
" mamih mau kemana ? "
deg !
Cepat, astrid menoleh ke belakang namun ternyata kosong melompong, nggak ada siapapun di sana.
di balkon sana, kavian terkekeh " disini mih "pria itu melambai ke arah astrid.
astrid salah tingkah, wanita itu nyengir kuda dengan kepala mendongak menatap sang menantu yang juga menatapnya.
" enggh kav, kamu sudah pulang ? " tanya astrid basa basi.
kavian mengangguk " udah dari tadi pagi kok mih. mamih mau kemana? kok lewat pintu belakang ? "
astrid menegakkan tubuhnya, menggigit bibirnya untuk berpikir alasan apa yang kiranya logis agar menantunya itu tak curiga.
" mamih di jemput temen, tapi mobilnya ada di sana " astrid menuding ke arah jalan raya dimana sebuah mobil Lamborgini berwarna merah terparkir cantik di sisi jalan.
kavian mengarah pandang ke arah mobil itu, mengamati dengan seksama mobil mewah yang harganya tak murah itu.
kavian sejenak berpikir, merasa nggak asing dengan pemilik mobil. kavian mengedipkan bahu, mobil seperti itu bukan hanya satu orang yang memiliki, kecuali dengan nomor plat yang sama.
kavian mengukir senyum, menatap dalam mertuanya yang saat ini mengarahkan pandangannya ke mobil mewah itu.
" have fun mih, hungungi aku kalau mau di jemput "
astrid tersenyum lega " makasih ya, mamih pergi dulu bye "
kavian melambaikan tangan kepada astrid yang juga melambaikan tangan ke arahnya. pandangan kavian mengikuti wanita baya itu sampai menghilang di balik pagar.
laura mengucek matanya, membuka pelan dan menyipit saat melihat siluet bayangan suaminya di luar balkon.
laura menunduk lalu tersenyum kecil saat mengingat kegiatan panas pagi tadi, simple kan kalau lagi ngambek obat terampuh, ya melakukan aktivitas ranjang. apalagi kalau ngelakuinnya sampai berjam - jam. istilahnya sampai loyo sampai bener - bener kayak badan remuk semua. enggak ngeluh malah seneng karena kebutuhan batinnya terpuaskan. behahahahahah
laura beranjak bangun, melangkah lebar ke kamar mandi dengan keadaan tubuh plontos tanpa sehelai benang pun. tangannya belum sempet megang handle pintu, tapi tubuhnya sudah di tarik ke belakang oleh suaminya.
laura terbahak karena suaminya mengaduh sakit saat kakinya di injak keras. laura menjulurkan lidah saat suaminya menatap memprotes ke arahnya. wanita itu berlari kecil dan dengan cepat tangannya mengunci pintu kamar mandi. takut - takut suaminya akan menerjang masuk.
Kavian berdecak, memukul kasur dengan kepalan tangan, menatap jengkel ke arah pintu kamar mandi yang sudah terdengar bunyi percikan air.
liat istri bugil, siapa yang enggak kedat -kedut. apalagi tubuh istrinya molek dan mulus begitu.
÷÷÷
Shakti merentangkan tangan mengahadap ke depan, dimana sebuah hamparan laut terbentang luas di depannya. cowok itu tersenyum saat sebuah tangan ramping memeluk perutnya.
Shakti membalikkan badan melerai pelukan itu dengan gerakan pelan. tangannya terulur menyentuh pipi tirus kekasihnya. Evelyn memejamkan mata menikmati sentuhan lembut yang berada di pipinya. dan juga menikmati aroma maskulin khas seorang shakti, yang membuatnya menggila.
pelan, shakti menarik tangannya. membekap mulut saat ternyata gadisnya masih memejamkan mata. dengan langkah hati - hati, cowok iseng itu berlari meninggalkan Evelyn yang masih memejamkan mata.
kening Evelyn mengerut, matanya yang terpejam perlahan terbuka. gadis itu melotot saat ternyata tak mendapati kekasihnya di depannya.
Evelyn celingukan, mencari keberadaan Shakti yang tak terlihat dimanapun.
" shak "
Evelyn berjalan, menyusuri pesisir pantai yang terasa hangat, gadis itu menghentakkan kaki kesal mata elangnya yang tajam itu berubah menjadi mata kelinci yang terlihat lucu dan kebingungan.
" shakti kemana sih, kok ninggalin gue " gerutunya.
" shak, kamu dimana ? "
teriaknya lagi.
Evelyn bertolak pinggang memandang sekeliling yang nggak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan dan juga anak kecil, karna jam masih menunjukkan pukul tiga sore, yang mana cuacanya masih cukup terik, suasana akan ramai menjelang senja sore. karena mereka akan beramai - ramai menikmati sunset.
mungkin sekitar setengah jam, Evelyn bolak balik mencari keberadaan shakti yang nggak kelihatan batang hidungnya sama sekali.
gadis itu menyerah, memilih mendudukkan pantat di atas bebatuan besar. tangannya bergerak menghentak - hentakkan air. sesekali menyeka dahinya yang berkeringat.
Evelyn merengut sebal, tangannya menyilang. matanya memanas saat sekelebat pikiran buruk muncul di otaknya. apakah cowok itu meninggalkannya? apakah cowok itu sengaja mengerjainya, mengajaknya pergi lalu meninggalkannya sendirian.
mungkin kalau dia membawa kendaraan sendiri, dia pasti akan langsung pulang, masalahnya ponselnya mati jadi dia nggak bisa pesan ojol atau taxol.
" awas aja kalau elo beneran ninggalin gue, gue potong burung lo sampe ke pangkalnya. kalau perlu gue mutilasi sampai 10 bagian terus gue lempar ke kandang singa. biar mampus, biar hantu elo gentayangan. ckk sialan " gerutunya seorang diri.
" behahahahahha "
Evelyn menoleh ke belakang saat mendebgar tawa membahana yang masuk ke pendengarannya. gadis itu menggeram marah, beranjak bangun mengejar shakti yang sudah berlari ke arah laut. Evelyn tak menyerah, mengejar dan menggapai seragam cowok tengil itu. mereka tertawa terbahak - bahak sambil terus kejar - kejaran.
__ADS_1
sampai mereka kehabisan tenaga dan ambruk di daratan, merebahkan tubuh dengan posisi telentang. mereka berdua ngos - ngosan, dadanya naik turun. mereka menoleh serempak lalu tertawa, Menertawakan kekonyolan mereka sendiri.
Evelyn bergerak membalikkan tubuh menjadi menyamping menghadap ke arah shakti yang kini menatapnya. Evelyn menopang kepala dengan sebelah tangan, dan sebelah tangannya lagi terulur mengusap pipi Shakti.
" elo ganteng banget shak. " puji Evelyn dengan senyum menggoda.
shakti terkekeh " baru nyadar apa? "
evelyn menggeleng " dari dulu sih udah nyadar, cuma lebih jelas dengan jarak sedekat ini "
shakti tersipu, menghadap ke langit cerah untuk menyembunyikan pipinya yang memanas. ckk, kayak perawan aja. salting terooossss.
" shak "
shakti menoleh, menaikkan satu alis, menunggu kata yang akan terlontar dari bibir gadis itu.
" gue cium ya ! " izinnya dengan mata berkabut.
shakti mengangguk lalu menggeleng. tergelak saat menyadari dirinya kembali salah tingkah. Evelyn tertawa, lalu mencubit pipi shakti karena terlalu gemas dengan cowok itu yang lagi mode cuteable.
Evelyn mengikis jarak, membuat dadanya yang nggak kecil itu menempel, menekan bahu shakti. Evelyn memajukan wajah, mengecup cukup lama pipi cowok di depannya.
Shakti memejamkan mata. tangannya terkepal, merasa kesal karena tubuhnya nggak sinkron dengan pekerjaan otaknya. akal sholeh nya mengatakan tidak sedangkan tubuhnya berkata nikmatilah.
ciuman evelyn turun ke bawah menuju ke bibir merah merekah yang jarang sekali terkena asap rokok.
shakti meneguk ludah, jakunnya naik turun seiring debaran hebat yang memompa jantungnya. Evelyn bergerak menindih cowok didepannya, seiring bibirnya yang juga bergerak menghisap bibir bawah dan bibir atas. sesekali lidahnya mendorong, berusaha menerobos pertahanan cowok di bawahnya.
puas dengan bibir, kepala Evelyn bergerak turun, mengendus - endus leher shakty. pelan bibirnya terbuka melahap dan menyesap leher mulus kekasihnya hingga menimbulkan bercak kepemilikan. nggak cuma satu tanda, tapi ada beberapa. bibir Evelyn bergerak turun lagi sampai berhenti ke perut cowok itu.
shakti menunduk, matanya membelalak lebar, saat Evelyn menyingkap kaus hitamnya. dengan gerakan kasar, shakti mendorong tubuh Evelyn hingga terhempas ke atas pasir.
" cukup ! "
shakti berdiri, membenarkan pakaiannya. cowok itu berbalik, meninggalkan Evelyn yang masih terbaring dibatas pasir.
Evelyn menjambak rambutnya frustasi " kenapa sih gue ! ashh.. bego, bego " makinya dengan memukul sisi kepala.
" shak, tungguin " teriaknya, mengejar langkah shakti yang terus menjauh.
÷÷÷
" mau ke apartemenku? " tawar aksen.
" kau suka berada di indonesia atau luar negeri ? "
astrid tersenyum " both "
aksen manggut - manggut " kau dekat dengan menantumu ? "
astrid menoleh " tentu, dia pria yang baik dan loyal. nggak ada alasan untuk tak dekat dengannya. dia juga humble, friendly, mudah bergaul. hanya saja pembawaannya yang dingin membuat siapa saja yang baru bertemu dengannya langsung menilai dia pria arogan. " jelasnya menatap lurus kedepan mendeskripsi menantunya.
aksen membuang muka, mengepalkan tangannya. pernah kan mendengar rival sendiri di baik - baikin, di puji - puji. bukan salah kavian sih, sebenernya masalah umum di dunia bisnis. aksen yang merasa dirinya lebih hebat nggak terima kalau kalah saing. apalagi itu bisnis besar dengan keuntungan yang fantastis, jelas membuatnya meradang.
mobil mewah yang aksen kendarai berhenti di halaman pusat perbelanjaan. pria itu menyodorkan kartu berwarna hitam ke arah astrid yang biasa di sebut dengan black card.
kening astrid mengkerut. " apa ini? "
" pergilah, belanja sesukamu ! " sahut aksen dengan nada lembut.
astrid melebarkan mata, wanita itu melirik ke arah black card itu. pelan, tangannya mendorong benda tipis berfantastis itu.
" nggak perlu, aku udah ada.. nih " astrid mengeluarkan black card pemberian kavian.
aksen menatap kesal ke arah black card milik astrid, dadanya bergemuruh. sial. dia harus kalah telak. niatnya, ingin menunjukkan seberapa hebat dirinya. malah gagal total.
aksen terpaksa mengulas senyum " waww... kau punya itu ? eumh.. maksudku milikmu sendiri atau ? "
astrid tersenyum kecil " sudah ku bilang kan tadi? menantuku baik hati dan loyal, tentu saja tak sulit bagiku untuk mendapatkan ini "
aksen tersenyum masam " ayok, kita ke dalam. aku ingin membeli camilan "
astrid mengangguk. mereka berdua lantas memasuki pusat perbelanjaan itu dengan beriringan berjalan menempel layaknya pasangan muda.
mungkin sekitar satu jam, mereka berdua telah selesai berbelanja. aksen meletakkan belanjaannya yang nggak sedikit itu di bagasi. sedangkan astrid masih berdiri menunggu aksen menyelesaikan pekerjaannya.
" ayu ! "
astrid menoleh, dan di dapati seorang paruh baya memakai jaket khas ojol yang menatap terkejut ke arahnya.
__ADS_1
" k..kusno " gumam astrid lirih nyaris tak terdengar.
" ayu " pak kusno menghampiri astrid.
" kamu ayu kan ? " tanya kusno merengkuh bahu astrid
" engghh lepas ! " astrid menghempas kasar tangan pak kusno.
" anda salah orang ! " ucap astrid dingin.
pak kusno menggeleng " enggak, saya nggak salah orang. saya yakin sekali, kamu ayu. istri saya "
astrid mendengus " maaf ya, sekali lagi saya tegaskan. anda salah orang "
aksen yang melihat itu segera menghampiri, lalu mendorong dada pak kusno saat pria itu hampir menyentuh telapak tangan astrid.
" menyingkir dari wanitaku ! " ucap aksen dingin
pak kusno memandang aksen dan astrid bergantian, " maaf anda Siapa? kenapa anda mengenal istri saya ? "
" kamu budeg ya ! aku bukan istri kamu. namaku astrid, bukan ayu. sialan ! " berang astrid yang tentu saja tidak mau kalau sampai rahasianya terbongkar.
" kau dengar ? kau salah orang. pergi dari sini ! wanitaku nggak mungkin mengenal pria miskin sepertimu " bentak aksen.
astrid menyunggingkan senyum, tangannya menyilang menatap puas ke arah pak kusno yang sekarang menunduk dengan wajah merah karena malu. jelas saja, pak kusno sangat malu. secara nih, semua tatapan berbagai pasang mata menatap ke arahnya.
" mending bapak pergi saja! jangan mengganggu kenyamanan pelanggan disini " bentak seorang satpam menarik paksa pak kusno.
bahkan satpam itu mendorong pak kusno sampai terjatuh ke aspal.
astrid menyeringai, menarik aksen agar masuk ke dalam mobil.
" loh , loh , loh. ada apa ini ? " nana berjalan ke arah pak kusno. memapah pria itu agar berdiri.
" tanyakan ke tukang ojek ini. pria ini mencoba berbuat tak senonoh dengan pelanggan di sini " sungut pak satpam menggebu - gebu.
pak kusno menggeleng keras, membantah apa yang dituduhkan oleh si satpam.
" demi allah, na. enggak begitu ceritanya. tadi aku sempat syok karena melihat istriku ayu. jadi aku menghampirinya. tak tahunya dia nggak mengakui kalau dia ayu. dia berkata kalau namanya astrid. tapi aku yakin 100 persen kalau dia itu ayu. walaupun penampilannya sudah berbeda tapi wajah mereka masih sama " jelas pak kusno.
nana menghela nafas dalam lalu menuntun pak kusno untuk duduk di kursi yang terletak di depan toko perbelanjaan.
nana meletakkan minuman dingin yang tadi di belinya, dan menyerahkannya pada pak kusno.
" apa kamu benar - benar yakin kalau dia ayu ? " tanya nana mendudukkan pantat di seberang pak kusno.
pak kusno menunduk, dengan helaan nafas dalam " mungkin aku salah orang na "
" ayok antar aku pulang " nana bangkit berdiri dengan menenteng dua kresek belanjaan.
÷÷÷
" kamu tinggal sendiri ? " tanya pak kusno setelah sampai di rumah nana.
nana mengangguk " iya, suamiku ada di london dengan efras, dan putriku sudah menikah dengan anak sulung efras, jadi ya, sekarang aku hanya tinggal sendiri "
kening pak kusno mengkerut " anak sulung pak efras ? " tanya pak kusno memastikan
" iya, kavian " jelas nana
" tunggu - tunggu .. apa yang sekarang menjadi istri kedua kavian ? " tanya pak kusno memastikan
nana menunduk, keliatan banget kalau wajahnya malu dan nggak pengin ngomongin ini " iya "
" anakmu, Evelyn ? " tanya pak kusno sedikit ragu.
nana mendongak dengan kening mengkerut " kamu kenal putriku "
pak kusno tertawa " jadi nak Evelyn anakmu ? "
nana mengangguk dengan wajah yang masih terlihat bingung.
" aku kenal, dia gadis yang baik, dan kurasa dia gadis yang eumh, lucu " sahut pak kusno dengan wajah berseri menggambarkan tingkah Evelyn yang menggemaskan menurutnya.
nana memutar bola matanya jengah, nggak setuju sama perkataan pak kusno " lucu apanya sih, anak badung begitu kok "
pak kusno terkekeh " cepat katakan, kenapa kamu mengawinkan putrimu di usianya yang masih muda ? "
nana mendesah, wanita itu duduk di undakan dan mengkode pak kusno untuk duduk di sampingnya. mereka berteman sejak lama sejak berada di jenjang sekolah menengah. nggak ada rasa lain selain rasa menyayangi layaknya teman. karena mereka dulu teman satu genk termasuk rini dan efras.
__ADS_1
" anakku itu berandal kusno. susah di atur, gunanya bikin masalah, bikin ribut, bikin onar. aku sampe Pusing lo ngadepin sifat bengalnya. awalnya aku ragu dengan usulan rini. tapi, setelah ku pikir - pikir ada baiknya dia menikah dengan kavian selain anak itu mapan, anak itu juga terdidik ilmu agama. toh kayaknya kavi nggak mungkin menggauli putriku mengingat ada laura yang menjadi prioritasnya " terang nana
pak kusno menggeleng, tangannya menyentuh dahinya merasa nggak habis fikir dengan pemikiran dua teman perempuannya. walaupun pernikahan itu beralasan, namun bagi pak kusno itu tindakan uang kurang bijak karena dapat merusak mental Evelyn.