
" ujiannya lancar kan non? "
Evelyn hanya mengangguk. gadis itu sibuk bermain ponsel dan memakan camilan. mereka berdua ini rupanya sedang bersantai di taman yang terletak di samping rumah. bawa segar dari tiupan angin yang menerpa kulit begitu menenangkan keduanya. walaupun menurut Evelyn lebih asri dari kediaman haikal yang memang terdapat banyak pohon menjulang beserta pohon singkong.
" non, jangan marah ya sama bik siti ! " celetuk landung membuat kening eve mengkerut.
" kenapa nggak boleh marah ? " tanyanya dengan menaikkan satu alis.
Landung menghentikkan gerakan memijat kaki Evelyn. gadis itu terlihat gelisah dan salah tingkah. memang sih dia nggak suka sama astrid, tapi dia juga nggak mau ngambil resiko nonanya ngereog kalau tahu astrid biang kerok perihal pemboikotan ayam kecap itu.
" ckkk malah bisu " decak Evelyn karena setelah sepersekian menit, landung belum juga membuka suaranya.
" tapi janji dulu ya non jangan ngamuk ! "
Evelyn mendelik sebal, gadis itu menjitak kening Landung. sang art muda itu justru terkekeh tak marah sama sekali karena sudah terbiasa mendapat jitakan bahkan slepetan sakalipun.
" ayok janji dulu, nanti saya kasih bocoran ! "
Landung mengacungkan jari kelingkingnya.
Evelyn mendengus sebal, gadis itu dengan enggan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Landung.
Landung tersenyum lega. gadis itu menggeser duduk agar lebih dekat dengan nonannya. Landung merogoh saku roknya, lalu menunjukkan rekaman percakapannya dengan bik siti tadi pagi.
wajah Evelyn tampak memerah, sudah pasti dia menahan amarah sekuat tenaga. Evelyn bangkit dari duduknya hendak melangkah, namun dengan cepat Landung mencekal tangan Evelyn.
" tadi sudah janji lho nggak ngamuk ! "peringat Landung dengan senyum tengil nya.
Evelyn menghempaskan tangan Landung dengan kesal. gadis itu mendudukan pantatnya kembali dengan kasar sampai kursi kayu yang diduduki bergoyang membuat Landung oleng nyaris jatuh.
Evelyn bersedekap dengan wajah menekuk. wajahnya masih memerah namun hanya bisa ia tahan. ckkk mana bisa sih begitu.
" kita balas nenek sihir itu, tapi dengan cara halus. jangan pakai kekerasan. karena dengan kekerasan, nyonya astrid akan menjadikan itu sebagai senjata untuk memohokkan nona didepan den kavian" usul Landung.
Evelin terdiam, sedikit membenarkan ucapan Landung. " terus gimana caranya ? "
" serahkan saja sama Landung non, di jamin nenek sihir itu akan kapok " ucap Landung percaya diri menepuk dadanya dengan jumawa.
" awas kalau gagal, gue botakin alis lo ! " ancam Evelyn membuat Landung sontak memegangi alisnya.
Landung bergidig ngeri membayangkan bagaimana rupa wajahnya kalau sampai alisnya benar - benar di botakin.
÷÷÷
" tut, bikinin kopi ! " titah astrid sambil berlalu menaiki tangga.
tuti yang sedang menyetrika pakaian jadi terhenti kala mendengar perintah itu. gadis itu mendengus,melangkahkan kaki ke dapur untuk membuat minuman yang nyonya besannya minta.
astrid melempar tasnya dengan asal, begitu juga sepatu heels 12 centinya juga ia lempar dengan asal. wanita baya itu langsung masuk ke kamar mandi bermaksud untuk membersihkan diri.
asrid menyalakan pancuran dan mengatur suhu air menjadi air hangat. Setelah bathub itu terisi penuh, wanita itu masuk ke dalamnya. air hangat memang pas untuk menenangkan tubuhnya di kala lelah seuasi berbagai aktivitas.
astrid menjamkan Mata dengan seulas senyum tipis. kehidupannya yang sekarang jauh lebih menjanjikan karena setiap harinya dia disuguhi dengan kemewahan dan juga harta melimpah yang di berikan kepadanya secara cuma - cuma. Nasib baik memiliki putri cantik yaitu menikah dengan pria kaya raya. Walaupun mendiang suaminya meninggalkan beberapa aset kekayaan namun itu semua belum memberikannya rasa puas. Dan astrid berjanji tidak akan membiarkan kesenangan ini lenyap begitu saja. Dan dia akan terus menggenggsm kavian agar terus bertekuk lutut dihadapan laura.
puas menikmati kenyamanan air hangat untuk relaxasi itu, tangan astrid bergerak menyambar sabun cair yang terletak di sisi bathtub. Cepat, astrid menuangkan sabun itu ke dalam bathub.
" huueeekkk,, bau apa ini? kok kaya bau e'e "
astrid mengendus - endus air yang telah terisi sabun itu. kening wanita itu mengkerut saat mendapati warna air di bathub itu ternyata warnanya agak coklat dengan bau khas kotoran. yang entah itu kotoran apa.
" tutiiiii "
tuti yang baru saja meletakkan kopi di atas meja langsung menghampiri pintu kamar mandi " ada apa nyonya ? "
klek
" kenapa airnya bau e'e ?,, dan juga sabunnya, kenapa juga bau e'e ? "
astrid melempar botol sabun itu tepat di wajah tuti sehingga isinya sedikit muncrat ke wajah tuti.
spontan tuti memegangi perutnya yang terasa mual karena nggak tahan sama bau itu.
" hueeekkk,,, huueekkkk "
astrid merengut sebal saat melihat muntahan tuti yang tak sengaja ia lihat. karena tuti dengan bodohnya muntah di lantai kamar mandi.
tuti segera membasuh wajahnya ke wastafel. juga menyiram muntahan itu dengan air. setelah itu gadis itu menghampiri astrid yang masih berdiri di ambang pintu.
" mungkin sudah kadaluarsa nyah sabun nya " tebak tuti.
astrid mendelik sebal " kurang ajar kamu, kamu pikir sabun mandi saya sabun murahan apa? ada kadaluarsa nya? cepat check tanggal kadaluarsa nya ! " galak astrid tak terima sabun nya yang seharga jutaan di katai kadaluarsa.
__ADS_1
sembari menutup hidungnya, tuti memeriksa tanggal ex yang berada di botol itu. kening tuti mengkerut karena tanggal yang tertera masih jauh dari kata kadaluarsa.
tuti jadi menggaruk kepalanya karena dia sendiri bingung, kenapa sabun mahal itu menjadi bau e'e.
" nanti saya ambilkan stoknya nyonya "
" ya sudah sana, cepat ! aku mau mandi " sungut astrid berkata sewot.
tuti lantas berlari tunggang langgang menuju ke gudang penyimpanan barang. Landung mengintip dari balik tembok kegiatan tuti.
" tut, di panggil mas shakty ! " seru Landung membuat langkah tuti yang hendak menyambangi tangga berhenti.
kening tuti mengkerut " ada apa ya mas shakty nyariin saya ? "
Landung mengedikkan bahu " mana saya tau, mau kasih honor kali " dustanya
wajah tuti berbinar, gadis itu meletakkan sabun itu ke meja ruang tengah dan berlari tergopoh - gopoh menaiki tangga menuju kamar majikan mudanya.
Landung terkikik geli, gadis itu celingukan ke kanan dan ke kiri, takut ada yang melihat kerjaannya. landung merogoh sesuatu di dalam roknya, lalu menumpahkan sesuatu itu yang berada di plastik ke dalam botol sabun. setelah memastikan aman, Landung lantas segera berlalu pergi dari tempat itu.
" ada apa ya mas mencari saya ? "
tanya tuti begitu sampai di kamar shakty.
kening shakty mengkerut " siapa yang nyariin elo? kagak tuh ! "
tuti mengerucutkan bibirnya, gadis itu langsung pergi begitu saja tanpa permisi. membuat shakty hanya menggelengkan kepala.
" sialan si Landung, ngerjain aku rupanya ! " gerutunya kesal.
tuti menepuk keningnya saat sudah berada di dapur " duh, lupa. saya kan di suruh ambil sabun "
gadis itu lantas berlari cepat menaiki tangga nyaris saja jatuh kalau saja tidak berpegangan pada sisi tangga.
" lama banget sih " gerutu astrid menatap jengkel ke arah tuti
tuti nyengir kuda " maaf nyah tadi di panggil mas shakty" kilahnya
astrid tak menyahut, wanita itu langsung masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan kegiatannya.
" aaaaaaaaaaa"
belum juga kaki beranjak pergi, tuti sudah di kejutkan dengan pekikan melengking astrid.
" nyah, kenapa nyah ? " tanya tuti sembari menggedor pintu.
plakkkk !
satu tamparan mendarat ke wajah tuti saat pintu terbuka. mata astrid melotot dengan wajah yang terlihat kesal sekali.
" kurangajar kamu tuti, berani kamu mengerjai saya ! " astrid menuding dengan suara meninggi
mata tuti berkaca - kaca merasakan perih di wajahnya dan juga sakit di hatinya karena nyonya besannya menuduhnya tanpa ia tahu kesalahannya.
" apa salah saya nyonya ? " tanya tuti dengan suara bergetar
astrid menarik tangan tuti lalu mendorong tubuh gadis itu sampai berlutut di depan bathub. tuti membekap mulutnya saat melihat beberapa ulat bulu kecil yang sedang jingkrak - jingkrak menari - nari di dalam air bathub itu.
" lihat itu, buka matamu lebar - lebar.. jangan belagak bodoh. kenapa binatang menjijikan itu ada di dalam sabun? " berang astrid dengan suara menggema di dalam kamar mandi.
" sumpah nyah, bukan saya pelakunya ! " tuti mengacungkan dua jarinya dengan wajah memelas.
" kalau bukan kamu, siapa lagi? kamu kan yang ambil sabun nya? dan kamu juga yang pegang kunci gudangnnya? " berang astrid dengan dada yang sudah naik turun serta wajah memerah.
tuti menggeleng keras, karna memang dia tak merasa melakukan itu" beneran nyah, bukan saya pelakunya "
" pergi kamu ! aku muak lihat wajah jelek kamu itu, huh " astrid melenggang pergi menyisakan tuti yang tersedu - sedu.
astrid menghempaskan kasar tubuhnya ke kursi meja rias wanita itu menyusupkan tangannya ke dalam laci untuk mengambil skincare nya, kening wanita itu mengerut saat tangannya menyentuh sesuatu yang kenyal dan lembut. wanita itu lantas menarik benda itu untuk melihat benda apakah gerangan
"aaaaaaaaaa,,, ularrrr,, ada ularrr ! " pekik astrid heboh. wanita itu melempar ular sepanjang satu meter ke lantai.
namun saat berusaha menarik tubuhnya, pantatnya terasa susah di gerakkan seperti menempel sangat erat di kursi itu.
" tutiii,, " seru astrid kencang.
tuti segera beranjak dari tempatnya, gadis itu lari tergopoh - gopoh menghampiri astrid. namun baru saja sampai di ambang pintu, gadis itu di buat kaget saat matanya menangkap eekor ular yang tergeletak di lantai, tepat di depannya berdiri.
jadilah, tuti masih berdiam diri di ambang pintu tak bergerak sama sekali. astrid geram, wanita itu berjalan ke arah tuti sambil mengangkat kursi yang menempel di pantatnya.
" cepat, bantu saya melepas kursi sialan ini ! " titah astrid galak
__ADS_1
tuti menatap astrid namun juga menatap ular yang masih berada di depannya. tuti menggelengkan kepala, menolak keras permintaan astrid untuk membantunya.
astrid tampak kesusahan, bukan hanya susah dengan kursi yang menempel itu, tapi dia juga susah karena harus memegangi handuk yang masih melekat di tubuhnya. dia belum memakai baju karena ritual mandinya gagal.
" cepat tuti, bantu saya ! " bentak astrid
tuti tetap menggeleng, bahkan keringat dingin sudah mulai mengucur dari sela kulitnya.
" brengsek ! " karena kesal, astrid menghampiri tuti dan menjambak rambut gadis itu.
" berani kamu melawan saya, hah ? "
astrid menjambak dengan membabi buta, membuat tuti meringis menahan pedas dan perih di kepalanya.
" aduhhh,, sakit nyonya ! ampunnn ! " pekik tuti dengan air mata yang sudah mengalir deras.
astrid tak memperdulikan itu, wanita itu terus saja menjambak rambut tuti dengan brutal, bahkan tubuh tuti yang kecil sampai terguncang - guncang saking kerasnya jambakan wanita tua itu.
di kamar Evelyn, tuti yang mendengar keributan tampak puas. gadis itu sampai terpingkal bahkan memegangi perutnya yang terasa tergelitik.
Evelyn sendiri hanya menggelengkan kepala, namun seulas senyum terbit di bibir mungil nya. iya, benar kata Landung, wanita jahat itu harusnya di kasih pelajaran yang sama liciknya. bukan terang - terangan seperti apa yang selalu Evelyn lakukan. mengingat otak licik wanita baya itu yang selalu mencari cela untuk menjatuhkan Evelyn.
÷÷÷
tok tok tok
Evelyn menoleh saat pintu kamarnya di ketuk, gadis itu beranjak malas dari kasur nya.
klek
pandangan pertama yang ia lihat adalah shakty yang berdiri dengan mengenakan kemeja koko, sarung serta kopyah yang bertengger di kepalanya. jangan lupakan sajadah yang menyampir di bahu.
jam menunjukkan pukul tujuh malam, yang mana adzan sholat isya baru saja berkumandang.
" katanya mau belajar sholat, yuk ke masjid. kita sholat disana !" ucap shakty
Evelyn tercengang dengan bibir terbuka. Gadis itu berpikir sejenak, perlahan mengangguk pelan membuat shakty menyimpulkan senyum
" tapi gue nggak punya mukena ! " tuturnya membuat shakty berdecak.
" Landung !! "
seru shakty membuat Landung yang berada di ruang tengah langsung menghampiri tuan mudannya. " iya mas, ada apa ya? "
" ambilkan mukenanya mamih, kita mau ke masjid "
Landung berbinar, tanpa menyahut gadis itu berlari ke arah kamar yang berada di ruang tamu.
Evelyn menunduk dengan seukkr senyum tipis, jelas dia sangat bahagia kalau melihat shakty lagi mode sholeh dan alim seperti ini.
" ganti baju sana, jangan pakek baju kurang bahan begitu " omel shakty menatap sengit ke arah Evelyn yang memang hanya memakai tanktop dan celana hotpans sebatas paha.
bibir Evelyn mencebik, namun gadis itu menurut mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup.
" ayok mas ! berangkat ! "
seru Landung, gadis itu menenteng dua buah sajadah dan dua pasang mukena.
shakty mengangguk lalu berjalan mendahului.
" ish, malah di tinggal " gerutu Evelyn yang sudah berjalan jauh di belakang shakty, mungkin sejauh 5 meter.
" kan ada Landung non ! " sahut Landung yang tak di gubris oleh Evelyn.
Evelyn berlari cepat lalu berusaha mensejajari tubuh shakty. gadis itu mencekal Tangan shakty karena bocah itu terus saja berjalan mendahului. Letak masjid dan rumahnya tidak terlalu jauh hanya di skat 3 rumah.
" ish, jadi batal kan wudhu gue. elu sih pegang - pegang " gerutu shakty
" elu si jalannya Kayak cicak, cepet banget " kilah Evelyn
" kenapa si kalau pegangan itu batal ? " tanya Evelyn dengan wajah polos
shakty terkekeh lalu menyentil bibir Evelyn yang sedikit terbuka " bego kok kebangetan. ya jelas batal. kita beda kelamin, nggak sedarah, juga bukan mahram. jadi nggak boleh bersentuhan kalau udah wudlu " jelasnya.
Evelyn manggut - manggut. gadis itu memegangi bibirnya yang sedikit kebas dan nyeri bekas sentilan tadi " sakit tau shak, demen banget nyentil bibir. mau di cium ya ? " tentang Evelyn membuat shakty memutar bola matanya jengah.
" omes mulu," dumel shakty menatap sebal ke arah Evelyn. bocah tampan itu kembali berjalan cepat mendahului Evelyn membuat Evelyn berdecak.
di belakangnya, Landung terkekeh melihat interaksi dua remaja yang menurutnya menggemaskan itu.
" sama - sama suka, tapi gengsi. hemmm, kelakuan anak jaman sekarang. tapi memang cocok sih.. " gumamnya seorang diri.
__ADS_1
tiba - tiba, senyum smirk terbit dari bibir Landung. gadis itu rupanya terpikirkan untuk merencanakan sesuatu. " hehehe " Landung tertawa penuh makna.