Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
SAH Season 2


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu


Kondisi kavian sudah semakin membaik Karena pada dasarnya dia hanya mendapat pukulan ringan dan Hanya memerlukan pemulihan saja. Berbeda dengan Astrid Yang kondisinya masih belum pulih. kepalanya masih di perban, badannya juga masih lemas dan membutuhkan waktu sedikit lama untuk pemulihan.


Ruang rawat Astrid dan kavian bersebelahan. Terletak di lantai atas yang mana merupakan ruang kelas vip yang menyediakan pelayanan terbaik. Baik dari segi ruangan maupun penanganannya.


Pak Kusno mengatur suhu ruang kamar. menoleh ke belakang saat astrid melenguh. Pria baya itu mendekati ranjang, memencet bel yang terletak di bagian sisi kepala ranjang.


" Yu " Ucap pak kusno saat Astrid membuka mata.


Astrid menoleh cepat, matanya memanas saat bertubrukan dengan mata teduh pria bak malaikat yang datang di saat dia terdampar di hamparan kosong.


" K.. kusno " Gumam astrid dengan suara bergetar.


Pak Kusno tersenyum, menoleh saat seorang dokter menghampiri ranjang. dengan serius, pria seusia pak kusno itu memeriksa kondisi astrid.


" Bagaimana bu astrid, apa masih pusing atau nyeri kepalanya ? " Tanya dokter bername tag Fadli.


" Hanya sedikit pusing dok " Jawab astrid menyentuh sisi kepala yang di perban.


Fadli mengangguk paham " Alhamdulillah kondisi ibu astrid sudah semakin membaik. jika perban sudah di lepas, Bu astrid sudah boleh pulang " Jelasnya.


" Terima kasih dok " Sahut Pak kusno


Fadli tersenyum tipis, lalu meninggalkan ruangan setelah memberikan beberapa butir obat dan juga nampan berisi makanan. yang mana karena memang sudah masuk waktu makan siang.


" Apa yang di rasa yu? " Tanya pak kusno lembut.


Astrid menunduk, memainkan kain selimut dengan bulir bening yang perlahan menetes.


" Masih sedikit pusing " Jawabnya lirih.


Pak Kusno mengambil nampan, menyodorkan nampan itu ke pangkuan astrid


" Makan dulu ya "


Astrid mendongak " Kus "


" Iya "


" Ka.. kamu udah tau ? " tanya astrid hati - hati


" Tentang ? " Kening pak kusno meliuk.


" Jati diriku "


Pak kusno tersenyum. menunduk seraya menghela nafas lirih.


" Iya " sahutnya pelan.


" Maaf " Gumam astrid


Pak Kusno terkekeh " Istri mana yang tahan kalau hanya di kasih lauk daun singkong yu "


Astrid jadi tertawa, Menepuk pelan tangan pak Kusno yang berada di sisi ranjang.


" Mungkin aku yang serakah kus, tak bersyukur dengan nikmat yang tuhan kasih dan Tak bersyukur memiliki suami se sabar kamu "


Pak Kusno mengulas senyum tipis " Lupakan lah masa lalu yu, aku sudah berdamai. hanya saja mungkin hana yang belum bisa berdamai. Tapi, hana adalah gadis yang mudah luluh asalkan kamu mau pendekatan dengannya "


÷÷÷


Pernikahannya memang siri dan diresmikan nanti sehabis shakti menyelesaikan wisuda di oxford. Tetapi, Untuk Acara ijab sendiri enggak sederhana enggak seperti dulu saat pernikahannya dengan kavian yang hanya di selenggarakan di Kediaman Albuzer.


Untuk Ijab Qobul Evelyn dan Shakti sendiri di gelar di Sebuah Hotel bintang lima Karena untuk First night Honeymoon akan langsung di Tempatkan di salah satu kamar hotel tersebut. Tepat pukul delapan pagi, tamu undangan sudah berkumpul di aula hotel yang terletak di kawasan jakarta timur. Tamu undangan yang mungkin ada sekitar lima puluh orang, sudah termasuk keluarga besar albuzer dan teman dekat.


Dave mengerucutkan bibir, melirik sebal wajah sumringah Evelyn kala Berjalan Di apit oleh rini menuju ke Aula ijab.


" Konyol sekali kau, tuan albuzer ! " Cibirnya ke arah kavian yang berdiri di sampingnya.


Kavian mengerutkan kening " Apa ? " Ketusnya


" Apakah ini yang dinamakan turun ranjang ? " Tanya Dave sinis


Kavian tak menggubris, tersenyum saat adiknya menatap Evelyn tak berkedip. sebuah kebaya putih dipadukan jarik berwarna coklat sangat cocok di padukan dengan warna kulitnya . Rambutnya di sanggul dengan kedua anak rambut menjuntai di sisi wajah tirus Evelyn membuat gadis remaja itu terkesan anggun dan Manis. Di samping Evelyn, Junior berdiri dengan mengapit lengan putrinya. Pria baya itu tak pudar dalam memancarkan senyumnya.

__ADS_1


" Cih.. " Dave menatap kesal wajah kavian yang terlihat santai.


" Ini mantennya? " Tanya Abah Zayyin selaku kiyai yang akan menjadi penghulu di ijab qobul.


Shakti dan Evelyn mengangguk.


" Uwes neteki opo? ( Sudah menyicil apa ? ) " Tanya abah Zayyin


Shakti dan Evelyn beradu pandang. serempak mengerutkan kening dengan ekspresi wajah bingung.


" Sampeyan uwes duwe opo, kok yo esih enom rabi ? ( Kamu sudah punya apa, kok masih muda menikah ) " Cecar abah zayyin.


Shakti menggaruk tengkuk melirik ke arah rini dan efras yang menunduk dengan bibir di gulung, ngampet ketawa. lalu tatapan shakti beralih ke pak kusno yang cengengesan khas wajah tengil seolah ikut mencibir tindakan shakti dan Evelyn yang hendak menikah itu.


" Punten bah, Saya punyanya burung tapi nggak pernah di kasih makan jadinya mengkirut enggak bringas " Sahut shakti asal.


gelak tawa memenuhi ruangan saat satu serampangan kopyah mendarat di kepala shakti.


" Manukmu ra doyan mangan, doyane bolongan cacing ( Burungmu nggak suka makan, sukanya lubang cacing ) " sahut abah, frontal.


Shakti tergelak, terbahak saat pak zayyin menimpali gurauannya.


" Astaghfirullah " Abah Zayin mengelus dada seraya menggeleng.


Iqbal dan ifal cekikikan, tak bisa membendung tawa melihat wajah seorang kiyai paruh baya yang humoris dan kelihatan wajahnya memoable.


" Maharmu piro ? " Tanya abah zayyin.


Shakti menunduk kikuk, cengengesan sembari menangkup tangan di pangkuan. benar - benar speechless sama tatarannya pak kiyai.


" Lima ratus ribu bah " Sahut shakti pelan


Abah Zayyin memasang wajah muram, tatapannya beralih ke arah Evelyn yang terdiam menyimak obrolan lelaki beda usia itu.


" Mbak siap di nafkahi remahan Rempeyek ? "


Evelyn terdiam. Lalu menoleh ke samping dimana shakti menunggu jawaban nya sembari tersenyum manis.


" Mau di kasih nafkah gedebogan juga nggak papa asal itu halal "


Shakti melengos, mengulum bibir dengan wajah memerah. beneran salting banget mendengar jawaban kekasihnya.


Abah Zayyin menggeleng dengan tawa kecil, Tangannya terulur mengambil berkas data kedua mempelai yang terletak di atas meja. Abah Zayyin manggut - manggut, sedikit paham dengan tingkah polah horang kaya yang suka semau Duit Mereka. menikahkan para anak di usia remaja apalagi masih sekolah adalah hal biasa bagi mereka. Alasannya rata - rata sama, Karena Hamidun atau memang karena kepentingan bisnis. Tetapi abah Zayyin enggak mau mengambil asumsi sendiri, dia hanya bertugas untuk mengijabkan kedua bocah di depan dan seperti biasa Kyai Kesohor asal semarang yang bernama lengkap Muhammad Zayyin Akmam itu enggan mencampuri urusan orang lain. paling - paling dia akan memberi Siraman Qalbu sebagai bekal rumah tangga kedua Mempelai itu.


" Monggo, Abah saja yang menjadi " Ucap junior sopan.


" Dia anakmu kan ? " Abah Zayyin tergelak


Junior Cengengesan " Lebih Berkah kalau abah yang melantunkan Lafads Ijab " Sahutnya.


" Yo wes karepmu. Aku datang kesini yo nggak mau makan gaji buta. jadi yo manut saja" Sahut abah Zayyin enteng.


Junior membekap mulut dengan bahu bergetar, wajahnya memerah karena harus membendung tawanya.


" Jadi rabi ndak ? " Tanya Abah mengulurkan tangan ke arah shakti yang melamun memandangi wajah Evelyn.


Shakti tersenyum kikuk. dengan sedikit bergetar tangan shakti meraih tangan abah yang sudah sedikit keriput.


" Bismillahirrahmanirrahim. Shakti Avelan Albuzer, Ankahtuka Wa Zawwajtuka Makhtubataka binti Evelyn Granith wang 'alal mahri homsa miatin alfin rubia Haalan " Ucap Abah Zayyin lantang.


" Bismillahirrahmanirrahim. Qobiltu Nikahaha Watazwijaha bil mahril madzkur haalan " Ucap Shakti Dengan satu tarikan nafas


" SAAAAHHHHH " Sahut tamu undangan


Bahkan Trio Somplak Alias Ifal, Iqbal dan haikal sampai berdiri.


" Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin "


Acara di lanjutkan dengan do'a yang di pimpin oleh abah Zayyin sendiri.


Setelah sesi Berjabat tangan, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan prasmanan.


Walaupun acara tergolong mendadak, tapi tetap terlaksana dengan khidmat dan lancar.


Terlihat seorang gadis cantik memakai dress putih menjuntai sampai ke lantai berjalan cepat.

__ADS_1


" Ckkk " Decaknya kesal karena telah tertinggal sesi ijab.


" Tuh kan, gue nggak lihat ijabnya padahal mo sekalian dompleng Ijab sama elo " Gerutunya.


Deon menoyor kening anya " Mimpi ! " Ketusnya berjalan mendahului anya.


Anya menghentakkan kakinya kesal. Tangannya bergerak menuding punggung deon dengan tatapan kesal.


" Lu pikir gue becanda? Gue bakal buktiin kalau elo pasti bertekuk lutut minta kawin sama gue " Dumelnya yang tak mungkin di dengar oleh Deon, karena cowok itu sudah menghampiri shakti dan Evelyn.


" Gue Enggak bisa kasih kado apa - apa, Gue cuma punya ini. dan asal elo tau, ini kesayangan gue " Deon menyodorkan kotak kado persegi kecil ke tangan shakti.


Shakti menatap serius kotak itu, lalu beralih menatap Deon yang tersenyum sok imut.


" Jangan bilang ini kodok ngorek "


" Ckkk " Decak Deon menggetok kening shakti.


" Kalaupun ini isinya kodok. dengan keadaan elo yang udah jadi gembel kagak mungkin bisa ngebeli kado ini " Sombongnya dengan wajah meremehkan


Shakti memutar bola mata jengah, menaruh kotak kado itu ke kantong celana. tangannya bergerak menepuk pundak Deon


" Makasih "


Deon mengangguk, menarik tangan shakti untuk di peluk. setelahnya, Deon menggeser badan, mengulurkan tangan ke arah evelyn.


" Selamat ya ! enggak nyangka banget kalau gadis se Gelap elo punya keinginan buat kawin, aws " Ringis Deon saat bahunya di tabok kencang oleh Evelyn.


Evelyn mendelik, tangannya bergerak menyambar tangan Deon dan mencengkeramnya erat. bisa di pastikan itu terasa nyeri dan sakit " Lu kira gue Nggak normal apa? Gue juga pen ngerasain Tongkat ajaib cowok "


Shakti melotot mendengar sahutan frontal dari istrinya. belum apa - apa wajahnya sudah memerah karena dia jadi membayangkan tongkat ajaibnya masuk ke lubang semut istrinya.


Deon terbahak, melirik ke arah Shakti yang sudah membuang arah.


" Gue pikir elu udah nyicip " sahut Deon.


Anya Mendorong tubuh Deon, menyambar tangan shakti untuk di peluk. Evelyn mendelik kesal, mendorong bahu anya dengan kasar.


" Nggak usah gatel sama suami orang " Berang Evelyn


Anya mengerucutkan bibir, di pandangnya Evelyn dan shakti bergantian . kaya enggak terima banget salah satu Cowok tampan koleksinya harus di miliki orang lain.


" Anggap aja pelukan perpisahan " Sewot anya


" Dihhh, siapa elo? Mantan bukan, Saudara bukan. elo itu cuma parasit. lo tau kan mie warna kuning yang senengnya nemplok di daun, nah itu elo " Ucap Evelyn pedas.


Anya mendelik kesal, menghentak kakinya kesal dengan tangan bergerak di udara. pengin banget nyakar wajah julid Evelyn. tapi sayangnya dia nggak berani jadilah dia hanya mencak - mencak dengan Gigi gemeletuk.


Deon terkekeh " Buruan kasih kado elo, Katanya mau ke pantai " menarik pundak anya.


Anya menunduk. mengambil sesuatu di tas selempangnya, menarik tangan Evelyn dan meletakkan bungkusan kado ke tangan Evelyn.


" Entar malem pakai, awas kalau enggak ! sia - sia gue beli ini. inget, yang bungkus kadonya warna hitam " Titah anya dengan jari menuding.


Evelyn menarik sudut bibir, menarik tangan beserta bungkusan kado itu, membuang pandangan dari anya dan mengibaskan tangan. mengisyaratkan anya untuk pergi.


Anya melotot, tangan yang hendak terangkat di tarik paksa oleh Deon


" Sorry, gue cabut dulu. urgent " Ucap Deon.


" Makasih bre " Sahut shakti dan hanya di balas dengan acungan jempol.


Mungkin sekitar pukul tujuh malam, shakti dan Evelyn baru bisa beristirahat. Ngandang di kamar salah satu ruang yang sudah di poles sedemikian rupa. Ada banyak balon beserta hiasan bunga yang di tabur di ranjang.


" Aku mandi dulu ya ! " Pamit Shakti mwngelus puncak kepala evelyn dengan lembut.


Evelyn mengangguk tanpa menoleh karena tangannya lagi sibuk dan serius membongkar berpuluh - puluh bungkusan kado. Kadonya sendiri rata - rata isinya baju, boneka dan ada juga peralatan dapur.


Evelyn mengerutkan kening, saat matanya menangkap sebuah bungkusan kado berukuran jumbo yang Evelyn perkirakan sebesar kardus tempat Rice cooker. Evelyn menyambar kado itu, mengocok nya dan terdengar bunyi nyaring.


" Apa sih ? " Gumamnya penasaran.


Evelyn membuka bungkusan kado warna putih bermotif bunga itu, lalu tertawa kecil saat ternyata isinya adalah sebuah panci berukuran besar yang biasa di gunakan untuk mengukus.


" Pasti kerjaan hana nih " Gumamnya dengan gelengan .

__ADS_1


__ADS_2