
sumpah demi celana kolor nya samsul yang bergambar hello Kity, Evelyn lebih memilih di kelas yang terpisah dengan Shakti. pasalnya, cowok itu selalu mengawasi gerak - geriknya di kelas. Evelyn merasa udah kaya' cacing nyangkut di gulungan rambut, nggak bisa gerak leluasa seperti ada yang mengikatnya erat - erat.
Evelyn menoleh ke samping dimana Shakti duduk dengan tangan menopang kepala, memperhatikan kekasihnya yang lagi ngerjain soal yang shakti berikan.
Evelyn meneguk ludah dengan sangat susah payah, menundukan kepala dengan otak yang bekerja sangat keras. lama terdiam berpikir yang sama sekali nggak nemi jawaban, Evelyn membanting bolpoint
" susah " menyandarkan kasar punggungnya ke kursi.
shakti menarik buku Evelyn, mencoretkan angka dengan begitu santai nya.
" gampang " ucapnya, mendorong buku itu ke hadapan evelyn.
Evelyn mencondongkan kepala dengan mata mendelik, lalu beralih menatap shakti yang diam sembari menatapnya.
" soal panjang kali lebar kali tinggi jawabannya cuma satu angka ? " tanya Evelyn.
shakti terkekeh " makanya yang cermat ngerjainnya. sebenarnya gampang kok, ini tuh soal materi dasar banget loh. kamu kalau mau ngerjain di pahami dulu soalnya. kalau soal penjumlahan dan pengurangan kamu tinggal itung langsung tapi kalau ada perkaliannya sama pembagiannya kamu itung dulu yang perkalian dan pembagian itu. nanti kalau udah ketemu baru di jumlahkan dan di kurangi " terang shakti panjang kali lebar sepanjang soal latihannya.
Evelyn hanya melirik jengah soal itu, sebenarnya memang mudah cuma Evelyn aja yang nggak mendengarkan baik - baik penerangan shakti jadilah dia nggak bisa - bisa paham.
Shakti merengut kesal. pasalnya bukannya menyimak, Evelyn malah bertopang dagu memperhatikan bibirnya yang nyerocos panjang.
" jangan mesum terus biar otaknya waras " mengatakan itu setelah memberi sentilan di kening.
bibir Evelyn mengerucut, menampar paha Shakti setelah mengusap bekas sentilan itu " ngejek nya gitu banget, siapa yang mesum coba ? "
shakti hanya tertawa, tangannya menarik buku Evelyn dan menuliskan kembali latihan soal.
" kerjain yang bener ! " titahnya, mendorong pena dan buku tulis.
Evelyn kembali menatap malas soal itu, dia lebih milih gelud cakar - cakaran tinimbanh ngerjain soal matematika yang kudu muter otak sampe teler. kepala evelyn melengos ke samping seolah menolak mengerjakannya.
shakti berdecak, tangannya bersedekap dengan tatapan kesal.
" sayang ! " panggilnya selembut mungkin. sebenernya udah gemes banget pengin gethok kepala Evelyn pake palu supaya tepurung otaknya rada geser kalau perlu amnesia dari sifat kebengalan yang gadis itu miliki. tapi sayang seribu sayang sifat kebucinannya nggak bakal tega melakukan itu.
Evelyn mengulum senyum, belum menoleh karena tau kalau cowok itu sedang berusaha membujuk.
" ayok kerjakan, kamu udah kelas dua belas loh. emang mau tinggal kelas kayak anya ? "
kening Evelyn mengkerut, pelan kepalanya bergerak menoleh shakti dengan tatapan bingung.
Shakti menuding ke arah anya yang duduk di pojokan. rupanya gadis itu sedang memperhatikannya.
" dia enggak lulus " terang Shakti.
Evelyn mengarahkan pandang ke telunjuk yang kekasihnya. tangannya bergerak menutup mulutnya yang menganga. tersenyum sinis ke arah anya yang memasang wajah jutek ke arahnya.
" kalau enggak lulus kenapa di masukkan ke kelas unggulan? " Evelyn berbalik untuk menatap ke arah Shakti tepatnya meminta jawaban.
shakti mengedikkan bahunya " sebenernya sih dia pinter cuma kemarin pas ujian dia enggak berangkat "
Evelyn manggut - manggut. matanya melotot tajam saat anya datang menghampiri
" gosipin gue lo shak ? " anya mencubit pinggang shakti.
Evelyn menarik tangan shakti memepedkannya ke tubuh lebih tepatnya si kaya' meluk. enggak sudi kalau seujung kukupun kekasihnya di sentuh oleh cewek lain. eumh posesif.
" jangan asal pegang ! " sewot Evelyn
" siapa lo? bininya ? " tanya anya dengan nada sewot.
" ckkk, " bangkit berdiri dan memasang wajah tak bersahabat.
" dia calon suami gue, ngerti ! " sahut Evelyn, dengan nada dingin.
anya terbahak dengan gelengan kepala. wajah anya kelihatan ngeledek banget. dan itu membuat Evelyn mengepalkan tangan.
" nggak usah ketawa ! sekalipun ketawa itu gratis, gue nggak ngijinin elo ketawa di hadapan gue " sungut Evelyn.
shakti berdiri, menekan bahu Evelyn untuk duduk " nggak usah di ladenin, dia emang suka kadang - kadang " melirik jengkel ke arah anya yang masih terbahak.
" gue nggak salah denger? hah ? hahahah " pertanyaan anya yang terdengar meledek dan mampu membuat darah Evelyn kembali mendidih.
Evelyn kembali berdiri dengan tatapan yang lebih tajam, menatap anya penuh dengan kekesalan.
" anya ! " sentak shakti. cowok itu memberikan tatapan peringatan dan mengkode anya untuk diam. shakti tau, kalau mood Evelyn lagi enggak baik - baik saja. dan dia nggak mau ada kegaduhan di kelasnya terlebih si pelakunya adalah kekasihnya sendiri.
anya justru tersenyum setan, sengaja banget merangkul pundak Shakti. anya ini tau kalau si Evelyn itu terkenal dengan emosi yang meledak - ledak. jadilah dia kepengin memancing emosi evelyn.
" by the way elo kan yang di juluki anak - anak, pelakor? " tanya anya dengan sunggingan senyum. sebuah senyum sinis yang terkesan mengejek.
" sok tau lo ! " sungut Evelyn.
" shak, bener kan tuh cewek bininya abang elo ? " tanya anya memainkan helaian rambut Shakti.
shakti mendengus, menepis tangan anya lalu melirik Evelyn yang udah pasang muka harimau lepas.
__ADS_1
" dan dia ngomong apa tadi ? elo calon suaminya dia ? nggak salah ? " anya geleng kepala dengan kekehan
" najis banget, nggak tau diri baget udah nyandang predikat pelakor dan sekarang ngaku - ngaku pacarnya Shakti.ckkk aseli najis beneran. " makinya menatap jijik ke arah Evelyn.
di katain sedemikian rupa oleh cewek yang bermuka songong dan gatel kaya anya jelas membuat darah Evelyn meledak - ledak.
dengan sekali gerakan, rambut anya yang di ikat ekor udah sudah berada di genggaman Evelyn.
" aaaa " pekik anya, memegangi rambutnya yang di tarik kencang oleh Evelyn.
shakti panik seketika, cowok itu berusaha melepas cekalan Evelyn.
" sayang, lepasin ! " bujuk shakti melepas tangan Evelyn.
" elo di diemin makin nyolot ya ? gue tau otak laknat elo. gue tau kalau elo mancing - mancing gue kan? Elo pengin lihat kemarahan gue kan? nih gue kasih liat seberapa menakutkannya kemarahan gue " berang Evelyn menggebu - gebu.
semua penghuni kelas yang sedari tadi hanya menyimak jadi memusatkan perhatian ke arah tiga orang yang berdiri.
haikal bersama ifal dan iqbal ikut berdiri. berlari cepat ke arah dua gadis yang sekarang lagi adu jambak. mereka menarik tubuh anya yang terguncang karena terkena jambakan mautnya Evelyn.
shakti menarik tubuh Evelyn, membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
" sabar, sayang ! jangan kayak gini " bujuk shakti seraya mengelus punggung Evelyn.
mata Evelyn memanas, masih menatap tajam wajah anya yang sudah menangis di rengkuhan ifal.
" shak, ajarin cewek setan itu yang namanya adab. " sungut ifal menatap tajam ke arah Evelyn.
" diem setan ! " bentak shakti. tak terima kekasihnya di katai setan.
" mending elo bawa anya keluar sebelum gue sendiri yang ngasih pelajaran ke cewek sinting itu " tuding shakti ke arah anya.
iqbal menarik kasar tangan ifal dan di ikuti oleh anya yang mengekor di belakang.
haikal menghela nafas, menatap iba ke arah Evelyn yang kini sesenggukan di pelukan shakti.
" jangan di ambil hati ve, anya emang anaknya kayak gitu. " ujar haikal.
Evelyn tak menyahut, gadis itu terdiam dengan wajah yang semakin basah. Shakti memejamkan mata, hatinya begitu sakit mendengar isak tangis kekasihnya, lebih sakit lagi mendengar penghinaan dari mulut orang lain
" di mata aku, kamu cewek paling berharga yang pernah aku temuin. jangan dengarkan kata orang lain. cukup dengarkan apa yang aku katakan " ucap shakti, melerai pelukan dengan kedua tangan yang membingkai wajah Evelyn.
÷÷÷
kavian menghempaskan tangan dari cekalan laura. pria itu berbalik badan dengan kedua tangan menekuk di pinggang.
kavian menyunggingkan senyum " nggak ada yang perlu di jelaskan ! semuanya sudah jelas kan, kalau aku nggak pernah di anggap penting oleh kamu "
laura mendengus, tangannya menyilang dengan tatapan kesal " kamu kampungan tau nggak ! "
cepat, kavian berbalik badan dengan wajahnya terlihat marah mendengar cemoohan yang berupa hinaan.
" ulangi sekali lagi ! " titah kavian dingin.
" kamu kam- pu- ngan. kamu selalu bersikap kekanakan nggak mau mendengar dulu penjelasan orang lain. " sahut laura dengan suara lantang.
brakkk !
kavian menendang meja cukup kencang, melampiaskan kekesalannya yang sedari tadi ditahan nya.
" kau !" kavian menuding tepat di wajah laura.
" apa ? " tantang laura.
" oh ya tuhan ! jadi aku yang salah disini ? " barang kavian.
" kamu nyalahin aku, nyalahin sesuatu yang belum jelas kebenarannya. kamu menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya " sahut laura dengan nada kesal.
kening kavian mengkerut, " jadi kamu belum paham dengan kesalahan kamu ? "
kening laura ikut mengkerut " kamu marah karena aku makan siang sama client ku, begitu kan ? "
kavian tertawa sumbang " dasar bebal. aku tak masalah sekalipun kau makan dengan semua client mu tapi satu hal yang perlu di ingat, kau harus meminta izin terlebih dahulu dengan ku " ucapnya seusai berhenti tertawa.
laura terkekeh " ayolah, hanya hal sepele seperti itu kamu menjadi marah besar. aku lupa hon, lagi pula aku hanya makan siang dan itupun sebentar " ku lah laura.
kavian manggut - manggut, menggigit gigir dengan wajah yang frustasi " oke, berarti memang aku tak pernah ada harganya sebagai seorang suami. semua nasihat dan perkataan ku tak pernah kamu hiraukan ataupun kamu turuti. dan aku, sudah benar - benar gagal menjadi suami yang tak bisa mendidik istriku sendiri " melenggang pergi setelah mengatakan itu.
laura terkesiap. hatinya tiba - tiba terselimuti perasaan sesal. dia memang sering mengabaikan perkataan suaminya dan lebih parahnya dia sering tak mematuhi perintah suaminya termasuk meminta izin sebelum pergi. padahal salah satu kewajiban seorang istri adalah meminta izin jika ingin keluar rumah.
laura merosot, terduduk ke sofa. wanita itu memejamkan mata dengan sentaan nafas kasar. matanya beralih menatap ke arah tangga dimana suaminya sudah menghilang di balik tangga itu. tak berselang lama, kavian menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. pria itu mengenakan celana jeans berwarna hitam di padukan dengan kaos hitam serta merta jaket putih yang membalut tubuh atletisnya. sangat pas di badan dan terlihat tampan.
" mau kemana ? " tanya laura saat kavian berjalan melewati.
kavian tak menyahut, pria itu melenggang pergi begitu saja menuju ke luar pintu.
" ckkk " decak laura saat mendengar deru mobil melesat dari garasi.
__ADS_1
÷÷÷
mobil yang kavian bawa berhenti di sebuah restoran yang menyediakan makanan cepat saji.
" silahkan mas, mau pesan apa ? "
kavian yang sedari tadi menunduk sontak menoleh saat mendengar suara yang begitu familiar tertangkap pendengarannya. kavian terkekeh saat ternyata pemilik suara itu adalah angel.
wanita itu tertawa, mebabok lengan kavian dengan kencang " serius amat sih, lihatin apa? sampe nggak nyadar ada aku di sini "
kavian menggaruk tengkuknya " nggak, kamu udah lama datang? sendiri atau ? "
laura menoleh ke belakang mengkode seorang bocah cilik perempuan yang berkisar lima tahun untuk mendekat
" aku sama adel, "
" hallo ! " sapa kavian, menunduk mengelus kepala adel.
" hallo om, " sahut adel dengan tawa lucu yang terlihat menggemaskan.
kavian tertawa, pelan tangannya mencubit gemas pipi adel " cantiknya ! "
adel memberengut sebal dengan tangan menyilang menatap penuh kejengkelan ke arah sosok pria tampan di depannya
" ngecelliinn " omel nya mengundang gelak tawa.
" istrimu mana kav ? " tanya angel celingukan.
" aku sendirian " sahut kavian.
angel menarik sudut bibir samar, " boleh dong gabung "
kavian mengangguk, menggeser kursi yanh berada di sampingnya.
" adel mau cama om ganteng, mommy " rengek adel.
" adel, enggak sopan sayang " tegur angel.
bibir adel manyun, melirik ke arah kavian yang tersenyum ke arahnya. " boleh ya ! " izinnya dengan kepala yang dimiringkan.
gemas, kavian menjawil dagu adel, membopong bocah kecil itu dan memang ku nya.
angel membuang pandangan untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. tetiba perasaannya menghangat melihat pemandangan di depannya.
adel yang bermanja - manja dengan kavian terkesan seperti seorang anak yang sedang bermanja - manja dengan ayahnya. angel tak menampik bahwa sosok pria di depannya itu sangat sempurna dari segi fisik maupun finansial. tetapi yang membuat angel kesal adalah dia nggak menyadari perasaannya dari dulu padahal mereka terbilang sangat dekat. dan sialnya dia malah lebih memilih Aaron yang brengsek dan kere itu.
cekrekk
Damian menyeringai iblis " kalau aku nggak bisa menghancurkan perusahaan mu, aku akan perlahan - lahan menghancurkan kehidupanmu. salahkan dirimu yang berani - beraninya bersaing denganku " gumamnya.
tak berselang lama seorang pelayan terlihat datang menghampiri kavian. dengan telaten, pelayan muda itu meletakkan menu pesanan yang di pesan.
" om, mau ayam ! " tuding adel ke arah ayam uang di goreng dengan tepung.
kavian tersenyum dengan tangan terulur mengambil sepotong ayam crispy itu.
" cuapin " mintanya manja.
kavian terkekeh, tangannya bergerak menyuwir ayam itu dengan telaten, lalu menyuapkannya ke mulut adel.
" enak ? " tanya kavian dan di angguki oleh adil. detik berikutnya adel kembali membuka mulut lebar - lebar menyambut suapan tangan dari kavian.
" adel, turun sayang ! kasian om kavi loh, dia juga lapar pengin makan " tegur angel menarik - narik tangan adel.
adel menepis kasar tangan angel, berbalik badan untuk memeluk kavian dengan posesif. kepalanya ia sandarkan ke dada bidang kavian.
" enggak papa, justru aku senang melakukannya. sudah dari dulu aku ingin merasakan moment seperti ini " terang kavian kembali menyodorkan suwiran ayam ke mulut adel.
angel mengulum senyum " eumh, maaf ya kav, mungkin karena adel kurang kasih sayang dari ayahnya jadi dia suka begitu ke orang dewasa. "
" oh iya apa istrimu mandul.. engghhh bukan.. bukan. maksudku .. aduh gimana yah ngomongnya " angel membenarkan posisi duduknya, seakan menjadi gugup karena salah bicara.
kavian tertawa kecil " enggak, dia nggak mandul. dia subur dan sehat hanya saja dia belum ingin mengandung "
kening angel mengkerut " kenapa? "
kavian mengulas senyum tipis " dia masih mencintai karirnya. dan katanya belum siap kalau mempunyai anak "
angel menggelengkan kepala dengan kekehan wajahnya menunjukan bahwa dia sangat heran " aneh ya, aku aja dulu hampir gila loh karena sekian lama menunggu sekitar satu tahun lamanya aku belum juga hamil. aku sampe program hamil loh kav, bayangin aku harus bolak - balik ke dokter buat cek kesuburan. " curhatnya antusias.
kavian manggut - manggut " tante sari pernah cerita sepertinya "
" nasinya enggak di makan ? " tanya kavian saat adel mendorong suapan sendok berisi nasi.
" kenyang " jawab adel dengan tangan menepuk - nepuk perutnya.
kavian terkekeh, pelan kepalanya menunduk. tersenyum kecil saat adel juga menatapnya dalam. Kavian mengecup singkat puncak kepala adel. Rupanya wajah cantik gadis kecil itu seakan membuat keinginan kavian memiliki seorang anak semakin menggebu - gebu.
__ADS_1