
" masya allah, cantik banget nonaku ini "
Landung berseru takjub, saat sepasang mukena telah membalut tubuh nona mudanya.
Evelyn lantas berkaca ke pantulan kaca besar jendela masjid. gadis itu menyentuh pipinya seraya tersenyum tipis. ya, memang cantik. malam ini Evelyn menerima ajakan shakty untuk sholat berjamaah di masjid.
ini pertama kalinya ia mengenakan mukenah dan sholat berjamaah. sedari bayi dia di asuh oleh perawat sampai menginjak remaja. di asuh oleh perawat yang juga minim ilmu agama dan minim pengetahuan.
saat masuk ke jenjang sekolah menengah pertama, pergaulannya mulai bebas karena tidak di dampingi oleh orang tua maupun sanak saudara. maupun suster - suster, hanya pembantu part time yang pulang pergi.
Setelah masuk ke jenjang sekolah menengah atas, pergaulannya mulai urakan, berteman dengan para preman dan anak jalanan membuatnya jauh dari mengenal ilmu agama.
seruan komat yang di kumandangkan salah seorang jama'ah membuyarkan lamunan nya. Evelyn menjadi gugup dan berdebar, pasalnya ia tak paham sama sekali mengenai gerakan maupun doa sholat.
" mbak, syaf nya di penuhi jangan kosong, nanti di isi setan " seorang wanita baya menyuruh Landung dan Evelyn untuk maju ke depan. syaf di depan Evelyn masih tersisa satu ruang kosong. Evelyn berdecak, saat Landung bergeser maju menempati ruang kosong itu.
Evelyn celingukan ke kanan dan ke kiri, raut bingung tercetak jelas di wajahnya. Persis seperti gambaran seorang balita yang berada di tengah - tengah para jamaah sholat.
gadis itu posisi nya di tengah - tengah yang mana kanan kiri nya jamaah wanita berusia sepuh. seruan takbirratul ikhram seorang imam menggema di ruangan masjid.
Evelyn melirik dengan ekor mata, menirukan gerakan jamaah yang lainnya. begitulah seterusnya sampai di posisi sujud, gadis itu tak beranjak sama sekali. tiba - tiba, Evelyn merasakan rasa perih di pantatnya, seperti ada orang yang memukul. cepat Evelyn beranjak, celingukan ke kanan dan ke kiri mencari siapa si pelaku. gadis itu terkesiap karena posisi jamaah lainnya sudah berdiri.
kesal, Evelyn bangkit berdiri dan keluar dari barisan syaf. tangannya bersedekap menatap jengkel ke arah barisan jamaah di depan. dia yakin, pasti satu di antara mereka yang sudah nabok bokongnya. 'ckk, ada gitu ya orang lagi ibadah sempet - sempet nya jail ' gerutunya dalam hati.
" assalamu'alaikum warrohmatullah, assalamu'alaikumwarrohmatulloh "
Evelyn masih berdiri di posisinya. seusai salam, seorang imam memimpin lantunan dzikir dan do'a.
" bocah gendeng, Sholat kok buat main - main. dosa lho mbak. nggak sah sholatnya " sungut seorang wanita sepuh yang di perkirakan berusia lebih dari setengah abad.
" maaf ya bu, kenapa ya sama majikan saya? "
tanya Landung keheranan.
" tuh ajari majikanmu untuk sholat yang bener. jangan celingak - celinguk . nggak sah sholatnya. " gerutunya lagi sambil menunjuk - nunjuk wajah Evelyn.
" ohh, jadi elo yang nabok pantat gue ? " tebak Evelyn dengan nada sewot
wanita sepuh itu tergelak, matanya membeliak mendapat jawaban Evelyn yang nyolot itu.
" sama yang lebih tua itu bicaranya yang sopan, mbak " tegur ibu - ibu yang lainnya.
" dia duluan kok yang rese. mau tua mau muda kalau salah ya salah " sungut Evelyn tak terima di salahkan.
Landung jadi bingung sendiri, gadis itu juga agak kesal karena wanita sepuh itu kala menegur terkesan kurang bijaksana.
" maaf, ibu - ibu. nona saya lagi sakit kepala jadi ngomongnya rada ngelantur " kilah Landung di hadiahi geplakan di kepala
" nyumpahin gue lo ! " sungut Evelyn, kian kesal saja karena art nya itu malah ikut menistakannya.
Landung menampar bibirnya " kadang suka khilaf non, nih udah di tampar ini. ayok pulang ! nanti di cari mas kavi " Landung segera mendorong pelan punggung Evelyn. takutnya nona mudanya akan ngereog. nggak lucu kan kalau ada sesi perjambakan, pergelutan di dalam masjid. bisa kena azab nanti.
" eh, bu.. ibu.. tau nggak, itu tuh si pelakor gatel yang ngerebut suaminya mbak laura. mantunya bu rini " seru wari lantang.
kaki yang sudah sampai di undakan masjid jadi terhenti. Evelyn menoleh ke belakang, dan di dapati beberapa ibu - ibu yang berdiri di belakangnya menatap sinis ke arahnya.
Evelyn mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh juga sesak yang berangsur memupuk di dada.
" ngomong sekali lagi lo,, ! " tantang Evelyn dengan mata menajam.
wari terkekeh, wanita baya yang rupanya teman satu tongkrongan tuti, itu mendekat. wanita itu bersedekap menatap sinis ke arah Evelyn yang menatap penuh amarah kepadanya. " aku suka heran ya sama pelakor jaman sekarang, suka terang - terangan menampakkan diri di depan umum. mbok ya ngumpet saja di kolong kandang kambing. biar tau kalau bau e'e itu sangat busuk. sama seperti pelakor, busuk dan bauk. cuma merusak pemandangan, bikin mual, bikin mau muntah "
plakk
sekuat tenaga, Evelyn menampar wanita baya di depannya. mati- matian ia menahan amarah dari tadi, malah di pancing - pancing sama mulut rongsok itu.
para jama'ah tampak tergopoh - gopoh keluar dari dalam masjid saat mendengar keributan diluar. mereka amat terkejut dengan pemandangan di depannya.
__ADS_1
" elo tau ulet bulu? ya, itu elo. mulut elo kayak ulet bulu bikin gatal bikin penyakit. gue pelakor ? iya gue pelakor. masalah buat lo? seenggaknya gue lebih mulia karena nggak ngotori tempat suci ini dengan hati busuk dan mulut comberan seperti kalian ! " berang evelyn menggebu - gebu.
shakty menepuk keningnya, bocah itu segera menghampiri Evelyn, sedari tadi Landung sudah berusaha menarik - narik tangan Evelyn agar pergi. namun rupanya, tenaganya tak sebanding dengan tenaga nona mudanya.
" ve, ayok pulang ! malu ! " bujuk shakty
" diem lo ! gue belum selesai ngomong " Evelyn mendorong shakty membuat bocah itu terhuyung.
" bagus, tolong ! kasih tau orang tuamu nak shakty kalau menantunya sudah berbuat onar di masjid. menyerang jamaah masjid " dusta wari.
Landung membeliak matanya " enak saja ! situ duluan yang cari gara - gara. "
" mereka saksinya loh, kamu menyerang saya. buktinya, ini nih pipi saya jadi lebam seperti ini karna ulah pelakor ini " sungut wari tak terima.
shakty menatap datar ke arah wari. bocah itu merengkuh tubuh Evelyn dan menyembunyikan di belakang tubuhnya
" bu wari, saya lebih tau dan lebih paham karakter kakak ipar saya. kalau ibu bukan orang tua, mungkin sudah saya tendang sampai ke atap masjid. tolong, jangan menyebarkan fitnah mengenai keluarga saya. atau saya akan tuntut anda ke pihak berwajib. saya nggak perlu menjelaskan apapun karna saya rasa itu kurang nyaman, mengingat itu sebuah privacy rumah tangga kakak saya. kami ikhlas, kami lapang dada menerima Evelyn sebagai bagian dari keluarga kami tanpa paksaan sedikitpun. dan juga atas persetujuan istri pertama. " jelas shakty membuat bu wari menunduk malu.
" pak anwar, saya mohon maaf atas keributan ini. dan mengganggu kenyamanan ibadah jamaah " shakty membungkuk dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada.
pak anwar tersenyum tipis " nggak papa mas shakty, mudah - mudahan ini jadi pembelajaran buat ibu- ibu agar tidak menyebar fitnah sembarangan "
" mari pak ! " pamit shakty berlalu dari masjid.
pak anwar dan beberapa ibu - ibu mengangguk dan tersenyum canggung. jelas sekali mereka sangat malu karena sudah berprasangka buruk.
" huuuu, bu wari nih keterlaluan ya, menyebarkan gosip yang tidak benar. untung mas shakty anaknya baik, bijaksana. kalau nggak udah abis bu wari di bawa ke kantor polisi " gerutu ibu - ibu dan di angguki oleh yang lain. mereka lantas meninggalkan bu wari yang masih menunduk seorang diri.
pak anwar menggelengkan kepala, raut wajahnya terlihat kesal dan jengah dengan tingkah bu wari yang suka sekali mengumbar gosip dan aib seseorang.
belum reda rasa kesalnya kepada bu wari, evelyn harus di buat kesal juga oleh pasangan bucin di depannya.
shakty mencibir " ve, pindah aja yuk, ke planet mars ! " celetuk shakty membuat pasangan yang bertindihan di ruang tamu itu menarik diri dan melepaskan pagutan bibir.
Evelyn hanya mendengus, gadis itu berjalan lebar menuju kamarnya.
Evelyn membanting pintu kamar, membuat semua orang yang berada di ruang tamu terlonjak kaget, memegangi dadanya. nyaris saja, jantung mereka melompat dari tempatnya.
" astaghfirullah, " shakty mengusap - usap dadanya dan menggelengkan kepala, lalu terkekeh saat mengingat wajah jutek evelyn kala mendapati suami dan istri pertamanya bercumbu.
Evelyn menghentakkan kakinya kesal merebahkan tubuhnya ke kasur dengan kasar " cihh, dasar bucin. nggak tau tempat. bikin mood gue tambah ancur, berantakan " dumelnya seorang diri.
" ishh.. nyebelin ! " Evelyn memukul - mukul kasur.
" kavian setan ! " gerutunya ke lampu kamar.
Evelyn menutup kepalanya dengan selimut, gadis itu meringkuk ke dalam selimut sambil tergugu. entah sudah ke berapa kalinya ia menghabiskan malam dengan kepiluan dan raungan tangisan. yang jelas ini lebih sakit dan teramat sakit dari malam - malam sebelumnya.
dia merasa nggak di hargai, nggak di cintai, dan nggak di inginkan. baru saja ingin bertobat, dia sudah di buat kesal oleh para ibu - ibu bermulut julid itu. sungguh cobaan mana yang lebih menyakitkan dari julukan pelakor.
lama menangis di dalam selimut, tak sadar ia sampai terlelap. entah sudah berapa jam dia tertidur. Evelyn tiba - tiba terbangun. gadis itu memegangi kepalanya yang berdenyut karena terlalu lama menangis dan dia lupa untuk makan malam.
Evelyn menarik diri, karena merasakan perutnya yang lapar. gadis itu keluar dadi kamar dan menuju ke ruang dapur.
Evelyn membuka lemari es lalu menenggak susu full cream 500 ml menyisakannya setengah. matanya menatap awas hidangan yang berada di dalam kulkas. gadis itu mendesah karena hanya ada sepiring rendang yang tersisa.
Evelyn melangkahkan kaki menuju ke deretan kamar art. tangan yang hendak mengetuk pintu berhenti, mengingat ini sudah pukul dua dini hari, yang mana para art pasti masih terlelap nyenyak. jadilah dia nggak tega untuk membangunkan.
Evelyn lantas ke lemari pendingin lagi mengambil dua roti tawar, telur, sosis, dan keju. aneh sekali rasanya kalau malam - malam begini membuat sandwich. tapi dia masa bodoh yang terpenting perutnya kenyang.
" sedang apa ? " suara berat dan dingin itu membuat tubuh Evelyn terlonjak kaget. gadis itu menoleh dan didapati kavian berdiri di belakangnya.
" ish, ngagetin " gerutunya dengan bibir manyun.
" ngapain malam - malam bangun,hm? " tanya kavian dengan nada lembut.
Evelyn mwngerutkan kening dengan wajah bingung. ' barangkali dia lagi kena sawan jadi ngonongnya rada alus' monolognya dalam hati.
__ADS_1
Evelyn menyelipkan anak rambut ke belakang " mau masak "
kening kavian mengkerut " memangnya bisa ? "
evelyn mengedikkan bahu " nggak tau "
kavian terkekeh lalu mencubit pipi evelyn dengan gemas. evelyn membeku, semburat merah muncul di kedua pipinya.
" aku juga lapar. kamu suka nasi goreng? " tanyanya dengan tangan sibuk meletakkan minyak ke atas wajan penggorengan
evelyn mengangguk " elo yang masak ! "
" hm " jawabnya singkat.
evelyn lantas duduk di kursi pantry, mengamati gerak - gerik suaminya yang lincah, berjalan kesana - kemari mengambil bahan makanan untuk di masak. pria itu tampak lihai mengiris bahan campuran nasi goreng yang terdiri dari sosis, bakso dan beberapa sayuran seperti sawi, dan kubis.
Evelyn terpana melihat wajah tampan yang khas bangun tidur itu dengan rambut sedikit acak - acakan, tampak manly dan mempesona. wajahnya yang sedang mode serius menambah point ketampanannya.
kavian menoleh membuat Evelyn salah tingkah karena jadi kepergok sedang memperhatikannya.
" aku tahu aku tampan " ucapnya percaya diri dengan senyum tengilnya.
Evelyn memutar bola matanya malas. gadis itu mengalihkan pandangan menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting goreng.
"done ! "
kavian menuangkan nasi goreng itu ke atas dua piring. setelahnya, pria itu membawa piring itu ke ruang makan. Evelyn masih diam mengamati sambil bertopang dagu. ya, dia akui menikmati moment ini. moment langka dimana suaminya bersikap lembut dan memasak makanan untuknya.
" cepat bodoh ! apa kau ingin mati kelaparan ? " suara lantang yang menyebalkan itu berhasil membuyarkan semangat kupu - kupu Evelyn. oh, baiklah dia tarik kembali rasa kagum nya kepada suami menyebalkan nya itu.
Evelyn mrnghentakkan kakinya kesal berjalan ke ruang tamu, dimana suaminya sudah Mulai menyantap nasi goreng yang terlihat menggiurkan itu. Evelyn menarik kursi, mengambil bagiannya.
" enak? " tanya kavian di sela mengunyah
Evelyn mengangguk cepat dengan mulut yang sudah penuh dengan nasi. memang sangat nikmat, rasanya begitu pas di lidah.
" ini nggak gratis ya ! " tutur kavian membuat Evelyn berhenti menyendok nasi
" elo udah kaya , masih minta bayaran cuma sepiring nasi goreng doang " protes Evelyn.
kavian terkekeh " aku nggak butuh duit. " senyum smirk terbit di bibir pria itu membuat Evelyn meneguk ludah dengan susah payah.
" t,,terus ? " tanya Evelyn dengan gugup.
" aku ingin bayi " jawabnya enteng
evelyn melongo, detik berikutnya sendok melayang ke arah suaminya walau nggak kena. membuat kavian tertawa lepas melihat kekesalan Evelyn, wajah merah dan bibir manyun itu membuat kavian gemas.
" itu kan perjanjiannya sebelum kita menikah ? " ucapnya seusai tawanya reda.
Evelyn berdecak " gue nggak peduli perjanjian konyol itu dan gue nggak sudi punya anak sama elo. "
kavian menaikkan satu alis " yaqin? "
" iya " sahut Evelyn mantap.
" kalau begitu, kita harusnya bercerai bukan? dan aku akan mendapatkan bayi dari wanita lain " ucap kavian datar.
Evelyn terdiam, iya benar. harusnya bercerai agar dia bisa bebas. tapi hati kecilnya mengatakan dia ingin tetap dirumah ini. rumah yang selalu memberikan kehangatan dan perlindungan untuknya.
" kenapa ? nggak mau bercerai denganku ? " tanya kavian saat melihat istri mudanya terlihat bimbang.
Evelyn menggeleng " nggak, entar kalau gue udah lulus "
kavian terkekeh " aku hanya bercanda ! "
Evelyn tak menggubris, gadis itu memakan nasi goreng nya dengan lahap. setelah habis, gadis itu beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
" hah " kavian menghela nafas dalam mengikuti punggung Evelyn yang perlahan menghilang dari balik pintu kamar.