bapak banting tulang siang malem. kalau cuma buat biayain sekolah aku. "


bapak hanya menggelengkan kepala tak membalas ucapan hana karena gadis itu selalu kukuh sama pendiriannya.


" kalian seumuran? " tebak Evelyn disela menggigit ayam


" kita kembar " jawab hana yang juga sibuk menyuap daging


" bapak beli rendang? bapak dapat uang darimana? " tanya hana keheranan


" nak eve yang belikan, bilang makasih !" titah bapak


" makasih ya ve, sumpah ini enak banget loh. udah lama aku pengen rendang. bisa makan rendang cuma setaun sekali itupun dapet jatah daging qurban " tutur hana dengan tawa kecil.


Evelyn hanya mengangguk dengan senyum kecil. senyum yang jarang di perlihatkan ke orang lain " kalian cuma tinggal bertiga ? "


" iya,, bapak udah lama pisah sama istrinya" hana yang menjawab sedangkan bapak diam, sibuk dengan kegiatan makannya.


Evelyn manggut - manggut " eumh.. foto yang di kamar itu, ibu elo ? "


hana mengehentikkan gerakan tangannya. wajah yang tadi seneng ke ganti sama wajah datar dan kelihatan nggak suka sama pertanyaan Evelyn " dia bukan ibu gue ! "


" han ! " tegur bapak.


" pak, nggak ada seorang ibu yang tega ninggalin anak -anaknya " ucap hana dengan suara naik satu oktaf.


" biar bagaimanapun, dia ibumu. wanita yang telah mengandung dan melahirkan kalian berdua. jangan tanamkan rasa benci kepada ibumu, dosa han " nasihat bapak dengan suara melembut.


hana membuang muka lalu beranjak berdiri meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya. bapak mendesah. cepat - cepat, pria itu menghabiskan makanannya lalu menenggak air minum.


" kamu selesaikan makanannya ya, maaf atas sikap hana tadi. bapak mau sholat duha dulu " ucap bapak.


Evelyn mengangguk lalu kembali ke kegiatan makannya. " kok, gue nggak asing sih sama foto itu. " gumamnya lirih


÷÷÷


" jam segini udah pulang, kamu bolos ya ? " tuduh astrid mengacungkan jari


Evelyn memutar bola matanya malas. gadis itu tak menyahut, menelisik penampilan astrid yang sudah kini rapi. tatapan Evelyn terkunci ke leher astrid yang terekspos karena rambut wanita baya itu di ikat ekor kuda.


ada sebuah tahi lalat di leher wanita itu yang sama persis sama foto yang ada di kamar hana. Evelyn mengamati lekat - lekat detail wajah astrid. Evelyn menyadari kalau wanita di hadapannya ternyata memiliki wajah yang sama dengan foto ibunya hana . bedanya, wanita di depannya ebih terawat dan terlihat lebih cantik.

__ADS_1


" minggir !" sewot astrid menabrak bahu Evelyn yang diam mematung di depannya.


__ADS_2