Bukan Salahku Menjadi Madu

Bukan Salahku Menjadi Madu
si tukang kompor


__ADS_3

" gue berangkat bareng lo ! "


shakti menoleh, didapati eve yang berdiri di samping motornya.


"kagak bisa,, lo berangkat sama mas kavi," tolak shakti mentah - mentah


" gue nggak mau bareng sama muka aspal itu "


" istri durhaka lo,, ngatain suami " tegur shakti


" ish,,, nggak lucu kan kalau nanti gue ketauan udah nikah " kilah eve bersedekap.


" emang kenapa kalau temen - temen pada tau? " tanya shakti puta pura tak paham.


" bisa hancur dong reputasi gue "


shakti terkekeh " emang udah ancur, nggak sadar lo? "


bugh


H


eve meninju bahu shakti


" gue sumpahin lo jomblo sampe kucing bisa terbang " eve meninggalkan shakti dengan wajah kesal. Sedangkan shakti tertawa puas melihat kekesalan eve.


eve memasuki rubiccon berwarna hitam yang terparkir di garasi samping kediaman itu. gadis itu, membanting pintu mobil sekeras- kerasnya. eve terjingkat saat menoleh kesamping mendapati wajah kavian yang melotot tajam ke arahnya seperti singa yang nggak di kasih makan setahun.


eve mengusap - usap dadanya, mengahlau keterjuatannya. sedangkan kavi kembali bermain ponselnya.


jake menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. selama perjalanan, hening nggak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil, eve memfokuskan pandangannya keluar jendela sedangkan kavi masih sibuk bermain ponsel, sesekali lelaki itu tersenyum seperti monyet di ajak kawin.


eve beringsut menghadap ke depan sesekali melirik suaminya yang masih terpaku pada ponselnya. nggak di pungkiri mas kavian terlihat sangat tampan jika dilihat dari samping. Hidung mancung, rahang tegas, bibir tebal sedikit berwarna merah muda alami, Kulit putih yang mulus dan halus eve menebaknya lelaki itu rajin perawatan. apalagi saat memakai jazz seperti itu terlihat berkharisma dan siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona.


jika di bandingkan dengan darrel, mas kavian jauh lebih unggul. baik itu dari segi postur tubuh maupun rating ketampanannya. ah, begitu bahagianya dia jika memiliki perasaan dengan suami tampannya itu. entahlah, eve sendiri nggak yakin bisa jatuh hati dengan suaminya. apalagi, dia harus di tampar kenyataan bahwa dirinya hanya menjadi istri kedua dan ada tahta tertinggi di hati mas kavian yaitu laura istri pertamanya.


kalau di dunia novel - novel dirinya bisa disebut sebagai pelakor. tapi catat, pernikahan ini bukan keinginnya bahkan tak pernah menginginkannya. jadi, bukan salahnya kan dia menyandang status sebagai madu.


rubiccon berwarna hitam itu berhenti di sisi jalan, tepatnya di depan gerbang SMA 99 jakarta. eve bergeming di tempatnya dengan tangan bersedekap. menatap suaminya yang masih asyik menatap layar ponsel.


kavi melirik istri kecilnya dengan kening mengerut.


" ini sudah sampai eve " ucap kavi dengan suara beratnya membuat bulu kuduk eve sedikit meremang. ah sensitif sekali gadis ini.


" anak kecebong juga tau ini udah sampai "


" terus? " kavi menaikkan satu alis.


eve berdecak " gue minta duit "


kavi mendengus " mamih nggak ngasih ke kamu? "


" mamih nyuruh aku minta ke kamu " jawab eve apa adanya.


Enggan berlama - lama akhirnya dengan terpaksa kavi mengeluarkan dompetnya dari saku celana. dan mengambil selembar uang berwarna biru.


kavi menyodorkan uang itu, lantas eve mengambilnya. eve mengangkat tinggi - tinggi, menerawang uang berwarna biru itu dengan mata membeliak.


" ini sih cuma cukup buat beli es cendol "


" ini bisa membeli 10 es cendol " jawab kavi datar.

__ADS_1


eve membanting lembaran uang kertas itu


" ish,, ini nggak cukup kavian elvano " protes eve mencondongkan wajahnya.


" ambil atau nggak sama sekali " putusnya dengan wajah dingin. lalu kembali berkutat dengan layar ponselnya. nggak memperdulikan eve yang udah mencak - mencak pengin remes muka jutek nya yang sayangnya tampan mempesona.


...eve memungut uang itu, gadis itu keluar dari mobil dengan membanting pintu cukup keras....


kavi menyeringai merasa puas bisa menekan gadis berandal itu.


eve memaki lelaki itu dengan berbagai sumpah serapah. eve menendang angin seolah olah wajah kavi yang ia tendang.


mobil hitam nan mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi membuat rok seragam eve nyaris terbang di terpa angin.


" udah jelek,, pelit lagi.. " gerutunya. eve memasuki gerbang dengan menghentakkan kakinya kesal.


pak udin seorang satpam yang biasa berjaga di gerbang menatap eve dengan raut bingung


" apa lo liat liat " galak eve menatap tajam pak udin


pak udin menggelengkan kepala " cantik cantik kaya singa " gumamnya nyaris tak terdengar. andai saja eve mendengar sudah pasti pak udin akan kena sial sepanjang hari.


warga negara 99 sudah mengenal tabiat eve yang berandal dan suka berbuat nekad. salah sedikit pasti hidupnya tidak akan damai.


÷÷


" mih,, kenapa sih kamar eve harus di sebelah kamar aku? " protes laura sambil mengoleskan selai nanas ke roti tawar


rini menatap menantunya dengan wajah datar


" terus kamu maunya sekamar ? "


Laura memutar bola matanya jengah.


" eve itu menantu disini,, bukan tamu,, kamar anak -anak mamih itu memang khusus di lantai atas yang luas dan nyaman " jelas rini menggigit sepotong roti.


" mih,, kalau eve denger suara ajaib kami gimana mih? dia itu masih di bawah umur,, nggak pantes denger hal - hal yang nggak semestinya " laura memasang raut sebal ke arah mertuanya.


" ya bagus dong,, biar dia belajar. biar dia cepet - cepet kasih mamih cucu " kilah rini menyuap sepotong roti sekaligus ke dalam mulut. rini ingin cepat - cepat menghabiskan rotinya agar tak lagi membicarakan hal ini.


Laura menatap jijik ke arah mertuanya karena memakan roti dengan rakus.


" nggak usah Ngadi - adi deh mih, eve masih sekolah. belum waktunya punya anak. "


" kamu udah tua juga belum mau punya anak. umur nggak menjadi patokan buat punya anak. yang penting siap secara fisik. " elak rini


" mih, kami tuh saling mencintai nggak semestinya mami menghadirkan orang kedua di antara kami " suara laura naik satu oktaf.


Rini menatap tajam menantunya " kalau kamu mau berhenti dari pekerjaan kamu dan kasih mamih cucu, mamih nggak akan ngelakuin ini. kamu udah 6 tahun menikah loh ra "


" kami kan bisa adopsi anak mih, " elak laura


Rini menelan roti bulat - bulat lalu meneguk segelas air hingga tak bersisa.


" mamih ingin punya cucu dari darah daging kavi,, bukan darah daging orang lain. kamu itu sehat ra,, suburr. di luaran sana banyak perempuan yang nggak bisa mengandung tapi ingin punya anak. sedangkan kamu yang di kasih nikmat sehat sentosa sama allah malah menyia - nyiakannya." ceramah rini panjang kali lebar.


" tapi mih,,, aku nggak mau jelek. kalau punya anak nanti pasti aku berubah jadi dekil,,burik"


" kamu pikir, kamu itu nggak jelek ? " ejek rini


" mihh,,, " laura melayangkan tatapan memprotes.

__ADS_1


Rini tertawa kencang melihat raut kesal laura, menantu dan mertua itu kerap sekali bergurau. jika di luaran sana mertua mendapati sang menantu nggak mau mengandung pasti sudah di sembur dengan berbagai macam kata pedas nya bahkan bisa saja di depak jadi mantu. berbeda dengan rini yang selalu menyelesaikan persoalan dengan bermacam trik.


bik siti menghampiri kedua majikannya dengan dua gelas teh di nampan.


" bik,, eve tadi berangkat sama siapa? " tanya rini ketika tawanya sudah reda.


" kayaknyaa mas kavi bu, " jelas bik siti


rini melirik menantunya yang memasang wajah cemberut.


" oh ya ? serius? " rini bertanya antusias.


" iya bu,, soalnya tadi saya lihat non eve naik ke mobil yang biasa mengantar mas kavi berangkat kerja " jelas bik siti lagin


laura membola matanya " bohong bibik, nggak mungkin mas kavi mau semobil dengan wanita selain aku "


" tapi memang saya lihatnya begitu, non eve masuk ke mobil bagian belakang rubiccoon yang hitam itu. mas jeki juga ada disana." bik siti berpura pura memasang wajah polosnya.


" woaaahhh god job,, ini pertanda bagus dong bik, sebentar lagi pasti mamih bisa menimang cucu " rini mulai kompor.


laura melengos dengan bibir manyun. mulai terpancing dengan kompor meledug mertuanya.


" mih,, eve dikasih mobil aja lah. biar gampang kalau mau kemana - mana " usul laura


" nggak bisa laura,, Mulai sekarang eve nggak di kasih fasilitas. lagian nggak papa lah kalau eve berangkat sama kavi. kantornya juga se arah kok sama sekolah eve. "


Laura berdecak " mih, nanti apa kata temen eve kalau liat eve berangkat sama kavi bukankah pernikahan mereka nggak boleh di publis? "


" nggak akan ada yang tau kalau nggak ada yang ember, lagian mereka kan memang harus mulai ada pendekatan biar tumbuh rasa suka " kilah rini mulai mengompori lagi.


bak tabung meledak, wajah laura memerah karena amarah. Jika di gambar emoji wajahnya akan di bentuk bulat dengan warna merah lalu ada asap mengepul di kepala. wanita cantik itu menjambak rambutnya, sangat frustasi mengahdapi otak licik mertuanya itu.


rini menahan tawanya, sebenarnya rini juga nggak terlalu memperdulikan siapa yang akan memberikannya cucu, bagi rini entah laura ataupun eve nggak di beda- bedakan. yang jelas untuk saat ini rini harus extra mengompori menantunya yang bebal itu. kehadiran eve memberikan secercah. harapan.


Rini tau cinta luar biasa antara anak dan menantunya. tetapi, bukankah nggak ada yang nggak mungkin di dunia ? Atau dengan rasa cemburunya laura, wanita itu akan berubah pikiran dan mau mengandung karna takut kehilangan suaminya.


" nanti mamih mau berangkat ke masjid mau rutinan muslimat. kamu sesekali ikut lah ! " usul rini


" aku mau pemotretan mih. dan aku nggak suka ke acara seperti itu" kilah laura memainkan kuku jarinya


Rini menghela nafas berat " bik kayaknya, mulai sekarang kita harus membiasakan eve untuk berhijab deh, supaya nanti kalau aku ke pengajian ada temennya " rini mulai kompor lagi.


Laura melotot terkejut " nggak mungkin anak berandal itu mau pakek hijab mih "


" ya mungkin ajah dong, buktinya sekarang anak itu udah mulai nurut. udah nggak keluar malem lagi seperti yang nana bilang tempo hari." bela rini


" dia baru semalam disini mih, atagah "


" bik kayaknya nanti aku perlu belanja gamis deh buat eve " rini mengabaikan perkataan laura. melanjutkan aksi kompornya lagi


" setuju bu, siapa tau nanti mas kavi jadi klepek - klepek " bik siti ikut mengompor.


" iya,, eve kan cantik masih muda lagi pasti lama - lama kavi juga bakalan suka" timpal rini ekor matanya melirik laura.


Laura mendengus " terserah "


Laura bangkit dari duduknya. berlama - lama berhadapan dengan mertuanya hanya akan membuat stok kesabarannya terkuras. benar - benar menyebalkan.


rini dan bik siti cekikikan melihat kekesalan Laura. mereka berdua bertos ria dengan senyum penuh kemenangan.


" ayok bik ! kita jalankan rencana selanjutnya biar laura ketar ketir "

__ADS_1


bik siti mengacungkan ibu jarinya tanda menyetujui rencana konyol majikannya.


bik siti yang sudah bekerja di rumah itu selama 10 tahun, sangat tahu sekali watak kompor nyonya besarnya yang akan melakukan trik randomnya untuk mendapatkan segala keinginannya.


__ADS_2