
Haikal membolak - balik botol alkohol, sesekali melirik ke arah tangga dengan perasaan gusar. tadi si Tio teman siftnya mengatakan kalau pelanggan vip bernama Damian itu mengarak seorang wanita dewasa ke kamar atas.
Enggak yakin sama asumsinya, tetapi sesuai dengan ciri - ciri yang di sebutkan tio itu mengarah kepada astrid. Haikal menegakkan tubuh, saat seorang bodygoard menyambangi meja bartender nya.
" Beri aku alkohol dengan kadar tinggi " titahnya menyentak gelas ke atas meja.
Haikal mengangguk saja, kembali melirik ke atas tangga dimana Damian berjalan angkuh ke bawah dengan seorang wanita yang di perkirakan seusia astrid.
Udah dua kali liat mereka berdua jalan bareng, jadi bisa di pastikan kalau Damian memang memiliki hubungan khusus dengan seorang wanita cantik yang juga di incar temannya, pangestu anak buana karibnya Deon.
Kalau mau tau Lebih lanjut kisahnya selingkuhan Damian, bisa buka buku yang berjudul luka asmara, di aplikasi sebelah. tepatnya aplikasi warna kuning. sama, masih on going.
Sam mengarah pandang ke tatapan haikal
" Dia primadona di club ini " terang sam yang menebak jika haikal memiliki rasa dengan wanita tua itu.
Haikal terkekeh, menyodorkan segelas alkohol kedepan sam.
" Yang bening juga banyak, ngapain nggaet nenek bau tanah "
Sam jadi tertawa " Ya, kita sepemikiran "
Haikal menautkan alis " Bapak kacungnya om Damian kan ? "
Sam mendengus, tak suka di panggil kacung " Jaga mulutmu, bocah ! "
Haikal nyengir kuda " Kadang suka khilaf "
Sam memutar bola mata jengah, meneguk minumannya hingga tandas.
" Aku suka heran dengan atasan ku, dia sering gonta - ganti pasangan tapi enggak pernah kena penyakit "
Haikal tertawa kecil " Elo do'ain si boss kena penyakit ? "
" Minimal kena Gudig " sahut sam enteng.
Haikal terkekeh " Elu karyawan apa musuh ? do'ain bos sendiri kena aids? " haikal mencondongkan badan.
Sam mengecilkan bahu " enggak tahu. mungkin karena aku muak dengan dia jadi aku berharap dia mati kena penyakit "
Haikal menggosok hidung, melirik ke arah Damian yang sekarang berciuman brutal dengan risa.
" Istrinya si bos tau nggak kalau dia ngendelin L*nte? "
Sam mengangguk " Tau, dia bahkan ada di atas "
Haikal meneguk ludah kasar " Ngapain ? "
" Apa kau bodoh ? Jelas mencari uang berkedok mencari kenikmatan " terang sam menggoyang gelas yang kosong.
Haikal melotot terkejut " Serius elo? berarti dia jadi Kembang malam juga disini? "
Sam terkekeh " kau cerdas. wanita tua itu sangat hebat. dia bahkan bisa melayani tiga orang lelaki. aku juga sebenarnya ingin menjamahnya tapi sayang, bos melarangku "
Haikal mengepal kan tangan, menatap tajam ke arah Damian yang sekarang melenggang pergi keluar club.
Haikal menuang botol beer, memberikan kadar alkohol yang sangat tinggi kepada sam.
" Lu ada temen nya disini ? " tanya haikal
Sam mengangguk " ada. tapi mereka semua sedang bersenang - senang dengan para kembang selokan "
Haikal menyentak botol beer, melenggang pergi begitu saja meninggalkan sam.
Sam mengernyit saat tenggorokannya terasa terbakar, detik berikutnya kesadarannya setengah menghilang.
Haikal berlari kecil menaiki tangga, membuka deretan kamar satu persatu.
" Bajingan ! " umpat salah satu penghuni kamar, yang di buka oleh haikal.
Haikal tak menggubris, kembali membuka kamar satu persatu. tibalah dia kekamar paling pojok, kamar yang merupakan sebuah kamar vip yang paling berbeda dan tentunya lebih luas.
Haikal menarik handle pintu, membuka perlahan pintu itu hingga terbuka lebar. pemandangan pertama yang haikal lihat adalah seorang wanita cantik yang terbaring dengan keadaan tubuh polos.
Haikal mencelus hatinya, melangkah pelan, mendekati astrid yang tergeletak dengan kondisi tubuh memar.
" Tan..tante " ucap haikal menyentuh bahu astrid.
Astrid mendongak, matanya membulat saat mendapati putra nya yang tampan berada di depan matanya.
" Haikal " gumam astrid lirih
" Sayang ! " imbuh astrid berusaha bangun, namun sia - sia karena perut dan inti segitiga nya terasa ngilu.
" Tante " Gumam haikal dengan mata berkaca.
Astrid menyentuh pipi haikal, menopang badan dengan satu tangan. astrid berpegangan di bahu haikal dan dengan sigap, haikal merengkuh tubuh astrid.
" Sayang,, anakku " gumam astrid lirih dengan mata yang banjir air mata.
Haikal terpaku mendengar panggilan anak untuknya. " Tante gimana bisa kaya' gini? "
" Tolong, bawa aku pergi dari sini, sayang "
" Mamih nggak mau ada disini " pinta astrid memelas.
Haikal mengangguk, melepaskan jaket dan memakaikan nya ke tubuh astrid. Dengan gesit, haikal menggendong tubuh astrid membawa wanita itu keluar dari gedung club.
haikal sengaja meninggalkan motornya, memilih membawa astrid menggunakan taxi
online.
Di dalam perjalanan, haikal masih menatap sendu wajah astrid, wajah yang terdapat banyak lebam, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. " Apa om Damian yang melakukan ini ? "
Astrid mengangguk, masih menatap wajah haikal begitu intens.
" Kenapa dia ngelakuin ini? Apa tujuannya ? " haikal bertanya kesal.
Astrid menggeleng " Aku enggak tau, lebih tepatnya mungkin karena persaingan bisnis dengan kavian "
" Tapi apa hubungannya dengan tante? " tanya haikal bingung
Astrid menunduk " Karena aku bisa menjadi batu loncatan untuk mendapat kan keinginannya "
" Kita harus kasih tahu mas kavi " Usul haikal.
Astrid menggeleng keras " Jangan sayang ! . aku nggak mau menambah masalah. Damian pria licik dia bisa melakukan apapun yang dia mau. "
" Tapi kita enggak bisa membiarkan dia menang, dia pasti udah mempunyai siasat buat menghancurkan mas kavi "
Astrid mendongak " Aku,, aku belum siap di benci kavian dan laura "
" Apa hubungannya sih? lagian kan tante cuma korban disini " ucap haikal
Astrid menunduk, meremas jemarinya. menimang - nimang apakah dia akan bercerita dengan haikal atau tidak. tetapi hidup seseorang enggak ada yang tau. mengingat Damian adalah pria yang kejam yang sewaktu - waktu bisa menghabisi nyawanya.
" Sebelum hidup tante berakhir, tante akan menceritakan sebuah rahasia ke kamu "
Haikal diam, menyimak dengan serius ucapan astrid.
Astrid mengelus pipi haikal, matanya memanas dan dihatinya tumbuh penyesalan karena dia telah menyia - nyiakan anak sebaik haikal.
" Aku bukan astrid "
Haikal meneguk ludah dengan susah payah, masih terdiam menunggu kata yang akan di lontar kan oleh wanita di depannya.
" Aku ayu nak, ibumu ! " Ucap astrid menunduk dengan bahu bergetar
Haikal mengepal kan tangan menghalau sesaknya dada. gelenyar nyeri kembali menyusup ke dadanya. dia sebenarnya udah ngeh kalau astrid itu ayu hanya saja dia nggak punya bukti.
" Maafkan mama nak, mama khilaf "
__ADS_1
÷÷÷
Evelyn mendorong pelan kepala Shakti, mencium bibir cowok itu sebentar sebelum melangkah turun dari ranjang. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Evelyn yang memang terasa lapar berjalan ke arah dapur. memasak mie untuk dia santap. Dari sore belum makan karena dia harus ngelonin bayi besarnya jadilah dia kelaparan tengah malam.
Evelyn memakan mie dengan lahap sesekali menscrol sosial media.
" Uhukk " Evelyn tersedak kuah mie saat matanya menangkap satu foto dimana hana sedang berdempelan dengan darrel. dia lebih syok lagi liat caption bertuliskan ' Wanita masa depan '
" Maksudnya apaan? mereka jadian ? " tanyanya bingung
Klekk
Evelyn mengerutkan kening saat haikal masuk lewat pintu belakang dengan seorang wanita yang sangat Evelyn kenal.
" Si Ulet " celetuk Evelyn
Haikal hanya tersenyum tipis, membopong ibunya dan mendudukannya di atas sofa.
Evelyn menaikan alis dan dagu bertanya lewat telepati.
" Panjang ceritanya, sepanjang jembatan suramadu. entar kalau gue udah mood, gue cerita. Shakti masih di kamar ? " tanya haikal.
Evelyn mengangguk
" Shakti disini ? " tanya astrid
" Eh lu diem ya jangan bilang - bilang ke kavian ! " sungut Evelyn menuding wajah astrid.
Haikal terkekeh, mendorong telunjuk Evelyn dengan pelan " Enggak akan. bangunin Shakti gih, biar mama gue tidur di kamar"
Evelyn mengerutkan kening, melirik sebentar ke arah astrid yang mengangguk seraya tersenyum. Evelyn memasang wajah julid sejulid - julidnya lalu melenggang pergi setelah melayangkan tatapan tajam.
Haikal menggeleng dengan tatapan jengah.
" Wajar sih dia begitu. memang aku yang suka cari gara - gara sama dia " astrid menunduk.
" Mulai sekarang mama harus berubah ya " haikal berjongkok, memeluk tubuh astrid.
Astrid tersenyum, mengelus pipi haikal dan mengecup kening putranya " iya sayang, mama janji akan berusaha berubah "
Shakti menggeliat saat kepalanya di usap oleh Evelyn.
" Bangun, honey ! " ucap Evelyn mendudukkan pantat di ranjang.
" Mataku berat sayang " Shakti menarik tangan Evelyn, ngusel di dada dan kembali pulas dalam dekapan.
Evelyn mengecup kepala shakti " Ada astrid di luar, dia pengin tidur di sini "
Shakti melek seketika, mendongak untuk memastikan pendengaran nya enggak salah " Ngapain mamih astrid di sini ? "
Evelyn mengedikkan bahu " enggak tau, badannya pada merah - merah kaya' abis di pukulin "
Shakti termenung " siapa yang mukulin ? "
" Suaminya kali. yuk bangun ! kasihan dia. nanti kamu tidur di sofa aja " Bujuk Evelyn mengusap pipi shakti.
Shakti menunduk, melongok dada Evelyn yang sedikit terekspos " belum puas maem ini " tunjuknya.
Evelyn terkekeh " Kan besok - besok masih bisa "
Bibir shakti mencebik, menggigit dada Evelyn di balik kaos.
" Jangan di gigit ! udah perih loh kamu nggak mau lepas dari sore " dumel Evelyn.
Shakti nyengir kuda, beranjak bangun dan menarik tangan Evelyn. keduanya keluar dari kamar beriringan.
" Mamih " Shakti berlari mendekat ke arah astrid dan memindai tubuh wanita itu.
Astrid tersenyum, mengelus pipi shakti yang sedikit menghitam " Kamu gimana keadaannya shak? kamu kok kurusan sih? " astrid menelisik penampilan shakti.
Evelyn mencebik " itu gara - gara elo yang ngomporin kavian buat ngusir gue, malah adeknya yang di usir " sungut Evelyn menatap kesal ke arah astrid.
Astrid menunduk, memainkan jemarinya dengan mata yang kembali memanas " Maafin aku yah, gara - gara aku kalian jadi seperti ini. aku udah dapet balasannya dan mungkin ini teguran dari tuhan atas semua perbuatan aku "
" Udah mih, mamih nggak usah nyalahin diri sendiri anggap ini cobaan. sekarang mamih cerita ke kita apa yang sebenarnya terjadi " sahut shakti.
Astrid mengangguk, menceritakan kejadian dari awal sampai akhir tanpa kurang sedikit pun.
Haikal mengepalkan tangan, Matanya menyorot tajam dengan rahang mengerat " gue bersumpah bakal balas perbuatan dia "
Astrid mengelus puncak kepala haikal " Jangan sayang, mama nggak mau terjadi apa - apa sama kamu. dia itu lelaki yang kejam dan bisa melakukan apa saja "
" Jadi sekarang gimana kal? " tanya shakti
" Mungkin untuk sementara mama disini dulu dan gue ngomong ke bapak sama hana " ujar haikal.
" Elo mending pulang ke rumah besar, dan ceritain semuanya ke kavian. tapi nunggu do'i pulang dari london " ujar Evelyn
Astrid mengangguk " Iya benar kata Evelyn, dan aku harus mengatakan yang sebenarnya agar kavian berhati - hati dengan iblis itu "
" Ya udah mamih istirahat dulu ya. yuk ke kamar aku obatin lukanya " Haikal memapah astrid dan membawanya ke kamar.
Evelyn mengembangkan senyum, menatap kagum ke punggung haikal " Haikal kaya' malaikat yah, udah di sakitin dan di tinggal ibunya bertahun - tahun masih mau nerima ibunya dengan lapang dada "
Shakti menarik tangan Evelyn, Membawa gadis itu ke pangkuan " Iya, didikan pak kusno enggak pernah gagal. Tapi nggak tau kalau hana, bisa nerima mamih astrid apa enggak "
Evelyn berbalik, menghadap dengan kedua kaki mengangkang " Hana jadian sama darrel? "
Shakti mengangguk " Lamaran kaya' nya "
" Hah ? " pekik Evelyn.
Shakti tertawa, mengecup bibir Evelyn yang terbuka " kamu cemburu ? "
Evelyn menabok dada shakti " enggak lah, "
" Terus kenapa kaget gitu? " shakti menaikkan satu alis.
" Darrel kan masih sekolah. masa' mau kawin? "
" Mamih juga kayak gitu dulu, mendiang mamih astrid ibu kandung mbak laura juga dulu gitu katanya. Terus nas kavi juga nikah muda pas masih di universitas. mereka nikah muda semua " terang shakti
" Mamaku juga iyah dulu nikah pas masih kuliah, karena katanya papa kaya " Evelyn meletakkan telunjuk di dagu.
" Kita kapan ? " tanya Evelyn menempelkan dada.
" Kita jangan ngikut mereka. kita sama - sama dibuang jadi nunggu aku sukses dulu biar bisa nikahin kamu " Shakti mengapit hidung Evelyn.
Bibir Evelyn mengerucut " Kelamaan. entar kalau kavian buntingin gue gimana? " sewotnya.
" Ya kamu jangan mau lah " sungut shakti
" Ish,, kan gue sewaktu - waktu bisa khilaf. kavian kan ganteng, badannya bagus, pasti timunnya gedhe. aduhhh " pekik Evelyn saat si hadiahi jeweran.
" Berani ya kamu, macem - macem ! " ancam Shakti semakin kencang menjewer .
" Iya,, iya,, becanda doang kok " gerutu Evelyn mengusap telinga dengan bibir manyun.
Shakti merengkuh pinggang Evelyn, menyandarkan kepala di belahan dada Evelyn.
" Janji ya, jangan deket - deket sama mas kavi. aku udah berkorban kaya' gini. masa' kamu nggak ngehargain sih? "
Evelyn mengusap kepala shakti, mencium rambut hitam yang sekarang udah enggak kinclong, bahkan terasa sedikit kasar.
" Aku cuma becanda kok, kavian juga enggak bakal nyentuh aku. jangan khawatir yah ! " bujuk Evelyn.
÷÷÷
Braakkkk !
" Dasar bodoh ! "
__ADS_1
Damian menggebrak meja. menatap nyalang satu persatu para bawahannya.
" Dimana sam ? " sungut damian.
" Di...di kamar bos " sahut salah seorang bodygoardnya.
Damian berjalan lebar, tatapannya begitu tajam seolah menembus kepala lawan tatapnya.
Brakkk !
Sam terjengit kaget, mendorong seorang wanita yang berada di atasnya.
Sam mendengus, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut " Ada apa tuan ? "
" Dimana astrid ? " berang kavian.
Sam mengerutkan kening, berjalan sempoyongan dan memunguti pakaiannya.
" Di kamar " sahut sam memunggungi dengan tangan sibuk mengancing kemeja.
" Kalau ada, tak mungkin aku menyakannya " sentak Damian.
Sam berbalik badan, menatap datar ke arah tuannya yang acapkali membuat darahnya mendidih. dia tau dia bawahan tetapi dia tak suka di perlakukan layaknya anjing peliharaan
" Itu salahmu yang telah meninggalkannya sendirian " sahut sam datar.
Damian melangkah maju, menarik kerah kemeja sam dengan kencang.
" Lancang sekali kau, sam ! apa gunanya aku membayarmu ? "
Sam menepis kasar tangan Damian. dia begitu muak dengan pria bajingan di depannya " Kalau begitu, aku sendiri yang akan mengundurkan diri. dan cari istrimu sendiri ! "
Sam melenggang pergi, menabrak bahu temannya saat melewati
" Kejar dia, bodoh ! " bentak Damian.
" Lepaskan ! " sam berontak saat tangannya di cekal oleh rekannya.
" Maaf sam, kami hanya memenuhi perintah " sahut salah satunya.
" Apa kalian bodoh ? kalian hanya di jadikan kacung oleh setan keparat itu " sungut sam masih berontak.
" Tenang sam, semuanya akan aman jika kamu menurut " tegur yang lain menggeplak bahu sam
" Benar, patuhi saja perintah bos ! "
Mereka menarik tubuh sam, mendorong pria itu hingga berjongkok di depan Damian.
Damian menyunggingkan senyum mengejek. menatap tajam bawahannya yang berlutut di bawahnya. Damian meletakkan kaki ke kepala sam, menekannya kuat hingga kepala sam tertunduk nyaris mencium lantai.
" Aku tak suka anjing yang menggigit " Ucapnya dingin
" Maaf " gumam sam
Damian membahana " Hahahah... bagus sam ! kau memang kesayangan ku " ucapnya sembari menepuk - nepuk pipi sam.
Damian menarik kerah belakang sam, menyeret pria itu dan mendorongnya ke ranjang.
Damian menyunggingkan senyum, menarik paksa celana sam dan membuka kaki lebar - lebar.
Teman - teman sam meneguk ludah kasar, menatap iba tubuh sam yang tengkurap dengan posisi menungging.
Damian menarik resleting celana, mengeluarkan juniornya dan menyentak lubang belakang sam.
" Aaarrggggghhhh " pekik sam kesakitan
Dengan tanpa belas kasih, Damian terus menerjang lubang sebesar lubang semut itu dengan brutal membuat sam merintih kesakitan.
" Itu balasan untuk anjing nakal sepertimu " ucap Damian, setelah sampai ke pelepasan
Sam pria berwajah tampan dan maskulin, sangat menggiurkan bagi Damian yang juga menyukai sesama timun. dan itulah alasan kenapa sam menginginkan Damian kena penyakit gatal di timunnya.
Sam mengepalkan tangan, menoleh ke belakang dengan tatapan tajam.
÷÷÷
Di basecamp
" Ciyee,,, ciyeee " Iqbal dan ifal bersorak heboh.
Hana mendengus, menatap sebal ke arah iqbal yang terus bersorak norak.
" Gue lakban juga mulut lo " sungut hana
" Iihhhh ngeriiii besti " sahut iqbal dan ifal serempak. lalu bertos ria saat hana melayangkan tatapan kesal.
" Jangan gangguin bini gue " darrel mendorong kening iqbal.
" Kemarin sembur - semburan seblak, sekarang semburan air gula.. cuihhh.. jilat jigong sendiri " sahut iqbal menggebu - gebu.
Darrel tak menggubris. menarik tangan hana untuk duduk di sofa. lalu memeped tubuh hana dengan tangan berada di pinggang gadis itu.
" Ckkk " Haikal menoyor kening darrel.
Haikal melirik hana yang diam saja di perlakukan seperti itu lalu mendengus menatap sebal wajah darrel yang kelihatan sengak
" Elo belum dapet restu dari nyokap gue, berarti belum gue ijinin, lo ngawinin embak gue "
Darrel mengerutkan kening " Nyokap elo masih hidup? katanya udah mati "
" Ckk " haikal melempar kulit jeruk.
" Noh, orangnya di kamar. sana sungkem ! " tudingnya ke pintu kamar.
Hana dan darrel berpandangan lalu menatap bingung ke haikal yang wajahnya kelihatan enggak ada raut becanda sedikit pun.
" Sana ! " Omel haikal sembari mengunyah jeruk
Karena penasaran, hana dan darrel beranjak bangun. menghampiri kamar dengan langkah pelan.
Klekk
Pandangan pertama yang mereka lihat adalah seorang wanita cantik yang duduk menyandar di kepala ranjang.
" Han " sapa astrid dengan senyum manis.
Hana berhenti melangkah, terdiam terpaku dengan wajah terkejut.
" Tante astrid " gumam darrel.
Hana dan darrel kembali berpandangan,
" Tante astrid nyokap elo? " tanya darrel.
Hana terdiam, menatap lamat - lamat wajah astrid yang memang sama persis dengan ibunya, ayunda.
" Maksud haikal apa? " tanya hana dengan suara bergetar.
" Haikal udah cerita ? " tanya astrid.
" Dia cuma ngomong minta restu ke ibuku. dan... dan... Ashhh " hana melengos dengan wajah kesal.
" Elo ibu gue ? " sewot hana menatap Astrid kesal.
Astrid mengangguk lemah
Hana menyunggingkan senyum sinis.
" Masih nyuruh gue sungkem setelah apa yang udah lo lakuin? elo sehat kah ? "
Astrid menggigit bibir sembari menunduk.
__ADS_1
" Maaf " gumam astrid.
Hana tak menyahut, hadis itu melenggang pergi begitu saja dari kamar.